• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

1. Sikap Siswa Terhadap Kompetensi Keguruan Praktikan PPL II Ditinjau dari Jenis Kelamin.

Hasil pengujian hipotesis pertama menunjukkan bahwa ada perbedaan sikap siswa terhadap kompetensi keguruan praktikan PPL II ditinjau dari jenis kelamin. Hal ini terbukti dari hasil perhitungan yang diperoleh bahwa ?2 hitung sebesar 8,076 sedangkan ?2 teoritis pada db = 1 dan taraf signifikansi 5% adalah 3,841. Oleh karena ?2 hitung > ? 2 tabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima.

Berdasarkan deskripsi data tentang sikap siswa terhadap kompetensi keguruan praktikan PPL II diperoleh hasil sebagai berikut: untuk kriteria sangat positif sebanyak 1 responden, kriteria positif sebanyak 33 responden, kriteria ragu-ragu sebanyak 83 respond en, kriteria negatif sebanyak 92 responden, dan kriteria sangat negatif sebanyak 67 responden. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar sikap siswa terhadap kompetensi keguruan praktikan PPL II adalah negatif. Sedangkan deskripsi data tentang jenis kelamin diperoleh hasil sebagai berikut: untuk wanita sebanyak 221 responden dan pria sebanyak 55 responden. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin wanita.

Dari hasil deskripsi data tentang sikap siswa terhadap kompetens i keguruan praktikan PPL II adalah negatif. Hal ini kemungkinan disebabkan karena praktikan PPL II kurang dalam memahami kompetensi keguruannya sehingga praktikan PPL II kurang dalam me nerapkan kompetensi keguruannya. Adapun wujud konkrit sikap siswa terhadap kompetensi keguruan praktikan PPL II dapat diketahui dari hasil jawaban kuesioner siswa pada bagian II yaitu, siswa membolos ketika jam mengajar praktikan PPL II, bersikap acuh tak acuh terhadap praktikan PPL II baik di dalam kelas maupun di luar kelas, tidak mengerjakan tugas yang diberikan, ramai di kelas ketika jam pelajaran praktikan PPL II, siswa beranggapan bahwa praktikan PPL II kurang memotivasinya belajar, siswa menganggap soal yang diberikan praktikan PPL II sulit, siswa menilai praktikan kurang disiplin dan kurang aktif dalam kegiatan sekolah terutama upacara bendera, serta siswa berpendapat bahwa proses belajar mengajar yang dilakukan oleh praktikan PPL II kurang sistematis.

Dari hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa ada perbedaan sikap siswa terhadap kompetensi keguruan praktikan PPL II ditinjau dari jenis kelamin meskipun terkategorikan rendah (0,239). Adanya perbedaan sikap siswa terhadap kompetensi keguruan praktikan PPL II ditinjau dari jenis kelamin tersebut dikarenakan hubungan antara sikap siswa terhadap kompetensi keguruan praktikan PPL II dengan jenis kelamin dipengaruhi oleh lingkungan sekolah yang berbeda serta jurusan sekolah yang berbeda yaitu SMA dan SMK, hal itu secara langsung akan mempengaruhi hasil

penelitian ini. Sis wa SMA dan SMK yang berjenis kelamin pria dan wanita tentu akan berbeda pola pikir serta sikapnya.

Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa ada perbedaan sikap siswa terhadap kompetensi keguruan praktikan PPL II ditinjau dari jenis kelamin. Perbedaan tersebut terjadi karena antara pria dan wanita berbeda dalam keadaan psikologisnya. Pria akan cenderung bersikap kurang menghargai kompetensi keguruan praktikan PPL II. Adapun wujud konkrit dari kurang mnghargai kompetensi keguruan praktikan PPL II diketahui dari hasil jawaban kuesioner siswa yaitu, siswa mengakui bersikap acuh tak acuh ketika jam pelajaran praktikan PPL II, siswa pria kurang memperhatikan ketika praktikan PPL II memberikan pelajaran penutup atau evaluasi pelajaran, serta siswa pria berpendapat bahwa proses belajar mengajar yang dilakukan oleh praktikan PPL II kurang sistematis. Berdasarkan hasil penelitian tentang sikap siswa terhadap kompetensi keguruan praktikan PPL II ditinjau dari jenis kelamin pria sebanyak 55 responden diperoleh hasil sebagai berikut: untuk kriteria sangat positif sebanyak 0 responden, positif sebanyak 1 responden, ragu-ragu sebanyak 13 responden, negatif sebanyak 24 responden, dan sangat negatif sebanyak 17 responden. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar sikap siswa terhadap kompetensi keguruan praktikan PPL II ditinjau dari jenis kelamin terutama pria adalah negatif.

