BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN
B. Pembahasan
1. Analisa Univariat
Berdasarkan data demografi respoden diperoleh gambaran bahwa sebagian besar responden berumur 15-24 tahun sebanyak 9 orang (60,00%). Dan dari segi jenis kelamin menunjukkan bahwa sebagian besar responden adalah perempuan sebanyak 11 orang (73,33%). Hal ini sesuai dengan data epidemologi bahwa apendisitis akut, meningkat pada masa pubertas dan mencapai puncaknya pada saat remaja dan awal 20-an, sedangkan angka ini menurun pada menjelang dewasa. Insiden apendisitis sama banyaknya antara wanita dan laki-laki pada masa prapuber, sedangkan pada masa remaja dan dewasa muda rationya menjadi 3:2.
2. Analisa Bivariat
Berdasarkan tabel 2 distribusi frekwensi di atas dari 15 responden pasien post operasi apendiktomi yang menjadi sampel penelitian dan telah
dilakukan pengukuran intensitas nyeri menggunakan penilaian nyeri (obyektif tool for meassurenmant of pain) yang terdiri dari 9 item yaitu : perhatian, ansietas, verbal, respirasi, suara, nausea, muskuloskletal, ketegangan otot dan ekspresi wajah diperoleh intensitas nyeri pada pasien post operasi apendiktomi sebelum pemberian teknik relaksasi yang nyeri ringan 3 orang (20,00%), nyeri sedang 8 orang (53,33%) dan nyeri berat 4 orang (26,67%).
Perbedaan tingkat nyeri yang dipersepsikan didapatkan karna kemampuan sikap individu dalam merespon dan mempersepsikan nyeri yang dialami. Kemampuan mempersepsikan nyeri dipengaruhi oleh beberapa faktor dan berbeda diantara individu. Tidak semua orang yang terpajan terhadap stimulus yang sama (apendisitis, sebagai contoh)mengalami intensitas nyeri yang sama. Sensasi yang sangat nyeri bagi seseorang mungkin hampir tidak terasa bagi orang lain. Lebih jauh lagi, suatu stimulus dapat mengakibatkan nyeri pada suatu waktu tetapi tidak pada waktu lain. Sebagai contoh nyeri akibat artritis kronis dan nyeri pasca operasi sering terasa lebih parah pada malam hari.
Setiap individu pernah mengalami nyeri dalam tingkatan tertentu. Nyeri bersifat subyektif dan tidak ada individu yang mengalami nyeri yang sama. Nyeri merupakan sensasi ketidaknyamanan, jika seseorang terpapar dengan nyeri, maka respon fisiologis tubuh yang timbul antara lain : peningkatan frekwensi pernafasan untuk menyediakan oksigen yang lebih banyak, peningkatan denyut jantung untuk transpor oksigen lebih besar
kedalam jarinagan tubuh, vasokontriksi perifer sehingga tekanan darah meningkat untuk memindahkan suplai darah dari perifer keorgan viseral, otot, dan otak. Peningkatan ketegangan otot, mual dan muntah,dan lain-lainya. Sedangkan prilaku yang tampak berupa meringis, menangis, menjerit dan lainnya.
Dan Setelah diberi teknik relaksasi dari 15 responden didapatkan terjadi perubahan intensitas nyeri yaitu dari nyeri ringan sebanyak 3 orang (20,00%) dimana rata-rata perubahannya (mean) 2,67. Tetapi perubahan ini tidak semua pada ke sembilan item penilaian nyeri. Dimana rata-rata perubahan terjadi pada sistem respirasi responden, yang tadinya sedikit respirasi dan setelah diberi teknik relaksasi respirasinya kembali normal. Sedikitnya perubahan yang terjadi akibat kurangnya konsentrasi yang dimiliki oleh responden karna banyaknya pengunjung yang datang dan pasien dirawat di ruang bangsal. Padahal untuk mendapatkan hasil yang efektif, teknik relaksasi harus dilaksanakan dengan konsentrasi penuh dari responden itu sendiri. Selain itu pula nyeri ringan agak sulit dinilai, karna hampir mendekati kekeadaan normal.
Hal ini sesuai yang dikatakan oleh Potter, 2005 agar teknik relaksasi dapat efektif, maka diperlukan partisipasi individu, konsentrasi dan lingkungan harus bebas dari keributan atau stimulus yang mengganggu.
