• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2 Pembahasan

27 Proses pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan membutuhkan cahaya.

Namun, banyak sedikitnya cahaya yang dibutuhkan tiap tumbuhan berbeda-beda, begitu pula dengan bibit malapari. Pada Tabel 3 diatas terlihat bahwa bibit tanaman malapari dengan diameter terbesar juga memiliki pertumbuhan tinggi yang baik. Pertambahan tinggi tanaman terjadi akibat pembelahan meristem ujung yang menghasilkan sel-sel baru di ujung akar atau batang (Gardner et al., 1991).

Bembelahan sel terjadi karena atas bantuan cahaya matahari, Soekotjo (1976) dalam Simarangkir (2000) berpendapat bahwa pengaruh cahaya terhadap pembesaran sel dan diferensiasi sel berpengaruh terhadap pertumbuhan tinggi, ukuran daun serta batang.

Pertumbuhan diameter batang bibit tanaman malapari menunjukkan bahwa meningkatnya intensitas cahaya yang diterima tumbuhan tidak menentukan meningkatnya pertumbuhan diameter batang bibit malapari begitu juga sebaliknya. Hal ini didukung oleh Toumey dan Korstia (1974) dalam Simarangkir (2000) mengatakan bahwa pertumbuhan diameter tanaman berhubungan erat dengan laju fotosintesis akan sebanding dengan jumlah intensitas cahaya matahari yang diterima dari respirasi. Akan tetapi pada titik jenuh cahaya, tanaman tidak mampu menambah hasil fotosintesis walaupun jumlah cahaya bertambah.

Tinggi pada tanaman berkaitan dengan jumlah daun saat tumbuh dan simpul batang. Batang tersebut akan menjadi lebar karena tanaman dietiolasikan (Purnomo et al., 2018). Penelitian ini juga berhubungan dengan hal tersebut yang dimana penambahan tinggi bibit tanaman malapari tertinggi terdapat pada intensitas cahaya 50% demikian juga pada penambahan jumlah daun pada bibit malapari.

Berat kering tanaman secara umum diartikan sebagai tolak ukur dari pertumbuhan tanaman dan merupakan integritas dari semua peristiwa fisiologis yang dialami tanaman selama daur hidupnya. Oleh sebab itu, hal ini diduga terjadi karena perlakuan Intensitas cahaya 50% merupakan kondisi yang cukup optimal terhadap pertumbuhan bibit malapari. Berat kering tajuk merupakan akumulasi pertama bahan tinggi, diameter tanaman dan jumlah daun dengan meningkatnya tinggi, diameter dan jumlah daun jika meningkat maka berat kering juga meningkat.

28 Hasil uji BNT 5% (Tabel 3) bahwa perlakuan intensitas cahaya 50%

merupakan perlakuan terbaik terhadap berat kering tajuk dan berat kering akar bibit tanaman malapari. Berat kering tanaman merupakan indikator yang umum digunakan untuk mengetahui baik atau tidaknya pertumbuhan tanaman, karena berat kering tanaman dapat menggambarkan efisiensi proses fisiologis didalam tanaman.

Intensitas cahaya 50% dianggap mampu mempertahankan keseimbangan fisiologisnya untuk bertumbuh dengan baik. Hal tersebut dapat dilihat dari rata-rata berat kering tajuk dan berat kering akar yang terbaik terdapat di intensitas cahaya 50%. Hal tersebut didukung oleh penelitian Arta (2018) yang menyatakan bahwa pertumbuhan terbaik pada tanaman malapari yaitu menggunakan media tanam di tambah dengan sub soil dengan naungan 50%. Dalam konteks ini, intensitas cahaya berpengaruh terhadap aktivitas pertumbuhan, perubahan morfologi dan karakter fisiologis, aktivitas metabolisme metabolit primer dan sekunder. Bobot kering tajuk dan akar pada bibit tanaman malapari yang paling tinggi pada tabel 3 ialah pada intensitas cahaya 50 %. Pada kondisi ini biomassa yang terbesar terdapat pada intensitas cahaya 50 %. Penelitian Tohari et al. (2004) mengatakan bahwa besarnya cahaya yang tertangkap pada proses fotosintesis menggambarkan besarnya biomassa yang ada, sedangkan besarnya biomassa dalam jaringan tanaman mencerminkan bobot kering.

Secara visual dapat dilihat bahwa luas daun terbesar terdapat pada intensitas cahaya 50%. Tingkat pertumbuhan tertinggi pada bibit tanaman malapari terdapat pada intensitas cahaya 50%. Fitter dan Hay (1992) dalam Marjenah (2001) mengemukakan bahwa jumlah luas daun menjadi penentu utama kecepatan pertumbuhan. Keadaan seperti ini dapat dilihat pada hasil penelitian dimana daun-daun yang mempunyai jumlah luas daun-daun yang lebih besar mempunyai pertumbuhan yang besar pula.

