• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV DATA DAN PEMBAHASAN

C. Pembahasan

1. Kelengkapan alat laboratorium

a. SMAK Frateran Maumere

Di SMAK Frateran Maumere dari 11 praktikum 3 praktikum masuk kategori kurang lengkap yaitu koefisien gesekan dan Hooke. Delapan praktikum masuk dalam kategori sangat tidak lengkap yaitu praktikum Alat Ukur, Gerak Lurus Beraturan, Gerak Lurus Berubah Beraturan, Gerak Melingkar Beraturan, Hukum Newton II, Usaha Pada Pegas, Tumbukan, Titik Berat, Archimedes.

Jumlah pratikum yang bisa berjalan sebanyak 4 praktikum yaitu Alat Ukur dengan prosentase 12,5%, Hooke dengan prosentase 30% , Usaha pada Pegas dengan prosentase 17,5%, dan Titik Berat dengan prosentase 10,7% sedangkan ketujuh praktikum lainnya tidak dapat berjalan.

b. SMAK John Paul 2

Untuk kesebelas praktikum, 4 praktikum masuk dalam kategori kurang lengkap yaitu Archimedes, Usaha Pada Pegas, Koefisien gesekan, Gerak Melingkar Beraturan. Tujuh praktikum masuk dalam kategori sangat tidak lengkap yaitu Alat Ukur, Gerak Lurus Beraturan, Gerak Lurus Berubah Beraturan, Hukum Newton II, Hooke, Tumbukan, Titik Berat.

Jumlah pratikum yang bisa berjalan hanya satu praktikum yaitu Titik Berat dengan prosentase 12% sedangkan kesepuluh praktikum lainnya tidak dapat berjalan.

c. SMA Seminari Bunda Segala Bangsa

Di SMA Seminari Bunda Segala Bangsa, 2 praktikum termasuk dalam kategri cukup yaitu Hooke, Usaha Pada Pegas. Empat praktikum termasuk dalam kategori kurang lengkap yaitu Koefisien gesekan, Gerak Melingkar Beraturan, Titik Berat, Archimedes. Lima praktikum termasuk dalam kategori sangat tidak lengkap yaitu Alat Ukur, Gerak Lurus Beraturan, Gerak Lurus Berubah Beraturan, Hukum Newton II, Tumbukan.

Jumlah pratikum yang bisa berjalan sebanyak 2 praktikum yaitu Alat Ukur dengan prosentase 12,5% dan Titik Berat dengan prosentase 25.7% sedangkan kesembilan praktikum lainnya tidak dapat berjalan.

Terdapat beberapa praktikum yang bisa berjalan dan ada pula praktikum yang tidak berjalan. Praktikum yang tidak bisa berjalan disebabkan tidak adanya alat laboratorium yang memiliki kategori sangat penting dalam praktikum tersebut.

Praktikum Titik Berat merupakan praktikum yang bisa berjalan pada ketiga sekolah. Bisa dilihat bahawa alat laboratorium yang dibutuhkan untuk praktikum titik berat tidak ada yang memiliki kategori sangat penting.

Secara keseluruhan tingkat kelengkapan alat laboratorium rata-rata untuk setiap praktikum pada ketiga sekolah tersebut masuk dalam kategori sangat tidak lengkap.

Ketidaklengkapan alat laboratorium dapat disebabkan oleh banyak faktor diantaranya tidak ada pembaharuan alat laboratorium, kerusakan atau kehilangan alat laboratorium.

Untuk itu perlu dilakukan pembaharuan alat laboratorium fisika khususnya alat laboratorium yang memiliki peran sangat penting dalam suatu praktikum seperti jangka sorong, mikrometer skrup, ticker timer, travo, set sentripetal, balok gesekan, katrol, pegas, bola, neraca pagas, dan tabung archimedes.

