BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN
5.2 Pembahasan
24
saat pengukuran post-test kedua kelompok intervensi didapatkan p=0,652 maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna diantara kedua perlakuan tersebut pada kadar asam urat setelah 4 minggu perlakuan.
25
organ tersebut yaitu disfungsi kerja ginjal. Seiring proses penuaan terjadi penurunan fungsi ginjal sehingga mengakibatkan penurunan ekskresi asam urat dalam tubulus ginjal dalam bentuk urin.
Distribusi frekuensi responden berdasarkan tingkat pendidikan, mayoritas penderita asam urat yang dijadikan responden berpendidikan akhir SMA sebanya 5 orang atau 36%, berpendidikan akhir SMP sebanyak 4 orang atau 29%, berpendidikan tidak tamat SD sebanyak 3 orang atau 21%, dan yang berpendidikan tamat SD sebanyak 2 orang atau 14%.
Berdasarkan hasil pengukuran kadar asam urat dalam darah pada masing-masing responden dengan tingkat pendidikan yang prosentasenya hampir merata menunjukkan bahwa pendidikan akhir tidak ada kaitannya dengan kadar asam urat dalam darah yang dideritanya.
Distribusi frekuensi responden berdasarkan pekerjaan, mayoritas penderita asam urat yang dijadikan responden berprofesi sebagai wirausaha sebanyak 12 orang atau 86%, dan 2 orang atau 14% berprofesi sebagai pensiunan. Berdasarkan hasil pengukuran kadar asam urat dalam darah pada masing-masing responden dengan pekerjaan menunjukkan bahwa pekerjaan tidak ada kaitannya dengan kadar asam urat dalam darah yang dideritanya. Mayoritas penduduk di desa Sumberporong berprofesi sebagai wirausaha.
Distribusi frekuensi responden berdasarkan riwayat keluarga yang juga mengalami peningkatan kadar asam urat sebelumnya, mayoritas responden mengaku tidak memiliki riwayat keluarga penyakit asam urat sebanyak 12 orang atau 86%, dan 2 orang atau 14%
memiliki riwayat keluarga yang menderita penyakit asam urat.
Mekanisme genetik dapat berperan dalam banyak mekanisme tubuh, sebagian pada transportasi dan ekskresi asam urat pada ginjal, lainnya dapat terlibat dalam fungsi metabolik, termasuk metabolisme glukosa dan lemak (So & Busso, 2012). Ada seseorang yang memang dari segi genetik berpotensi untuk menderita penyakit asam urat, namun hal tersebut dapat dihindari dengan mengendalikan banyak faktor lain seperti menjaga keseimbangan hormon maupun faktor luar seperti makanan (Safitri, 2012).
Resiko menderita asam urat karena riwayat keluarga dapat dihindari dengan melibatkan faktor lain diantaranya memperhatikan kandungan nutrisi yang dikonsumsi.
Begitu pula dengan penderita asam urat yang tidak memiliki riwayat keluarga sebagai penderita asam urat dapat mendominasi sebagai responden di penelitian ini dikarenakan juga faktor makanan.
26
5.2.2 Pengaruh senam Ling Tien Kung terhadap penurunan kadar asam urat pada lansia Kadar asam urat pada sampel penelitian pre-test pada kelompok senam Ling Tien Kung diketahui memiliki nilai tertinggi 9,5 mg/dL dan nilai terendah 6,5 mg/dL dengan rata-rata kadar asam urat yaitu 8,14. Hasil pengukuran kadar asam urat med-test pada kelompok senam Ling Tien Kung memiliki nilai tertinggi 7,9 mg/dL dan nilai terendah 4,9 mg/dL dengan nilai rata-rata 7,31. Sedangkan hasil pengukuran kadar asam urat post-test pada kelompok senam Ling Tien Kung memiliki nilai tertinggi 7,5 mg/dL dan nilai terendah 3,4 mg/dL dengan rata-rata kadar asam urat yaitu 5,77.
Gambaran tersebut didapatkan uji Post Hoc Repeated ANOVA yaitu ada pengaruh senam Ling Tien Kung terhadap penurunan kadar asam urat sebelum diberikan perlakuan dengan setelah diberikan perlakuan selama 4 minggu (8 kali senam). Hasil yang berbeda didapatkan yaitu tidak ada pengaruh senam Ling Tien Kung terhadap penurunan kadar asam urat sebelum diberikan perlakuan dengan setelah diberikan perlakuan selama 4 minggu (8 kali senam), dan tidak ada pengaruh yang signifikan pada penurunan kadar asam urat saat diberikan perlakuan senam Ling Tien Kung setelah 2 minggu dengan setelah diberikan perlakuan 4 minggu.