Sebaliknya dari hasil jawaban kuesioner wanita menunjukkan bahwa wanita cenderung bersikap menghargai kemampuan keguruan

praktikan PPL II. Adapun wujud konkrit dari sikap menghargai kompetensi keguruan praktikan PPL II diketahui dari hasil jawaban kuesioner siswa yaitu, siswa wanita memperhatikan ketika praktikan PPL II sedang menjelaskan, mengerjakan tugas yang diberikan, mengikuti proses belajar dengan baik, siswa wanita memperhatikan atau merespon ketika praktikan PPL II memberikan pelajaran penutup atau evaluasi pelajaran, serta siswa wanita berpendapat bahwa proses belajar mengajar yang dilakukan oleh praktikan PPL II sudah dilaksanakan secara sistematis. Berdasarkan hasil penelitian tentang sikap siswa terhadap kompetensi keguruan praktikan PPL II ditinjau dari jenis kelamin wanita sebanyak 221 responden diperoleh hasil sebagai berikut: untuk kriteria sangat positif sebanyak 1 responden, positif sebanyak 32 responden, ragu-ragu sebanyak 70 responden, negatif sebanyak 68 responden, dan sangat negatif sebanyak 50 responden. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar sikap siswa terhadap kompetensi keguruan praktikan PPL II ditinjau dari jenis kelamin terutama wanita adalah ragu-ragu.

2. Sikap Siswa Terhadap Kompetensi Keguruan Praktikan PPL II Ditinjau dari Prestasi Belajar.

Hasil pengujian hipotesis kedua menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan sikap siswa terhadap kompetensi keguruan praktikan PPL II ditinjau dari prestasi belajar. Hal ini terbukti dari hasil perhitungan yang diperoleh bahwa ?2 hitung sebesar 3,711 sedangkan ?2 teoritis pada db = 1 dan taraf signifikansi 5% adalah 3,841. Oleh karena ?2hitung < ?2 tabel, maka Ho diterima dan Ha ditolak.

Berdasarkan deskripsi data tentang sikap siswa terhadap kompetensi keguruan praktikan PPL II diperoleh hasil sebagai berikut: untuk kriteria sangat positif sebanyak 1 responden, kriteria positif sebanyak 33 responden, kriteria ragu-ragu sebanyak 83 responden, kriteria negatif sebanyak 92 responden, dan kriteria sangat negatif sebanyak 67 responden. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar sikap siswa terhadap kompetensi keguruan praktikan PPL II adalah negatif. Sedang deskripsi data tentang prestasi belajar diperoleh hasil sebagai berikut: untuk kriteria sangat tinggi sebanyak 0 responden, kriteria tinggi sebanyak 1 responden, kriteria cukup sebanyak 122 responden, kriteria rendah sebanyak 140 responden, dan kriteria sangat rendah sebanyak 13 responden. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar siswa berprestasi rendah.

Dari hasil deskripsi data tentang sikap siswa terhadap kompetensi keguruan praktikan PPL II adalah negatif. Hal ini kemungkinan disebabkan karena praktikan PPL II kurang dalam memahami kompetensi keguruannya sehingga praktikan PPL II kurang dalam menerapkan kompetensi keguruannya. Adapun wuj ud konkrit sikap siswa terhadap kompetensi keguruan praktikan PPL II dapat diketahui dari hasil jawaban kuesioner siswa pada bagian II yaitu, siswa membolos ketika jam mengajar praktikan PPL II, bersikap acuh tak acuh terhadap praktikan PPL II baik di dalam kelas maupun di luar kelas, tidak mengerjakan tugas yang diberikan, ramai di kelas ketika jam pelajaran praktikan PPL II, siswa beranggapan bahwa praktikan PPL II kurang memotivasinya belajar, siswa menganggap soal

yang diberikan praktikan PPL II sulit, siswa menilai praktikan kurang disiplin dan kurang aktif dalam kegiatan sekolah terutama upacara bendera, serta siswa berpendapat bahwa proses belajar mengajar yang dilakukan oleh praktikan PPL II kurang sistematis.

