BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
D. Pembahasan Hasil Analisa Data
1. Hipotesis Pertama
Hipotesis pertama dalam penelitian ini mengatakan bahwa “Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat menghasilkan hasil belajar matematika siswa yang lebih baik daripada model pembelajaran kooperatif tipe NHT”.
Berdasarkan hasil analisis variansi dua jalan untuk sel tak sama untuk efek utama faktor A (model pembelajaran) diperoleh harga statistik ujiFa = 9,15 dan F0,05;1,198 = 3,84, ternyata Fa > F0,05;1,198, sehingga Fa ÎDK dengan demikian H0A ditolak. Hal ini berarti pada tingkat signifikansi a=0,05 terdapat perbedaan efektifitas penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan model pembelajaran kooperatif tipe NHT terhadap terhadap hasil belajar matematika siswa kelas X pada materi sistem persamaan linear.
Melihat hasil rataan marginal antara rerata hasil belajar matematika dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD diperoleh 68,950, sedangkan rerata hasil belajar matematika dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT diperoleh 64,272. Tampak bahwa rerata hasil belajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD lebih tinggi daripada rerata hasil belajar matematika dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Ini sesuai dengan hipotesis penelitian, hal ini mungkin disebabkan oleh banyak faktor diantaranya siswa berdiskusi secara sungguh-sungguh di dalam kelompok, setiap siswa mempunyai tanggung jawab menyelesaikan semua soal yang diberikan oleh guru. Pada model pembelajaran kooperatif siswa lebih banyak terlibat dalam memecahkan masalah atau menyelesaikan soal. Siswa dituntut bertanggung jawab secara pribadi maupun kelompok untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru. Siswa tidak hanya menjadi pendengar saja, namun siswa terlibat dalam proses pembelajaran.
commit to user
2. Hipotesis Kedua
Hipotesis kedua dalam penelitian ini mengatakan bahwa “Siswa dengan kemampuan awal kategori tinggi memiliki prestasi belajar lebih baik dari pada siswa yang memiliki kemampuan awal kategori sedang atau rendah. Siswa dengan kemampuan awal kategori sedang memiliki prestasi belajar lebih baik dari pada siswa yang memiliki kemampuan awal dengan kategori rendah”.
Berdasarkan hasil analisis variansi dua jalan untuk sel tak sama untuk efek utama faktor B (kemampuan awal) diperoleh harga statistik uji Fb = 138,56 dan F0,05;2;198 = 3,00, ternyata Fb > F0,05;2;198 sehingga Fb ÎDK, dengan demikian H0B ditolak. Hal ini berarti pada tingkat signifikansi a=0,05 terdapat perbedaan efek kemampuan awal yang berbeda terhadap hasil belajar matematika pada materi sistem persamaan linear. Karena H0B ditolak maka perlu dilakukan uji lanjut anava yaitu uji komparasi ganda. Perhitungan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 29.
Pada uji komparasi ganda antara kolom 1 dan kolom 2 diperoleh F1-2 = 55,9948 dan 2F0,05;2;198 = 6,00, ternyata F1-2 > 2F0,05;2;198sehingga F1-2ÎDKdengan demikian H0 ditolak. Hal ini berarti pada tingkat signifikansi a= 0,05 siswa yang mempunyai kemampuan awal tinggi secara signifikan hasil belajar matematikanya berbeda dengan siswa yang mempunyai kemampuan awal sedang pada materi sistem persamaan kuadrat. Berdasarkan hasil rataan marginal dapat dilihat pada Tabel 4.6, diperoleh rerata hasil belajar matematika siswa yang mempunyai kemampuan awal tinggi sebesar 81,017 sedang rerata hasil belajar siswa yang mempunyai kemampuan awal sedang sebesar 67,467. Ini menunjukkan bahwa rerata hasil belajar matematika pada siswa yang mempunyai kemampuan awal tinggi lebih tinggi daripada rerata hasil belajar siswa yang mempunyai kemampuan awal sedang. Hal ini dimungkinkan karena siswa yang mempunyai kemampuan awal tinggi mempunyai bekal materi prasyarat yang memadai,
commit to user
sehingga siswa dapat memahami materi dengan lebih baik, baik secara komputasi maupun secara konsep. Sehingga dapat disimpulkan bahwa siswa dengan kemampuan awal tinggi mempunyai hasil belajar matematika yang lebih baik dari siswa yang mempunyai kemampuan awal sedang pada materi sistem persamaan linear.
Pada uji komparasi ganda antara kolom 1 dan kolom 3 diperoleh F1-3= 239,864 dan 2F0,05;2;198= 6,00, ternyata F1-3 > 2F0,05;2;198 sehingga F1-3 Î DKdengan demikian H0 ditolak. Hal ini berarti pada tingkat signifikansi a=0,05 siswa yang mempunyai kemampuan awal tinggi secara signifikan hasil belajar matematikanya berbeda dengan siswa yang mempunyai kemampuan awal rendah pada materi sistem persamaan linear.
