• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBAHASAN

Dalam dokumen DASAR DASAR ILMU TANAH docx (Halaman 73-96)

C. Jumantono

V. PEMBAHASAN

1. Penyandraan Bentang Lahan

Praktikum di Jatikuwung, dilaksanakan pada hari Sabtu, 17 Oktober 2015. Cuaca pada waktu pelaksanaan praktikum yaitu cerah/bersih (sunny/clear). Latitude 7o31’5,5” LS dan longitude 110o50’43,1”. Arah hadap 27,52o ke Barat. Ketinggian tempat 160 mdpl. Kemiringan lereng 10,17% yang berarti sangat miring sehingga jarang terjadi banjir, apabila terjadi banjir durasinya pun sangat singkat, dan menyebabkan tingkat erosi yang terjadi adalah erosi permukaan (sheet erosion), dengan tingkat bahaya yang rendah. Proses pembentukan lahan karena hasil aktivitas/endapan materi gunung berapi yaitu gunung Merapi.Tutupan lahan pada lokasi adalah tutupan semak (shrub cover), karena 80% vegetasi lahan adalah rerumputan, 5% pohon jati, 3% pohon pisang, 10% pohon mangga, dan 2% pohon rambutan. Geologi/penyusun bahan induk tanah adalah QVM (quarter vulkanik Merapi).Persebaran batuan di lokasi, yaitu sangat jarang ditemukan batuan, dan jarak antar batuan jauh.

2. Penyidika Profil Tanah

Metode yang digunakan dalam penyidikan profil yaitu irisan lereng (beveled cut). Horizon yang ditemukan yaitu horizon A1, A2, dan A3. Jeluk pada horizon A1 dari atas ke bawah yaitu 0-16 cm, horizon A2 16-26 cm, horizon A3 26-44 cm. Batas antar horizonnya baur (diffuse) atau tidak terlalu jelas terlihat. Bentuk topografi/batas horizonnya berombak (wavy), berbentuk kantung, lebar lebih panjang daripada kedalaman. Ukuran akar yang mampu menembus horizon yaitu akar halus yang berukuran 1 - <2 mm, dengan jumlah yang banyak (many). Jenis tanah di Jatikuwung adalah tanah vertisol. Tanah vertisol umumnya terbentuk dari bahan sedimen yang mengandung mineral smektite dalam jumlah tinggi, di daerah datar, cekungan hingga berombak. Bahan induknya terbatas pada tanah bertekstur halus atau terdiri atas bahan-bahan yang sudah mengalamai

vulkanik. Pembentukan tanah vertisol terjadi melalui dua proses utama. Pertama adalah proses terakumulasinya mineral 2:1 (smektite) dan kedua adalah proses mengembang dan mengerut yang terjadi secara periodik hingga membentuk slickenslide atau relief mikro gilgae.

Ciri-ciri tanah vertisol adalah sebagai berikut: (1) tekstur lempung dalam bentuk yang mencirikan, (2) tanpa horison eluvial dan iluvial, (3) struktur lapisan atau granuler, sering berbentuk seperti bunga kubis, dan lapisan bawah gumpal atau pejal, (4) mengandung kapur, (5) koefisien mengembang mengkerut tinggi jika dirubah kadar airnya, (6) seringkali mikrorelifnya gilgai (peninggian-peninggian setempat yang teratur, (7) konsistensi luar biasa plastis, (8) bahan induk berkapur atau basaltic dan berlempung sehingga kedap air, (9) kedalaman solum rata-rata 75 cm dan (10) warna tanah kelam/hitam atau chroma kecil.

Tanah vertisol relatif sulit diolah karena memiliki konsistensi yang sangat kuat karena memiliki kandungan lempung yang tinggi yaitu lebih dari 30%. Tanah ini sangat keras pada waktu kering (musim kemarau) dan sangat plastik dan lengket ketika basah. Pengolahan dapat dilaksanakan di dalam musim kemarau baik secara manual maupun dengan menggunakan alat berat/traktor.

