• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III : HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

1. Peran Pemerintah Daerah Kabupaten Wonogiri Terhadap Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat Giri Sukadana.

Era Otonomi Daerah menghadapkan daerah untuk memacu kemajuan daerah sejalan diberikannya otonomi guna meningkatkan kemandirian daerah. Wonogiri sebagai salah satu kabupaten yang sektor usahanya sebagian didominasi oleh usaha mikro dan kecil (UMK) dan didukung oleh faktor sosial budaya masyarakat yang memiliki jiwa kewirausahaan yang relative lebih tinggi maka dengan kebijaksanaan pengembangan UMK yang terencana akan memberikan manfaat maksimum terhadap pembangunan ekonomi daerah seperti penciptaan lapangan kerja, penyediaan barang dan jasa keperluan masyarakat, pemerataan pembangunan.

Salah satu upaya untuk meningkatkan pembangunan ekonomi dan kemandirian daerah di bidang keuangan adalah mendirikan lembaga keuangan berbentuk Perusahaan Daerah. Tujuan didirikannya lembaga keuangan daerah adalah sebagai penggerak perekonomian masyarakat guna mendorong pertumbuhan ekonomi dan untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dengan orientasi utama pada kesejahteraan masyarakat. Sehingga Pemerintah Daerah bermaksud meningkatkan partisipasinya terhadap lembaga keuangan milik Pemerintah Daerah.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas, Pemerintah Daerah Wonogiri mendirikan suatu Perusahaan Daerah guna meningkatkan pendapatan asli daerah bagi Pemerintah Daerah Wonogiri itu sendiri, yaitu Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat Giri Sukadana. Berdasarkan ketentuan hukum pada Pasal 4 Undang- undang Nomor 5 Tahun 1962 tentang Perusahaan Daerah, Perusahaan Daerah didirikan dengan suatu Peraturan Daerah. Peraturan Daerah tersebut merupakan dasar hukum atas berdirinya suatu Perusahaan Daerah.

Pendirian PD. BPR Giri Sukadana ini didirikan berdasarkan pada Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2008 tentang Perubahan Peraturan Daerah Nomor 16 Tahun 1996 tentang Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat Giri Sukadana Kabupaten Wonogiri, tidak menggunakan Akta Notaris. PD. BPR Giri Sukadana milik Pemerintah Daerah, dari Pemerintah Daerah diberikan ijin usaha untuk mendirikan BPR melalui Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor : Kep-142/KM.17/1993 tentang Pemberian Izin Usaha Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat Giri Sukadana. Usaha Bank Perkreditan Rakyat harus mendapatkan ijin dari Menteri Keuangan, kecuali apabila kegiatan menghimpun dana dari masyarakat diatur dengan undang-undang tersendiri.

Ijin usaha pendirian PD. BPR Giri Sukadana diberikan Menteri Keuangan setelah mendengar pertimbangan Bank Indonesia. Untuk mendapatkan ijin usaha tersebut, PD. BPR Giri Sukadana wajib memenuhi persyaratan tentang susunan organisasi, permodalan, kepemilikan, keahlian di bidang perbankan, kelayakan rencana kerja, hal-hal lain yang ditetapkan Menteri Keuangan setelah mendengar pertimbangan Bank Indonesia, dan memenuhi persyaratan tentang tempat kedudukan kantor pusat Bank Perkreditan Rakyat di Kecamatan, Kabupaten atau Kotamadya.

PD. BPR dapat membuka Kantor Cabang di ibukota negara, ibukota propinsi, ibukota kabupaten, dan kotamadya dengan ijin Menteri Keuangan setelah mendengar pertimbangan Bank Indonesia. Persyaratan dan tatacara pembukaan kantor tersebut ditetapkan Menteri Keuangan setelah mendengar pertimbangan Bank Indonesia. Pembukaan kantor cabang PD. BPR di luar ibukota negara, ibukota propinsi, ibukota Kabupaten, dan kotamadya serta pembukaan kantor di bawah kantor cabang PD. BPR wajib dilaporkan kepada Bank Indonesia. Persyaratan dan tatacara pembukaan kantor tersebut ditetapkan Menteri Keuangan setelah mendengar pertimbangan Bank Indonesia. PD. BPR tidak dapat membuka kantor cabangnya di luar negeri karena PD. BPR dilarang rnelakukan kegiatan usaha dalam valuta asing (transaksi valas).

