• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBAHASAN DAN SIMPULAN

Dalam dokumen DODY SAKTI OKTAVIANTO P.09013 (Halaman 30-38)

ϭϳ

BAB III

PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN

A. Pembahasan

Menurut Direja,(2011) definisi halusinasi adalah salah satu gejala gangguan jiwa dimana pasien mengalami perubahan sensori persepsi: merasakan sensori palsu berupa suara, pengecapan, perabaan atau pembau. Halusinasi adalah gangguan pencerapan (persepsi) panca indra tanpa adanya rangasangan dari luar yang didapat meliputi semua system pengindraan dimana terjadi pada saat kesadaran individu itu penuh atau baik (Stuart & sudden, 2005). Menurut Saidah (2003), halusinasi adalah ganguan penyerapan atau persepsi panca indra tanpa adanya rangsangan dari luar yang dapat terjadi pada sistem pengindraan pada saat kesadaran penuh dan baik. Masuknya rangsangan tersebut terjadi pada saat klien dapat menerima rangsang dari luar dan dari individu. Dengan kata lain klien berespon terhadap rangsangan yang tidak nyata, yang hanya dirasakan oleh klien dan tidak dapat dibuktikan.

Manifestasi klinis halusinasi antara lain yaitu bingung, apatis terhadap lingkungan, pasien tidak dapat membedakan anttara realita dan khayalan. Sulit tidur dan konsentrasi menurun, gelisah, agitasi, agresif, destruktif, ekspresi wajah tenang, perasaan tidak aman, curiga, tersinggung, bicara sendiri, berkeringat, nadi cepat, tekanan darah meningkat, halusinasi dengar, klien menyumbat telinga, sikap seperti mendengar sesuatu, tertawa sendiri, terdiam, terengah - engah dalam pembicaraan sulit membuat keputusan (Kusumawati, 2010).

ϭϴ 

Pengkajian merupakan tahap awal dan dasar utama dari proses keperawatan, tahap pengkajian terdiri atas pengumpulan data dan perumusan masalah klien. Data yang dikumpulkan meliputi data biologis, data psikologis, sosial dan spiritual. Data pada pengkajian kesehatan jiwa dapat dikelompokkan menjadi faktor predisposisi, faktor presipitasi, penilaian terhadap stressor, sumber koping dan kemampuan koping yang dimiliki klien (Keliat, 2005).

Pengkajian merupakan elemen penting untuk pembuatan rencana asuhan keperawatan yang efektif yang relevensinya teridentifikasi pada pengkajian klien. Maka dari itu pembuatan rencana dimulai dari pengkajian format pengkajian dapat digunakan sebagai pedoman agar informasi yang diperoleh sistematis dan sebagai bagian dokumentasi (Towsend M.C,2006).

Berdasarkan hasil pengkajian yang telah dilakukan oleh penulis terhadap Sdr.L dengan metode auto anamnesa dan allo anamnesa, diperoleh data subjektif dan data objektif yang sesuai dengan prioritas masalah keperawatan yang dialami Sdr. L yaitu gangguan persepsi sensori: halusinasi didukung dengan data subjektif: Sdr.L mendengar bisikan – bisikan yang menyuruhnya untuk mengamuk orang tuanya, dan linkungan rumahnya, dan data objektif: Sdr.L takut, gelisah, mondar – mandir, berteriak – teriak, nyanyi sendiri, dalam hal ini dapat simpulkan bahwa manifestasi klinis yang dialami Sdr. L sesuai dengan manifestasi klinis yang terdapat dalam teori yaitu gelisah, curiga, halusi dengar, menyumbat telinga.

ϭϵ 

Diagnosa keperawatan adalah suatu pertimbangan klinis tentang respon individu,keluarga, atau komunitas terhadap masalah kesehatan/proses kehidupan yang actual dan potensial. Diagnosa keperawatan memberikan dasar bagi pemilihan intervensi keperawatan untuk mencapai hasil yang menjadi tanggung gugat perawat (Townsend.M.C 2006).