3. SifatFisika Tanah

Sifat fisik tanah yang diamati pada praktikum ini adalah tekstur tanah, struktur tanah, dan konsistensi tanah. Dilapangan dalam menentukan tekstur tanah yaitu dengan merasakan tingkat kasar, licin dan lengketnya tanah. Tanah di Jatikuwung pada horizon A1 dan A2 bertekstur geluh lempung debuan (silty clay loam), karena rasa licin jelas, membentuk bola teguh, gulungan mengkilat dan melekat. Pada horizon A3 bertekstur geluh debuan (silty loam), karena tanahnya licin, membentuk bola teguh, dapat sedikit digulung dengan permukaan mengkilat, serta melekat.

Tipe struktur tanah pada horizon A1 dan A2 yaitu gumpal menyudut (angular blocky), di mana tanahnya berbidang banyak, bidang muka saling berpotongan membentuk sudut lancip, pada horizon A3 tipe strukturnya

gumpal membulat (sub angular blocky), yaitu berbidang banyak, bidang muka saling berpotongan membentuk sudut membulat. Ukuran struktur tanah pada horizon A1 halus (fine), dengan ukuran lempeng 1 – <2 mm, kriteria tiang, prisma, bajinya berukuran 10 - <20 mm dan ukuran gumplalnya 5 - <10 mm. Pada horizon A2 sedang (medium), dengan ukuran lempeng 2 - <5 mm kriteria tiang, prisma, bajinya berukuran 20 - <50 mm dan ukuran gumplalnya 10 - <20mm. Pada horizon A3 kasar (coarse), dengan ukuran lempengnya 5 - <10 mm, kriteria tiang, prisma, bajinya berukuran 50 - <100 mm dan ukuran gumplalnya 20 -<50 mm. Masing-masing derajad kekasaran horizonnya kuat (strong), artinya kemantapan cukup kuat, masih utuh ketika diremas.

Tingkat konsistensi tanah pada kondisi kering. Tanah horizon A1 sangat keras, tanah tahan terhadap tekanan, massa tanah sukar dihancurkan dengan jari tangan. Tanah horizon A2 dan A3 keras, tanah tahan terhadap tekanan yang sedang sampai kuat.

4. Sifat Kimia Tanah

Sifat kimia yang diamati pada praktikum ini, yaitu warna tanah, redoks, ketahanan uji tanah, pH tanah dan kadar tanah. Warna tanah dapat tentukan menggunakan MSCC (Munsell Soil Colour Charts). Warna tanah pada horizon A1 yaitu 5YR 4/1 Dark Grey, horizon A2 5YR 5/1 Grey, horizon A3 2,5 YR 4/2 Dark Grey Brown.

Tafsiran reaksi reduksi dan oksidasi untuk menentukan baik buruknya aerasi dan drainasi tanah. Hasil pengamatan pada horizon A1 yaitu bongkah berwarna merah nyata disertai hijau, yang berarti aerasi dan drainasinya baik karena oksidatif kuat. Pada horizon A2 dan A3 bongkah berwarna biru nyata disertai merah jambu, artinya drainase dan aerasinya buruk karena reduksi kuat.

Ketahanan penetrasi merupakan uji kekuatan mekanik tanah khususnya daya topang statika. Alat yang digunakan yaitu penetrometer. Ketahanan penetrasi tanah Jatikuwung secara vertikal yaitu 4,5 kg/m2, sedangkan

secara horizontal baik horizon A1, A2, maupun A3 yaitu 4,5 kg/m2, yang artinya tanahh cukup kuat untuk menahan beban seberat traktor.

pH tanah merupakan indikator reaksi yang terjdi di dalam tanah. Pegukuran pH dengan H2O sebagai pH aktual dan KCl sebagai pH potensial. Hasil pengamatan, pH pada horizon A1 dan A2 dengan H2O adalah 5, berarti tanah bersifat masam kuat, sedangkan pada horizon A3 pHnya 6, artinya tanah bersifat masam. pH horizon A1 dengan KCl yaitu 5, artinya tanah bersifat masam kuat, dan pada horizon A2 dan A3 pH nya 6, artinya tanah bersifat masam.

Kadar bahan organik diuji dengan menetesi larutan H2O2, dan melihat jumlah buih yang timbul. Hasil pengamatan, pada horizon A1 dihasilkan buih yang banyak dan membentuk busa tipis, pada horizon A2 buih yang dihasilkan sedikit/buih hanya nampak saja, pada horizon A3 buih yang dihasilkan sangat sedikit/hanya beberapa buih yang terlihat. Kadar kapur menentukan kesuburan tanah. Kadar kapur diuji dengan menetesi HCl 10%. Hasil pengamatan, pada horizon A1, A2 maupun A3 tidak mengandung kapur/kadar kapurnya 0.