Menurut ketentuan Pasal 2 ayat (2) dan Pasal 11 Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 1992 tentang BPR, BPR dapat didirikan dan dimiliki oleh : a) warga Negara Indonesia (WNI),

b) Badan hukum Indonesia yang seluruh pemiliknya adalah WNI, c) pemerintah daerah,

d) WNI, badan hukum Indonesia, dan atau pemerintah daerah.

Menurut ketentuan Pasal 16 ayat (2) UU No 10 Tahun 1998 tentang UU Perbankan, izin usaha BPR diberikan oleh pimpinan BI apabila memenuhi persyaratan sekurang-kurangnya tentang :

a) susunan organisasi dan kepengurusan, b) permodalan,

c) kepemilikan,

d) keahlian bidang perbankan, e) kelayakan rencana kerja.

Setelah memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan Pasal 16 ayat (2) UU Perbankan, BPR dapat mendirikan dan menjalankan dengan izin pemimpin BI ( Pasal 16 ayat (1) UU Perbankan ) dengan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia juga, pemberian izin usaha PD. BPR iri Suadana diberikan.

Prosedur pembentukan Perda ialah Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) memberikan substansi materi berupa draft rancangan Perda ke Bagian Hukum, Bagian Hukum membentuk tim yang kemudian dibahas dalam rapat koordinasi tim. Setelah Rancangan Peraturan Daerah ( Raperda ) disusun, kemudian disampaikan kepada DPRD untuk diagendakan dalam persidangan dan dibahas. Persidangan yang dimaksud adalah persidangan Peripurna dan Komisi, setelah dibahas dalam persidangan dan komisi Raperda akan mndapatkan masukan dari DPRD dan Raperda akan mendapatkan masukan dari DPRD dan Raperda tersebut akan disesuaikan dengan hasil persidangan selanjutnya akan ditetapkan oleh Ketua DPRD bersama Bupati dan menjadi Peraturan Daerah ( Perda ). Perusahaan Daerah didirikan dengan Perda atas kuasa UU Perusahaan Daerah. Perusahaan Daerah merupakan badan hukum

yang kedudukannya sebagai Badan Hukum diperoleh deengan berlakunya Perda tersebut.

Serta karena PD. BPR Giri Sukadana termasuk Badan Usaha Milik Daerah ( BUMD ) Kabupaten Wonogiri, sehingga semua pengaturan dan perincian mengenai PD. BPR Giri Sukadana tertuang dalam Peraturan Daerah tersebut ( Perda No.6 tahun 2008 ). Keterlibatan Pemerintah Daerah Kabupaten Wonogiri terlihat dengan adanya peran pemerintah daerah terhadap PD. BPR Giri Sukadana yang tercantum dalam Perda No.6 Tahun 2008, yaitu misalnya, pemerintah daerah melalui Bupati, Bupati melantik Anggota Direksi, Bupati dapat mengangkat dan memberhentikan Anggota Direksi dan Anggota Dewan Pengawas, menyetujui ketentuan kepegawaian PD. BPR yang ditetapkan dengan Keputusan Direksi setelah mendapatkan persetujuan Dewan Pengawas, Bupati meakukan pembinaan umum terhadap PD. BPR dalam rangka meningkatkan daya guna dan hasil guna PD. BPR sebagai alat kelengkapan Otonomi Daerah shingga dapat beroperasi secara sehat, madiri, dan efisien.

Di samping peran tersebut di atas, Pemerintah Daerah Kabupaten Wonogiri mempunyai peran utama terhadap PD. BPR Giri Sukadana yaitu sebagai pemberi dana permodalan bagi PD. BPR Giri Sukadana itu sendiri, yang modalnya baik seluruhnya maupun sebagian merupakan kekayaan daerah yang dipisahkan, yang berarti, kekayaan Daerah tersebut lepas dari pengawasan umum yang dipertanggungjawabkan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Kekayaan yang dimaksud dikuasai dan dipertanggungjawabkan sendiri. Hal ini sesuai dengan kedudukannya sebagai badan hukum, yang harus mempunyai kekayaan sendiri terlepas dari pada kekayaan umum Daerah dan dengan demikian dapat dipelihara terlepas dari pengaruh Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.

