• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBAHASAN DAN RANGKUMAN BUKU PEDOMAN Bagian I

Dalam dokumen Critical Book Report Psikologi Pendidikan (Halaman 29-53)

Belajar Tentang Anak-Anak

Buku pedoman :

Judul : Learning Methamorphosis Hebat Gurunya Dahsyat Muridnya Penulis : H.D. Iriyanto

Penerbit/Tahun : Penerbit Erlangga/2012

Pembahasan Otak Kiri dan Otak Kanan, Halaman 28-29 :

Sejak buku Quantum Learning diterbitkan di Indonesia, perhatian para penggiat pendidikan terhadap otak kiri dan otak kanan menjadi semakin besar. Di buku itu, Bobbi DePorter dan Mike Hernacki, menjelaskan bahwa eksperimen terhadap dua belah otak (kiri dan kanan) menunjukan bahwa masing-masing belahan otak bertanggung jawab terhadap cara berpikir seseorang. Selain itu, masing-masing belahan mempunyai spesialisasi dalam kemampuan-kemampuan tertentu, walaupun ada persilangan dan interaksi di antara keduanya.

Selanjutnya dikatakan dua penulis tadi bahwa proses berpikir otak kiri bersifat logis, sekuensial, linier, dan rasional. Artinya serba urut dan teratur. Cara berpikir otak kiri sesuai untuk tugas-tugas ekspresi verbal, menulis, membaca, asosiasi auditorial, menempatkan detail dan fakta, fonetik, serta simbolisme.

Berbeda dengan otak kiri, otak kanan kita dan murid-murid kita memiliki cara berpikir yang bersifat acak, tidak teratur, intuitif, dan holistic. Cara berpikir ini sesuai dengan cara-cara untuk mengetahui hal-hal yang bersifat non-verbal, seperti perasaan dan emosi, pengenalan bentuk dan pola, music dan seni, kepekaan warna, serta kretivitas dan visualisasi.

Penting untuk Anda ketahui bahwa kedua belahan otak itu harus berfungsi secara seimbang. Belajar akan terasa mudah bagi kita, kalau kita mau memilih bagian otak yang diperlukan dalam setiap aktivitas yang sedang kita kerjakan.

Bagian II

Belajar dan Eksperimen

Buku Pedoman :

Judul : Pengantar Psikologi Umum Penulis : Prof. Dr. Bimo Walgito Penerbit/Tahun : Penerbit ANDI/1981

Pembahasan Belajar, Halaman 165-175 :

“Living is learning”, merupakan sepenggal kalimat yang dikemukakan oleh Havighurst (1953). Dengan kalimat tersebut memberikan suatu gambaran bahwa belajar merupakan hal yang sangat penting, sehingga tidaklah mengherankan bahwa banyak orang ataupun ahli yang membicarakan masalah belajar. Hampir semua pengetahuan, sikap, keterampilan, perilaku manusia dibentuk, diubah dan berkembang melalui belajar. Kegiatan belajar dapat berlangsung dimana saja dan kapan saja, di rumah, di sekolah, di pasar, di took, di masyarakat luas, pagi, sore, dan malam. Karena itu tidaklah mengherankan bahwa belajar merupakan masalah bagi setiap manusia.

Banyak factor yang mempengaruhi proses belajar. Masukan apabila dianalisis lebih lanjut, akan didapati beberapa jenis masukan, yaitu masukan mentah (raw input), masukan instrumen (instrumental input), dan masukan lingkungan (environmental input). Semua ini berinteraksi dalam proses belajar, yang pada akhirnya akan mempengaruhi hasil belajar. Apabila salah satu factor terganggu, maka proses akan terganggu dan hasil juga akan terganggu. Masing-masing factor tersebut saling kait-mengkait satu dengan yang lain, karenanya belajar itu merupakan suatu sistem. Apabila masukan instrumental terganggu, maka proses akan terganggu, hasil akan terganggu.