5. Lengas Tanah Kering Angin

Kadar lengas tanah kering angin menggunakan ctka 0,5 mm, 2 mm dan bongkah. Pertama, menimbang botol timbang kosong sebagai a, botol penimbang dengan tanah sebagai b, dan botol timbang dengan tanah yang sudah dioven selama 4 jam sebagai c untuk masing-masing ctka. Kemudian, memasukkan ke dalam rumus dan menghitung hasilnya. Hasilpengamatan, lengas tanah kering angin tanah Jatikuwung untuk ctka 0,5 mm adalah 10,3%, ctka 2 mm 11,35% dan bongkah 11,81%.Tujuan dari mengitung kadar lengas tanah adalah agar dapat menghitung bobot volume tanah, menghitung bobot jenis tanah, menghitung Nilai Perbandingan Dispersi (NDP), struktur tanah, bahan organik tanah, dan kapur tanah.

6. Kapasitas Lapangan

Kapasitan lapangan menggunakan ctka 2 mm. Kapasitas lapangan ditentukan dengan menghitung massa botol timbang kosong sebagai a, botol timbang dengan tanah setinggi 2/3 botol

sebagai b, dan botol timbang dengan tanah setinggi 2/3 botol yang sudah dioven selama 4 jam sebagai c. Kemudian, memasukkan ke dalam rumus dan menghitung kapasitas lapangannya. Hasil penghitungan, didapatkan bahwa kapasitas lapangan tanah Jatikuwung adalah 29,9%. Tujuan menghitung kapasitas lapangan adalah untuk mengetahui keadaan air tanah atau lengas tanahdi dalam pertumbuhan tanaman.

7. Lengas Maksimum (Kapasitas Air Maksimum)

Lengas maksimum menggunakan ctka 2 mm. Lengas maksimum ditentukan dengan menghitung cawan dan gelas arloji sebagai a, cawan dan gelas arloji dengan tanah sebagai b, cawan dan gelas arloji dengan tanah yang sudah dioven selama 4 jam sebagai c, dan cawan dan gelas arloji tanpa tanah yang sudah dioven selama 4 jam sebagai d. Kemudian, memasukkan ke dalam rumus dan menghitung lengas maksimum. Hasil penghitungan, lengas maksimum tanah Jatikuwung adalah 69,425%. Tujuan menghitung Lengas Maksimum tanah adalah untuk mengetahui daya ikat tanah terhadap air.

8. Batas Berubah Warna (BBW)

Batas Berubah Warna menggunakan ctka 0,5 mm. Dilakukan dengan 2 kali ulangan. Pertama, menimbang botol timbang kosong sebagai a, botol timbang dengan tanah sebagai b, dan botol timbang dengan tanah yang sudah dioven sebagai c, dengan masing-masing 2 kali ulangan. Kemudian, memasukkan ke dalam rumus dan mengitung batas berubah warnanya. Hasil penghitungan, batas berubah warna tanah Jatikuwung pada ulangan 1 yaitu 14,3%, pada ulangan 2 yaitu 10,76%. Rata-rata BBW tanah Jatikuwung yaitu 12,53%, maka harkat BBW nya termasuk sedang.

9. Bobot Volume (BV)/Bulk Density

Bobot volume menggunakan tanah bongkah. Ditentukan dengan menimbang bongkah yang diikat dengan benang sebagai a, tanah bongkah yang dilapisi lilin sebagai b, mengukur aquades 20 cc sebagai p dan bongkah yang dilapisi lilin yang dicelupkan dalam aquades 20 cc ditambah sebagai q. Kemudian,

memasukkan ke dalam rumus dan menghitung bobot volume tanah. Hasil penghitungan, bobot volume tanah Jatikuwung adalah 2,317 gram.

