• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III DESKRIPSI OBYEK PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

1. Strategi yang diterapkan oleh Rakabu Furniture untuk meningkatkan kualitas produk yang ditawarkan agar tetap diminati oleh buyer luar negeri.

Strategi produksi yang di gunakan oleh Rakabu Furniture dalam usaha peningkatan kualitas produk yang ditawarkan agar tetap diminati oleh buyer luar negeri adalah dengan menggunakan strategi produksi dengan ciri-ciri inovatif yaitu strategi perusahaan untuk menawarkan produk dengan bentuk dan fungsi yang lebih banyak dari pada produk pesaing. Dengan adanya bentuk dan fungsi yang beraneka ragam, perusahaan mengharapkan buyer tidak jenuh dengan produk yang dikeluarkannya. Selain itu, perusahaan juga

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id membuat produk yang sesuai dengan Trend yang lagi booming saat ini, jadi perusahaan sangat fleksibel mengikuti permintaan pasar. Kemudian, dalam usaha pengembangan produk, perusahaan menggunakan strategi Standarisasi, yaitu usaha mendapatkan ukuran, macam, kualitas, besar, bentuk tertentu dari suatu barang yang akan diproduksi. Usaha tersebut di dukung oleh peralatan yang tepat seperti pada tahap revisi yaitu tahap penghalusan dan perapian barang dengan amplas mesin dan manual. Setelah finishing, barang masih melalui tahap pengontrolan yang meliputi bentuk, ukuran, warna, desain yang sesuai dengan permintaan buyer, apabila masih belum sesuai maka barang akan di revisi kembali sampai memenuhi syarat yang diminta oleh buyer.

Proses produksi yang digunakan Rakabu Furniture dalam usahanya meningkatkan kualitas adalah dengan pola proses produksi yang terus menerus (continuous processes) yaitu proses produksi di mana terdapat pola atau urutan yang pasti sejak dari bahan baku sampai dengan menjadi barang jadi (produk akhir). Dalam proses produksi ini, variasi pada produk akhir sangat kecil, karena produsen hanya melaksanakan permintaan dari buyer bahkan dalam bahan pewarnaan kadang sudah disebutkan dalam pemesanan. Untuk meyakinkan buyer di pasar luar negeri, maka Rakabu Furniture juga telah mendapatkan sertifikat ISO 9001 : SHI 19-9001 : 2001. ISO 9001 adalah sertifikat standar manajemen mutu yang digunakan untuk sertifikasi usaha yang melakukan semua kegiatan sejak design, produksi, instalasi dan service. Yang termasuk dalam kegiatan ini adalah tanggung jawab manajemen, pembelian, design produk, inspeksi, training, dan tindakan perbaikan

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 45

(Subagyo, 2000, 218). ISO 9001 juga memiliki peran yang mampu membangun image perusahaan sehingga buyer akan merasa lebih yakin untuk mengadakan kontrak bisnis.

a. Bahan baku

Untuk menjaga kualitas suatu produk merupakan kegiatan yang sangat penting dilakukan pada setiap proses produksi. Untuk menjaga kualitas barang agar sesuai dengan standar yang ditentukan tidak terbatas pada wujud akhir suatu produk yang belum terwujud, misalnya produk dalam proses atau bahan baku. Bagi perusahaan yang mutu bahan bakunya langsung mempengaruhi produk akhir, kualitas bahan bakunya. Pengendalian bahan baku dapat dilakukan dengan seleksi pemasok, yang dilakukan oleh CV. Rakabu Furniture.

Dalam proses produksinya, CV. Rakabu Furniture membuat spesifikasi untuk menentukan standar mutu pemasok yang digunakan perusahaan. Secara umum standar mebel CV. Rakabu Furniture dipengaruhi oleh :

1 Model (desain) mebel

Model (desain) mebel yang dihasilkan harus sesuai dengan pesanan dari pembeli. Kesesuaian model (desain) dengan permintaan pembeli menjadi standar mutu mebel. Sebagai contoh pembeli dari Eropa cenderung memilih desain mebel klasik dengan tambahan asesoris variasi.