Diagnosa keperawatan adalah merupakan suatau pernyataan yang menjelaskan respon manusia terhadap status kesehatan atau resiko perubahan dari kelompok dimana perawat secara accountabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan, menurun, membatasi, mencegah, merubah. Terdapat 4 diagnosa keperawatan yaitu, resiko menciderai diri, orang lain dan lingkungan sebagai akibat, gangguan persepsi sensori halusinasi sebagai core problem, dan menarik diri sebagai etiologi. (Keliat, 2005).

Penulis menyimpulkan masalah keperawatan yang utama yang dialami Sdr. L adalah halusinasi pendengaran yang didukung dengan data subjektif: Sdr.L mendengar bisikan – bisikan yang menyuruhnya untuk mengamuk orang tuanya, dan linkungan rumahnya, dan data objektif: Sdr.L takut, gelisah, mondar – mandir, berteriak – teriak, nyanyi sendiri, Masalah keperawatan sebagai penyebab dari halusinasi yang terdapat pada Sdr.L diperoleh diagnosa ketidak efektifan koping keluarga hal ini didukung dengan data subjektif: Sdr.L mengatakan jika dirumah tidak ada yang mengingatkan untuk minum obat. Data objektif: tidak ada dukungan dari keluarga dalam mengingatkan klien untuk minum obat secara teratur.Akibat dari masalah keperawatan halusinasi pada Sdr.L adalah perilaku kekerasan hal tersebut

ϮϬ 

didukung dengan data subjektif: Sdr.L mengatakan bisikan suara yang menyuruhnya mengamuk, memukul, frekuensi 3x, saat mau tidur. Data objektif: klien tampak takut, gelisah.

Berdasarkan pohon masalah yang dialami Sdr. L dapat disimpulkan ada kesenjangan antara pohon masalah yang dialami Sdr. L dengan pohon masalah yang terdapat pada Sdr. L dimana masalah keperawatan yang menjadi penyebab halusinasi dalam teori adalah menarik diri: isolasi sosial. Tetapi yang menjadi penyebab halusinasi pada Sdr. L adalah ketidakefektifan koping keluarga.

Intervensi keperawatan adalah suatu tindakan dalam membantu pemilihan perencanaan untuk memberikan petunjuk terhadap pemberian asuahan keperawatan kepada klien (Townsend.M.C 2006). Intervensi keperawatan terdiri dari tiga aspek yaitu tujuan umum, tujuan khusus dan rencana tindakan keperawatan. Tujuan umum berfokus pada penyelesaian permasalahan (P) dari diagnosa tertentu. Tujuan umum dapat dicapai jika serangkaian tujuan khusus telah dicapai.Tujuan khusus berfokus pada penyelesaian etiologi (E) dari diagnosa tersebut. Tujuan khusus merupakan rumusan kemampuan yang perlu dicapai atau dimiliki klien. Kemampuan ini dapat bervariasi sesuai dengan masalah kebutuhan klien. Umumnya, kemampuan klien pada tujuan khusus dapat menjadi tiga aspek yaitu kemampuan kognitif yang diperlukan untuk menyelesaikan etiologi dari diagnosa keperawatan, kemampuan psikomotor yang diperlukan agar etiologi dapat teratasi dan kemampuan afektif yang perlu dimiliki agar klien percaya pada kemampuan menyelesaikan masalah (Stuart dan Laria, 2005).

Ϯϭ 

Tujuan umum dilakukan tindakan keperawatan pada permasalahan yang dihadapi klien yaitu agar klien dapat mengontrol halusinasinya yang di alami. TUK 1: Sdr.L dapat membina hubungan saling percaya dengan kriteria evaluasi: ekspresi wajah bersahabatan, menunjukan rasa tenang, ada kontak mata, mau berjabat tangan, mau menyebutkan nama, mau menjawab salam, mau duduk berdampingan dengan perawat, bersedia mengungkapkan masalah yang dihadapi. Intervensi: bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik: sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal, perkenalkan nama, nama panggilan perawat, jelaskan tujuan berkenalan, tanyakan nama panggilan yang disukai, buat kontrak yang jelas, tunjukan sikap jujur dan memepati janji setiap kali interaksi, tunjukan sikap empati dan menerima apa adanya, beri perhatian kepada klien dan kebutuhan dasar klien, tanyakan perasaan klien dan masalah yang dihadapi klien, dengarkan dengan penuh perhatian ekspresi klien.