Masukan mentah adalah individu atau organism yang akan belajar. Misalnya siswa, mahasiswa atau anak yang akan belajar. Masukan instrumental adalah masukan yang berkaitan dengan alat-alat atau instrumen yang digunakan dalam proses belajar. Misalnya rumah, kamar, gedung, peraturan-peraturan, peraturan merupakan masukan instrumen yang lunak, sedangkan kamar, rumah,

gedung merupakan masukan instrumen yang keras. Masukan lingkungan merupakan masukan dari yang belajar, dapat merupakan masukan lingkungan fisik maupun non-fisik. Misalnya tempat belajar yang gaduh atau ramai merupakan hal yang kurang menguntungkan untuk proses belajar.

Dalam masalah belajar pada umumnya yang menjadi persoalan ialah bertitik tolak dari hasil belajar. Apabila hasil belajar baik, maka pada umumnya tidak akan menimbulkan masalah. Tetapi sebaliknya apabila hasil belajar tidak memuaskan, persoalan akan segera timbul. Karena itu dalam belajar, pada umumnya orang akan melihat terlebih dahulu atau sebagai titik tolaknya adalah hasil belajar. Setelah hasil belajar, orang akan melihat bagaimana prosesnya dan kemudian bagaimana masukannya.

Bagian III Bicara

Artikel Pedoman :

Judul : Mengapa Anak Saya Terlambat Bicara ? Penulis : dr. Lisna Aniek Farida, Sp.KFR

Situs/Tahun :

http://www.pdpersi.co.id/content/news.php?catid=9&mid=5&nid=1228 / 2013

Pembahasan Bicara Anak:

Bicara adalah salah satu komunikasi yang perkembangannya di tunggu dan diperhatikan oleh para orang tua. Sayang sekali terkadang kemampuan anak tidak sesuai yang diharapkan. Si anak sibuk menunjuk - nunjuk dan mengeluarkan berbagai suara yang kadang tidak dimengerti orang tua apa maknanya, atau anak berbicara dengan pengucapan yang salah. Keterlambatan bicara merupakan keluhan yang sering di jumpai di bagian Rehabilitasi Medik. Terkadang anak dibawa berkonsultasi pada usia lebih dari tiga tahun, meskipun orang tua sudah menyadari keterlambatan bicara anaknya sejak usia kurang dari dua tahun. Mereka sering kali menunggu sehingga anak terlambat di tangani. Bagaimana mengetahui anak kita terlambat bicara ? apabila perkembangan bicaranya tidak sesuai dengan usianya. Untuk perkembangan bicara anak yang normal dapat dilihat pada tabel berikut :

Sebetulnya apa yang menyebabkan anak terlambat bicara ?

Hal itu yang harus digali oleh dokter, sehingga penanganan yang didapatkan anak juga tepat dan memberikan hasil yang baik. Secara ringkas, penyebab dari keterlambatan bicara adalah :

Gangguan perilaku seperti gangguan atensi, konsentrasi, relasi atau emosi yang tentu saja dapat menganggu kemampuan bicaranya misalnya anak hiperaktif atau autis

Pola asuh di rumah. Apabila anak jarang di berikan rangsangan untuk bicara, tentu saja perkembangannya akan terlambat. Misalnya lebih sering diasuh di depan televisi supaya tenang dan jarang diajak bicara. Kemudian apakah anak di berikan kesempatan untuk bersosialisasi dengan teman sebaya.

Ada masalah dengan pusat bahasa di otak

Adanya masalah dengan organ bicara anak

Adanya masalah sensoris misalnya pendengaran yang kurang atau adanya masalah dalam mengorganisir input sensoris yang didapat anak (gangguan sensoris integrasi)

Selain itu dokter akan mencari adanya masalah lain disamping keterlambatan bicara. Karena bisa jadi, anak mengalami juga keterlambatan dalam bidang perkembangan yang lain.