10.Bobot Jenis/Particle Density

Bobot jenis menggunakan ctka 2 mm. Ditentukan dengan menimbang piknometer kosong sebagai a, menimbang piknometer dengan aquades sebagai b, mengukur suhu air dalam piknomener dan menentukan BJ1 nya, mengukur piknometer dengan tanah 5gr sebagai c, piknometer dengan tanah dan aquades sebagai d, dan mengukur suhu piknometer dengan aquades dan tanah serta menentukan BJ2 nya. Kemudian, memasukkan ke dalam rumus dan menghitung bobot jenisnya. Hasil penghitungan, bobot jenis tanah Jatikuwung adalah 2,5635 gram.

11. Porositas

Porositas tanah adalah ruang volume seluruh pori-pori makro dan mikro dalam tanah yang dinyatakan dalam persentase volume tanah di lapangan. Dengan kata lain porositas tanah adalah bagian dari volume tanah yang tidak ditempati oleh padatan tanah. Jadi, tujuan dari menghitung porositas adalah untuk mengetahui seluaruh ruang pori makro maupun mikro dalam tanah.Porositas dapat hitung apabila ada data bobot volume dan bobot jenis tanah. Dari hasil penghitunga, porositas tanah Jatikuwung yaitu 9,6%.

12.Analisis pH Tanah

pH tanah diukur menggunakan pH meter. Menggunakan H2O sebagai pH aktual dan KCl sebagai pH potensial. pH aktual adalah pH yang menunjukkan konsentrasi ion H+ baik yang berada di dalam larutan tanah maupun yang berada di dalam larutan serapan. Pertumbuhan tanaman sangat dipengaruhi oleh pH tanah baik langsung maupun tidak langsung.pH potensial adalah banyaknya ion H+ yang berada pada larutan tanah dan kompleks serapan tanah. pH potensial biasanya lebih rendah daripada pH aktual. Hasil pengamatan, pH tanah Jatikuwung dengan H2O adalah 6,0. pH tanah dengan KCl adalah 6,3.

B. Fakultas Pertanian

1. Penyandraan Bentang Lahan

Praktikum di Fakultas Pertanian UNS, dilaksanakan pada hari Minggu, 18 Oktober 2015. Cuaca pada waktu pelaksanaan praktikum yaitu berawan sebagian (partly cloudy). Latitude 0,7o33,6’11” LS dan longitude 110o51,4’476”. Arah hadap 340o ke Barat Laut. Ketinggian tempat 133 mdpl. Kemiringan lereng 33% yang berarti curam sehingga sangat jarang terjadi banjir, apabila terjadi banjir durasinya pun sangat singkat, dan menyebabkan tingkat erosi yang terjadi adalah erosi alur (riil erosion), dengan tingkat bahaya yang sedang. Tutupan lahan pada lokasi adalah tutupan pohon (tree cover), karena 90% vegetasi lahan adalah pohon jati, 5% pohon lamtoro, dan5% pohon melinjo. Fisiografi lahannya adalah miscellaneous, atau diakibatkan aktivitas manusia. Geologi/penyusun bahan induk tanah adalah QVL (quarter vulkanik Lawu). Persebaran batuan di lokasi, yaitu sangat jarang ditemukan batuan, dan jarak antar batuan jauh.

2. Penyidika Profil Tanah

Metode yang digunakan dalam penyidikan profil yaitu irisan lereng (beveled cut). Lapisan yang ditemukan yaitu lapisan A1, 2, dan 3. Jeluk pada lapisan A1 dari atas ke bawah yaitu 0-11 cm, lapisan A2 11-28 cm, lapisan A3 28-52 cm. Batas antar lapisan A1 dan 2 baur (diffuse) atau tidak terlalu jelas terlihat, sedangkan antar lapisan A2dan 3 tajam (abrupt). Bentuk topografi/batas lapisan A1 dan 2 berombak (wavy), berbentuk kantung, lebar lebih panjang daripada kedalaman, sedangkan pada lapisan A3 rata (smooth). Ukuran akar yang mampu menembus lapisan A1yaitu akar halus (fine) yang berukuran 1 - <2 mm, dengan jumlah yang banyak (many). Ukuran akar yang mampu menembus lapisan A2 adalah akar sedang (medium), memiliki ukuran 2 - <5 mm, dengan jumlah biasa (common). Ukuran kara yang mampu menembus lapisan A3 adalah akar kasar (coarse), memiliki ukuran 5 - <10 mm, dengan jumlah yang sedikit (few).