Olahraga yang dilakukan secara rutin akan memperlancar sirkulasi darah dan mengatasi penyumbatan pada pembuluh darah. Kondisi ini akan berpengaruh positif bagi tubuh serta sistem metabolisme akan berjalan lancar sehingga proses distribusi dan penyerapan nutrisi dalam tubuh menjadi lebih efektif dan efisien. Sistem metabolisme yang berjalan lancar akan mengurangi resiko menumpuknya asam urat di dalam tubuh (Sustrani, dkk, 2006). Dalam gerakan Ling Tien Kung terdapat banyak gerakan peregangan yang dapat membantu memperlancar aliran darah dan metabolisme di dalam tubuh, sehingga jika aliran darah menjadi lancar, pengangkutan oksigen, nutrisi, dan hasil metabolisme yang lain dalam tubuh juga semakin lancar. Gerakan peregangan dalam Ling Tien Kung terdapat pada gerakan Jinjit-jinjit, Buka Jendela Langit, Gerakan Legong, dan Gerakan Kocok-Kocok (Sweet, 2007).
Rangkaian gerakan Ling Tien Kung bagi pemula dapat dirasa mudah namun ada kesulitan di beberapa titik tertentu terutama bagi lansia. Gerakan ini mudah karena merupakan gerakan ringan sesuai dengan kondisi fisik lansia. Gerakan dirasa sulit karena inti dari gerakan Ling Tien Kung adalah empet-empet anus yang mana bagi lansia secara anatomis mengalami kemunduran kemampuan untuk meng-empet seiring dengan menurunnya kemampuan kekuatan otot tubuhnya termasuk otot rektum.
27
Bagi pemula, gerakan Ling Tien Kung tidak serta merta dapat dilakukan dengan sempurna jika hanya beberapa kali saja mengikuti senam, sehingga butuh latihan berkali-kali untuk menyempurnakan gerakan mengingat bahwa jumlahnya 23 gerakan yang terbagi menjadi 6 tahap. Hal tersebut yang dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan kadar asam urat setelah intervensi ke-4 jika dibandingkan dengan sebelum dilakukan intervensi tidak ada perbedaan karena tubuh masih berlatih untuk mengikuti aturan gerakan Ling Tien Kungdengan baik. Namun setelah dilakukan intervensi ke-8, rentang gerak tubuh responden sudah mulai beradaptasi dengan gerakan Ling Tien Kung sehingga sudah mulai tampak perbedaannya dibanding dengan kadar asam urat sebelum dilakukan intervensi. Semakin sering berlatih gerakan Ling Tien Kung maka metabolisme tubuh akan bekerja semakin lancar.
5.2.3 Pengaruh senam Ergonomik terhadap penurunan kadar asam urat pada lansia
Kadar asam urat pada sampel penelitian pre-test pada kelompok senam ergonomik diketahui memiliki nilai tertinggi 9 mg/dL dan nilai terendah 5,3 mg/dL dengan rata-rata kadar asam urat yaitu 6,41. Hasil pengukuran kadar asam urat med-test pada kelompok senam ergonomik memiliki nilai tertinggi 7,4 mg/dL dan nilai terendah 3,4 mg/dL dengan nilai rata-rata 5,15. Sedangkan hasil pengukuran kadar asam urat post-test pada kelompok senam ergonomik memiliki nilai tertinggi 6,8 mg/dL dan nilai terendah 4,2 mg/dL dengan rata-rata kadar asam urat yaitu 5,45. Semua responden dalam kelompok ini sebanyak 7 orang mengatakan tiap harinya mengkonsumsi tahu, tempe, dan telor ayam sebagai lauk wajib mereka. Sebanyak 6 orang responden saat post-test memiliki kadar asam urat kurang dari 6 mg/dL, namun satu orang responden dengan nilai tertinggi 6,8 mg/dL dikarenakan sebelumnya ditambah mengkonsumsi pecel.
