• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembahasan

Dalam dokumen Sandhi Yudha S.501002010 (Halaman 44-49)

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

Klonidin bekerja secara sentral menghasilkan efek sedasi dengan menekan aktivitas simpatis dan meningkatkan aktivitas parasimpatis (Nacimento dkk, 2007) sedangkan diazepam bekerja dengan meningkatkan kemampuan reseptor untuk mengikat GABA, sehingga reseptor GABA (neurotransmitter inhibitor)

115.89 100.44 109.44 107.89 108.33 109.11 113 110.22 121 125.11 128.33 125.67 0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 HR-0 HR-1 HR-2 HR-3 HR-4 HR-5 H e a rt r a te k a li / m e n it Waktu pengamatan klonidin diazepam

akan meningkat dan membuka saluran klorida, yang akan meningkatkan konduksi dari ion klor. Hal ini menyebabkan terjadinya hyperpolarisasi dari membran sel pascasinaps dan menyebabkan neuron semakin resisten terhadap rangsang eksitasi. Resistensi terhadap eksitasi ini menyebabkan efek sedasi dari diazepam (Stoelting dkk, 2006). Dari patofisiologi efek sedasi klonidin dan diazepam, pada penelitian ini, level sedasi lebih dalam dihasilkan oleh klonidin (3,11 ± 0,60) dibanding diazepam (2,33 ± 0,50) dengan nilai p=0,013 (Tabel 4.3). Hasil ini tidak berbeda dengan penelitian Malde dkk, 2006 dimana rerata level sedasi kelompok klonidin lebih tinggi dibanding kelompok diazepam (p<0,05).

Setelah pemberian premedikasi klonidin dan diazepam peroral, terdapat perbedaan respons hemodinamik (HR-1) pada kedua kelompok, tetapi secara statistik perbedaan tersebut tidak bermakna dengan nilai p=0,099. (Tabel 4.4). Klonidin sebagai alpha-2 adrenoseptor agonis yang beinteraksi dengan system saraf katekolaminergik yang memodulasi tonus dan refleks kontrol detak jantung serta menurunkan pelepasan norephineprin dari saraf sentral dan perifir sehingga menyebabkan penurunan detak jantung (Raval DL, dkk, 2002). Penurunan detak jantung yang mencolok terjadi pada 2 pasien dalam penelitian ini, dimana penurunan tersebut tidak menyebabkan gangguan hemodinamik lain dan tidak memerlukan tindakan khusus. Tetapi secara statistik penurunan rerata detak jantung antar kedua kelompok secara statistik berbeda tidak bermakna (p>0,05).

Hubungan antara HR-1 dibandingkan dengan HR-0 (baseline) pada masing-masing kelompok seperti pada Tabel 4.6.

commit to user

Tabel. 4.6 Uji t tentang rerata respons hemodinamik HR-0 dibanding HR-1 kelompok klonidin dan diazepam

KELOMPOK N Mean Std. Deviation P

Klonidin HR-0 9 115,89 8,21 0,005 HR-1 9 100,44 11,38 Diazepam HR-0 9 113,00 8,26 0,249 HR-1 9 110,22 12,29

Sumber : data primer, 2012, diolah.

Pada kelompok klonidin hubungan antara HR-0 (sebelum pemberian premedikasi) dan HR-1 (30-60 menit setelah premedikasi) memberikan beda rerata yang bermakna dengan p=0,005. Sedangkan pada kelompok diazepam antara HR-0 dan HR-1 terdapat perbedaan tidak bermakna dengan nilai p=0,249. Hal ini menjelaskan bahwa efek samping premedikasi klonidin adalah terjadi bradikardi, tetapi kondisi ini tidak memerlukan terapi khusus, tetapi beberapa peneliti menganjurkan pemberian preparat atropin peroral sebelum premedikasi klonidin (Mikawa K dkk,1996).

Tindakan laringoskopi intubasi oleh tubuh diterjemahkan sebagai stimulus nyeri yang kemudian memicu respons merugikan pada sistem kardiovaskuler, respirasi dan sistem fisiologis lainnya (Atlee dkk, 2007). Respons hemodinamik yang berlebih harus dihindari pada pasien dengan penyakit kardiovaskuler yang telah ada sebelumnya (Marquez dkk, 2009). Pada penelitian ini respons hemodinamik setelah tindakan laringoskopi intubasi (HR-2) menunjukkan perbedaan rerata antara kelompok klonidin (109,44 ± 9,964) dan kelompok diazepam (121,00 ± 9,513) yang secara statistik berbeda bermakna dengan nilai p=0,023. Kondisi ini menjelaskan efek klonidin dalam menekan respons hemodinamik lebih baik dibanding diazepam.

Hubungan antara HR-2 dibandingkan dengan HR-0 (baseline) pada masing-masing kelompok seperti pada Tabel 4.7.