2. Tingkat Pengunaan alat laboratorium

Penggunaan alat laboratorium di sekolah diketahui dengan melakukan wawancara guru, wawancara peserta didik, studi dokumen.

a. SMAK Frateran Maumere

SMAK frateran memiliki dua orang guru fisika namun yang bisa diwawancarai hanya satu orang. Beliau telah mengajar di SMAK

Frateran Maumere selama 11 tahun. Untuk wawancara siswa diambil 4 peserta didik.

Berdasarkan hasil wawancara guru dan keempat siswa diketahui bahwa jarang dilakukan praktikum termasuk praktikum mekanika, selain itu guru lebih sering melakukan demonstrasi sederhana di kelas, praktikum terakhir yang dilaksanakan berkisar satu dua bulan lalu dengan materi untuk kelas sepuluh adalah jangka sorong, dan untuk kelas sebelas adalah fluida..

b. SMAK John Paul 2

Di SMA ini terdapat 3 orang guru namun hanya satu orang yang diwawancarai karena dua orang lainnya merupakan guru baru disekolah tersebut sehingga belum mencoba untuk melakukan praktikum.

Berdasarkan hasil wawancara guru dan keempat peserta didik dapat diketahui bahwa guru jarang melakukan praktikum termasuk praktikum mekanika.

c. SMA Seminari Bunda Segala Bangsa

SMA Seminari Bunda Segala Bangsa memiliki satu orang guru fisika. Selain mengajar di sekolah menengah atas guru tersebut juga membagi waktunya untuk mengajar di SMP Seminari.

Berdasarkan hasil wawancara guru dan keempat peserta didik dapat diketahui bahwa guru jarang melakukan praktikum termasuk praktikum mekanika. Guru lebih sering melakukan demonstrasi sederhana di kelas.

Secara keseluruhan alat laboratorium fisika di ketiga SMA di Kecamatan Alok ini jarang digunakan. Alat laboratorium menjadi jarang digunakan karena menurut guru terdapat beberapa kendala yaitu waktu yang tidak cukup jika dilakukan praktikum, keterbatasan alat laboratorium, serta ketrampilan penggunaan.

Hal ini menguatkan latar belakang awal penulisan ini bahwa kendala yang mungkin terjadi ketika kurangnya praktikum sama dengan kendala yang dialami sesungguhnya oleh sekolah. Untuk itu peneliti membuatkan buku pedoman praktikum serta proposal pengajuan alat laboratotrium untuk sekolah-sekolah tersebut.

Untuk mengatasi keterbatasan waktu sekolah perlu mempertimbangkan penambahan waktu khusus pelajaran fisika sehingga dapat dilakukan praktikum tanpa perlu takut kehabisan waktu dalam mempelajari keseluruhan materi.

3. Tingkat pemahaman guru fisika

a. SMAK Frateran Maumere

Guru di SMAK Frateran Maumere menyatakan ada beberapa materi tertentu yang alat laboratoriumnya tidak dikuasai penggunaannya seperti dalam materi GLBB, katrol, dan bidang miring.

b. SMAK John Paul 2

Guru di SMAK John Paul 2 menyatakan bahwa bisa menggunakan semua alat laboratorium dengan baik.

c. SMA Seminari bunda Segala Bangsa

Di SMA Seminari Bunda Segala Bangsa guru menyatakan bisa menggunakan semua alat laboratorium dengan baik.

Untuk pemahaman penggunaan alat laboratorium di SMAK Frateran Maumere gruru belum menguasai penggunaan alat laboratorium sepenuhnya. Sedangkan di SMAK John Paul 2 dan SMA Seminari Bunda Segala Bangsa guru bisa menggunakan alat laboratorrium fisika mekanika erdasarkan pernyataan guru.

Pada latar belakang penulisan peneliti menuliskan bahwa yang dapat menjadi salah satu kendala dalam melakukan praktikum adalah tingkat pemahaman guru dalam menggunakan alat laboratorium. Untuk itu peneliti menyarankan agar guru mengikuti pelatihan penggunaan alat laboratorium

fisika guna memperdalam pemahaman dalam menggunakan alat laboratorium fisika agar dapat melakukan praktikum fisika.

Dokumen terkait