Sejak tahun 1990 Rakabu Furniture memproduksi Bed Roomset yaitu mebel khusus yang dirancang untuk ruang tidur. Bergantinya waktu dan

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id mode yang silih berganti, saat ini Rakabu Furniture memproduksi Garden

Furniture yaitu meubel khusus untuk taman (folding chair) atau kursi lipat

taman karena produk tersebut lebih menjanjikan keagungan. Selain garden

furniture, produk andalan yang dihasilkan oleh Rakabu Furniture adalah :

a. Cabinet b. DinningTable c. Lemari Buku d. Buffet e. RoundTable f. AntikRepro

g. Produk lain sesuai order

2 Struktur mebel

Perbedaan ukuran mebel didasarkan pada anatomi tubuh yang dimiliki oleh konsumen. Untuk konsumen dari negara Eropa struktur mebelnya besar dan kokoh, karena disesuaikan dengan keadaan anatomi tubuh orang Eropa yang rata-rata lebih besar.

3 Warna Mebel

Warna mebel untuk konsumen dari CV. Rakabu Furniture adalah warna klasik dan natural. Beberapa warna yang sering diminta pembeli antara lain antique, honey, dan natural.

Pengawasan terhadap mutu kayu jadi dilakukan dalam setiap kegiatan proses produksi. Sebelum kegiatan proses produksi dilakukan incoming

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 47

dibuat oleh Bagian Pemasaran, Pembelian, Produksi dan Quality Control. Standar mutu incoming material itu meliputi :

a. Jenis dan umur kayu jati sesuai dengan pesanan. b. Diameter sesuai dengan pesanan.

c. Jumlah sesuai dengan pesanan

d. Harga sesuai dengan kontrol dan kesepakatan Proses Pengadaan Barang

Setelah terjadi kontrak dagang antara CV. Rakabu Furniture dengan Importir, selanjutnya dari pihak CV. Rakabu Furniture mulai mengadakan pesanan barang kepada pihak supplier. Proses pengadaan barang pada CV. Rakabu Furniture dapat dijelaskan melalui bagan berikut ini :

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id Pemasok A Pemasok B Pemasok C CV. Rakabu Furniture Pencelupan/ Insect Treatment Quality Control I Cancel OK Pengeringan/ Dry Cleaning Pengamplasan/ Sanding Quality Control II/Revisi Finishing Quality Control III Accessories Packing b a d c e f g h i

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 49

Keterangan gambar

a. Quality ControlI

Barang dari supplier sebelum masuk ke proses produksi dilakukan pengecekan terhadap barang tersebut apakah barang tersebut sesuai/tidak sesuai dengan standarisasi produk yang diterapkan pihak Rakabu. Apabila produk tersebut sesuai maka barang dapat dilanjutkan ke proses selanjutnya dan apabila barang tidak sesuai maka barang akan ditolak. b. Pencelupan/Insect Treatment

Pada proses ini, barang yang setengah jadi tersebut dimasukkan ke dalam bak yang berisi minyak tanah dan baygon/obat nyamuk cair selama kurang lebih 5 menit agar kotoran yang menempel pada serat kayu hilang dan menghindari kayu keropos, serta untuk memberantas hama kayu agar kualitas kayu tetap terjaga. Tidak semua barang dilakukan pencelupan hanya produk-produk tertentu.

c. Pengeringan/Dry Cleaning

Pada proses ini, barang yang telah direndam selama 5 – 10 menit tadi dikeringkan dengan menggunakan oven kayu selama 3 – 7 hari. Bahan bakar oven berasal dari kayu bakar biasa. Waktu untuk oven kayu bisa lama bisa cepat sesuai kadar kekeringan yang diinginkan, biasanya kadar kekeringan yang diinginkan berkisar 12 – 15%.

d. Quality Control II/Revisi

Setelah barang yang di oven telah kering sesuai dengan kriteria, maka tahap berikutnya adalah dengan merevisi semua barang-barang tersebut.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id Barang-barang yang telah di oven sering mengalami kerusakan atau perubahan struktur konstruksi seperti kayu bengkok, patah, getas atau bergelombang. Bila terjadi kerusakan seperti itu maka pada tahap revisi ini akan segera membenahi barang yang cacat sebelum masuk proses pengamplasan/sanding.

e. Pengamplasan/Sanding

Barang-barang yang sudah direvisi dan akan masuk pada tahap pengamplasan dengan 2 cara yaitu dengan mesin amplas dan dengan cara manual.