Sesuai dengan Pasal 7 UU No 5 Tahun 1962 tentang Perusahaan Daerah, disebutkan bahwa modal Perusahaan Daerah terdiri untuk seluruhnya atau untuk sebagian dari kekayaan yang dipisahkan. Modal Perusahaan Daerah yang untuk seluruhnya terdiri dari kekayaan satu daerah yang

dipisahkan tidak terdiri atas saham-saham, berbeda lagi, apabila modal Perusahaan Daerah terdiri atas kekayaan beberapa daerah yang dipisahkan modal perusahaan itu terdiri atas saham-saham. Untuk PD. BPR Giri Sukadana Kabupaten Wonogiri, modal adalah berasal dari kekayaan daerah yang dipisahkan, dan tidak terdiri atas saham-saham, baik saham-saham prioritet ataupun saham-saham biasa. Hal ini ditegaskan dalam Pasal 7 ayat (3) Perda No 6 Tahun 2008 tentang PD. BPR Giri Sukadana Kanupaten Wonogiri.

Berdasarkan pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 22 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Bank Perkreditan Rakyat Milik Pemerintah Daerah Pasal 7, mengenai modal Bank Perkreditan Rakyat Daerah disebutkan bahwa : a. Penentuan dan perubahan besarnya modal dasar BPR Daerah ditetapkan

dengan Perda.

b. Modal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk mendirikan BPR Daerah paling sedikit disetor sebesar :

1) Rp 5.000.000.000,- (lima milyar rupiah) untuk BPR Daerah yang didirikan di wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya,

2) Rp 2.000.000.000,- (dua milyar rupiah) untuk BPR Daerah yang didirikan di ibukota provinsi di pulau Jawa dan Bali dan di wilayah kabupaten/kota Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi,

3) Rp 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah) untuk BPR Daerah yang didirikan di ibukota provinsi di luar wilayah Jawa dan Bali,

4) Rp 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah) untuk BPR Daerah yang didirikan di wilayah Pulau Jawa dan Bali di luar wilayah sebagaimana dimaksud pada huruf a, huruf b, huruf c; dan

Rp 500.000.000 (lima ratus juta rupiah) untuk BPR Daerah yang didirikan di luar wilayah huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d.

c. Bagian modal disetor sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dipergunakan untuk modal kerja paling sedikit 50% (lima puluh per seratus).

d. Penambahan modal disetor sampai dengan terpenuhinya modal dasar

e. Sumber dana penambahan setoran modal dari Pemerintah Daerah terlebih dahulu dianggarkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.

Berpedoman pada Pasal 7 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 22 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Bank Perkreditan Rakyat Milik Pemerintah Daerah diatas, muncul adanya Peraturan Daerah Kabupaten Wonogiri Nomor 6 Tahun 2008 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Wonogiri Nomor 16 Tahun 1996 Tentang Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat Giri Sukadana Kabupaten Daerah Tingkat II Wonogiri, pada Pasal 7, yang mengatur mengenai permodalan Bank Perkreditan Rakyat, disebutkan bahwa :

a. Modal Dasar Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat ditetapkan sebesar Rp 15.000.000.000,00 (lima belas milyar rupiah).

b. Untuk memenuhi modal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pemerintah Daerah menambah modal yang disetor secara bertahap setiap tahun yang besarannya ditetapkan dengan Keputusan Bupati yang telah dianggarkan dalam Anggaran Pendapatan Belanja Daerah sesuai dengan kemampuan keuangan Daerah dan atau dari sumber keuangan lainnya yang sah dalam kurun waktu 10 (sepuluh) tahun.

c. Modal PD. BPR merupakan kekayaan Daerah yang dipisahkan.

Berdasarkan uraian di atas, dapat diambil kesimpulan, bahwa peran utama Pemerintah Daerah Wonogiri terhadap PD. BPR Giri Sukadana adalah sebagai pemberi dana permodalan bagi PD. BPR Giri Sukadana itu sendiri. Yang mana, modalnya baik sebagian atau seluruhnya merupakan kekayaan daerah yang dipisahkan.

2. Fungsi Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat Giri Sukadana bagi Pemerintah Daerah Wonogiri.

Pasal 5 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1962 tentang Perusahaan Daerah menyebutkan bahwa perusahaan daerah adalah suatu kesatuan produksi yang bersifat memberi jasa, menyelenggarakan kemanfaatan umum, memupuk pendapatan. Perusahaan daerah bertujuan untuk turut serta melaksanakan pembangunan daerah khusunya dan pembanguna ekonomi nasional umumnya guna memnuhi kebutuhan rakyat dengan mengutamakan industrialisasi, ketentraman, dan kesenangan kerja dalam perusahaan.