Tabel. 4.7 Uji t tentang rerata respons hemodinamik HR-0 dibanding HR-2 kelompok klonidin dan diazepam

KELOMPOK n Mean Std. Deviation P

Klonidin HR-0 9 115,89 8,21 0,086 HR-2 9 109,44 9,96 Diazepam HR-0 9 113,00 8,26 0,001 HR-2 9 121,00 9,51

Sumber : data primer, 2012, diolah.

Pada kelompok klonidin hubungan antara HR-0 (sebelum pemberian premedikasi) (115,89 ± 8,21) dan HR-2 (sesaat setelah laringoskopi intubasi) (109,44 ± 9,96) memberikan beda rerata yang tidak bermakna dengan p=0,086. Sedangkan pada kelompok diazepam antara HR-0 (113,00 ± 8,26) dan HR-2 (121,00 ± 9,51) terdapat perbedaan secara statistik bermakna dengan nilai p=0,001. Kondisi ini menjelaskan pada kelompok klonidin detak jantung awal/HR-0 sebelum perlakuan dibanding dengan sesaat setelah laringoskopi intubasi/HR-2, ada perbedaan rerata detak jantung yang tidak bermakna, atau respons hemodinamik setelah dilakukan laringoskopi intubasi relatif tetap/stabil. Sementara pada kelompok diazepam terdapat beda rerata yang secara statistik bermakna atau terjadi perubahan respons hemodinamik setelah dilakukan tindakan laringoskopi intubasi.

Hubungan antara rerata HR-5 (sesaat setelah incisi kulit/mulai operasi) dibandingkan dengan rerata HR-0 (baseline) pada masing-masing kelompok seperti pada Tabel 4.8.

commit to user

Tabel. 4.8 Uji t tentang rerata respons hemodinamik HR-0 dibanding HR-5 kelompok klonidin dan diazepam

KELOMPOK n Mean Std. Deviation P

Klonidin HR-0 9 115,89 8,21 0,034 HR-5 9 109,11 10,53 Diazepam HR-0 9 113,00 8,26 0,019 HR-5 9 125,67 19,47

Sumber : data primer, 2012, diolah.

Pada kelompok klonidin hubungan antara HR-0 (sebelum pemberian premedikasi) (115,89 ± 8,21) dan HR-5 (sesaat setelah incisi/mulai operasi) (109,11 ± 10,53) memberikan beda rerata yang secara statistik bermakna dengan p=0,034. Sedangkan pada kelompok diazepam antara HR-0 (113,00 ± 8,26) dan HR-5 (125± 19,47) terdapat beda rerata yang secara statistik bermakna dengan nilai p=0,019. Kondisi ini menjelaskan pada kelompok klonidin, detak jantung awal (HR-0) sebelum perlakuan dibanding dengan sesaat setelah incisi kulit/mulai operasi ada perbedaan rerata detak jantung, demikian juga pada kelompok diazepam terdapat beda rerata yang secara statistik bermakna.

Secara keseluruhan selama tindakan anestesi dan bedah menunjukkan respons hemodinamik (HR-2, HR-3, HR-4, HR-5) kelompok klonidin lebih stabil atau respons hemodinamik yang terjadi akibat tindakan anestesi dan bedah lebih minimal dibanding dengan kelompok diazepam (Tabel.4.4 ).

Efek samping yang terjadi adalah bradikardi yang terjadi pada 2 pasien kelompok klonidin dan tidak ada efek samping yang muncul pada kelompok diazepam (Tabel 4.5). Bradikardi yang terjadi pada kelompok klonidin tidak memerlukan terapi atau tindakan khusus. Bradikardi yang terjadi juga tidak menyebabkan gangguan perfusi organ dan kembali normal dalam beberapa menit.

BAB V

PENUTUP

A.Kesimpulan

1. Kelompok klonidin memberikan level sedasi yang lebih dalam dibanding kelompok diazepam dan perbedaan tersebut secara statistik berbeda signifikan (p=0,013).

2. Kelompok klonidin memberikan respons hemodinamik sesaat setelah tindakan laringoskopi intubasi (HR-2), 3 dan 5 menit setelah laringoskopi intubasi (HR-3 dan HR-4) dan sesaat setelah tindakan incisi bedah/mulai operasi (HR-5) yang lebih stabil dibanding kelompok diazepam dan secara statistik berbeda signifikan (p<0,05).

B.Saran

1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang penentuan dosis ekuivalen dan dosis ekuipoten antara klonidin dan diazepem.

2. Perlu dilakukan penelitian dengan jumlah sampel yang lebih besar.

3. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terutama pada pasien dengan penyakit penyerta kardiovaskuler (hipertensi, takikardi, atau penyakit jantung koroner) dan penyulit intubasi.

Dalam dokumen Sandhi Yudha S.501002010 (Halaman 44-49)

Dokumen terkait