BAB II ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
B. PEMBAHASAN
1. Persiapan yang sudah dilakukan oleh Pemerintah Kota Surakarta
BPHTB adalah pajak yang dikenakan terhadap perolehan hak atas tanah dan atau
bangunan yang selanjutnya disebut pajak, atau perbuatan atau peristiwa hukum yang
mengakibatkan diperolehnya hak atas tanah dan atau bangunan oleh orang pribadi atau
badan (Wiryosaputro, 2007)
Awalnya BPHTB adalah pajak daerah yang dikelola oleh propinsi, sedangkan daeran
hanya mendapat pemasukan melalui bagi hasil. Setelah keluar Undang-Undang Nomor
28 tahun 2009 tentang Pendapatan Daerah dan Retribusi Daerah, maka pengelolaan
commit to user
BPHTB sepenuhnya dialihkan ke Kabupaten/ Kota mulai tanggal 1 Januari 2011,
sehingga Undang-Undang No 21 tahun 2007 tentang BPHTB Stdd Undang-Undang
Nomor 20 tahun 2000 (UU BPHTB) berlaku paling lama satu tahun sejak
diberlakukannya Undang-Undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD).
Pemerintah Kota Surakarta sudah menyiapakan Perda (Peraturan Daerah) Nomor 13
tahun 2010 sebagai dasar hukum yang menguatkan pelaksanaan pemungutan BPHTB
oleh Pemerintah Kota Surakarta. Selain itu Pemerintah Kota juga sudah menyiapkan
Perwali (Peraturan Walikota) yang berisi mengenai ketentuan lebih lanjut mengenai tata
cara pembayaran, penyetoran, dan tempat pembayaran BPHTB. Namun Perwali sendiri
hingga saat ini masih dalam proses persiapan.
Perwakilan-perwakilan Pemerintah Kota Surakarta juga sudah dikirim untuk
mengikuti diklat yang diadakan di balai perpajakan Jogjakarta. Hal ini dilakukan untuk
menyiapkan personil Pemerintah Kota Surakarta agar dalam pemungutannya tidak
dilakukan secara sembarangan, melainkan sudah ada yang mengerti proses dan cara-cara
pemungutannya. Perwakilan Pemerintah Kota Surakarta tidak hanya mengikuti diklat,
namun juga mengikuti test yang diadakan untuk melengkapi rangkaian kegiatan yang
diadakan balai perpajakan Jogjakarta. Sehingga dengan tes tersebut dapat terlihat
seberapa siap perwakilan tersebut mengaplikasikan apa yang sudah diterima dalam
pelatihan kedalam pemungutan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota masing-
masing yang dalam hal ini Pemerintah Kota Surakarta.
Pemerintah Kota Surakarta sendiri telah pula menyiapkan hardware dan software
yang digunakan untuk menunjang saat pembayaran dan pelaporan yang dilakukan oleh
commit to user
Setoran Pajak Daerah Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan) yang digunakan
untuk menyetor BPHTB. Disamping itu, dipersipakan pula software komputer yang
digukan untuk menginput data penyetor pajak BPHTB yang kemudian di akhir tahun
akan digunakan untuk laporan realisasi pendapatan pajak BPHTB dan dijadikan bahan
untuk menetapkan target di tahun berikutnya.
2. Prosedur pemungutan BPHTB di Kota Surakarta
Karena masih dalam masa transisi, termasuk pembenahan sistem pascaperalihan,
pembayaran di Dinas Pengelolaan Pendapatan Keuangan dan Aset (DPPKA) masih
dilayani di satu loket. Masyarakat atau wajib pajak belum bisa melakukan pembayaran
secara online di bank-bank maupun kantor pos seperti sebelumnya ketika masih dipegang
kantor pajak.
Pemungutan BPHTB menggunakan self assesment system yaitu menghitung,
memperhitungkan, menyetorkan dan melaporkan sendiri besarnya utang pajak dan
bersifat real time.