Jenis amplas yang digunakan pertama adalah amplas kasar dengan nomor 400 guna menghaluskan bagian-bagian yang kasar. Selanjutnya menggunakan amplas halus dengan nomor 1000 yang bertujuan untuk menghaluskan pori-pori sehingga pada waktu finishing hasilnya akan halus.

f. Finishing

Tahap ini dilakukan setelah tahap revisi benar-benar sempurna, barang yang telah di amplas dengan baik akan melalui tahap finishing yaitu tahap pewarnaan barang. Warna yang di gunakan harus sesuai dengan permintaan buyer, karena bila tidak sesuai maka buyer akan kecewa dan membatalkan semua perjanjian dalam sale’s contrac. Bahan yang digunakan biasanya berupa : Edume, impra, dan sirlex dan apabila buyer

menginginkan warna natural maka bisa menggunakan plitur dengan bahan spritus, pewarnam serlak. Bahan pewarna tersebut telah teruji tidak akan

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 51

g. Accessories

Setelah barang selesai di finishing maka barang akan melalui tahap

pemberian accessories. Bahan yang digunakan sebagian besar

menggunakan kuningan cor. Proses ini adalah proses pelengkapan pada mebel seperti pemberian engsel, ceplisan, kaca, pigura, handle, atau kunci. Tahap ini sangat menentukan nilai keindahan produk yang dibuat agar menarik para buyer untuk tetap setia karena accessories yang digunakan juga berasal dari permintaan buyer. Jadi, Rakabu furniture sangat memperhatikan keinginan buyer.

h. Quality ControlIII

Produk yang telah melalui tahap pemberian accessories akan melalui tahap pengecekan akhir tentang kualitas barang di mana barang yang sudah jadi harus sesuai dengan standar ekspor dan juga sesuai dengan permintaan buyer, tahap pengecekan tersebut meliputi desain, warna, konstruksi barang dan kerapian dalam pembuatan. Jika masih belum sesuai maka barang akan direvisi kembali menurut jenis kesalahan proses produksi. Umumnya bagian QC tersebut berasal dari lembaga insep yang diberi wewenang oleh buyer untuk mengecek barang yang sudah jadi. Tapi kadang bagian QC tersebut hanya berasal dari pihak Rakabu sendiri karena pihak buyer telah mempercayakan QC kepada pihak Rakubu.

i. Packing

Barang yang telah siap untuk di ekspor harus melalui tahap pengepakan/

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id yang berfungsi melindungi barang dari goncangan dan kerusakan waktu pengiriman. Jika barang yang mudah pecah maka pada pembungkus diwajibkan untuk memberi gambar gelas supaya barang tersebut tidak di tumpuk atau di banting. Setelah packing selesai barang pembungkus diberi label sesuai dengan nama barang, kode barang dan negara tujuan.

Pada proses pengepakan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar mutu mebel kayu jati tetap terjaga, yaitu :

1) Untuk membungkus bagi kaku dan sandaran mebel dibutuhkan kertas

tebal, karena bagian ini sering mengalami benturan, tujuannya untuk menghindari mebel kayu jati menjadi rusak dan cacat.

2) Untuk mebel yang biasanya menggunakan kaca dibutuhkan papan

kayu tipis dan kertas karton tebal dalam proses pengepakannya, hal ini bertujuan untuk menghindari kaca pecah karena benturan.

b. Teknologi

Ciri-ciri komoditi ekspor yang berkualitas salah satunya adalah memiliki teknologi yang bisa menunjang kegiatan produksi dalam arti kata produk yang dihasilkan harus cepat dalam pembuatan, tepat dalam penggunaan, dan efisien dalam waktu. Teknologi yang digunakan dalam proses produksi akan menentukan tingkat kapasitas produksi. Yang dimaksud tingkat produksi adalah perbandingan antara jumlah unit produksi yang dihasilkan oleh dua jenis produksi yang dipakai dalam memproduksi suatu komoditi yang serupa diukur dalam jangka waktu tertentu. Rakabu furniture juga telah menggunakan teknologi yaitu pada proses pengeringan

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 53

menggunakan oven agar, waktu pengeringannya lebih cepat dan optimal, pada

finishing menggunakan mesin amplas untuk menghaluskan bagian yang kasar,

meski faktor teknologi pada Rakabu Furniture masih belum banyak beralih pada tenaga kerja mesin, tapi pada dasarnya bila proses produksi tersebut dilakukan dengan 2 cara maka hasilnya akan lebih baik dan sesuai dengan permintaan buyer.

