BAB 3 METODE PENELITIAN
4.3 Pembahasan Data Kualitatif
Berikut peneliti paparkan hasil observasi dan analisis data kualitatif dari sikap siswa selama penelitian. Hasil analisis data kualitatif menemukan 4 indikasi yang menunjukkan perilaku kebebasan berpendapat yaitu: 1) mendengarkan orang lain yang sedang berbicara, 2) berani berbicara secara spontan, 3) memberi pendapat dengan cara yang santun, dan 4) memperingatkan orang lain ketika melakukan tindakan yang merugikan sesama. Indikasi nomor 2,3, dan 4 mengacu pada teori yang disampaikan Tillman, Suseno dan Tocqueville. Indikasi nomor 1 merupakan temuan peneliti dalam proses analisis data kualitatif. Berikut pemaparan indikasi-indikasi tersebut.
4.3.1 Mendengarkan Orang Lain yang Sedang Berbicara
Indikator kebebasan berpendapat tersebut diperoleh berdasarkan hasil pengamatan selama pelaksanaan pembelajaran. Indikator tersebut adalah mendengarkan orang lain yang sedang berbicara. Hal ini dapat ditunjukkan oleh siswa dengan diam, memperhatikan teman yang sedang berbicara, menjalankan instruksi dengan benar tanpa bertanya-tanya lagi.
Pada awal pelajaran, peneliti sudah menjelaskan dan melakukan konfirmasi kepada para siswa tentang cara yang baik untuk mendengarkan dan para siswa pun menyetujuinya. Namun pada kegiatan pembelajaran, peneliti menemukan siswa-siswa yang belum bisa mendengarkan orang yang sedang berbicara. Hal ini nampak pada diri Naa dan siswa lain yang mengobrol ketika peneliti sedang menjelaskan. Beberapa siswa putra seperti Dit dan Sel terlihat tidak serius. Mereka tertawa dan menumbulkan suara yang mengganggu saat pelajaran berlangsung.
Di waktu selanjutnya peneliti memberikan instruksi untuk membagi siswa ke dalam dua kelompok besar. Ketika pembagian kelompok dengan penomoran belum selesai dilakukan, banyak siswa yang sudah mendapat nomor langsung sibuk mencari teman lain yang nomornya sama dengannya. Menurut peneliti, hal yang dilakukan siswa ini menunjukkan bahwa siswa cenderung tidak mendengarkan instruksi peneliti di awal pembagian kelompok tadi. Sehingga ada
52
siswa lain yang bingung untuk mencari di mana tempat kelompoknya. Siswa tersebut pun bertanya “Bu, aku di mana?”, “Bu, kelompok 4 di mana?”
Siswa lain yang tidak mendengarkan penjelasan peneliti ketika mengajar di kelas adalah Don, Bob, Yud dan Iba. Mereka berempat sibuk mengobrol dan bermain. Peneliti merasakan sedikit kesulitan untuk membuat mereka mau mendengarkan orang lain yang sedang berbicara.
Selain siswa-siswa yang masih sulit untuk mendengarkan orang lain yang sedang berbicara, ternyata ada banyak juga siswa yang mau mendengarkan orang lain berbicara. Misalnya saja ketika peneliti menanyakan beberapa pertanyaan kepada para siswa. Siswa seperti Cit, Dit, Sal, Cri, Naa, dan Sel nampak antusias untuk menjawabnya. Ketika Cit, Dit, Sal, Cri, dan Sel menjawab pertanyaan peneliti, siswa lain seperti Ton, Yud, Hai, Kri, Rag, Sel, Hes, Vit, Dil menampakkan diri bahwa mereka sedang mendengarkan.