TUK 2: Sdr.L dapat mengenal halusinasinya dengan kriteria evaluasi: klien menyebutkan isi, waktu, frekuensi, situasi dan kondisi yang menimbulkan halusinasi. Intervensi: observasi tingkah laku klien terkaid dengan halusinasinya, tanyakan apakah klien mengalami sesuatu (halusinasi dengar), jika klien menjawabnya, tanyakan apa yang sedang dialami, katakan bahwa perawat percaya klien mengalami halusinasi namun perawat tidak mengalaminya (dengan nada bersahabat). Katakan bahwa ada klien yang mengalami hal yang sama namun perawat akan membantu klien, diskusikan dengan klien isi, waktu, frekuensi, situasi dan kondisi yang menimbulkan halusinasi.

ϮϮ 

TUK 3: Sdr.L dapat mengontrol halusinasinya dengan kriteria hasil: klien dapat menyebutkan tindakan untuk mengendalikan halusinasinya, klien mampu menyebutkan cara baru mengontrol halusinasinya, klien dapat memilih dan memperagakan cara mengatasi halusinasinya. Intervensi: identivikasi bersama klien cara atau tindakan yang dilakukan saat terjadi halusinasi, diskusikan cara yang digunakan klien saat halusinasi muncul, jika cara yang digunakan maladaptif diskusikan kerugian cara tersebut, jika cara yang digunakan adaptif beri pujian, diskusikan cara baru untuk mengontrol halusinasi: menghardik, menemui orang lain, melakukan kegiatan harian, minum obat sesuai resep dokter. Beri kesempatan klien mempraktekan cara yang telah dipilih, jika berhasil beri pujian.

TUK 4: Sdr.L dapat dukungan dari keluarga dalam mengontol halusinasinya. Kriteria evaluasi: keluarga dapat menyebutkan pengertian, tanda dan gejala halusinasi. Intervensi: buat kontrak dengan keluarga untuk pertemuan, diskusikan dengan keluarga pada saat pertemuan (pengertian halusinasi, tanda dan gejala halusinasi, cara memutuskan halusunasi).

TUK 5: Kriteria evaluasi: Sdr.L mengikuti terapi aktifitas kelompok stimulasi persepsi atau orientasi realitas. Intervensi: Anjurkan klien mengikuti TAK stimulasi persepsi sessi 1: menonton TV. Anjurkan klien mengikuti TAK stimulasi persepsi sessi 2: membaca majalah, koran. Anjurkan klien mengikuti TAK stimulasi persepsi sessi 3: Gambar.

Implementasi kepeawatan adalah apabila tujuan, hasil dan intervensi telah diidentifikasi perawat siap untuk melakukan aktivitas pencatatan pada rencana

Ϯϯ 

keperawatan klien (Towsend.M.C 2006). Tindakan keperawatan yang dilakukan oleh penulis untuk Sdr.L pada saat diruang Abimanyu yaitu melakukan bina hubungan saling percaya, menanyakan apakah masih mendengar bisikan suara yang menyuruhnya mengamuk, memukul, meyakinkan bahwa klien saja yang mendengarkan suara tersebut, mengatakan perawat akan membantu menghilangkan bisikan yang dialaminya, menanyakan pada saat apa halusinasi itu muncul, membantu mengenal halusinasinya, mengajarkan cara mengontrol halusinasi dengan menghardik, bercakap-cakap dengan orang lain, melakukan aktifitas harian, dan minum obat dengan benar.