Terkadang gangguan bicara juga disertai gangguan makan. Misalnya anak lambat beralih ke makanan padat ataupun memilih makanan dengan tekstur tertentu (maunya makan bubur yang di blender saja atau maunya makan mi saja). Gangguan bicara juga dapat menyertai anak dengan masalah psikologis. Selain itu, anak dengan keterbelakangan mental juga mengalami keterlambatan bicara.

Bagian IV Membaca

Artikel Pedoman :

Judul : Hubungan Motivasi Berprestasi Dengan Minat Membaca Pada Anak

Penulis :Tri Esti Budiningsih, Ade Irma Nursalina Situs/Tahun : Educational Psychology Journal

file:///C:/Users/userer/Downloads/4436-9111-1-SM.pdf / 2014

Pembahasan Hasil Penelitian Halaman 5-6:

Tingkat minat membaca siswa secara umum yaitu dalam kategori rendah 56,2%. Pada aspek kesadaran akan manfaat membaca ada sebanyak 50% yang tergolong tinggi dan 50% tergolong rendah. Aspek perhatian terhadap membaca buku termasuk dalam kriteria rendah yaitu 59,4%. Aspek rasa senang memiliki kategori rendah yaitu 62,5% dan aspek frekuensi membaca buku memiliki kategori tinggi yaitu sebesar 59,4%. Indikator atau aspek kesadaran akan manfaat mendapatkan mean empiris terbesar, yaitu sebesar 26,16 yang berarti indikator ini mempunyai pengaruh paling besar dalam menentukan tinggi rendahnya minat membaca anak.

Kondisi rendahnya minat membaca oleh siswa dalam penelitian ini sesuai dengan pendapat dari Ester Kartika (2004: 115) yaitu kondisi anak didik saat ini umumnya kurang menyenangi buku, minat baca tidak menonjol, dan mereka lebih suka menonton televisi. Membaca dilakukan terbatas pada buku-buku pelajaran pokok yang digunakan di sekolah. Itu pun bagaikan terpaksa, karena akan diadakan ulangan, atau karena guru memberi pekerjaan rumah. Ketekunan membaca hanya dimiliki beberapa orang anak saja di sekolah. Akibatnya pengetahuan anak sangat terbatas, kemampuan menangkap isi bacaan juga rendah. Ini harus dijadikan suatu tanda dan peringatan bagi guru dan orang tua, bahwa “minat baca” anak harus dipupuk, dikembangkan. Apabila minat baca “tinggi”

guru akan lebih mudah dan ringan dalam melaksanakan tugasnya. Anak-anak akan lebih aktif, mencari dan menggali pengetahuan.

Rendahnya motivasi berprestasi dan minat membaca pada siswa dapat juga diketahui dari partisipasi siswa di kelas saat mengikuti pembelajaran. Penulis banyak menemui, siswa yang sulit dan enggan untuk bertanya tentang materi yang diberikan guru. Siswa cenderung diam dan menerima semua informasi yang diberikan guru. Mereka jarang memberikan kritik, pendapat ataupun idenya. Pada saat guru menanyakan alasan siswa tidak mau bertanya, kebanyakan siswa merasa bingung dan tidak mampu untuk bertanya (takut pertanyaan tidak bermutu). Di sisi lain, kualitas pertanyaan sebenarnya dapat ditelusuri dari hasil bacaan mereka. Siswa yang tidak mampu bertanya ataupun memberikan pertanyaan tidak berkualitas, kemungkinan karena sebelumnya mereka tidak membaca tentang materi yang diberikan guru.