Jenis tanah di Fakultas Pertanian UNS adalah tanah Entisol. Tanah entisol merupakan tanah yang masih sangat muda, yaitu baru dalam proses tingkat permulaan dalam perkembangannya, (Kata Ent berarti recent atau baru). Entisol dicirikan oleh bahan mineral tanah yang belum membentuk horison pedogenik yang nyata.Entisol terjadi di bagian lapisan atmosfer di daerah dengan bahan induk dari pengendapan matrial baru atau di daerah-daerah tempat laju erosi atau pengendapan lebih cepat daripada laju perkembangan tanah. Seperti lereng curam, dataran banjir dan dunes. Kriteria utama ordo entisol adalah tidak-adanya organisasi material tanah. Tanah-tanah ini menunjukkan sedikit (tidak-ada) perkembangan struktur atau horison dan menyerupai material dalam timbunan pasir segar.Ciri-ciri tanah entisol :

a. Tanah yang baru berkembang.

b. Belum ada perkembangan horison tanah.

c. Meliputi tanah-tanah yang berada diatas batuan induk. d. Termasuk tanah yang berkembang dari bahan baru. 3. SifatFisika Tanah

Sifat fisik tanah yang diamati pada praktikum ini adalah tekstur tanah, struktur tanah, dan konsistensi tanah. Dilapangan dalam menentukan tekstur tanah yaitu dengan merasakan tingkat kasar, licin dan lengketnya tanah. Tanah di FP UNS pada lapisan A1 bertekstur pasir geluhan (laomy sand), karena sangat kasar, membentuk bola yang mudah sekali hancur, serta agak melekat. Pada lapisan A2 bertekstur geluh pasiran (sandy loam), karena tanahnya agak kasar, membentuk bola agak keras tetapi mudah hancur, serta melekat. Pada lapisan A3 bertekstur geluh lempung debuan (silty clay loam), tanahnya terasa licin jelas, membentuk bola teguh, gulungan mengkilat dan melekat.

Tipe struktur tanah pada lapisan A1, 2, dan 3 yaitu kersai (granular). Ukuran struktur tanah pada lapisan A1 dan 2 kasar (coarse), dengan ukuran lempeng 5 – <10 mm, kriteria tiang, prisma, bajinya berukuran 50 - <100 mm dan ukuran gumplalnya 20 - <50 mm. Pada lapisan A3 berstruktur sangat kasar (very coarse), dengan ukuran

lempeng ≥ 10 mm kriteria tiang, prisma, bajinya berukuran 100 - <500 mm dan ukuran gumplalnya ≥50 mm. Masing-masing derajad kekasaran lapisannya kuat (strong), artinya kemantapan cukup kuat, masih utuh ketika diremas.

Tingkat konsistensi tanah pada kondisi kering. Tanah lapisan A1keras, tanah tahan terhadap tekanan yang sedang sampai kuat tanah. Tanah lapisan A2 agak keras, tanah hancur dengan tekanan agaksedang antara ibu jari dan telunjuk dan lapisan A3lunak, dengan sedikit tekanan antara ibu jari dan telunjuk tanah mudah hancur dengan butir kecil. 4. Sifat Kimia Tanah

Sifat kimia yang diamati pada praktikum ini, yaitu warna tanah, redoks, ketahanan uji tanah, pH tanah dan kadar tanah. Warna tanah dapat tentukan menggunakan MSCC (Munsell Soil Colour Charts). Warna tanah pada lapisan A1 yaitu 5YR 2,5/2 Dark Reddish Brown, lapisan A2 7,5YR 3/4 Dark Brown, lapisan A3 7,5 YR 4/4 Brown.

Tafsiran reaksi reduksi dan oksidasi untuk menentukan baik buruknya aerasi dan drainasi tanah. Hasil pengamatan pada lapisan A1 dan 3 yaitu bongkah berwarna merah nyata disertai biru nyata, yang berarti aerasi dan drainasinya sedang karena oksidatif reduksi seimbang. Pada lapisan A2 bongkah berwarna biru nyata disertai merah jambu, artinya drainase dan aerasinya buruk karena reduksi kuat.