Berdasarkan hasil rataan marginal dapat dilihat pada Tabel 4.6, diperoleh rerata hasil belajar matematika siswa yang mempunyai kemampuan awal tinggi sebesar 81,017 sedang rerata hasil belajar siswa yang mempunyai kemampuan awal rendah sebesar 49,673. Ini menunjukkan bahwa rerata hasil belajar matematika pada siswa yang mempunyai kemampuan awal tinggi lebih tinggi dari pada siswa yang mempunyai kemampuan awal rendah. Ini sangat dimungkinkan karena siswa dengan kemampuan awal tinggi dapat menguasai materi dengan lebih cepat karena materi prasyarat yang dimiliki sangat memadai, sedang pada siswa dengan kemampuan awal rendah materi prasyarat yang dimiliki sangat minim sehingga siswa dengan kemampuan awal rendah lambat untuk menguasai materi yang diberikan. Siswa dengan kemampuan awal rendah mengalami kesulitan untuk memahami materi baru karena tidak dapat menghubungkan antara konsep baru dengan konsep lama. Sehingga dapat disimpulkan bahwa siswa dengan kemampuan awal tinggi mempunyai hasil belajar matematika yang lebih baik dari pada siswa yang mempunyai kemampuan awal rendah pada materi sistem persamaan linear.
commit to user
Pada uji komparasi ganda antara kolom 2 dan kolom 3 diperoleh F2-3= 92,6049 dan 2F0,05;2;198 = 6,00, ternyata F2-3 > 2F0,05;2;198 sehingga F2-3 Î DKdengan demikian H0 ditolak. Hal ini berarti pada tingkat signifikansi a= 0,05 siswa yang mempunyai kemampuan awal sedang secara signifikan hasil belajar matematikanya berbeda dengan siswa yang mempunyai kemampuan awal rendah pada materisistem persamaan linear.
Berdasarkan hasil rataan marginal dapat dilihat pada Tabel 4.6, diperoleh rerata hasil belajar matematikasiswa yang mempunyai kemampuan awalsedang sebesar67,467 sedang rerata hasil belajar siswa yang mempunyai kemampuan awal rendah sebesar 49,673. Ini menunjukkan bahwa rerata hasil belajar matematika pada siswa yang mempunyai kemampuan awal sedang lebih tinggi dari siswa yang mempunyai kemampuan awal rendah.
Kemampuan awal adalah pengetahuan dan keterampilan yang telah dimiliki siswa sehingga mereka dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Semakin tinggi tingkat kemampuan awal yang dimiliki peserta didik semakin baik dalam memahami materi pelajaran berikutnya, demikian pula semakin rendah kemampuan awal yang dimiliki siswa semakin sulit siswa memahami materi berikutnya. Dengan demikian siswa dengan kemampuan awal sedang akan lebih baik memahami materi selanjutnya dibandingkan dengan siswa yang mempunyai kemampuan awal rendah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa siswa dengan kemampuan awal sedang mempunyai hasil belajar matematika yang lebih baik dari siswa yang mempunyai kemampuan awal rendah pada materi l sistem persamaan linear.
3. Hipotesis Ketiga
Hipotesis ketiga dalam penelitian ini mengatakan bahwa “Pada siswa dengan kemampuan awal kategori tinggi yang mendapatkan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD akan mencapai hasil belajar matematika yang lebih baik
commit to user
dibandingkan dengan siswa yang mendapatkan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Sedangkan pada siswa dengan kemampuan awal kategori sedang dan rendah yang mendapatkan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe NHT akan mencapai hasil belajar matematika yang lebih baik dibandingkan dengan siswa yang mendapatkan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD”.
Berdasarkan hasil anava dua jalan dengan sel tak sama diperoleh harga statistik uji Fab = 1,36 dan F0,05;2;198 = 3,00, ternyata Fab < F0,05;2;198 sehingga Fab Ï DK dengan demikian H0AB diterima. Hal ini berarti pada tingkat signifikan a= 0,05 tidak terdapat interaksi antara model pembelajaran dan tingkat kemampuan awal siswa terhadap hasil belajar matematika siswa kelas X pada materi sistem persamaan linear.
Tampak bahwa pengaruh model pembelajaran terhadap hasil belajar matematika siswa tidak tergantung pada kategori kemampuan awal yang dimiliki siswa. Atau perbedaan hasil belajar matematika dengan menggunakanmodel pembelajaran kooperatif tipe STAD dan model pembelajaran kooperatif tipe NHT konsisten pada tiap-tiap kategori kemampuan awal siswa dan hasil belajar matematika antara tiap-tiap kategori kemampuan awal siswa konsisten dengan menggunakan model pembelajaran STAD dan model pembelajaran NHT.
Artinya siswa yang diberi pembelajaran matematika dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD mempunyai hasil belajar yang lebih baik daripada siswa yang diberi model pembelajaran kooperatif tipe NHT, baik secara umum maupun ditinjau dari kategori kemampuan awal.
Hal ini tidak sesuai dengan hipotesis ketiga. Faktor penyebabnya adalah para siswa dengan kemampuan awal sedang atau pun rendah pada saat proses pembelajaran model NHT cenderung diam dan tidak berani bertanya secara aktif. Mereka belum mampu menguasai materi. Mereka belum bisa mengerjakan tugas yang menjadi
commit to user
bagiannya. Rasa takut dan tidak percaya diri masih melekat pada pribadi siswa. Para siswa yang belajar dengan tipe STAD sedikit lebih baik dibanding mereka yang belajar di kelas NHT. Hal ini disebabkan model pembelajaran STAD lebih sederhana, sehingga mereka bisa mengikuti dengan baik.