Hasil pengujian hipotesis mengacu pada hipotesis penelitian ini adalah cukup baik. Berarti secara konseptual temuan penelitian tidak bertentangan dengan deskripsi konseptual yang tertulis pada kajian pustaka pada BAB II, dengan pembahasan sebagai berikut :
1. Pengaruh Kompetensi Pedagogik (X1) terhadap Motivasi Belajar (Y) pada Sekolah Dasar Negeri Se-Kecamatan Pasir Sakti.
Dari hasil penelitian terbukti signifikan antara Kompetensi pedagogik (X1) terhadap motivasi belajar siswa (Y). Hal ini dapat diterangkan oleh persamaan Ŷ = 20,889 + 0,616X1. Dengan persamaan regresi tersebut dapat diinterprestasikan bahwa jika kompetensi pedagogik (X1) dengan motivasi belajar (Y) diukur dengan instrumen yang dikembangkan dalam penelitian ini, maka setiap perubahan skor variabel kompetensi pedagogik sebesar 20,889satu satuan dapat diestimasikan skor motivasi belajar siswa akan berubah sebesar 0,616 satuan pada arah yang sama.
Dari perhitungan antara variabel kompetensi pedagogik (X1) dengan motivasi belajar siswa (Y) tergolong tinggi yaitu sebesar 0,616 ini menunjukkan antara variabel X1 dan variabel Y memiliki pengaruh yang berarti. Secara empiris hasil penelitian menginformasikan bahwa kompetensi pedagogik dicerminkan berpengaruh positif terhadap motivasi belajar siswa. Besarnya pengaruh kompetensi pedagogik terhadap motivasi belajar siswa pada SD Negeri Se-Kecamatan Pasir Sakti Lampung Timur adalah sebesar
47,7%. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa semakin baik kompetensi pedagogik maka akan dikuti oleh meningkatnya motivasi belajar siswa. Hal ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Lefrancois (2009: 37) “kompetensi merupakan kapasitas untuk melakukan sesuatu yang dihasilkan dari proses belajar”. Selanjutnya Jamal (2009:38) menyebutkan bahwa “Kompetensi dikategorikan mulai dari tingkat sederhana atau dasar hingga lebih sulit atau kompleks yang pada gilirannya akan berhubungan dengan proses penyusunan bahan”.Kemudian Rasyidin (2014: 1) mengatakan “pedagogik sebagai ilmu pengetahuan ialah ilmu yang mendidik atau ilmu pendidikan tentang anak atau mengenai pendidikan anak dan manusia muda”.
2. Pengaruh Kretifitas Kerja (X2) terhadap Motivasi Belajar (Y) pada SD Negeri Se-Kecamatan Pasir Sakti
Dari hasil penelitian terdapat pengaruh positif dan signifikan kreatifitas kerja (X2) terhadap motivasi belajar siswa (Y). Hal ini dapat diterangkan oleh persamaan Ŷ = 17,329 + 0,737X2. Dengan persamaan regresi tersebut dapat diinterprestasikan bahwa jika kreatifitas kerja (X2) dengan motivasi belajar siswa (Y) diukur dengan instrumen yang dikembangkan dalam penelitian ini, maka setiap perubahan skor variabel kreatifitas kerja sebesar 17,329 satu satuan dapat diestimasikan skor motivasi belajar siswa akan berubah sebesar 0,737 satuan pada arah yang sama. Dari perhitungan antara variabel kreatifitas kerja (X2) dengan motivasi belajar siswa (Y) tergolong tinggi yaitu sebesar 0,737 ini menunjukkan antara variabel X2 dan variabel Y memiliki pengaruh yang berarti.