Selanjutnya, Pasal 5 ayat (3) dan ayat (4) Undang-Undang Perusahaan Daerah menentukan, Perusahaan Daerah bergerak dalam bidang usaha yang sesuai dengan urusan rumah tangganya menurut peraturan yang mengatur tentang pokok-pokok pemerintahan di Daerah. Cabang-cabang produksi yang penting bagi Daerah dan yang menguasai hajat hidup orang banyak di Daerah yang bersangkutan diusahakan oleh perusahaan daerah yang modalnya untuk seltuhnya merupakan kekayaan daerah yang dipisahkan.

Perusahaan Daerah yang didirikan Pemerintah Daerah Kabupaten Wonogiri adalah Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat Giri Sukadana, yang selanjutnya disingkat PD. BPR Giri Sukadana. Dengan aset yang dimiliki oleh PD. BPR Giri Sukadana yaitu sebesar Rp 12 Miliar, di luar aset tidak bergerak tanah dan bangunan. Untuk asset tanah dan bangunan, baru Rp 1,2 Miliar yang diinvestasikan pada PD. BPR Giri Sukadana. Jadi, total asset yang dimilki oleh PD. BPR Giri Sukadana adalah sebesar 13,2 Miliar, dimana 55% (lima puluh persen) dari asset ini adalah milik Pemerintah Daerah Kabupaten Wonogiri, dan sisanya adalah milik PD. BPR Giri Sukadana itu sendiri.

Perincian asset kepemilikan di atas memang tidak sesuai dengan besarnya modal dasar PD. BPR yang telah ditetapkan sesuai dengan Pasal 7 Perda No. 6 Tahun 2008 tentang PD. BPR Giri Sukadana Kabupaten Wonogiri, dimana dalam Pasal tersebut dituliskan bahwa modal dasar PD. BPR Giri Sukadana ditetapkan sebesar Rp 15.000.000.000,00 (lima belas

milyar rupiah), hal ini terjadi karena dari pihak PD. BPR sendiri memang hanya menerima sebesar tersebut di atas (Rp 13,2 M), sisa yang seharusnya diterima oleh PD. BPR Giri Sukadana, yaitu sebesar Rp 1,8 M, memang tidak diminta oleh pihak PD. BPR Giri Sukadana, dikarenakan dari pihak PD. BPR Giri Sukadana khawatir apabila dana itu tidak tersalurkan sebagaimana mestinya, yang akan menyebabkan pembekuan dana dalam PD. BPR Giri Sukadana itu sendiri. Dengan begitu, PD. BPR dapat berusaha memaksimalkan dana yang ada sesuai dengan maksud dan tujuan yang hendak dicapai, yaitu membantu dan mendorong pertumbuhan perekonomian dan pembangunan Daerah di segala bidang serta sebagai salah satu sumber pendapatan asli Daerah dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat.

Ketidaksesuaian mengenai modal dasar yang ditetapkan oleh Perda, sebesar Rp 15.000.000.000,00 (lima belas milyar rupiah), dengan kenyataan yang ada di lapangan, yaitu PD. BR Giri Sukadana hanya menerima sebesar Rp 13.200.000.000,00 (tiga belas koma dua milyar rupiah) sebaiknya diatasi dengan menurunkan standar permodalan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Wonogiri melalui Perda No 6 Tahun 2008. Apabila PD. BPR Giri Sukadana hanya menerima modal sebesar Rp 13,2 M tanpa meminta lagi kekurangannya (sebesar Rp 1,8 M) yang sudah seharusnya menjadi bagian dari PD. BPR Giri Sukadana, sebaiknya Pemerintah melalui Perda mengubah isi dari Perda tersebut, dengan menurunkan/mengganti nominal modal dasar yang tertulis dalam Perda No 6 Tahun 2008 tentang PD. BPR Giri Sukadana itu sendiri. Dimana pengubahan nominal modal tersebut disesuaikan dengan kenyataan/kebutuhan yang ada di lapangan dengan tujuan menguntungkan bagi semua pihak yang turut serta di dalamnya.

Dapat juga dengan cara lain, dengan memberikan kekurangan modal ( sebesar Rp 1,8 M) yang belum disalurkan dari Pemerintah Daerah kepada PD. BPR Giri Sukadana, dengan apapun resikonya. Bagaimana agar tidak terjadi pembekuan dana pada PD. BPR Giri Sukadana karena tidak dapat menyalurkan dana tersebut sebagaimana mestinya, yang akan menyebabkan pembekuan dana dalam PD. BPR Giri Sukadana. Mungkin dapat dengan cara

lebih meningkatkan produk pelayanan PD. BPR Giri Sukadana, memperluas jaringan/promosi sehingga dapat menarik jumlah nasabah yang lebih banyak lagi.