Bagian V Olahraga

Artikel Pedoman :

Judul : Perbedaan Reaksi Emosional Antara Olahragawan Body

Contact dan Non Body Contact

Penulis :Sukadiyanto

Situs/Tahun : Jurnal Psikologi Vol 33, No.1, 50-62/ 2015

jurnal.ugm.ac.id/jpsi/article/view/7085/5537

Pembahasan Kesimpulan Halaman 11-12:

Berdasarkan hasil analisis data, tidak terdapat interaksi antara jenis olahraga dan jenis kelamin terhadap reaksi emosional. Artinya, jenis olahraga baik itu body contact maupun non body contact tidak mempengaruhi terhadap status reaksi emosional olahragawan, juga jenis kelamin tidak mempengaruhi terhadap status reaksi emosional olahra-gawan. Oleh karena setiap jenis aktivitas olahraga masing-masing memiliki karakteristik tersendiri, sehingga pemi-natnya pun juga terdiri dari individu yang berbeda. Reaksi emosional setiap individu muncul bisa jadi dikarenakan pengaruh kepribadian setiap olahraga-wan, jadi bukan karena jenis olahraga atau jenis kelamin pelakunya. Sebab kepribadian seseorang sangat ditentu-kan oleh faktor keturunan, lingkungan, dan interaksi antara individu dan lingkungannya.

Berdasarkan analisis data, hasil penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Terdapat perbedaan status reaksi emosional antara olahragawan body

contact dan non body contact, dan olahragawan body contact memiliki

status reaksi emosional yang lebih tinggi daripada yang non body contact. 2. Terdapat perbedaan status reaksi emosional antara olahragawan putra dan

putri, dan putra memiliki status reaksi emosional yang lebih tinggi daripada putri.

3. Tidak terdapat interaksi antara jenis cabang olahraga dan jenis kelamin terhadap status reaksi emosional olahragawan.

Implikasi dalam penelitian ini bagi para pelatih, pembina, pengurus, dan orang tua yang anaknya menggeluti olahraga prestasi, berikanlah kebebasan anak-anak untuk memilih cabang olah-raga yang digeluti sesuai dengan bakat, minat, kondisi, dan kemampuan setiap individu.

Tidak perlu memaksakan kepada orang lain untuk melakukan aktivitas olahraga sesuai dengan kehen-dak dirinya, karena setiap orang memi-liki karakter dan kepribadian yang berbeda-beda. Oleh karena itu sebagai pelatih, pembina, dan pengurus hanya-lah sebagai fasilitator bagi olahragawan dalam membantu meraih prestasi terbaik.

Untuk itu disarankan bagi para pelatih, pembina, dan pengurus olahraga agar memahami lebih dalam lagi tentang materi yang berhubungan dengan psikologi olahraga. Tujuannya agar para pembina mampu mendeteksi, mengarahkan, dan mengoptimalkan setiap perilaku olahragawan guna mencapai prestasi yang diharapkan. Selain itu, dalam memilih psikolog di bidang pembinaan olahraga prestasi, khususnya untuk pembinaan mental olahragawan adalah psikolog memiliki pengalaman dengan olahragawan. Akan lebih baik bila psikolog yang dipilih adalah mantan olahragawan, sehingga berbagai solusi permasalahan yang muncul di sekitar olahragawan dapat mencapai sasaran yang tepat.

Bagian VI

Seni, Matematika, dan Hal-Hal Lainnya

Buku Pedoman :

Judul : Permainan Cerdas Untuk Anak Penulis : Dr. Dorothy Einon

Penerbit/Tahun : Penerbit Erlangga/2005

Pembahasan Seni dan Keterampilan (Halaman 75-80) dan Kata-Kata dan Angka (Halaman 46-49) :

Melukis dan menggambar adalah kegiatan menyenangkan bagi anak kecil. Dia mencelupkan kuas dan meletakkannya di atas kertas dan efeknya datang dalam sekejap. Si anak bukan hanya bisa melihat pengaruh gerakannya, tetapi juga bisa mengubah pekerjaannya dengan olesan kuas kedua. Sebagian besar anak-anak tidak butuh banyak bujukan untuk melakukan kegiatan ini.