Selain teknologi, hal lain yang harus dilakukan adalah bagaimana cara kita untuk melindungi barang yang akan di ekspor agar tetap terjaga sampai pada buyer. Untuk itu perlu adanya standar penanganan yang harus mengacu pada pengemasan (packing), penandaan identitas (marking), dan penandaan kondisi (labeling).

a. Pengemasan (Packing)

Adalah suatu usaha yang dilakukan oleh perusahaan untuk mengemas barang yang akan di ekspor agar terhindar dari resiko kerusakan. Barang yang dikemas kemudian diberi Silica Gel/kristal pengawet agar barang yang berada di dalam kemasan tetap kering.

b. Penandaan Identitas (Marking)

Adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk memberi suatu tanda pada kemasan barang yang akan di kirim. Marking bertujuan untuk mempermudah pihak pengangkut dalam mengenali barang berdasar kepemilikannya, jumlah kemasan, dan negara tujuan ekspor.

c. Penandaan Kondisi (Labeling)

Adalah suatu kegiatan pemberian merk atau label pada kemasan barang yang akan diekspor.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 2. Prosedur ekspor di Rakabu Furniture Surakarta

Prosedur ekspor Rakabu Furniture dari mulai menawarkan barang adalah dengan cara :

a. Korespondensi, Rakabu Furniture menawarkan barang dan

menegosiasikan komoditi yang akan dijual dengan buyer. Dengan

membuat surat penawaran atau brosur, dan mencantumkan jenis barang, mutu, harga, serta syarat pengiriman barang.

b. Sale’s Contrac, apabila ada importir yang berminat maka akan terjadi

penawaran, kemudian Rakabu Furniture akan menyiapkan kontrak jual beli ekspor (sale’s contrac) sesuai dengan data offersheet dan ordersheet

ditambah dengan keterangan seperti force majeur clause, klaim, syarat pengapalan, dan lain-lain yang akan disepakati oleh kedua belah pihak.

c. Mempersiapkan Barang Ekspor, tahap sale’s contrac maka langkah

selanjutnya adalah menyiapkan barang pesanan yang telah dipesan importir. Keadaan barang yang dipesan harus sesuai dengan permintaan importir, barang-barang tersebut bila telah selesai maka barang di packing

dengan kata lain barang telah ready to export.

d. Membuat Commercial Invoice dan Packing List. Setelah barang

dinyatakan ready to export, maka Rakabu Furniture membuat dokumen

invoice dan packing list.

e. Menyewa Kontainer dan kapal muat, kemudian Rakabu Furniture

secepatnya menghubungi forwarder/EMKL dan perusahaan pelayaran untuk menyewa container dan kapal untuk mengirimkan barang

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 55

ekspornya. Hal yang harus dilakukan adalah mengisi dokumen Shipping

Instruction yang disediakan oleh forwarder/shipping company. Shipping

company akan menyerahkan surat Delivery Order untuk mengambil

container dengan memberikan nomor container dan nomor sealnya.

f. Bill of Lading. Setelah memuat barang di kontainer (stuffing) dan

memuatnya ke kapal, maka Rakabu Furniture akan menerima Bill of

Lading dari shipping company, yaitu dokumen yang membuktikan bahwa

barang siap untuk dikirimkan.

g. Mendaftarkan Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB), Setelah mendapat

B/L, Rakabu Furrniture mengurus dokumen Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) di Bea Cukai. Setelah dokumen terisi dengan benar maka kantor bea cukai mengijinkan barang boleh difiat muat untuk diekspor.

h. Certificate of Origin (COO), Rakabu furniture mengurus dokumen surat

keterangan asal barang (SKA) atau biasa disebut dengan Certificate of

Origin (COO) di Deperindag, jika diminta importir. Dokumen ini

berfungsi untuk mendapatkan pembebasan atau pengurangan bea masuk di negara importir.

i. Pembayaran dengan T/T, Sistem pembayaran yang sering dilakukan oleh Rakabu Furniture adalah dengan menggunakan Telegrafic Transfer (T/T). Di mana, pembayaran dilakukan oleh importir ketika ada pemberitahuan bahwa barang telah diekspor, maka pihak importir segera mengirim sejumlah uang di rekening bank Rakabu Furniture dan yang dilakukan Rakabu adalah mengirimkan surat-surat yang berisi tentang barang yang

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id di ekspor. Hal ini memang sangat beresiko karena banyak buyer yang sering curang dan tidak memenuhi kewajibannya untuk membayar, akan tetapi Rakabu Furniture juga melakukan sistem pembayaran ini hanya

dengan buyer langganan. Apabila ada buyer baru maka sistem

pembayaran yang dilakukan adalah dengan cara paling aman yaitu dengan L/C.