Hal ini penulis rasa lebih efektif baik bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Wonogiri selaku pemberi dana permodalan bagi PD. BPR Giri Sukadana, maupun bagi PD. BPR Giri Sukadana itu sendiri, dimana PD. BPR Giri Sukadana mempunyai fungsi yaitu sebagai pemasukan pendapatan asli daerah. Sehingga antara keduanya dapat saling menguntungkan, dan menjadikan contoh bagi Perusahaan-perusahaan Daerah yang lain agar lebih disiplin dalam menjalankan Perusahaannya yang sesuai dengan Peraturan yang mengaturnya.

Penjelasan mengenai prosentase sisa asset kepemilikan dari PD. BPR Giri Sukadana, yang mana milik Pemerintah Daerah sebesar 55% (lima puluh lima persen), dan sisanya adalah milik PD. BPR, yang perinciannya dapat dilihat sebagai tersebut di bawah ini :

berdasarkan Pasal 34 Peraturan Daerah Kabupaten Wonogiri Nomor 6 Tahun 2008 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Wonogiri Nomor 16 Tahun 1996 tentang Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat Giri Sukadana Kabupaten Daerah Tingkat II Wonogiri, menjelaskan mengenai laba, yaitu:

a. Laba Bersih Perusahaan Daerah BPR setelah dikurangi pajak yang disahkan oleh Bupati ditetapkan sebagai berikut :

1) Bagian Laba untuk Daerah sebesar 55% (lima puluh lima per seratus); 2) Cadangan Umum sebesar 12,5% (dua belas koma lima per seratus); 3) Cadangan Tujuan sebesar 12,5% (dua belas koma lima perseratus); 4) Dana Kesejahteraan sebesar 10% (sepuluh per seratus);

5) Jasa Produksi sebesar 10% (sepuluh per seratus).

b. Bagian laba untuk pemerintah daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dianggarkan dalam ayat Penerimaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran berikutnya.

c. Dana kesejahteraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d antara lain untuk Dana Pensiun Direksi dan Pegawai serta perumahan pegawai, sosial, dan sejenisnya.

d. Penggunaan Jasa produksi ditetapkan Direksi dengan persetujuan Bupati. PD BPR Giri Sukadana bergerak di bidang jasa perbankan, menghimpun dan menyalurkan dana dari dan untuk masyarakat. Dimana hal ini sesuai dengan Undang- undang Nomor 7 Tahun 1992 yang telah diubah dengan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan pada Pasal 1 ayat (4) menjelaskan yang dimaksud dengan Bank Perkreditan Rakyat adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Pengertian tidak memberikan jasa dalam lalu litas pembayaran meliputi tidak menerima simpanan berupa giro yang tunduk pada lalu lintas pembayaran, baik secara tunai maupun dengan surat berharga, atau pemindahbukuan. Pembatasan tersebut dimaksudkan untuk menyesuaikan dengan fungsi BPR yang ditujukan hanya untuk melayani usaha-usaha kecil dan masyarakat di daerah pedesaan.

Sama halnya dengan Bank Umum, BPR melaksanakan kegiatan usaha di bidang jasa Perbankan dengan menerapkan 2 (dua) cara, secara konvemsional dan prinsip syariah. Secara konvensional artinya menjalankan usaha di bidang perbankan menurut cara yang lazim atau biasa, dengan memperoleh keuntungan berupa bunga, sedanglan secara prinsip syariah artinya menjalankan usaha di bidang jasa perbankan menurut aturan perjanjian berdasarkan hukum Islam, dengan memperoleh keuntungan berupa bunga.

Sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 Perda PD. BPR Giri Sukadana Kabupaten Wonogiri, PD. BPR Giri Sukadana menyelenggarakan usaha-usaha antara lain yaitu menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk Tabungan dan Deposito Berjangka dan atau bentuk kainnya yang dipersamakan dengan itu, memberikan kredit dan melakukan pembinaan khusunya terhadap Pengusaha Ekonomi Lemah, melakukan kerja sama antar PD. BPR dan dengan Lembaga Perbankan Keuangan lainnya, serta menjalankan

usaha-usaha Perbankan lainnya sepanjang tidak bertentangan dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku. Bentuk pelayanan jasa yang di berikan PD BPR Giri Sukadana dibagi menjadi 2 (dua) bentuk yaitu simpanan dan kredit. Simpanan dikelompokkan menjadi 3 (tiga) yaitu :

a. simpanan Suka Sejahtera

b. si Gatra (simpanan keluarga sejahtera) c. Deposito sukadana

Sedangkan kredit dikelompokkan menjadi 3 (tiga) yaitu :

a. Kredit Umum (pertanian, perdagangan, industri, jasa transportasi) b. Kredit Pegawai Profesi (PNS dan Karyawan Perusahaan)

c. Kredit kelompok.