Langkah-langkah yang harus dilakukan wajib pajak adalah menghitung sendiri
besarnya pajak yang akan dibayarkan, dalam hal ini penghitungan didasarkan oleh harga
perolehan pada transaksi yang terjadi. Kemudian wajib pajak menulis hasil penghitungan
kedalam SSPD BPHTB (Surat Setoran Pajak Daerah BPHTB). Selain di CSO,
Pemerintah Kota Surakarta juga sudah bekerja sama dengan Perhimpunan Notaris
Surakarta, sehingga SSPD BPHTB juga dapat diambil di notaris-notaris yang ada di
Surakarta. Hal ini mempermudah masyarakat selaku wajib pajak dalam pengisian SSPD
BPHTB karena dalam pengisian wajib pajak mendapat bantuan dari notaris. Setelah
commit to user
DPPKA untuk membayar pajak BPHTB terutang yang telah dihitung sendiri. Lalu wajib
pajak ke CSO untuk pengecekan berkas-berkas yang diperlukan dalam pembayaran
BPHTB. Dari CSO berkas-berkas dan SSPD BPHTB lalu masuk ke dafda (Pendaftaran
dan Pendataan) untuk di input data. Langkah berikutnya adalah berkas dimasukkan ke
bidang penetapan untuk pengecekan data, pada langkah ini dapat pula dilakukan cek
lapangan jika dirasa perlu. Di bidang penetapan juga dilakukan validasi untuk
menentukan adanya kurang atau lebih bayar dalam perhitungan yang dilakukan oleh
wajib pajak. Apabila telah dilakukan validasi, maka berkas-berkas yang tadi disampaikan
ke penetapan kemudian disampaikan kembali kepada wajib pajak yang kemudian berkas-
berkas SSPD BPHTB menjadi syarat untuk mengurus balik nama ke Badan Pertanahan
Nasional (BPN).
3. Hambatan yang dialami dalam pemungutan BPHTB oleh Pemerintah Kota
Surakarta
Di dalam pemungutan BPHTB ada beberapa kendala yang dialami oleh Pemerintah
Kota Surakarta, salah satunya adalah kurangnya kesadaran wajib pajak dalam
melaporkan data yang sebenarnya. Banyak sekali ditemukan wajib pajak yang
melaporkan pajak BPHTB tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Disamping itu wajib
pajak juga tidak jujur dalam menuliskan nilai perolehan yang ditetapkan. Oleh sebab itu
Pemerintah Kota Surakarta membutuhkan banyak personil untuk mengecek kondisi
lapangan apakah yang dilaporkan oleh wajib pajak sudah benar atau belum. Namun
kondisi ini juga menyebabkan hambatan dalam Pemerintah Kota Surakarta sendiri,
karena personil yang diterjunkan masih kurang. Karena itu pengecekan lapangan masih
commit to user
kurang maksimal. Selain personil yang kurang, Pemerintah Kota Surakarta juga belum
memiliki peralatan-peralatan yang digunakan untuk pengecekan di lapangan, sehingga
untuk mengecek kebenaran ukuran di lapangan Pemerintah Kota Surakarta masih harus
meminta tolong kepada pihak swasta.
Pemungutan pajak BPHTB oleh Pemerintah Daerah juga belum disertai dengan
sosialisasi yang cukup oleh Pemerintah Pusat, sehingga belum banyak Wajib Pajak yang
mengetahui peralihan pemungutan pajak BPHTB.
4. Upaya yang dilakukan Pemerintah Kota Surakarta dalam mengatasi hambatan
yang terjadi dalam pemungutan BPHTB
Kurangnya kesadaran wajib pajak dalam melaporkan data dan nilai perolehan dapat
diatasi dengan pengechekan langsung yang dilakukan oleh personil dari Pemerintah Kota
Surakarta. Perwakilan dari Pemerintah Kota Surakarta dapat melihat langsung kebenaran
yang dilaporkan oleh wajib pajak. Untuk mengetahui besarnya nilai perolehan saat terjadi
transaksi jual beli Pemerintah Kota Surakarta dapat mencari data dari warga sekitar
tempat obyek pajak tersebut. Disamping itu, Pemerintah Kota Surakarta mulai
menyiapkan personil-personil lapangan yang dibutuhkan untuk memaksimalkan potensi
pendapatan Pemerintah Daerah.
BAB III