• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab 5. Hasil dan Pembasan

5.2. Pembahasan

Pada pembahasan ini dijabarkan mengenai hasil penelitian mengenai Persepsi tentang sehat dan kebiasaan mengonsumsi Tuak Suku Batak Toba di Desa Meat Kecamatan Tampahan Kabupaten Toba Samosir.  Objek yang dipersepsi dalam penelitian ini adalah tentang sehat dan kebiasaan mengonsumsi Tuak Suku Batak Toba. Masyarakat Suku Batak Toba yang menjadi responden

dalam penelitian ini diberi rangsang untuk mempersepsi objek tersebut menyatakan persepsinya dalam bentuk positif maupun negatif.

Persepsi dapat menjadi positif apabila masyarakat tersebut menanggapi sesuai dengan penghayatannya dan dapat diterimanya secara rasional dan emosional. Sebaliknya, apabila masyarakat menanggapinya tidak sesuai dengan penghayatannya maka persepsi yang timbul adalah negatif. 

5.2.1. Persepsi tentang Sehat Suku Batak Toba di Desa Meat Kecamatan Tampahan Kabupaten Toba Samosir

Berdasarkan dari 40 responden yang diteliti diketahui bahwa persepsi tentang sehat Suku Batak Toba di Desa Meat Kecamatan Tampahan Kabupaten Toba Samosir adalah mayoritas masyarakat berpersepsi positif sebanyak 30 orang (75%) dan negatif sebanyak 10 orang (25%). Adanya perbedaan dalam persepsi tentang sehat suku batak toba di Desa Meat Kecamatan Tampahan Kabupaten Toba Samosir tersebut menjelaskan teori yang dikemukakan oleh Siagian (1995) yang menyatakan bahwa persepsi seseorang belum tentu sama dengan fakta yang sebenarnya, untuk itulah mengapa dua orang atau lebih memiliki persepsi yang berbeda terhadap objek yang dipersepsinya. Hal ini juga menjelaskan mengapa saat diberikan pernyataan – pernyatan tentang sehat yang dijabarkan dalam definisi dan perilaku kesehatan, masyarakat Suku Batak Toba yang menjadi responden mengartikannya secara berbeda.

Sehat adalah keadaan keseimbangan yang sempurna baik fisik, mental, dan sosial, tidak hanya bebas dari penyakit dan kelemahan (WHO,1947 dan UU Pokok kesehatan no. 9 1960), pengertian sehat ini dipersepsi positif oleh 40

responden (100%) yaitu semua responden pada penelitian ini. Hal tersebut menyatakan bahwa masyarakat Suku Batak Toba sudah mengetahui pentingnya kesehatan dalam kehidupan masyarakat Suku Batak Toba dan juga termasuk dalam ciri – ciri masyarakat sehat menurut Mubarak (2009) yaitu Adanya peningkatan dari kemampuan masyarakat untuk hidup sehat, Mampu mengatasi masalah kesehatan yang sederhana, berupaya meningkatkan kesehatan lingkungan, Selalu meningkatkan status gizi masyarakat berkaitan dengan peningkatan status sosial ekonomi masyarakat,dan Berupaya selalu menurunkan angka kesakitan dan kematian dari berbagai sebab dan panyakit

Hal ini didukung oleh 40 responden (100%) yaitu semua responden berpersepsi positif didalam pernyataan kuesioner yang menyatakan tentang keteraturan dalam berolahraga dapat meningkatkan kesehatan. Sama halnya dengan pernyataan yang menyatakan bahwa dengan beristirahat dapat memulihkan tenaga. Saat merasa tidak sehat masyarakat Suku Batak Toba berobat ke pelayanan kesehatan ini merupakan pernyataan yang terdapat disalah satu kuesioner yang hampir semua responden sebanyak 38 orang (95%) memilih setuju dan sangat setuju yang merupakan persepsi positif. Masyarakat Suku Batak Toba juga menyadari pentingnya kebersihan dalam upaya menciptakan lingkungan yang sehat dan semua responden sebanyak 40 orang (100%) menyatakan persepsi positif untuk ini. Penjelasan diatas didukung juga oleh penelitian Purba (2012) terkait dengan perilaku hidup bersih dan sehat rumah tangga di kelurahan Tomuan Kecamatan Siantar Timur yang hasil penelitiannya berpengetahuan baik (95,2%) dan sikap