Gambaran tersebut didapatkan uji Post Hoc Repeated ANOVA yaitu ada pengaruh senam Ergonomik terhadap penurunan kadar asam urat sebelum diberikan perlakuan dengan setelah diberikan perlakuan selama 2 minggu (4 kali senam), dan juga ada pengaruh senam ergonomik sebelum diberikan perlakuan dengan setelah diberikan perlakuan selama 4 minggu (8 kali senam). Hasil yang berbeda didapatkan yaitu tidak ada pengaruh yang signifikan pada penurunan kadar asam urat saat diberikan perlakuan senam ergonomik setelah 2 minggu dengan setelah diberikan perlakuan 4 minggu.
Sustrani, dkk (2006) mengemukakan bahwa olahraga memiliki banyak manfaat untuk tubuh dan fikiran, salah satunya untuk mencegah dan mengatasi penyakit asam urat.Bagi
28
penderita asam urat relaksasi saraf yang terjadi saat olahraga dapat bermanfaat untuk mengatasi nyeri akibat asam urat, memperbaiki kondisi kekuatan dan kelenturan sendi serta memperkecil resiko terjadinya kerusakan sendi akibat radang sendi. Wratsongko (2015) menyatakan bahwa penurunan kadar asam urat disebabkan karena senam ergonomik merupakan kombinasi gerakan otot dan teknik pernapasan. Teknik pernapasan yang dilakukan secara sadar dan menggunakan diafragma memungkinkan abdomen terangkat perlahan dan dada mengembang penuh. Teknik pernapasan tersebut mampu memberikan pijatan pada jantung akibat dari naik turunnya diafragma, membuka sumbatan-sumbatan dan memperlancar aliran darah ke jantung dan aliran darah ke seluruh tubuh. Sehingga memperlancar pengangkatan sisa pembakaran seperti asam urat oleh plasma darah dari sel ke ginjal dan usus besar untuk dikeluarkan dalam bentuk urin dan feses.
Senam ergonomik terdiri dari 5 gerakan yang mana tiap-tiap gerakannya merupakan gerakan yang setiap hari dilakukan oleh responden, yaitu menyerupai gerakan sholat, sehingga mudah bagi responden untuk mengaplikasikan sejak latihan intervensi ke-1.
Terdapat gerakan tunduk syukur pada senam ergonomik yaitu menyerupai gerakan ruku saat sholat. Gerakan tersebut membuat relaks dan menguatkan struktur anatomis fungsional otot, ligamen dan tulang belakang. Selain itu juga melonggarkan otot-otot perut, abdomen, dan ginjal, dengan demikian pengeluaran purin sisa metabolisme melalui ginjal akan terfasilitasi dengan baik. Gerakan selanjutnya yang berpengaruh dalam penurunan kadar asam urat yaitu gerakan duduk pembakaran. Gerakan tersebut berguna untuk membakar sisa metabolisme salah satunya asam urat.
Gerakan senam ergonomik mayoritas memaksimalkan sistem pernafasan yang dapat merelaksasikan saraf, dengan demikian ketika senam tersebut dilakukan secara rutin dalam waktu 4 kali pertemuan sudah mendapatkan hasil, namun dalam perjalanannya selama 8 kali pertemuan banyak faktor lain yang mempengaruhi salah satunya makanan. Semua responden tidak dapat menghindari bahan makanan yang berbahan dasar kacang-kacangan terutama yang diolah menjadi tempe dan tahu dikarenakan tempe dan tahu merupakan makanan penduduk Indonesia yang cukup digemari oleh berbagai kalangan disamping itu harga cukup terjangkau. Tempe dan tahu merupakan golongan dari makanan grup B dengan kandungan purin sedang (50-150 mg/100 gr makanan) sedangkan telur yang juga menjadi kegemaran responden merupakan golongan dari makanan grup C dengan kandungan purin ringan (50-100 mg/(50-100 gr makanan) sehingga tidak dijadikan masalah ketika mengkonsumsinya dalam
29
porsi secukupnya. Penambahan jenis makanan olahan dari kacang-kacangan misalnya pecel akan menambah jumlah purin yang dikonsumsi dalam keseharian sehingga mampu meningkatkan kadar asam urat dalam darah. Namun responden yang mengaku mengkonsumsi pecel tersebut telah mengalami penurunan kadar asam urat yang sebelumnya saat pre-test 9 mg/dL dilanjutkan med-test 7,4 mg/dL, dan post-test 6,8 mg/dL. Responden tersebut memiliki kadar asam urat tertinggi disetiap pemeriksaan dalam kelompok tersebut namun dengan diimbangi senam ergonomik, secara bertahap kadar asam uratnya turun karena metabolisme purin di dalam tubuhnya semakin membaik.