Ketahanan penetrasi merupakan uji kekuatan mekanik tanah khususnya daya topang statika. Alat yang digunakan yaitu penetrometer. Ketahanan penetrasi tanah Jatikuwung secara vertikal yaitu 4,5 kg/m2, sedangkan secara horizontal baik lapisan A1, 2, maupun 3 yaitu 4,5 kg/m2, yang artinya tanah cukup kuat untuk menahan beban seberat traktor.

pH tanah merupakan indikator reaksi yang terjdi di dalam tanah. Pegukuran pH dengan H2O sebagai pH aktual dan KCl sebagai pH potensial. Hasil pengamatan, pH pada lapisan A1, 2 dan 3 dengan H2O adalah 5, berarti tanah bersifat masam kuat. pH lapisan A1dan 2 dengan KCl yaitu

6, artinya tanah bersifat masam, dan pada lapisan A3 pH nya 5, artinya tanah bersifat masam kuat.

Kadar bahan organik diuji dengan menetesi larutan H2O2, dan melihat jumlah buih yang timbul. Hasil pengamatan, pada lapisan A1,2 dan 3dihasilkan buih yang banyak dan membentuk busa tipis. Kadar kapur menentukan kesuburan tanah. Kadar kapur diuji dengan menetesi HCl 10%. Hasil pengamatan, pada lapisan A1, 2 maupun 3 tidak mengandung kapur/kadar kapurnya 0.

5. Lengas Tanah Kering Angin

Kadar lengas tanah kering angin menggunakan ctka 0,5 mm, 2 mm dan bongkah. Pertama, menimbang botol timbang kosong sebagai a, botol penimbang dengan tanah sebagai b, dan botol timbang dengan tanah yang sudah dioven selama 4 jam sebagai c untuk masing-masing ctka. Kemudian, memasukkan ke dalam rumus dan menghitung hasilnya. Hasil pengamatan, lengas tanah kering angin tanah Jatikuwung untuk ctka 0,5 mm adalah 7,42%, ctka 2 mm 6,95% dan bongkah 4,24%. Tujuan dari mengitung kadar lengas tanah adalah agar dapat menghitung bobot volume tanah, menghitung bobot jenis tanah, menghitung Nilai Perbandingan Dispersi (NDP), struktur tanah, bahan organik tanah, dan kapur tanah.

6. Kapasitas Lapangan

Kapasitan lapangan menggunakan ctka 2 mm. Kapasitas lapangan ditentukan dengan menghitung massa botol timbang kosong sebagai a, botol timbang dengan tanah setinggi 2/3 botol sebagai b, dan botol timbang dengan tanah setinggi 2/3 botol yang sudah dioven selama 4 jam sebagai c. Kemudian, memasukkan ke dalam rumus dan menghitung kapasitas lapangannya. Hasil penghitungan, didapatkan bahwa kapasitas lapangan tanah Jatikuwung adalah 26,7%.Tujuan menghitung kapasitas lapangan adalah untuk mengetahui keadaan air tanah atau lengas tanah di dalam pertumbuhan tanaman.

Lengas maksimum menggunakan ctka 2 mm. Lengas maksimum ditentukan dengan menghitung cawan dan gelas arloji sebagai a, cawan dan gelas arloji dengan tanah sebagai b, cawan dan gelas arloji dengan tanah yang sudah dioven selama 4 jam sebagai c, dan cawan dan gelas arloji tanpa tanah yang sudah dioven selama 4 jam sebagai d. Kemudian, memasukkan ke dalam rumus dan menghitung lengas maksimum. Hasil penghitungan, lengas maksimum tanah Jatikuwung adalah 70,31%.Tujuan menghitung Lengas Maksimum tanah adalah untuk mengetahui daya ikat tanah terhadap air.

8. Batas Berubah Warna (BBW)

Batas Berubah Warna menggunakan ctka 0,5 mm. Dilakukan dengan 2 kali ulangan. Pertama, menimbang botol timbang kosong sebagai a, botol timbang dengan tanah sebagai b, dan botol timbang dengan tanah yang sudah dioven sebagai c, dengan masing-masing 2 kali ulangan. Kemudian, memasukkan ke dalam rumus dan mengitung batas berubah warnanya. Hasil penghitungan, batas berubah warna tanah Jatikuwung pada ulangan 1 yaitu 9,2%, pada ulangan 2 yaitu 12,3%. Rata-rata BBW tanah Jatikuwung yaitu 10,75%, maka harkat BBW nya termasuk rendah.