Evaluasi keperawatan adalah proses berkesinambungan yang perlu dilakukan untuk menentukan seberapa baik rencana keperawatan dilakukan (Towsend. 2006). Penulis melakukan implementsai dan selanjutnya mendapatkan hasil evaluasi dengan data subjektif: Sdr.L mengatakan suara bisikan muncul menjelang tidur malam, data objektif: Sdr.L mampu mengulang SP 1, SP 2, dan SP 3 dengan baik, Sdr.L tampak memperhatikan cara menggontrol halusinasi SP 4 menggunakan obat secara teratur, Sdr.L tampak meminum terapi obat, data assessment: Sdr.L mampu menjelaskan nama, warna, dosis, dan kegunaan obat, Planing untuk Sdr.L anjurkan untuk disiplin minum obat, planing untuk perawat pertahankan SP 4.

B. Simpulan

1. Dari pembahasan diatas penulis menyimpulkan bahwa halusinasi adalah keadaan dimana individu atau kelompok mengalami atau beresiko mengalami suatu perubahan dalam jumlah, pola atau interpretasi stimulus yang datang. Dengan

Ϯϰ 

tanda dan gejala dari pemenuhan kebutuha keamanan dan keselamtan : halusinasi yang menunjukkan sikap seperti takut, gelisah, menutup telinga, nyanyi sendiri, mondar – mandir.

2. Diagnosa keperawatan yang terdapat pada Sdr. L penulis mendapatkan masalah keperawata ketidak efektifan koping keluarga sebagai penyebab. Perilaku kekerasan sebagai akibat, dan penulis mengangkat gangguan persepsi sensori: halusinasi sebagai masalah utama dalam kasus Sdr.L yang didukung data subjektif dan data objektif.

3. Implementasi yang dilaksanakan oleh penulis pada Sdr.L diruang Abimanyu RSJD Surakarta yaitu melakukan bina hubungan saling percaya, menanyakan apakah masih mendengar bisikan suara yang menyuruhnya mengamuk, memukul. Meyakinkan bahwa klien saja yang mendengarkan suara tersebut, mengatakan perawat akan membantu menghilangkan bisikan yang dialaminya, menanyakan pada saat apa halusinasi itu muncul, membantu mengenal halusinasinya, mengajarkan cara mengontrol halusinasi dengan menghardik, bercakap-cakap dengan orang lain, melakukan aktifitas harian, dan minum obat dengan benar. 4. Evaluasi yang telah dilaksanakan oleh penulis pada kasus halusinasi Sdr.L diruang

Abimanyu RSJD Surakarta yaitu diperoleh data:

Subjektif: Sdr.L mengatakan suara bisikan muncul menjelang tidur malam. Objektif: Sdr.L mampu mengulang SP 1, SP 2, dan SP 3 dengan baik, Sdr.L tampak memperhatikan cara menggontrol halusinasi SP 4 menggunakan obat secara teratur, Sdr.L tampak meminum terapi obat.

Ϯϱ 

Assessment: Sdr.L mampu menjelaskan nama, warna, dosis, dan kegunaan obat. Plan untuk Sdr.L anjurkan untuk disiplin minum obat,

planing untuk perawat pertahankan SP 4. C. Saran

Berdasarkan kesimpulan diatas, maka penulis memberikan saran yang diharapkan bermanfaat, sebagai berikut:

1. Bagi rumah sakit, hendaknya menyediakan dan memfasilitasi apa yang dibutuhkan oleh klien untuk penyembuhan, rumah sakit selalu meningkatkan kemampuan tenaga kesehatan guna membantu penyembuhan pasien gangguan jiwa.

2. Bagi institusi untuk selalu memberikan motivasi dorongan kepada mahasiswa untuk penyelesaian tugas karya tulis ilmiah.

3. Bagi keluarga berikan motivasi kepada klien dan konsultasi secara rutin, belajar cara merawat klien dengan sabar pada anggota keluarga yang menderita gangguan jiwa.

4. Bagi perawat untuk selalu meningkatkan kemampuan dalam memberikan asuhan keperawatan supaya lebih profesional dalam merawat pasien dan lebih sabar dalam memberikan pelayanan guna peningkatan keadaan pasien.

Dalam dokumen DODY SAKTI OKTAVIANTO P.09013 (Halaman 30-38)

Dokumen terkait