Ketika ada kegiatan simulasi rapat kecil, Hai berperan sebagai pemimpin rapat tersebut. Simulasi rapat yang dilakukan adalah tentang pemilihan denah tempat duduk kelas yang baru. Peneliti memberikan dua buah contoh gambar denah pengaturan tempat duduk yang dapat digunakan oleh para siswa. Gambar nomor 1 memiliki bentuk seperti huruf U, dan gambar nomor 2 memiliki bentuk seperti tatanan di ruang kelas pada umumnya, namun bentuknya lebih dilengkungkan agar pandangan siswa lebih fokus ke depan. Hai menanyakan kepada teman-teman di kelasnya, manakah gambar pilihan denah pengaturan tempat duduk siswa yang ingin dipakai oleh para siswa untuk mengatur meja dan kursi di ruang kelas.
Pertanyaan Hai dijawab pertama kali oleh Cit. Cit mengangkat tangannya lalu memberikan alasannya mengapa ia memilih gambar nomor 1 yaitu karena jalannya tidak ribet. Ketika Cit menyampaikan pendapatnya, beberapa siswa seperti Vit, Dil, Hes, Ton, Zig, dan Kri nampak mendengarkan Cit. Mereka diam dan memperhatikan Cit. Simulasi rapat dilanjutkan dengan mendengarkan pendapat-pendapat dari siswa lain. Setelah selesai mendengarkan pendapat dan masukan dari para siswa, akhirnya mereka membuat sebuah keputusan untuk memilih denah pengaturan tempat duduk kelas. Denah yang dipilih para siswa adalah denah tempat duduk nomor 1 yang berbentuk huruf U. Alasan yang
53
disebutkan siswa cukup logis, selain nyaman, susunan tempat duduk siswa yang baru juga menunjukkan suasana yang baru.
Peneliti mengamati bahwa kebanyakan siswa pada siklus 1 ini lebih mudah berbicara daripada mendengarkan orang lain yang sedang berbicara. Ketika peneliti bertanya kepada para siswa tentang kegiatan mendengarkan yang mereka lakukan selama pelajaranan berlangsung, mereka membuat pengakuan bahwa mereka (seperti Cit, Vit, Hes, Hai, Kri, Rag, Ton) sudah mendengarkan dengan baik ketika ada orang yang berbicara. Namun ketika peneliti bertanya tentang apakah ketika mereka berbicara teman-teman yang lain sudah mendengarkannya. Kemudian hampir seluruh siswa menjawabnya “belum bu.”
Ada perubahan yang peneliti temukan pada siklus 2. Don, Bob, Iba, Sel memperhatikan guru ketika sedang menjelaskan. Jika semua siswa sudah bisa menunjukkan sikap mendengarkan orang lain ketika sedang berbicara, maka hal itu berarti mereka sudah melakukan partisipasi yang baik untuk menunjukkan perilaku kebebasan berpendapat karena mau menghargai hak milik orang lain. Setelah melakukan pengamatan dan melihat rekaman video, peneliti menyimpulkan bahwa selama penelitian, ada siswa sudah menunjukkan adanya perubahan sikap hormatnya dalam perilaku kebebasan berpendapat dengan mendengarkan orang lain ketika sedang berbicara seperti Don, Bob, Iba, Sel, Vit, Dil, Hes, Ton, Zig, dan Kri, walaupun beberapa siswa lain masih sulit untuk melakukannya.
4.3.2 Berani Berbicara secara Spontan
Peneliti menginterpretasikan pendapat yang dinyatakan Suseno tentang kebebasan menurut dirinya sendiri. Peneliti membuatnya ke dalam sebuah indikator yaitu berani berbicara secara spontan. Peneliti memiliki pendapat bahwa berbicara secara spontan merupakan hal yang bebas menurut dirinya sendiri karena berasal dari dalam diri tanpa paksaan dari orang lain. Batasan pengertian tentang berbicara secara spontan adalah berani berbicara di depan orang banyak tanpa disuruh dan tidak ada paksaan dari pihak mana pun.
