BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
C. Hasil dan Pembahasan
2. Pembahasan
Pelaksanaan belajar mandiri di kelas IV SD IT Salman Al Farisi 1 Yogyakarta terlihat dari siswa aktif dalam kegiatan pembelajaran. Belajar
76
aktif merupakan strategi yang tepat untuk mencapai tujuan belajar mandiri. Hal ini sebagaimana yang disampaikan Haris Mudjiman (2011: 6) bahwa guna mencapai tujuan belajar mandiri yaitu kompetensi, strategi pembelajaran yang dapat digunakan adalah strategi belajar aktif. Aktivitas-aktivitas belajar aktif di kelas IV SD IT Salman Al Farisi 1 Yogyakarta seperti aktivitas siswa bertanya pada guru, meminta umpan balik terhadap hasil kinerja, mengeksplorasi masalah melalui sumber belajar, menyampaikan hasil belajar/diskusi, menghasilkan produk belajar berupa karya, mencatat intisari/materi pelajaran, menyampaikan gagasan dan masukan dari hasil belajar, dan menyimpulkan hasil belajar memungkinkan ruang bagi siswa untuk memiliki inisiatif, persistensi, dan kreatif dalam kegiatan belajar. Aktivitas-aktivitas belajar aktif tersebut juga menjadikan kegiatan belajar lebih semangat dan hidup. Hal tersebut seperti yang disampaikan Pat Hollingsworth dan Gina Lewis (2008: viii) bahwa ciri dari pembelajaran aktif itu penuh dengan semangat, hidup, giat, berkesinambungan, kuat, dan efektif.
Pelaksanaan belajar mandiri di kelas IV SD IT Salman Al Farisi 1 Yogyakarta juga ditunjukkan oleh aktivitas-aktivitas belajar yang mengarahkan sikap siswa untuk mengelola sendiri tujuan hingga evaluasi belajar mereka. Pengelolaan tujuan hingga evaluasi belajar yang dikelola sendiri oleh siswa menunjukkan bahwa landasan konsep belajar mandiri adalah paradigma konstruktivisme. Sujarwo (2011: 66) menjelaskan bahwa pembelajaran konstruktivistik adalah pembelajaran bermakna yang
77
memberikan pengalaman melalui kegiatan aktif untuk menemukan sendiri kompetensi, pengetahuan, dan memberi makna pada hal-hal yang sedang dipelajarinya yang diperlukan untuk mengembangkan dirinya. Aktivitas-aktivitas pengelolaan hingga evaluasi belajar yang dilakukan siswa sendiri ditunjukkan melalui siswa menjalankan rangkaian kegiatan belajar dengan baik, menjalankan piket kelas secara rutin, mengerjakan PR, tidak terlambat hadir ke sekolah. Siswa menjalankan rangkaian kegiatan belajar dengan baik ditunjukkan melalui sebagian besar siswa sudah memiliki sikap tanggungjawab, manajemen waktu, dan disiplin dalam belajar. Hal ini sebagaimana disampaikan Deni Hardianto dan Isniatun Munawaroh (2015 :19) pembelajar yang mempunyai kemampuan belajar mandiri dicirikan oleh beberapa faktor di antaranya siswa bertanggung jawab terhadap proses belajarnya sendiri, berdisiplin dan mempunyai rasa ingin tahu yang besar, mampu mengatur waktu, mengatur kecepatan belajar, dan rencana penyelesaian tugas. Sikap tanggungjawab, manajemen waktu, dan disiplin dalam belajar juga menunjukkan adanya sikap persistensi dalam belajar. Seligman & Peterson (landasanteori.com, 2015) mendefinisikan persistensi sebagai kelanjutan dari tindakan sukarela yang dilakukan untuk mencapai suatu tujuan meskipun ada hambatan, kesulitan atau keputusasaan. Kejelasan tujuan, keinginan, keyakinan diri, kejelasan rencana, kekuatan kehendak, dan kebiasaan/habits yang terinternalisasi dalam sikap tanggungjawab, manajemen waktu, dan disiplin dalam belajar menjadi komponen penting dari persistensi.