Secara empiris hasil penelitian menginformasikan bahwa kreatifitas kerja dicerminkan berpengaruh positif terhadap motivasi belajar siswa. Besarnya pengaruh kreatifitas kerja terhadap motivasi belajar siswa
pada SD Negeri Se-Kecamatan Pasir Sakti Lampung Timur adalah sebesar 52,90%. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa semakin baik kreatifitas kerja maka akan dikuti oleh meningkatnya motivasi belajar siswa. Hal ini sejalan dengan pendapat
Himes (2007: 90) yang memberikan gambaran sifat yang disebut kreatif, sebagai berikut: 1)Sensitivitas/kepekaan terhadap masalah dan lingkungan. Kemampuan untuk melihat segala sesuatu, perhatian pada berbagai masalah atau bidang kebutuhan dan menyadari keadaan yang menjanjikan.Ada kemampuan khusus untuk melakukan pengamatan yang luar biasa dan rinci, 2) Fleksibel, terbuka, ingin tahu, dan selektif.Penyesuaian dengan setiap perkembangan serta perubahan baru dilakukan dengan cepat, 3) Penilaian bebas. Ada keinginan untuk lain dari yang lain dan menyimpang dari praktik masa lalu, dan menciptakan yuang baru, 4)Toleransi terhadap kesamaran. Mentolerir ketidak tentuan, kerumitan dan ketidak teraturan, kemungkinanbisa mendatangkan jawaban, dan5) Fleksibilitas mental.Pikiran kreatif memperlihatkan mobilitas ketika data dan gagasan diatur kembali, dimodifikasi, dan didefinisikan kembali.
3. Pengaruh Kompetensi Pedagogik (X1) dan Kretifitas Kerja (X2) secara Bersama-sama terhadap Motivasi Belajar Siswa (Y) pada Sekolah Dasar Negeri Se-Kecamatan Pasir Sakti
Dari hasil penelitian terbukti signifikan antara Kompetensi pedagogik (X1) dan kreatifitas kerja (X2) terhadap motivasi belajar siswa (Y). Hal ini dapat diterangkan oleh persamaan Ŷ = 32,780 + 0,742 X1 +.0,672 X2 Dengan persamaan regresi tersebut dapat diinterprestasikan bahwa jika kompetensi pedagogik (X1) dan kreatifitas
kerja (X2) dengan motivasi belajar siswa (Y) diukur dengan instrumen yang dikembangkan dalam penelitian ini,
maka setiap perubahan skor variabel kompetensi pedagogik dan kreatifitas kerja sebesar 25,309 satu satuan dapat diestimasikan skor motivasi belajar siswa akan berubah sebesar 0,569 satuan pada arah yang sama. Dari perhitungan antara variabel kompetensi pedagogik (X1) kreatifitas kerja (X2) dengan motivasi belajar siswa (Y) tergolong tinggi yaitu sebesar 0,569 ini menunjukkan antara variabel X1 dan X2 dan variabel Y memiliki pengaruh yang berarti. Secara empiris hasil penelitian menginformasikan bahwa kompetensi pedagogik dankreatifitas kerja dicerminkan berpengaruh positif terhadap motivasi belajar siswa. Besarnya pengaruh kompetensi pedagogik dankreatifitas kerja terhadap motivasi belajar siswa pada SD Negeri Se-Kecamatan Pasir Sakti Lampung Timur adalah sebesar 54,80. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa semakin baik kompetensi pedagogik dan kreatifitas kerja maka akan dikuti oleh meningkatnya motivasi belajar siswa. Hal ini senada dengan pendapat dari Humalik (2011: 163) motivasi terhadap pelajaran itu perlu dibangkitkan oleh guru sehingga para siswa mau dan ingin belajar, usaha yang dapat dikerjakan oleh guru memang banyak, dan karena itu di dalam memotivasi siswa guru tidak akan menentukan suatu formula tertentu yang dapat digunakan setiap saat oleh guru. Dan juga pendapat dari Crawford (2011: 169) mengatakan ada empat fungsi guru sebagai pengajar yang berhubungan dengan cara pemeliharaan dan peningkatan motivasi belajar anak didik, memberikan harapan yang realistis, memberikan insentif, dan mengarahkan perilaku anak didik kea rah yang menunjang tercapainya tujuan pengajaran. Sedangkan Sardiman (2010: 76) menyatakan bahwa hasil belajar akan optimal kalau ada motivasi yang tepat, bergayut dengan ini maka
kegagalan belajar siswa jangan begitu saja mempersalahkan pihak siswa, sebab mungkin saja guru tidak berhasil dalam member motivasi yang mampu membangkitkan semangat dan kegiatan siswa untuk berbuat/belajar.