berjudul Pengetahuan Orang Tua tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Pada Keluarga di Lingkungan XIII Kelurahan Binjai Estate yang hasil penelitiannya didapat sikap positif (91,7%).

Pada dasarnya masyarakat Suku Batak Toba di Desa Meat Kecamatan Tampahan Kabupaten Toba Samosir sudah menyadari pentingnya kesehatan dalam kehidupannya. Akan tetapi masih dapat dijumpai hambatan dalam penerapan kesehatan dalam kehidupannya. Hal ini dapat dilihat dari perbedaan persepsi masyarakat tersebut. Adanya perbedaan persepsi tentang sehat yang timbul dimasyarakat sangat dipengaruhi oleh sikap, perhatian, dan faktor dari luar seperti perekonomian masyarakat tersebut dan lain sebagainya (Siagian 1995). Hal ini dapat ditinjau dari karakteristik masyarakat Suku Batak Toba di Desa Meat Kecamatan Tampahan Kabupaten Toba Samosir yang Rata – Rata responden berpenghasilannya < 1.000.000 dan 1.000.000 – 2.000.000 sebanyak 36 orang (90%) dan tingkat pendidikian masyarakat yang jenjangnya hanya sampai SD dan SMP sebanyak 20 orang (50% ), hal ini menjelaskan bahwa masyarakat Suku Batak Toba di Desa Meat Kecamatan Tampahan Kabupaten Toba Samosir perekonomiannya masih menengah kebawah dan memiliki tingkat pengetahuan yang rendah.

Masyarakat Suku Batak Toba di Desa Meat Kecamatan Tampahan Kabupaten Toba Samosir menanggapi pernyataan yang menyatakan makanan yang kita makan harus diolah secara instan secara berbeda sebanyak 26 orang (65%) berpersepsi positif Selebihnya sebanyak 14 orang (35%) berpersepsi negatif. Perekonomian yang masih rendah mengakibatkan masyarakat Suku Batak

Toba Di Desa Meat Kecamatan Tampahan Kabupaten Toba Samosir masih memilih makanan cepat saji yang harganya terjangkau untuk dimakan. Perbedaan persepsi lainnya terdapat pada pernyataan makanan dengan cita rasa yang enak sudah pasti sehat terdapat sebagian masyarakat berpersepsi negatif sebanyak 14 orang (35%) hal ini menjelaskan bahwa masih adanya masyarakat yang memiliki pengetahuan yang rendah terkait tentang sehat yang mempengaruhi persepsinya tersebut.

Melihat masih adanya perbedaan persepsi tentang sehat Suku Batak Toba di Desa Meat Kecamatan Tampahan Kabupaten Toba Samosir, peneliti merasa bahwa perlu adanya penyuluhan pendidikan kesehatan bagi masyarakat Suku Batak Toba di Desa Meat Kecamatan Tampahan Kabupaten Toba Samosir. sehingga masyarakat Suku Batak Toba di Desa Meat dapat mencapai Indonesia sehat 2014.