3. Faktor penghambat dalam usaha peningkatan kualitas produk ekspor

khususnya produk mebel

Kualitas produk ekspor kadang tidak mampu bertahan lama di pasar global karena adanya faktor-faktor yang menghambat peningkatan kualitas produk. Faktor-faktor tersebut berupa :

a. Bahan baku yang sulit pada musim-musim tertentu. Misalnya musim hujan sulit untuk mencari kayu yang kadar airnya rendah. Sehingga proses pengeringan sampai berminggu-minggu sedang waktu pengiriman sudah ditentukan. Rakabu Furniture mengatasinya dengan bernego kembali dengan buyer bahwa delivery time yang ditentukan akan terlambat.

b. Biaya produksi yang mahal. Bahan yang digunakan untuk membuat suatu

produk sangat tinggi. Untuk menghadapinya Rakabu Furniture melakukan negosiasi kembali dalam harga.

c. Selera konsumen yang selalu berubah-ubah. Cara mengatasinya, Rakabu Furniture selalu kontak dan mencari informasi tentang trend yang saat ini sedang diminati dengan media internet maupun dengan majalah yang tiap bulan dikirim oleh buyer.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id 57

d. Daya tahan produk kadang tidak bisa diramalkan dalam pemakaian. Pemakaian produk dan ketahanan produk bisa tidak sesuai dengan apa yang diramalkan misalnya karena keadaan cuaca yang berbeda.

e. Desain atau bentuk komoditi kadang tidak bisa sama persis dengan permintaan. Sehingga Rakabu Furniture harus mengulangi pembuatan produk sampai pihak QC menyatakan baik.

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari pembahasan mengenai peningkatan profesionalisme karyawan dalam menjaga mutu barang furniture ekspor pada Rakabu furniture, maka penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Strategi yang digunakan oleh Rakabu Furniture untuk meningkatkan kualitas produk yang ditawarkan adalah dengan menggunakan strategi produksi dengan ciri-ciri inovatif yaitu strategi perusahaan untuk menawarkan produk dengan bentuk dan fungsi yang lebih banyak dari pada produk pesaing.

2. Prosedur ekspor Rakabu Furniture dilakukan dengan cara :

a. Korespondensi

b. Sale’sContrac

c. Persiapan barang ekspor

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id59

3. Faktor Penghambat usaha peningkatan kualitas produk ekspor Rakabu Furniture adalah

a. Bahan baku yang sulit di dapat di musim hujan. b. Biaya produksi yang mahal.

c. Selera konsumen yang berubah-ubah.

d. Daya tahan produk tidak bisa diramalkan. e. Desain mebel yang tidak bisa sama persis.

f. Banyak industri furniture yang berkembang dan memproduksi jenis barang yang sama.

B. Saran

1. Strategi produk yang selama ini digunakan oleh Rakabu furniture adalah strategi dengan menggunakan ciri inovatif pada produk yang dihasilkan. Sebenarnya peningkatan kualitas produk tidak hanya ditentukan oleh produk-produk yang inovatif melainkan juga dipengaruhi kualitas bahan baku. Teknologi yang digunakan serta pengetahuan karyawan tentang produk yang dihasilkan. Oleh sebab itu, sebaiknya Rakabu furniture dalam meningkatkan kualtias produk selain mengutamakan produk-produk yang inovatif juga harus memperhatikan kualitas bahan baku, alat-alat teknologi

KADIN, baiknya Rakabu memiliki agen yang berada di luar negeri sehingga Rakabu cepat dikenal manca negara.

3. Faktor penghambat kegiatan ekspor Rakabu memang banyak namun selalu

saja ada jalan keluar untuk mengatasinya. Sebaiknya Rakabu lebih memperhatikan selera konsumen yang berubah-ubah karena selera tersebut sulit di tebak dan tiap tahun berubah sesuai tren yang baru diminati.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id61

Dokumen terkait