Hasil wawancara penulis dengan Direktur Utama PD BPR Giri Sukadana, Bapak H. Satiman, SE, MM, berdirinya PD BPR Giri Sukadana membawa kemanfaatan. Baik kemanfaatan untuk PD. BPR Giri Sukadana itu sendiri, pemerintah daerah, ataupun bagi masyarakat Wonogiri dan sekitarnya. Kemanfaatan tersebut misalnya, PD BPR Giri Sukadana tumbuh dan berkembang bersama Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), menghimpun dana, memberikan kredit; Pemerintah Daerah mendapatkan tambahan pemasukan pendapatan asli daerah; dan bagi masyarakat, memberikan jasa perbankan baik bagi masyarakat pedesaan dan juga masyarakat golongan ekonomi lemah daerah perkotaan..

Kurun 2 (dua) tahun terakhir PD BPR Giri Sukadana memberikan keuntungan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Wonogiri pada tahun 2008 sejumlah Rp. 195. 945. 300 ( seratus sembilan puluh lima juta sembilan ratus empat puluh lima ribu tiga ratus rupiah) dan pada tahun 2009 sejumlah Rp. 275. 717. 842 ( dua ratus tujuh puluh lima juta tujuh ratus tujuh belas ribu delapan ratus empat puluh dua rupiah). Keterangan ini diperoleh penulis dari Bapak Satiman Direktur Utama PD BPR Giri Sukadana.

Hal ini menunjukan bahwa PD. BPR Giri Sukadana juga turut serta dalam usaha membantu dan mendorong pertumbuhan perekonomian dan pembangunan Daerah Kabupaten Wonogiri. Di samping itu, PD. BPR

mempunyai fungsi yang utama bagi Pemerintah Daerah Wonogiri, yaitu sebagai pemasukan pendapatan laba daerah. Sehingga, fungsi PD. BPR Giri Sukadana disamping menjalankan fungsinya sebagai layaknya bank, yaitu intemediasi keuangan, yaitu menghimpun dana dan menyalurkannya kembali dalam bentuk kredit, penyaluran kredit merupakan fungsi utama dari bank dan merupakan sumber pendapatan yang utama pada umumnya, juga sebagai pemasukan pendapatan laba daerah bagi Pemerintah Kabupaten Wonogiri.

PD. BPR merupakan salah satu alat kelengkapan Otonomi Daerah dibidang keuangan/perbankan dan menjalankan usahanya sebagai Bank Perkreditan Rakyat sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-Undangan yang berlaku dengan menyelenggarakan usaha sebagai berikut:

1) Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk tabungan dan

deposito berjangka dan atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu.

2) Memberikan kredit dan melakukan pembinaan khususnya terhadap

pengusaha golongan ekonomi lemah.

3) Melakukan kerja sama antar PD. BPR dan dengan Perbankan atau

keuangan lainnya.

4) Menjalankan usaha-usaha Perbankan lainnya sepanjang tidak

bertentangan dengan Peraturan Perundang-Undangan yang berlaku. Di samping uraian tersebut di atas, berdirinya PD. Bank Perkreditan Rakyat Giri Sukadana Kabupaten Wonogiri juga dapat membantu usaha Pemerintah Daerah untuk meningkatkan taraf hidup warganya yang bekerja sebagai pedagang kecil. Melalui pemberian kredit untuk modal usaha dengan syarat yang mudah dan dengan prosedur yang sederhana, bunga yang diberikan relatif rendah, yang nantinya akan memberikan peluang dan kesempatan yang lebih luas kepada para pedagang kecil untuk mengembangkan dan memperlancar usahanya, dengan berkembangnya usaha para pedagang, maka keuntungan yang diperoleh meningkat pula, sehingga dapat menambah penghasilan ataupun pendapatan bagi para pedagang kecil,

dan dapat meningkatkan pemasukan pendapatan laba daerah bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Wonogiri itu sendiri.

commit to user

67

PENUTUP

Dokumen terkait