Setelah diberi teknik relaksasi yang terdiri dari nafas abdomen, dengan frekwensi lambat yang terlebih dahulu responden diberi posisi yang nyaman dan responden dapat memenjamkan kedua matanya. Dari 15 reponden didapatkan perubahan nyeri dari nyeri sedang kenyeri ringan sebanyak 7 orang (46,67%) dan 1 orang (6,67%) masih berada dalam kategori nyeri sedang. Tetapi jika dilihat dari mean rata-rata 6,85 dari ke 8 responden tersebut semua responden mengalami perubahan hanya pada 1 responden hanya mengalami sedikit perubahan yaitu hanya pada item verbal dan nausea saja. Hal ini dikarenakan klien berada diruang perawatan bangsal sehingga banyaknya pengunjung keluarga pasien lain yang mengganggu konsentrasi klien dalam melakukan teknik relaksasi, sehingga hasilnya tidak efektif. Sedangkan pada ke 7 responden lainya dirawat diruang perawatan kelas 1 sehingga lingkungan sangat mendukung pelaksanan teknik relaksasi berjalan dengan baik, responden dapat berkonsentrasi karena lingkungan yang nyaman. Pada penilaian intensitas nyeri hampir keseluruhan item terjadi perubahan.
Dari 15 responden didapatkan 4 orang (26,67%) nyeri berat dan setelah diberi teknik relaksasi terjadi perubahan ke nyeri sedang dimana rata-rata perubahannya (mean) 3,25. 2 responden mengalami perubahan yang cukup baik hal ini dikarenakan responden mampu melaksanakan teknik relaksasi dengan baik meskipun rasa nyeri berat yang dirasakan mereka tetap mampu berkonsentrasi. Sedangkan 2 responden lainya hanya terjadi sedikit
perubahan intensitas nyeri hal ini disebabkan responden tidak mampu mentoleransi nyeri tersebut sehingga kemampuan konsentrasi klien kurang. Adanya Perbedaan toleransi nyeri ini karena bahwa setiap individu memiliki cara pandang terhadap nyeri berbeda-beda Klien tidak mau mengungkapkan nyeri yang dirasakan atau menyembunyikannya karena klien malu dikatakan lemah .
Dari hasil uji statistik non parametrik Wilcoxon dengan nilai kemaknaan/signifikan p = 0,003 (p<0,005) maka dapat disimpulkan ada pengaruh pemberian teknik relaksasi terhadap perubahan intensitas nyeri pada pasien post operasi apendiktomi di ruang perawatan bedah RSU TK II Pelamonia Makassar. Adanya pengaruh teknik relaksasi ini terhadap intensitas nyeri hal ini karenakan, teknik relaksasi merupakan merupakan latihan pernafasan yang memberikan efek langsung terhadap fungsi tubuh yaitu : penurunan tekanan darah, nadi dan frekuensi pernafasan, penurunan konsumsi oksigen oleh tubuh, penurunan ketegangan otot, meningkatkan kemampuan berkonsentrasi, menurunkan perhatian terhadap stimulus lingkungan (nyeri).
Dalam sistem transmisi nyeri terdapat interaksi antara serabut A-Beta dan Serabut A delta, Serabut C didalam subtansia Gelatinosa. Pada subtansia Gelatinosa inilah dapat terjadi perubahan, modifikasi dan mempengaruhi apakah sensasi nyeri tersebut diteruskan ke otak atau akan dihambat. Jika terdapat implus yang ditransmisikan oleh serabut A-Beta karena adanya stimulus diantaranya pemberian teknik relaksasi, akan menghambat implus dari serabut A-Delta dan serabut C ke arah Subtansia Gelatinosa sehingga
sensasi nyeri yang dibawa oleh A-Delta dan Serabut C akan berkurang bahkan tidak diantarkan keotak.
Selain itu pula relaksasi merupakan kebebasan mental dan fisik dari ketegangan dan stress. Teknik relaksasi memberikan individu kontrol diri ketika terjadi rasa tidak nyaman atau nyeri, stress fisik dan emosi pada saat nyeri (Potter, 2005).
Hal ini sesuai dengan penelitian penelitian Tunner dan Jansen (1993), Almatsier dkk (1992) dalam Smeltzer, (2002), yang menyimpulkan bahwa relaksasi otot skletal dapat menurunkan nyeri dengan merilekskan ketegangan otot yang dapat menunjang nyeri hal ini dibuktikan pada penderita nyeri punggung bahwa tehnik relaksasi efektif dalam menurunkan nyeri.
Hal yang sama dikemukakan didukung juga penelitian Lorenzi, (1991) Miller & Perry,(1990) dalam Smeltzer, (2001), telah menunjukkan bahwa tekhnik relaksasi dapat menunjukkan menurunkan nyeri pasca operasi dengan efektif, hal ini terjadi karena relatif kecilnya peran otot-otot skletal dalam nyeri pasca operasi atau kebutuhan pasien untuk melakukan tekhnik relaksasi agar efektif. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Juanda(2006) setelah dilakukan perlakuan pada kelompok eksperimen post operasi apendektomi terdapat penurunan tingkat nyeri yang sangat signifikan. Hal ini dikarenakan pelaksanaan teknik relaksasi yang cukup efektif.