• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

E. Pembahasan Hasil Penelitian

Penelitian dengan menggunakan regresi data panel dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis pengaruh struktur pasar terhadap kinerja industri perbankan syariah di Indonesia. Variabel struktur pasar sebagai variabel independen pada penelitian diproksikan dengan variabel market share asset (MS) dan concentration

rasio asset (CR4), dan untuk pembuktian ada atau tidak adanya perilaku kolusi

diproksikan dengan variabel MSCR4 (variabel interaksi hasil perkalian antara

market share dan concentration ratio), kemudian untuk memperkecil pengaruh

faktor luar terhadap profitabilitas perbankan syariah pada variabel independen ditambahkan variabel kontrol, yaitu variabel financing to deposit ratio (FDR), non

performing financing (NPF), dan biaya operasional terhadap pendapatan

operasional (BOPO).

Dari pengujian terakhir yang dilakukan yaitu uji Hausman yang bertujuan untuk menentukan model yang tepat digunakan dalam penelitian, diketahui bahwa model yang terbaik yang terpilih adalah model random effect atau random effect

model (REM).

Tabel 4.13 Ikhtisar Hasil Regresi Hubungan Variabel Independen terhadap Variabel Dependen

Variabel Independen Pengaruh Signifikansi

Market Share (MS) Tidak ada -

Concentration Rasio (CR4) Tidak ada -

MSCR4 (hasil perkalian antara market share

dan concentration ratio)

Tidak ada -

Financing to Deposit Ratio (FDR) Ada Negatif

Non Performing Financing (NPF) Ada Negatif Biaya Operasional terhadap Pendaptan

Operasional (BOPO)

Ada Negatif

Berdasarkan hasil regresi hubungan antara variabel dependen dengan variabel independen yang disajikan dalam tabel 4.13, berikut merupakan pembahasan setiap variabelnya:

1. Market Share (MS)

Hasil regresi panel yang telah dilakukan menunjukkan bahwa market share tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Return On Assets (ROA) pada industri perbankan syariah di Indonesia. Dilihat dari hasil uji-t, variabel market

share memilliki nilai t-hitung < t-tabel. Hal ini berarti, struktur pasar yang

diproksikan dengan market share atau pangsa pasar tidak memiliki pengaruh dalam menjelaskan profitabilitas industri perbankan syariah di Indonesia.

Hal ini menghasilkan temuan yang serupa dengan penelitian yang dilakukan oleh Amalia dan Nasution (2007) 118, Dina (2013)119,dan Yuhanah (2016)120, ketiga hasil penelitian menyatakan bahwa pangsa pasar tidak memiliki pengaruh terhadap profitabilitas pada industri perbankan syariah di Indonesia.

2. Concentration Ratio (CR4)

Berdasarkan hasil regresi panel, diperoleh bahwa variabel concentration ratio tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Return On Assets (ROA) pada industri perbankan syariah di Indonesia. Dilihat dari hasil uji-t, variabel konsentrasi pasar memilliki nilai t-hitung < t-tabel. Hal ini berarti, struktur pasar yang diproksikan dengan concentration ratio atau rasio konsentrasi tidak memiliki pengaruh dalam menjelaskan profitabilitas industri perbankan syariah di Indonesia.

118 Fitri Amalia, dan Mustafa Edwin Nasution, Perbandiangan Profitabilitas Perbankan Syariah

dan Industri Perbankan Konvensional Menggunakan Metode Struktur Kinerja dan Perilaku, h. 37.

119 Ilma Dina, Pengaruh Struktur Pasar terhadap Kinerja Industri pada Perbankan Syariah

Indonesia, h. 42.

120 Siti Yuhanah, Pengaruh Struktur Pasar terhadap Profitabilitas Perbankan Syariah di Indonesia, h. 94

Hasil penelitian ini sama dengan penelitian yang dilakukan Dina (2013)121, hasil penelitian menyatakan bahwa konsentrasi pasar tidak memiliki pengaruh terhadap profitabilitas pada industri perbankan syariah di Indonesia.

3. Variabel MSCR4 (hasil perkalian antara market share dan concentration ratio)

Berdasarkan hasil regresi panel, diperoleh bahwa variabel MSCR4 tidak berpengaruh terhadap Return On Assets (ROA) pada industri perbankan syariah di Indonesia. Dilihat dari hasil uji-t, variabel konsentrasi pasar memilliki nilai t-hitung < t-tabel. Variabel interaksi yaitu MSCR4, disertakan dalam model sebagai indikasi pembuktian ada atau tidaknya kolusi dalam industri perbanakan syariah. Karena variabel MSCR4 tidak berpengaruh terhadap ROA, hal ini berarti, perilaku kolusi tidak terjadi dalam industri perbankan syariah.

Hasil penelitian ini sama dengan penelitian yang dilakukan Amalia dan Nasution (2007)122, hasil penelitian menyatakan bahwa MSCR4 tidak memiliki pengaruh terhadap profitabilitas pada industri perbankan syariah di Indonesia dan peneletian yang dilakukan Belangkaehe, dkk (2014)123, pada Industri Perbankan Indonesia (Studi Pada Bank Yang Terdaftar di BEI) juga menghasilkan kesimpulan yang serupa.

4. Financing to Deposit Ratio (FDR)

Financing to Deposit Ratio (FDR) merupakan rasio yang digunakan untuk

mengukur likuiditas suatu bank dalam membayar kembali penarikan dana yang dilakukan deposan dengan mengandalkan pembiayaan yang diberikan sebagai

121 Ilma Dina, Pengaruh Struktur Pasar terhadap Kinerja Industri pada Perbankan Syariah

Indonesia, h. 42.