Anak-anak biasanya menyukai cat, kuas, dan selembar kertas. Bahkan jika mereka tak menyukainya atau sedang malas, kegiatan ini dapat membuat mereka senang. Kegiatan ini juga baik bagi anak yang merasa tidak pandai melukis dan merasa tidak memiliki keterampilan. Dia bisa membuat gambar yang menyenangkan sehingga dia merasa bangga akan keberhasilannya dalam kesenian.

……..

Belajar menghitung adalah langkah pertama dalam mengerti apa arti angka. Saat anak-anak mulai menghitung, mereka menganggap itu sebagai rima. Mungkin mereka mengerti 1-2-3, tapi tidak dapat membayangkan arti 6-7-8. Bila si anak sduah tau urutan 1-2-3-4-5-6-7-8-9-10, dia bisa mulai mengerti arti angka tersebut. Pengertian ini diperkuat bila anda menambah, mengurangi, dan menunjukan angka selagi menghitung. Anak-anak kecil sering salah membuat urutan, jadi mereka butuh banyak latihan.

Untuk memahami arti angka, anak-anak harus memahami arti berhitung terlebih dulu. Dalam hal ini sungguh sulit. Anda bisa menunjuk sebuah pohon dan

menyebutkan ‘itu pohon’, tapi bagimana cara menunjukkan ‘tiga’? untuk memahami arti ‘tiga’, anak-anak harus memperhatikan apa persamaan antara tiga kucing dan tiga poci.

Bagian VII Khayalan

Artikel Pedoman :

Judul : Pengaruh Bermain Play Dough Terhadap Kreativitas Anak TK Penulis : Laelun Hartati, Herlina Siwi Widiana

Situs/Tahun : Jurnal Psikologi Vol 4, No.2 / 2011

Pembahasan Khayalan :

Beberapa cara yang paling umum digunakan anak untuk mengekspresikan kreativitas pada berbagai usia dijelaskan oleh Hurlock (Sari, 2005), sebagai berikut: Animisme adalah kecenderungan untuk menganggap benda mati sebagai benda hidup. Anak kecil mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang terlalu minim untuk mampu membedakan antara hal-hal yang mempunyai sifat hidup dan yang tidak. Pikiran animistik dimulai sekitar usia anak dua tahun, mencapai puncaknya antara empat dan lima tahun, kemudian menurun dengan cepat dan menghilang segera sesudah anak masuk sekolah.

Bermain drama, sering disebut “permainan pura-pura”, sejajar dengan pemikiran animistik. Permainan ini kehilangan daya tariknya kurang lebih pada saat anak masuk sekolah. Bila kemampuan penalaran dan pengalaman menjadikan anak mampu membedakan antara kenyataan dan khayalan, mereka kehilangan minat pada parmainan pura-pura dan mengalihkan dorongan kreatifnya pada kegiatan lainya, biasanya permainan yang konstruktif (Sari, 2005).

Permaianan konstruktif, bermain konstruktif dimulai sejak awal, seringkali lebih awal dari bermain drama, tetapi permainan ini dikalahkan oleh permainan pura-pura yang lebih menyenangkan. Kemudian apabila permaianan ini kehilangan daya tariknya bagi anak, mereka mengalihkan permainan mereka ke tipe permainan kreatif. Bermain konstruktif awal sifatnya reproduktif. Anak meniru apa saja yang dilihatnya dalam kehidupan sehari-hari, dengan bertambahnya usia, mereka kemudian menciptakan konstruksi dengan menggunakan benda dan situasi sehari-hari serta mengubahnya agar sesuai dengan khayalannya.

Teman imajiner adalah orang, hewan atau benda yang diciptakan anak dalam khayalannya untuk memainkan peran seorang teman. Banyak permainan membutuhkan teman bermain, supaya menyenangkan, anak yang tidak mempunyai teman sering menciptakan seorang teman imajiner. Melamun merupakan bentuk permaian mental, dan biasanya disebut “khayalan” untuk membedakannya dari ekspresi imajinasi yang lebih terkendali (Sari, 2005).