5.2.2. Persepsi Kebiasaan Mengonsumsi Tuak Suku Batak Toba di Desa Meat Kecamatan Tampahan Kabupaten Toba Samosir

Berdasarkan hasil dari 40 responden yang diteliti diketahui bahwa Persepsi masyarakat Suku Batak Toba terhadap kebiasaan mengonsumsi Tuak adalah Mayoritas berpersepsi negatif sebanyak 36 orang (90%) dan positif sebanyak 4 orang (10%). Hal ini sejalan dengan penelitian Ikegami (1997) bahwa minuman Tuak sangat berarti kehadirannya bagi Suku Batak Toba. Tuak merupakan minuman yang disediakan dalam sarana keakraban, upacara adat, dan sebagai ungkapan rasa terima kasih bagi Suku Batak Toba. Sementara dalam penerapan

ini belum ditemukan manfaat kesehatan dalam minuman tersebut Apalagi dikonsumsi terlalu banyak (Sipahutar 2009)

Persepsi negatif yang dominan pada masyarakat Suku Batak Toba di Desa Meat Kecamatan Tampahan Kabupaten Toba Samosir tentang kebiasaan mengonsumsi Tuak dikarenakan oleh faktor historis keberadaan Tuak tersebut dalam Suku Batak Toba yang sampai saat ini berpengaruh sangat besar. Menurut ikegami (1997) yang menceritakan asal muasal dan posisi Tuak Didalam sejarah Suku Batak Toba. tuak itu berasal dari mayang bagot, maka perlu diketahui legenda keberadaan batang bagot. Seorang tokoh adat yang tinggal di Balige memberitahukan legenda tersebut

Tuak hanya menjadi sajian untuk roh-roh nenek moyang, orang yang sudah meninggal dan sebagainya. Tuaktermasuk sebagai minuman adat pada dua upacara adat resmi, yaitu (1) upacara manuan ompu-ompu dan (2) upacara manulangi. Hal ini dapat ditinjau dari persepsi masyarakat yang menyatakan Tuak diminum dalam acara adat Suku Batak Toba dan Tuak mampu menjaga kekerabatan Suku Batak Toba sebanyak 40 orang (100%). Sama halnya bila dipandang dari aspek sosial budaya, itu terlihat dari persepsi negatif masyarakat yang menyatakan bahwa minum Tuak 2 gelas perhari baik bagi kesehatan sebanyak 40 orang (100%). Dari segi ekonomi masyarakat Suku Batak Toba Didesa Meat Tuak yang dihargai Rp.3000/gelas dianggap salah satu minuman jenis alkohol yang terjangkau. Sepadan dengan persepsi negatif masyarakat terhadap pernyataan minum Tuak 2 gelas/hari dapat meningkatkan kesehatan sebanyak 40 orang (100%). Mengonsumsi Tuak dianggap tidak begitu

berpengaruh pada penurunan kesejahteraan masyarakat Suku Batak Toba yang tinggal di Desa Meat. Hal ini dapat dilihat dari karakteristik pendapatan/bulan masyarakat Suku Batak Toba yang berpenghasilan < Rp. 2.000.000 sebanyak 36 orang (90%).

Persepsi positif yang timbul dapat dilihat dari tingkat pengetahuan responden pada variabel yang menyatakan Tuak adalah minuman beralkohol sebanyak 38 orang (95%). Pada dasarnya masyarakat tahu Tuak adalah minuman beralkohol dan tanpa memahami bahwa Tuak menghasilkan efek buruk yang akan di timbulkan bagi kesehatan mereka. Menurut Sipahutar (2009) Mengkomsumsi alkohol dalam jumlah yang banyak akan menyebabkan ketergantungan dan toleransi terhadap jumlah dari alkohol yang dikomsumsi. Konsumsi alkohol dalam jangka yang lama dan jumlah yang berlebihan bisa merusak berbagai organ di tubuh terutama hati, ginjal, otak dan jantung.

Melihat besarnya persepsi negatif yang timbul pada masyarakat Suku Batak Toba di Desa Meat kecamatan Tampahan Kabupaten Toba Samosir terhadap kebiasaan mengonsumsi Tuak, penyuluhan kesehatan kepada masyarakat sangat diperlukan dalam peningkatan pemahaman yang lebih lanjut terhadap minuman beralkohol (Tuak) dan keberadaannya kepada kesehatan masyarakat.

Dokumen terkait