9. Bobot Volume (BV)/Bulk Density

Bobot volume menggunakan tanah bongkah. Ditentukan dengan menimbang bongkah yang diikat dengan benang sebagai a, tanah bongkah yang dilapisi lilin sebagai b, mengukur aquades 20 cc sebagai p dan bongkah yang dilapisi lilin yang dicelupkan dalam aquades 20 cc ditambah sebagai q. Kemudian, memasukkan ke dalam rumus dan menghitung bobot volume tanah. Hasil penghitungan, bobot volume tanah Jatikuwung adalah 1,0009 gram.

10. Bobot Jenis/Particle Density

Bobot jenis menggunakan ctka 2 mm. Ditentukan dengan menimbang piknometer kosong sebagai a, menimbang piknometer dengan aquades sebagai b, mengukur suhu air dalam piknomener dan menentukan BJ1 nya, mengukur piknometer dengan tanah 5gr sebagai c, piknometer

dengan tanah dan aquades sebagai d, dan mengukur suhu piknometer dengan aquades dan tanah serta menentukan BJ2 nya. Kemudian, memasukkan ke dalam rumus dan menghitung bobot jenisnya. Hasil penghitungan, bobot jenis tanah Jatikuwung adalah 2,7348 gram.

11. Porositas

Porositas tanah adalah ruang volume seluruh pori-pori makro dan mikro dalam tanah yang dinyatakan dalam persentase volume tanah di lapangan. Dengan kata lain porositas tanah adalah bagian dari volume tanah yang tidak ditempati oleh padatan tanah. Jadi, tujuan dari menghitung porositas adalah untuk mengetahui seluaruh ruang pori makro maupun mikro dalam tanah. Porositas dapat hitung apabila ada data bobot volume dan bobot jenis tanah. Dari hasil penghitungan, porositas tanah Jatikuwung yaitu 63,4%.

12. Analisis pH Tanah

pH tanah diukur menggunakan pH meter. Menggunakan H2O sebagai pH aktual dan KCl sebagai pH potensial.pH aktual adalah pH yang menunjukkan konsentrasi ion H+ baik yang berada di dalam larutan tanah maupun yang berada di dalam larutan serapan. Pertumbuhan tanaman sangat dipengaruhi oleh pH tanah baik langsung maupun tidak langsung. pH potensial adalah banyaknya ion H+ yang berada pada larutan tanah dan kompleks serapan tanah. pH potensial biasanya lebih rendah daripada pH aktual. Hasil pengamatan, pH tanah Jatikuwung dengan H2O adalah 5,9. pH tanah dengan KCl adalah 6,01.

C. Jumantono

1. Penyandraan Bentang Lahan

Praktikum di Jatikuwung, dilaksanakan pada hari Minggu, 18 Oktober 2015. Cuaca pada waktu pelaksanaan praktikum yaitu berawan sebagian (partly cloudy). Latitude 070,310,04LS dan longitude 11005043,1. Arah hadap 210 ke Barat Daya. Ketinggian tempat 168 mdpl. Kemiringan lereng 0% yang berarti hampir datar. Sangat jarang terjadi banjir, apabila terjadi banjir durasinya pun sangat singkat, dan menyebabkan tingkat erosi yang terjadi adalah erosi permukaan (sheet erosion), dengan tingkat bahaya yang rendah. Proses pembentukan lahan karena hasil aktivitas/endapan materi gunung berapi yaitu gunung Lawu. Tutupan lahan pada lokasi adalah tutupan tanaman (crop cover). 50% vegetasi lahan adalah rerumputan, 25% semak, 5% pohon mangga, dan 5% pohon rambutan, 5% pohon jati, 5% pohon nangka. Geologi/penyusun bahan induk tanah adalah QVL (quarter vulkanik Lawu). Persebaran batuan di lokasi, yaitu sangat jarang ditemukan batuan, dan jarak antar batuan jauh.

2. Penyidikan Profil Tanah

Metode yang digunakan dalam penyidikan profil yaitu irisan lereng (beveled cut). Horizon yang ditemukan yaitu horizon A1, A2, dan A3. Jeluk pada horizon A1 dari atas ke bawah yaitu 0-13 cm,

Dalam dokumen DASAR DASAR ILMU TANAH docx (Halaman 73-96)

Dokumen terkait