Pada awal kegiatan penelitian, peneliti mengamati bahwa ada siswa yang berani berbicara secara spontan tanpa ditunjuk di depan teman-temannya untuk
54
menjawab pertanyaan dari peneliti. Siswa tersebut adalah Dit. Dit menjawab bahwa ia memiliki kebebasan ketika ia bermain Play Station (PS) dengan gayanya yang khas, yang terkadang sambil bercanda dan jawabannya ngawur. Dit adalah salah seorang siswa yang cukup aktif namun sering bercanda dalam menjawab pertanyaan atau memberikan pendapatnya. Saat peneliti memberikan sebuah pertanyaan tentang hal apakah yang membuat para siswa membuat merasa senang dan dengan tiba-tiba Dit menjawab “ketika masuk surga”. Secara spontan seluruh isi kelas tertawa mendengar jawaban dari Dit. Jawaban Dit bisa digambarkan sebagai jawaban yang mengandung daya khayal. Walaupun jawaban Dit terkadang masih belum pas, namun keberaniannya untuk berbicara secara spontan di depan teman-teman yang lain patut untuk dihargai.
Kemudian siswa lain yang menunjukkan sikap pada indikator kedua ini adalah Cit. Cit nampak memberikan jawabannya secara spontan dari pertanyaan yang diajukan oleh peneliti. Sudah beberapa kali Cit menyampaikan pendapatnya secara spontan meskipun terkadang justru memotong pembicaraan orang lain.
Pada siklus 2, peneliti menemukan adanya perubahan yang terjadi. Siswa lain ada yang terlihat berani berbicara secara spontan sesuai pengamatan peneliti yaitu seperti Cri, Ton, Dil, Ver, Naa, Sal, dan Sel. Saat melakukan diskusi di kelompok kecil untuk mengerjakan LKS, Sal, Dil, dan Hes mengeluarkan pendapat mereka. Ketika mereka menyampaikan pendapatnya dalam kelompok kecil, nampak bahwa teman lain dalam kelompok kecil tersebut mendengarkannya.
Jika semua siswa sudah berani untuk berbicara secara spontan, itu berarti para siswa sudah menggunakan kebebasannya untuk menentukan dirinya sendiri. Peneliti menyimpulkan bahwa ada perubahan yang terjadi, yaitu siswa berani berbicara secara spontan di depan orang lain.
4.3.3 Memberikan Pendapat dengan Cara yang Santun
Berdasarkan teori yang diungkapkan oleh Suseno, peneliti kembali menginterpretasikan poin pertama tentang kebebasan menurut dirinya sendiri. Memberikan pendapat dengan cara yang santun menurut peneliti adalah hal yang baik. Hal tersebut berkaitan dengan mau tidaknya siswa menggunakan kesopan
55
santunannya ketika akan menjawab misalnya mengangkat tangan terlebih dahulu sebelum menjawab, ketika berbicara baik dengan orang yang lebih tua atau dengan temannya menggunakan bahasa yang santun.
Namun ketika peneliti melakukan penelitian di kelas V SDN Pakem 4 ini, peneliti menjumpai siswa yang memberikan pendapatnya dengan cara yang tidak santun. Siswa tersebut adalah Cit dan Sel. Ketika peneliti sedang memberikan instruksi, Cit dan Sel secara tiba-tiba memotong pembicaraan. Hal ini membuat keprihatinan tersendiri di hati peneliti karena siswa berani memotong pembicaraan orang lain dan orang tersebut lebih tua darinya.
Hal lain yang ditemukan oleh peneliti di dalam kegiatan siklus 1 adalah penggunaan bahasa yang dipakai siswa yaitu bahasa Jawa ngoko. Kesantunan bahasa yang dipakai oleh para siswa untuk bertanya atau menjawab pertanyaan dari peneliti terkadang kurang mereka perhatikan. Ada siswa yang berbicara dengan tidak sopan kepada peneliti. Siswa yang masih sering menggunakan bahasa yang kurang baik seperti bahasa Jawa ngoko adalah Cit, Sel, Ton, Erk, Dit. Ketika peneliti bertanya pada siswa secara klasikal tentang apa yang dimaksud dengan kebebasan, siswa menjawab “lah opo?”, “opo yo?”, siswa tidak menjawab pertanyaan peneliti dengan jawaban yang benar tetapi justru membalikkan pertanyaan dan menggunakan bahasa yang tidak santun. Sebaiknya sikap yang tidak santun ini tidak ditunjukkan siswa kepada orang lain karena bisa dianggap bahwa siswa tersebut tidak sopan.