122 Fitri Amalia, dan Mustafa Edwin Nasution, Perbandiangan Profitabilitas Perbankan Syariah

dan Industri Perbankan Konvensional Menggunakan Metode Struktur Kinerja dan Perilaku, h. 37.

123 Rebeka Belangkaehe, dkk, Analisis Struktur Pasar, Perilaku, dan Kinerja Industri Perbankan

Indonesia (Studi Pada Bank Yang Terdaftar di BEI Periode 2008-2012, (Jurnal Berkala Ilmiah

sumber likuiditasnya.124 Semakin besar nilai rasio FDR, maka semakin baik pula bank tersebut dapat menjalankan fungsi intermediasinya. Berdasarkan hasil regresi panel, diperoleh bahwa variabel Financing to Deposit Ratio (FDR) berpengaruh negatif signifikan terhadap Return On Asset (ROA) pada industri perbankan syariah di Indonesia, dilihat dari hasil uji-t, variabel FDR memilliki nilai t-hitung > t-tabel. Artinya, apabila nilai rasio FDR naik, maka nilai rasio ROA menurun.

Hal ini kemungkinan disebabkan karena pembiayaan yang sudah disalurkan ternyata tidak memberikan keuntungan yang besar bagi bank, dikarenakan NPF atau pembiayaan bermasalah semakin meningkat, sehingga menyebabkan menurunnya mutu pembiayaan. Dalam tabel 1.4 rasio NPF memperlihatkan persentase pembiayaan kurang lancar terus meningkat sejak tahun 2012 hingga tahun 2015, dan baru pada tahun 2016 pembiayaan kurang lancar menurun, meski hanya sekitar 0.24%. Hal ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh oleh Al Parisi (2017)125 yang menyatakan bahwa Financing to Deposit Ratio (FDR) berpengaruh negatif signifikan terhadap Return On Assets (ROA).

5. Non Performing Financing (NPF)

Rasio Non Performing Financing (NPF), selalu digunakan pada saat mempublikasikan kondisi kinerja bank sebagai variabel yang mengukur tingkat permasalahan pembiayaan yang dihadapi oleh bank syariah.126 Berdasarkan hasil regresi panel, diperoleh bahwa variabel Non Performing Financing (NPF) berpengaruh negatif signifikan terhadap Return On Asset (ROA) pada industri perbankan syariah di Indonesia, dilihat dari hasil uji-t, variabel NPF memilliki nilai t-hitung > t-tabel. Rasio NPF yang berpengaruh negatif signifikan dapat diinterpretasikan bahwa apabila nilai rasio NPF naik, maka nilai rasio ROA menurun.

124 Suryani, Analisis Pengaruh Financing to Deposit Ratio (FDR) terhadap Profitabilitas Perbankan

Syariah di Indonesia, h. 59.

125 Salman Al Parisi, Determinan Kinerja Keuangan Bank Umum Syariah di Indonesia, (Ekonomika, Vol. 2, No. 1, 2017), h. 48.

Salah satu risiko usaha bank menurut Peraturan Bank Indonesia adalah risiko kredit yang didefinisikan sebagai risiko yang timbul akibat kegagalan counterparty memenuhi kewajiban. Tidak terpenuhinya kewajiban nasabah kepada bank menyebabkan bank menderita kerugian dengan tidak diterimanya penerimaan yang sudah diperkirakan. NPF mencerminkan risiko pembiayaan (kredit), semakin kecil NPF maka semakin kecil pula risiko pembiayaan (kredit) yang ditanggung oleh bank, dan sebaliknya. 127 Bank dengan NPF yang tinggi akan memperbesar biaya, baik pencadangan aktiva produktif maupun biaya lainnya, sehingga berpotensi terhadap kerugian bank128, atau berdampak pada menurunnya profitabilitas bank. Hasil ini serupa dengan penelitian yang dilakukan oleh Yuhanah (2016), yang menyatakan bahwa Non Performing Financing (NPF) berpengaruh negatif signifikan terhadap Return On Assets (ROA).

6. Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO)

Rasio BOPO digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi dan kemampuan bank dalam melakukan kegiatan operasinya.129 Berdasarkan hasil regresi panel, diperoleh bahwa variabel BOPO berpengaruh negatif signifikan terhadap Return

On Asset (ROA) pada industri perbankan syariah di Indonesia, dilihat dari hasil

uji-t, variabel NPF memilliki nilai t-hitung > t-tabel. Rasio BOPO yang berpengaruh negatif signifikan dapat diinterpretasikan bahwa setiap kenaikan rasio BOPO dapat menurunkan nilai rasio ROA.

Semakin tinggi rasio BOPO berarti semakin inefisien biaya operasional yang dikeluarkan bank yang bersangkutan sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin besar, yang kemungkinan akan mengurangi profitabilitas bank. Hasil ini serupa dengan penelitian yang dilakukan oleh Wahyuni (2016)130, Yuhanah (2016), dan Al Parisi (2017)131 yang menyatakan

127 Salman Al Parisi, Determinan Kinerja Keuangan Bank Umum Syariah di Indonesia, h. 48.

128 Dwi Nur’aini Ihsan, Analisis Laporan Keuangan Perbankan Syariah, h. 96.

129 Lukman Dendawijaya, Manajemen Perbankan,, h. 119-120.

130 Sri Wahyuni, Pengaruh CAR, NPF, FDR, dan BOPO terhadap Profitabilitas Bank Umum

Syariah, h. 117.

bahwa Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) berpengaruh negatif signifikan terhadap Return On Assets (ROA).

F. Analisis Pengaruh Variabel Struktur Pasar Market Share (MS) dan

Dokumen terkait