5.2.4 Perbedaan pengaruh senam Ling Tien Kung dan senam ergonomik terhadap penurunan kadar asam urat pada lansia
Hasil dari uji Independent T-Test didapat nilai probabilitas (nilai p) hitung adalah 0,652 yang berarti lebih dari 0,05 (p>0,05), sehingga tidak ada perbedaan pengaruh intervensi senam Ling Tien Kung dan senam ergonomik terhadap penurunan kadar asam urat pada lansia. Kadar asam urat yang diukur dalam hal ini adalah kadar asam urat post-test. Hasil uji tersebut menunjukkan bahwa diantara kedua hasil post-tes tidak ada beda yang signifikan, sehingga menandakan bahwa kedua intervensi tersebut sama-sama efektif, tidak ada yang saling mengungguli dalam hal penurunan kadar asam urat dengan rentang waktu intervensi sebanyak 8 kali dalam waktu 4 minggu dan dengan jumlah responden 7 orang per kelompok.
Sweet (2007), menemukan sebuah penemuan penting tentang adanya sumber energi kehidupan di dalam tubuh manusia yang fungsinya menyerupai aki, dari aki inilah semua koordinasi kinerja sistem organ tubuh kita menerima suplai energi sesuai yang dibutuhkan.
Analog dengan aki pada umumnya manusiapun menghasilkan arus listrik. Berdasarkan ilmu fisika, diketahui bahwa arus listrik ada karena adanya tegangan, tegangan itu sendiri timbul karena adanya muatan 2 kutub. Kutub-kutub aki manusia letaknya di pusar sebagai kutub negatif/katode, dan anus sebagai kutub positif/anode yang tidak lain sebagai kunci terpenting dari aki manusia, karena dari sinilah listrik mengalir menuju kutub negatif (pusar).
Otot-otot disekitar anus memegang peranan sebagai pengikat “Bidang Kontrak” dari kutub positif (anus) aki manusia. Seiring dengan bertambahnya umur otot-otot yang membentuk dan otot disekitar anus ini akan mengendur, selain itu pengenduran dari otot-otot ini disebabkan karena tidak pernah mengolahragakan organ tersebut (anus). Seperti halnya aki, akibat dari pengenduran pengikat bidang kontak tersebut, maka tegangan akan turun. Sebagai konsekuensinya aliran listrik pun akan berkurang. Turunnya tegangan ini
30
menyebabkan disfungsi (sakit/tidak sehat) dari organ tubuh tertentu karena berkurangnya power supply (Sweet, 2007).
Senam ergonomik merupakan suatu teknik senam dan pernapasan untuk mengembalikan atau membetulkan posisi dan kelenturan sistem saraf dan aliran darah. Senam ergonomik juga memaksimalkan suplai oksigen ke otak., membuka sistem kecerdasan, sistem keringat, sistem pemanas tubuh, sistem pembakaran (asam urat, kolesterol, gula darah, asam laktat, kristal oxalate), sistem konversi karbohidrat, sistem pembuatan elektrolit dalam darah, sistem kesegaran tubuh, dan sistem kekebalan tubuh dari energi negatif/virus, sistem pembuangan energi negatif dari dalam tubuh. Gerakan yang terkandung dalam senam ergonomik merupakan gerakan yang sangat efektif, efisien dan logis karena rangkaian gerakannya merupakan rangkaian gerakan shalat yang dilakukan manusia sejak dulu sampai saat ini (Sagiran, 2012; Wratsongko, 2015).
Hasil uji yang tidak signifikan tersebut menunjukkan bahwa kedua intervensi baik gerakan Ling Tien Kung maupun gerakan ergonomik memiliki efektifitas yang sama, sama-sama efektif dalam menurunkan kadar asam urat. Masing-masing intervensi memiliki rangkaian gerakan yang berbeda namun sesuai alurnya masing-masing dapat meningkatkan metabolisme dalam tubuh sehingga aliran darah yang sifatnya sudah mulai terganggu karena proses penuaan, dapat bekerja optimal kembali dan mampu mengangkut sisa metabolisme tubuh melalui darah serta membuangnya melalui ginjal. Kedua intervensi juga erat kaitannya dengan perbaikan sistem eliminasi sehingga sisa metabolisme tersebut dapat dikeluarkan melalui saluran ekskresi dengan optimal.