Selama penelitian berlangsung, peneliti menemukan beberapa hal yang terkait dengan kesantunan siswa. Misalnya saja Dit, ketika Dit ingin menjawab pertanyaan dari peneliti dan menuliskannya di depan kelas, Dit mengangkat tangannya terlebih dahulu. Setelah Dit dipersilahkan untuk menjawab dan maju oleh peneliti, barulah Dit maju dan menuliskan jawabannya di papan tulis. Sikap yang ditunjukkan Dit ini adalah sikap yang sopan karena mengangkat tangan terlebih dahulu setelah dipersilakan baru berbicara.
Beberapa siswa lain sudah menunjukkan kesantunannya dalam bertanya ataupun menjawab pertanyaan dengan mengangkat tangannya sebelum menjawab seperti Cit, Sel, Naa, Sal, Cri, Ver, Dil, Hes, Erk, Vin, Teg. Tapi dengan tanpa
56
sadar, beberapa siswa lain ketika menjawab atau bertanya kepada guru tidak mengangkat tangannya terlebih dahulu.
Peneliti menyimpulkan bahwa dari data yang sudah dianalisis peneliti pada indikator ketiha ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memberikan pendapatnya dengan cara yang santun walaupun masih ada beberapa siswa yang sulit menggunakan kesopan santunannya seperti dalam hal bertutur kata.
4.3.4 Memperingatkan Orang Lain ketika Melakukan Tindakan yang Merugikan Sesama
Berdasarkan pendapat yang disampaikan oleh Suseno dalam bukunya pada segi kedua dalam kebebasan dijelaskan bahwa orang lain berhak menuntut sumbangan untuk membatasi kesewenangan orang lain demi kepentingan bersama, dengan melarang kebebasan yang merugikan orang lain. Misalkan saja seperti hal yang nampak pada penelitian.
Peneliti mengamati ada beberapa siswa yang berusaha mengingatkan temannya karena teman tersebut melakukan tindakan yang merugikan orang lain. Siswa tersebut adalah Hes. Hes mengingatkan teman-teman lain untuk diam dengan berkata “hei menenga!” sambil memukul meja. Sebenarnya maksud tindakan yang ditunjukkan Hes sudah cukup baik karena mau memperingatkan teman-temannya yang berisik dan mengganggu teman-teman lain walaupun bahasa yang digunakannya bisa disebut kurang santun. Memang ada beberapa siswa yang kemudian melihat ke Hes dan diam, tetapi beberapa siswa yang lain tetap saja membuat suara yang mengganggu di kelas.
Kemudian siswa yang menunjukkan perilaku mengingatkan teman lain karena mengganggu adalah Cit. Cit mengingatkan teman-temannya untuk diam karena suara mereka berisik sekali. Cit berkata “Isa dha meneng ora?” sambil menggebrak meja. Namun peneliti merasa bahwa hal ini merupakan keprihatinan tentang kurangnya sikap santun siswa. Peneliti melihat bahwa tujuan dari Cit ini baik, namun cara yang disampaikannya salah karena ia memakai cara yang kurang santun.
Jadi, sikap-sikap yang ditunjukkan oleh kedua siswa ini adalah melakukan pembatasan terhadap kebebasan temannya karena teman-teman yang
57
diperingatkannya sudah mengganggu kebebasan orang lain. Tetapi kedua siswa ini juga belum menyadari bahwa menegur teman dengan menggebrak meja sambil berteriak itu merupakan cara yang tidak tepat karena itu hal yang tidak santun.