Bagian VIII

Pikiran Yang Sedang Bekerja

Artikel Pedoman :

Judul : Memanfaatkan Potensi Pikiran Penulis : Linus Kali Palindangan

Situs :

http://www.stiks-tarakanita.ac.id/files/Jurnal%20Vol.%202%20No.%201/84.%20Memanfaatkan%2 0potensi%20pikiran%20%28linus%29.pdf

Pembahasan “Perjalanan” Pikiran halaman 1-3 :

Ada semacam pikiran atau akal di dalam setiap hal di semesta kita yang mengarahkannya pada suatu finalitas. Berdasarkan sejarah bagian alam semesta yang kita kenal, yaitu jangka waktu antara dua belas sampai lima belas milyar tahun, kita mengetahui terbentuknya serangkaian bahan-bahan purba baru. Selanjutnya bahan-bahan tersebut muncul dalam kelompok-kelompok yang baru, mulai terbentuknya molekul-molekul, tetap hidupnya molekul-molekul raksasa yang baru terbentuk, munculnya tiap jenis makhluk hidup dan tiap kelompok binatang yang terdapat di setiap masa, dan munculnya manusia di bumi (Leahy, 1993:212).

Sejalan dengan perkembangan pandangan ini, Pierre Teilhard De Chardin, seorang imam Jesuit asal Perancis, penggagas teori evolusi bumi, membagi tiga fase perjalanan evolusi untuk kemudian sampai pada fase pikiran. Menurutnya perjalanan evolusi bumi berawal dari bahan purba. Setelah evolusi berlangsung selama miliaran tahun melewati dua fase yakni fase pra-hidup (geosfeer) dan fase kehidupan (biosfeer), akhirnya evolusi tiba pada fase ketiga yaitu fase pikiran (Noosfeer ) (Dähler & Chandra, 1971: 71-75).

Tidak ada maksud mengantar Anda masuk ke wilayah yang mengundang banyak perdebatan di antara para ahli ilmu pengetahuan di satu pihak dengan para teolog di pihak lain, dengan mengungkap soal evolusi. Evolusi di sini sekadar kami ungkit, untuk menyajikan bagaimana pikiran atau akal berperan dalam

mengarahkan setiap hal di semesta sehingga mereka tidak bergerak sembarangan saja, melainkan bergerak ke suatu tujuan. Hal mana tampak makin eksplisit dalam makhluk-makhluk. Salah satu di antara sekian banyak contoh tentang hal ini adalah ditemukannya Desoksiribonukleik Acid (DNA) yang menunjukkan semacam bahasa instruksi untuk perkembangan dan pertumbuhan suatu makhluk.

Bila kita berpikir, “Saya menginginkan secangkir kopi,”tindakan-tindakan yang relevan pun akan menyusul secara otomatis. Tetapi, apakah pikiran merupakan satu-satunya hubungan antara pengalaman dan tindakan? Bagaimana dengan ungkapan, “Berpikirlah sebelum bicara?” Sudah pasti pikiran harus sudah ada, sebelum kita membuka mulut. Kalau begitu, apa maksud ungkapan tersebut? Tampaknya pikiran mempunyai dua aspek dengan fungsinya masing-masing. Pertama, pikiran itu sendiri dapat dikatakan bahwa pikiran jenis pertama ini bekerja sebagian besar di bawah ketidak-sadaran kita. Pada wilayah inilah berlangsung kerja pikiran yang masih menyimpan banyak misteri. Taruhlah sebagai contoh: peng-kode-an serta perealisasian kode yang tersurat pada gen, atau kemampuan kognitif kita dalam memperoleh, menyimpan, mentransformasikan dan menggunakan pengetahuan. Atau pikiran yang terus bekerja sewaktu kita sedang tertidur atau setengah sadar. Kemampuan pikiran yang terakhir ini misalnya, cukup lazim di kalangan para motivator. Bagaimana cara menggunakannya? Sederhana saja, beritahukanlah ke pikiran pertanyaan atau persoalan yang belum terpecahkan sebelum pergi tidur, kemudian temukan jawabannya di pikiran Anda keesokan harinya. Ini hanyalah salah satu contoh bagaimana secara misterius pikiran itu bekerja untuk kita. Masih tentang misteri pikiran, pada tahun 1986 E.R. Hilgard mengungkapkan apa yang disebutnya hidden observer. Dalam observasinya Hilgard menemukan pada banyak subjek yang dihipnotis bahwa sebagian dari pikiran yang tidak berada dalam kesadaran tampaknya bertindak sebagai penonton terhadap apa yang dialami oleh subjek yang diobservasi(Atkinson, dkk., 1987: 396).