Adanya kesamaan sikap siswa terhadap kompetensi keguruan praktikan PPL II ditinjau dari prestasi belajar, kemungkinan disebabkan karena sebagian besar responden berprestasi rendah dan hal ini juga menjadi salah satu faktor kesamaan sikap siswa terhadap kompetensi keguruan praktikan PPL II ditinjau dari prestasi belajar. Karena hasil pengujian hipotesis kedua menunjukan bahwa tidak ada perbedaan sikap siswa terhadap kompetensi keguruan praktikan PPL II ditinjau dari prestasi belajar berarti tidak adapula hubungan antara sikap siswa terhadap kompetensi keguruan praktikan PPL II dengan prestasi belajar siswa.

3. Sikap Siswa Terhadap Kompetensi Keguruan Praktikan PPL II Ditinjau dari Minat Menjadi Guru.

Hasil pengujian hipotesis ketiga menunjukkan bahwa ada perbedaan sikap siswa terhadap kompetensi keguruan praktikan PPL II ditinjau dari minat me njadi guru. Hal ini terbukti dari hasil perhitungan yang diperoleh bahwa ?2 hitung sebesar 9,210 sedangkan ?2 teoritis pada db = 1 dan taraf signifikansi 5% adalah 3,841. Oleh karena ?2 hitung > ?2 tabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima.

Berdasarkan deskripsi data tentang sikap siswa terhadap kompetensi keguruan praktikan PPL II diperoleh hasil sebagai berikut:

untuk kriteria sangat positif sebanyak 1 responden, kriteria positif sebanyak 33 responden, kriteria ragu-ragu sebanyak 83 responden, kriteria negatif sebanyak 92 responden, dan kriteria sangat negatif sebanyak 67 responden. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar sikap siswa terhadap kompetensi keguruan praktikan PPL II adalah negatif. Sedangkan deskripsi data tentang minat siswa menjadi guru diperoleh hasil sebagai berikut: untuk kriteria sangat tinggi sebanyak 1 responden, kriteria tinggi sebanyak 16 responden, kriteria cukup sebanyak 69 responden, kriteria rendah sebanyak 38 responden dan kriteria sangat rendah 152 responden. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar minat siswa menjadi guru adalah sangat rendah.

Dari hasil deskripsi data tentang sikap siswa terhadap kompetensi keguruan praktikan PPL II adalah negatif. Hal ini kemungkinan disebabkan karena praktikan PPL II kurang dalam memahami kompetensi keguruannya sehingga praktikan PPL II kurang dalam menerapkan kompetensi keguruannya. Adapun wujud konkrit sikap siswa terhadap kompetensi keguruan praktikan PPL II dapat diketahui dari hasil jawaban kuesioner siswa pada bagian II yaitu, siswa membolos ketika jam mengajar praktikan PPL II, bersikap acuh tak acuh terhadap praktikan PPL II baik di dalam kelas maupun di luar kelas, tidak mengerjakan tugas yang diberikan, ramai di kelas ketika jam pelajaran praktikan PPL II, siswa beranggapan bahwa praktikan PPL II kurang memotivasinya belajar, siswa menganggap soal yang diberikan praktikan PPL II sulit, siswa menilai praktikan kurang

disiplin dan kurang aktif dalam kegiatan sekolah terutama upacara bendera, serta siswa berpendapat bahwa proses belajar mengajar yang dilakukan oleh praktikan PPL II kurang sistematis.

Dari hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa ada perbedaan sikap siswa terhadap kompetensi keguruan praktikan PPL II ditinjau dari minat menjadi guru terkategorikan rendah (0,255). Perbedaan sikap siswa terhadap kompetensi keguruan praktikan PPL II ditinjau dari minat menjadi guru terkategorikan rendah dan hampir tidak ada hubungan antara sikap siswa terhadap kompetensi keguruan praktikan PPL II dengan minat menjadi guru kemungkinan hal tersebut disebabkan karena minat dapat sewaktu waktu berubah, misalnya perubahan tersebut dikarenakan faktor ekstrinsik (latar belakang ekonomi, minat orang tua dan teman sebaya). Secara tidak langsung faktor tersebut dapat mempengaruhi pola pikir seseorang. Pola pikir itulah yang dapat membuat perubahan pada sikap terutama sikap siswa terhadap kompetensi keguruan praktikan PPL II.

Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa ada perbedaan sikap siswa terhadap kompetensi keguruan praktikan PPL II ditinjau dari minat menjadi guru. Perbedaan tersebut terjadi meskipun sebagian besar responden me miliki minat yang sangat rendah karena hal ini disebabkan oleh faktor lain yaitu lingkungan sekolah yang berbeda serta jurusan sekolah yang berbeda di SMA dan SMK. Perbedaan jurusan sekolah secara langsung juga akan mempengaruhi pola pikir siswa dan sikapnya terhadap kompetensi keguruan praktikan PPL II. Jadi, dalam hal ini ada

kemungkinan perbedan sikap siswa terhadap kompetensi keguruan praktikan PPL II terjadi tidak hanya karena faktor minat menjadi guru tapi juga bisa faktor lingkungan sekolah atau jurusan sekolah.

4. Sikap Siswa Terhadap Kompetensi Keguruan Praktikan PPL II Ditinjau dari Jenis Pekerjaan Orang Tua.

Hasil pengujian hipotesis keempat menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan sikap siswa terhadap kompetensi keguruan praktikan PPL II ditinjau dari jenis pekerjaan orang tua. Hal ini terbukti dari hasil perhitungan yang diperoleh bahwa ?2 hitung sebesar 3,207 sedangkan ?2 teoritis pada db = 1 dan taraf signifikansi 5% adalah 3,841. Oleh karena ?2 hitung < ?2 tabel, maka Ho diterima dan Ha ditolak.

Berdasarkan deskripsi data tentang sikap siswa terhadap kompetensi keguruan praktikan PPL II diperoleh hasil sebagai berikut: untuk kriteria sangat positif sebanyak 1 responden, kriteria positif sebanyak 33 responden, kriteria ragu-ragu sebanyak 83 responden, kriteria negatif sebanyak 92 responden, dan kriteria sangat negatif sebanyak 67 responden. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar sikap siswa terhadap kompetensi keguruan praktikan PPL II adalah negatif. Sedangkan deskripsi data tentang jenis pekerjaan orang tua diperoleh hasil sebagai berikut: untuk siswa yang orang tuanya guru sebanyak 18 responden dan siswa yang orang tuanya bukan guru sebanyak 258 responden. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar jenis pekerjaan orang tua siswa adalah bukan guru.

Dari hasil deskripsi data tentang sikap siswa terhadap kompetensi keguruan praktikan PPL II adalah negatif. Hal ini kemungkinan disebabkan karena praktikan PPL II kurang dalam memahami kompetensi keguruannya sehingga praktikan PPL II kurang dalam menerapkan kompetensi keguruannya. Adapun wujud konkrit sikap siswa terhadap kompetensi keguruan praktikan PPL II dapat diketahui dari hasil jawaban kuesioner siswa pada bagian II yaitu, siswa membolos ketika jam mengajar praktik an PPL II, bersikap acuh tak acuh terhadap praktikan PPL II baik di dalam kelas maupun di luar kelas, tidak mengerjakan tugas yang diberikan, ramai di kelas ketika jam pelajaran praktikan PPL II, siswa beranggapan bahwa praktikan PPL II kurang memotivasinya belajar, siswa menganggap soal yang diberikan praktikan PPL II sulit, siswa menilai praktikan PPL II kurang disiplin dan kurang aktif dalam kegiatan sekolah terutama upacara bendera, serta siswa berpendapat bahwa proses belajar mengajar yang dilakukan oleh praktikan PPL II kurang sistematis.

Adanya kesamaan sikap siswa terhadap kompetensi keguruan praktikan PPL II ditinjau dari jenis pekerjaan orang tua, kemungkinan karena pengaruh sikap dari faktor ekstern ( jenis pekerjaan orang tua ) tidak terbentuk dengan baik sehingga pembentukan sikap yang berasal dari faktor luar dalam hal ini jenis pekerjaan orang tua tidak begitu mempengaruhi sikap siswa terutama terhadap kompetensi keguruan praktikan. Karena hasil pengujian hipotesis kedua menunjukan bahwa tidak ada perbedaan sikap siswa terhadap kompetensi keguruan praktikan PPL II ditinjau dari jenis

pekerjaan orang tua, berarti tidak ada hubungan antara sikap siswa terhadap kompetensi keguruan praktikan PPL II dengan jenis pekerjaan orang tua.