Dalam pengamatan yang dilakukan daun setiap tanaman atau jenis pohon mempunyai toleransi yang berlainan terhadap cahaya matahari. Ada tanaman yang tumbuh baik ditempat terbuka sebaliknya ada beberapa tanaman yang dapat tumbuh dengan baik pada tempat teduh/bernaungan. Ada pula tanaman yang memerlukan intensitas cahaya yang berbeda sepanjang periode hidupnya. Pada

29 waktu masih muda memerlukan cahaya dengan intensitas rendah dan menjelang sapihan mulai memerlukan cahaya dengan intensitas tinggi (Soekotjo,1976 dalam Faridah, 1995).

Hal ini didukung juga oleh hasil penelitian Widiastoety et al., (2000), yang menunjukkan tanaman yang dihadapkan pada intensitas cahaya 55% memberikan produksi bunga dan lebar daun tertinggi serta pembentukan tunas terbaik, sedangkan naungan 75% menyebabkan tanaman menghasilkan panjang tangkai bunga tertinggi.

Faktor lingkungan tempat hidup juga mempengaruhi pertumbuhan tanaman.

Beberapa contohnya adalah suhu dan kelembaban. Suhu dan kelembaban pada lokasi penelitian rata-rata berkisar 28,3°C – 30,3°C dengan kelembaban 74% - 85% (Lampiran 2) kondisi tersebut telah memenuhi syarat pertumbuhan tanaman malapari. Data tersebut cukup sesuai dengan pernyataan Djam'an (2009) mengatakan bahwa Malapari merupakan tanaman asli daerah subtropis yang tumbuh secara optimal pada suhu antara 27°C-38°C dan suhu minimum antara 1°C-16°C. Tanaman dewasa mampu tumbuh pada suhu di atas 50°C. Pada tingkat anakan toleran terhadap naungan dan dapat mengikat nitrogen bebas (nitrogen-fixing ability). Kondisi lingkungan yang ada di pembibitan sesuai untuk tanaman

malapari sehingga terlihat bahwa kondisi tanaman yang ad di pembibitan tumbuh dengan baik (Lampiran 12).

4.2.2 Pengaruh Media Tanam

Berdasarkan analisis sidik ragam menunjukkan bahwa media tanam berpengaruh tidak nyata terhadap pertambahan tinggi, pertambahan diameter, jumlah daun, berat kering tajuk, berat kering akar, rasio pucuk akar dan luas daun Media tanam pada penelitian ini berasal dari hutan kampus UNJA. Karakteristik dari tanah hutan kampus UNJA ialah tanah Ultisol. Ultisol merupakan tanah yang mempunyai kandungan bahan organik yang rendah, tanahnya berwarna merah kekuningan, reaksi tanah yang masam, kejenuhan basa yang rendah, dengan kadar Al yang tinggi. Ermadani et al. (2011) mengatakan bahwa Karakteristik tanah Ultisol di hutan kampus UNJA memilki kadar pH 4,93, C-organik rendah, kandungan unsur-unsur hara N, P dan K yang rendah-sangat rendah, basa-basa dapat tukar (K, Na, Ca dan Mg) rendah-sangat rendah, KTK rendah, kejenuhan Al

30 tinggi dan kejenuhan basa (KB) rendah, sedangkan tekstur tanah adalah lempung liat berpasir.

Tanah Ultisol merupakan tanah yang telah mengalami pelapukan lanjut, dimana proses pencucian telah berlangsung intensif dengan kandungan basa-basa dapat tukar yang rendah, kandungan bahan organik yang rendah, reaksi tanah dari masam-sampai sangat masam dengan kejenuhan Al yang tinggi (Samac dan Tespaye, 2003). Secara Visual terlihat bahwa perlakuan media tanam M2 (Top Soil : Pasir : Pupuk Kandang = 2:1:1) memberikan hasil lebih tinggi pada parameter pertambahan tinggi, pertambahan diameter, jumlah daun, berat kering tajuk dan berat kering akar Harjadi (2009) mengatakan bahwa media tanam yang tepat merupakan faktor penting dalam membantu tanaman menyerap hara dalam media tanam.

Pengaruh media tanam menggunakan tanah ultisol tidak berengaruh nyata terhadap pertumbuhan bibit tanaman malapari. Hal ini diduga bahwa perbedaan unsur hara yang ada setiap perlakuan media tanam tidak terlalu signifikan. Hal ini dapat dilihat dari jumlah unsur hara yang terdapat pada tanah ultisol hutan kampus UNJA yang dimana digunakan sebagai media tanam pada bibit malapari tersebut.

31

Dokumen terkait