78
Pelaksanaan belajar mandiri di kelas IV SD IT Salman Al Farisi 1 Yogyakarta tidak terlepas dari adanya motivasi belajar. Hal ini sebagaimana dijelaskan Haris Mudjiman (2009: 8) bahwa seseorang yang sedang menjalankan kegiatan belajar mandiri lebih ditandai dan ditentukan oleh motif yang mendorongnya belajar. Bukan oleh kenampakkan fisik kegiatan belajarnya. Menurut Nanang Hanafiah dan Cucu Suhana (2010: 26), motivasi belajar merupakan kekuatan (power motivation), daya pendorong (driving
force), atau alat pembangun kesediaan dan keinginan yang kuat dalam diri
peserta didik untuk belajar secara aktif, kreatif, efeltif, inovatif, dan menyenangkan dalam rangka perubahan perilaku, baik dalam aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor. Motivasi belajar di kelas IV SD IT Salman Al Farisi 1 Yogyakarta berupa kondisi lingkungan, kompetisi belajar yang positif di antara siswa, kondisi siswa yang sehat, siswa memiliki cita-cita, dan motivasi yang datangnya dari guru, orangtua/wali, serta sekolah. Hal ini sebagaimana yang disampaikan Dimyati dan Mudjiono (2006: 99) bahwa unsur-unsur yang mempengaruhi kondisi belajar di antaranya cita-cita atau aspirasi siswa dan kondisi siswa yang di antaranya meliputi kondisi jasmani. Kondisi lingkungan siswa juga memberikan motivasi yang berpengaruh terhadap diri siswa. Dimyati dan Mudjiono (2006: 97-100) menyampaikan bahwa lingkungan yang aman, tenteram, tertib, dan indah akan mudah memperkuat semangat dan motivasi belajar. Peran guru dan komunikasi yang dibangun antara lembaga dan orangtua wali memberikan pengaruh dalam
79
motivasi belajar siswa. Hal ini sebagaimana yang disampaikan Dimyati dan Mudjiono (2006: 97-100) bahwa pergaulan guru dalam keseharian dengan siswa, bagaimana guru membelajarkan dirinya dalam mendidik, bagaimana guru memahami siswa, kerjasama pedagogis dengan pihak sekolah dan luar sekolah, akan memberikan pengaruh dalam upaya membelajarkan siswa yang dilakukannya dan motivasi belajar yang tumbuh dari dalam diri siswa.
Belajar mandiri di kelas IV SD IT Salman Al Farisi 1 Yogyakarta juga dilaksanakan melalui peran guru dalam memberikan pengetahuan dasar yang membangun, mentor, dan penasehat. Guru dalam memberikan pengetahuan dasar yang membangun juga menjadi peran dari paradigma konstruktivisme yang menjadi landasan konsep dalam belajar mandiri. Hal ini sebagaimana yang disampaikan C. Asri Budiningsih (2005: 61) bahwa bahwa guru dapat membantu siswa mengkonstruksi pemahaman representasi fungsi konseptual dunia eksternal. Pernyataan tersebut didukung oleh Eveline Siregar dan Hartini Nara (2014: 41) yang menjelaskan peranan guru pada pendekatan konstruktivisme lebih sebagai mediator dan fasilitator bagi siswa, yang meliputi kegiatan-kegiatan belajar di antaranya menyediakan pengalaman belajar yang memungkinkan siswa bertanggung jawab; menyediakan atau memberikan kegiatan-kegiatan yang merangsang keingintahuan siswa dan membantu mereka untuk mengekspresikan gagasannya; memonitor, mengevaluasi dan menunjukkan apakah pemikiran siswa berjalan atau tidak. Peran guru sebagai penasehat dan mentor sesuai dengan pernyataan yang
80
disampaikan Malcom Knowles (1975: 17-21) bahwa ciri-ciri belajar mandiri
(self-directed learning) adalah teachers provide scaffolding, mentoring,
advising atau guru berperan perancah, mentor, dan peran dalam menasehati.