Bagian IX

Belajar dan Cinta

Artikel Pedoman :

Judul : Motivasi Belajar Dan Perhatian Orang Tua Terhadap Hasil Belajar Siswa

Penulis : Astrid Harera dan Imam Setiyono

Situs : ejournal.unesa.ac.id/article/8434/99/article.pdf

Pembahasan Motivasi Belajar 193-194:

Motivasi memengaruhi sikap apa yang seharusnya dilakukan oleh siswa dalam kegiatan belajarnya. Semakin kuat motivasi yang dimiliki seorang siswa maka semakin tinggi siswa tersebut untuk mencapai tujuan atau cita-citanya. Adapun fungsi motivasi dalam belajar ada 3, yaitu: mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi; menentukan arah perbuatan yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai; dan menyeleksi perbuatan yaitu menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.

Motivasi merupakan penggerak kemajuan siswa dalam proses belajar. Sehingga pentingnya motivasi bagi siswa antara lain: menginformasikan tentang kekuatan usaha belajar yang dibandingkan dengan teman sebaya, mengarahkan kegiatan belajar, membesarkan semangat belajar, menyadarkan tentang adanya perjalanan belajar dan bekerja yang berkesinambungan, dan menyadarkan kedudukan pada awal belajar, proses, dan hasil akhir (Dimyati & Mudjiono, 2006).

Perhatian adalah pemusatan tenaga psikis yang tertuju kepada suatu objek atau perhatian adalah banyak sedikitnya kesadaran yuang menyertai suatu aktivitas yang dilakukan.Perhatian adalah pemusatan tenaga atau kekuatan jiwa tertuju pada suatu objek. Selain itu perhatian merupakan pendayagunaan kesadaran untuk menyertai suatu aktivitas. Perhatian yaitu keaktifan jiwa yang diarahkan pada suatu objek,baik di dalam maupun di luar dirinya”.

Berdasarkan pendapat para ahli psikologi di atas dapat disimpulkan bahwa perhatian merupakan pemusatan energi tertuju pada suatu objek, dan juga sebagai kesadaran yang menyertai suatu aktivitas yang sedang dilakukan.

BAB IV

KRITIK, KELEMAHAN, KELEBIHAN, KESIMPULAN DAN SARAN 4.1. Kritik

Bagian I

Belajar Tentang Anak-Anak

Pada halaman 4 paragraf pertama dan kedua John Holt menuliskan kurang setujunya ia terhadap teori otak kanan dan otak kiri dengan alasan : “ Sebuah teori yang saat ini sedang ramai-ramainya dibicarakan orang adalah teori otak kanan-otak kiri, yang berpendapat bahwa untuk beberapa bentuk pemikiran kita menggunakan salah satu sisi otak kita, dan untuk beberapa pemikiran lainnya kita menggunakan sisi otak kita yang lain. Pertama-tama, teori itu sendiri berubah lebih cepat dari kemampuan kita mengikutinya. Dalam edisi terbaru majalah

Dalam dokumen Critical Book Report Psikologi Pendidikan (Halaman 29-53)

Dokumen terkait