BAB VI

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan analisi statistik yang telah dilakukan, kesimpulan yang dapat dikemukakan adalah sebagai berikut:

1. Hasil pengujian hipotesis pertama menunjukkan ada perbedaan sikap siswa terhadap kompetensi keguruan praktikan PPL II ditinjau dari jenis kelamin diterima. Hal ini didukung hasil pengujian yang menunjukkan bahwa nilai ?2 hitung > ?2 tabel ( 8,076 > 3,841).

2. Hasil pengujian hipotesis kedua menunjukkan ada perbedaan sikap siswa terhadap kompetensi keguruan praktikan PPL II ditinjau dari prestasi belajar ditolak. Hal ini didukung hasil pengujian yang menunjukkan bahwa nilai ?2 hitung < ?2 tabel ( 0,653 < 3,841).

3. Hasil pengujian hipotesis ketiga menunjukkan ada perbedaan sikap siswa terhadap kompetensi keguruan praktikan PPL II ditinjau dari minat menjadi guru diterima. Hal ini didukung hasil pengujian yang menunjukkan bahwa nilai ?2 hitung > ?2 tabel ( 9,210 > 3,841).

4. Hasil pengujian hipotesis keempat menunjukkan ada perbedaan sikap siswa terhadap kompetensi keguruan praktikan PPL II ditinjau dari jenis pekerjaan orang tua ditolak. Hal ini didukung hasil pengujian yang menunjukkan bahwa nilai ?2 hitung < ?2 tabel ( 3,207 < 3,841).

B. Keterbatasan Pene litian

Penulis menyadari ada beberapa keterbatasan dalam penelitian ini antara lain: 1. Penulis tidak dapat memastikan kejujuran jawaban dari responden dalam

mengisi kuesioner. Hal demikian kemungkinan berdampak hasil penelitian ini tidak mencerminkan kondisi yang sesungguhnya.

2. Adanya teori tentang perbedaan jenis kelamin antara pria dan wanita yang menggambarkan bahwa sikap wanita lebih baik daripada sikap pria. Maka dari itu, perlunya dilakukan penelitian lebih mendalam apakah benar bahwa pria cenderung bersikap negatif dan wanita lebih bersikap positif terutama sikapnya terhadap kompetensi keguruan praktikan PPL II.

3. Variabel prestasi belajar hanya dilihat dari rerata raport siswa yang tercermin dalam nilai raport semester ganjil tahun ajaran 2005/ 2006. C. Saran-Saran

Setelah melihat kesimpulan dari hasil penelitian ini, penulis mencoba mengajukkan beberapa hal yang bisa menjadi bahan pertimbangan:

1. Hasil pengujian hipotesis pertama menunjukkan ada perbedaan sikap siswa terhadap kompetensi keguruan praktikan PPL II ditinjau dari jenis kelamin. Saran ditujukan terutama untuk mahasiswa praktikan PPL II untuk meningkatkan kompetensi keguruannya dengan lebih profesional dalam mengajar terlebih dalam menghadapi siswa pria dan wanita, hal tersebut misalnya dapat diwujudkan dengan memberikan motivasi belajar, memberikan penilaian hasil belajar sesuai dengan ketentuan sekolah, tegas jika ada siswa yang mengganggu berlangsungnya proses belajar mengajar,

serta memberikan pembelajaran yang dapat mudah di terima oleh siswa baik yang pria maupun wanita.

2. Hasil pengujian hipotesis ketiga menunjukan ada perbedaan sikap siswa terhadap kompetensi keguruan praktikan PPL II ditinjau dari minat menjadi guru. Saran ditujukan terutama untuk mahasiswa praktikan PPL II untuk meningkatkan kompetensi keguruannya dengan lebih profesional sebagai seorang pengajar. Hal tersebut diwujudkan dengan berpenampilan layaknya seorang guru, memberikan motivasi belajar pada siswa, bersikap disiplin, ikut serta dalam kegiatan sekolah misalnya upacara bendera, memberikan penilaian hasil belajar yang sesuai dengan ketentuan sekolah, mengajar yang dapat mudah dipahami dan dimengerti oleh siswa serta melakukan hal- hal lain yang dapat membuat siswa menyadari betapa pentingnya profesi seorang guru. Sehingga dengan begitu siswa yang berminat menjadi guru dan tidak berminat menjadi guru akan berpandangan dan bersikap positif terhadap kompetensi keguruan praktikan PPL II.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu. 2002. Psikologi Sosial. Jakarta: Rineka Cipta.

Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Bambang P, Hanifah. 1990. Memahami Dunia Anak-Anak. Bandung: Penerbit Mandar Maju.

Darmono, Yacobus Edhi. 2004. Sikap Siswa Terhadap Pelaksanaan Praktik Mengajar Peserta PPL Bidang Studi Akuntansi. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

Depdikbud, Dirjen Dikti. 1991/1992. Kurikulum Pendidikan Tenaga Kependidikan Sekolah Menengah Program S1. Buku I, Hal. 15-17. Jakarta: Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan Pendidikan Tinggi. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. 2002. Pedoman Pelaksanaan Program

Pengalaman Lapangan. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Ghozali, Imam. 2002. Statistik Non-Parametrik: Teori dan Amplikasi dengan

Program SPSS. Semarang: Badan penerbit Undip. Gilarso , T. 1993. Moral Keluarga. Yogyakarta: USD. Giyatama. 1990. Psikologi Sosial. Bandung: PT. Eresco.

Hamalik, Oemar. 2003. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

Hendrika M, Ch Astrid. 2001. Sikap Siswa Terhadap Mahasiswa Praktikan PPL. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

Hudaniah, Tri D. 2003. Psikologi Sosial. Malang: UMM.

Hurlock, Elizabeth B. 1988. Perkembangan Anak. Jakarta: Penerbit Erlangga. 1992. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan

Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Kartono, Kartini. 1971. Teori Kepribadian dan Mental Hygiene. Bandung: Penerbit Alumni.

Mahmud, Dimyati. 1990. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: Penerbit BPFE. Masidjo. 1995. Penilaian Pencapaian Hasil Belajar Siswa di Sekolah.

Yogyakarta: Kanisius.

Mudyahardjo, Redjo, dkk. 1993. Materi Pokok Dasar-Dasar Kependidikan. Buku II, 10. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Proyek Peningkatan Mutu Guru Sekolah Dasar Setara D II Pendidikan Kependudukan.

Nuegroho, Elita D. 1983. Aspek-Aspek afektif dalam Karakteristik Siswa. Yogyakarta: Pusat Penelitian Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Yogyakarta.

Purwanto, Ngalim. 1990. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Rukminto A, Isbandi. 1994. Psikologi Pekerjaan Sosial dan Ilmu Kesejahteraan Sosial. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Santoso, Singgih. 2005. Menguasai Statistik di Era Informasi dengan SPSS 12. Jakarta: PT. Elex media Komputindo.

Soewardi K, Eddy. 1987. Pengukuran dan Hasil Evaluasi Belajar. Bandung: penerbit CV. Sinar Baru.

Spillane, James. J. 1987. Motivasi Cita-Cita dan Harapan Mahasiswa IKIP Negeri Yogyakarta dan IKIP Sanata Dharma. Yogyakarta: IKIP Sanata Dharma.

Sudjana.1996. Metode Statistik Edisi Ke 6. Bandung: Tarsito. Sugiyono. 2004. Statistik Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.

Sungguh, As’ad. 2000. Dua Puluh Lima Etika Profesi. Jakarta: Sinar Grafika. Suparno, Paul. 2004. Calon Guru Tidak Profesional? Webset:

http/www.google.com.

Suryadi, Ace. 2001, 9 Maret. Forum Otonomi Pendidikan: Menyoal Mutu Profesi Guru. Webset: http/www.google.com.

Suyanto. 2001, 16 Februari. Forum Otonomi Pendidikan: Guru yang Profesional dan Efektif. Kompas: Webset: http/www.google.com.

Syah, Muhhibin. M, Ed. 1997. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: remaja Rosdakarya.

Uchjana E, Onong. 1983. Psikologi Manajemen. Bandung: Alumni.

Usman, Uzer. 1990. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya. Wagito, Bimo. 1994. Bimbingan dan Konseling di Perguruan Tinggi. Yogyakarta:

Penerbit Fakultas Psikologi UGM.

Wagito, Bimo. 1982. Bimbingan dan Konseling di Perguruan Tinggi. Yogyakarta: Penerbit Fakultas Psikologi UGM.

Wibowo, Eddy. 2003,15 Juli. PerluUji Kompetensi Bagi Guru. Kompas: Webset: http/www.google.com.

Widyaningrum, Margareta Ika. 2005. Sikap Siswa Terhadap Mahasiswa Praktikan PPL. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

Winkel, W.S. 2004. Psikologi Pengajaran. Yogyakarta: Media Abadi.

1984. Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar. Jakarta: PT. Gramedia.

Dokumen terkait