Hasil uji normalitas nilai kemampuan komunikasi matematika kedua kelas menunjukkan bahwa data kemampuan komunikasi matematika peserta didik pada kelas eksperimen yang
113
menggunakan model pembelajaran Think-Talk-Write (TTW) dan kelas kontrol yang hanya menggunakan pembelajaran konvensional memiliki distribusi normal. Selanjutnya dilakukan uji homogenitas terhadap kedua kelas dan disimpulkan bahwa nilai kemampuan komunikasi matematika kedua kelas memiliki varians yang sama atau homogen. Kemudian dilakukan uji perbedaan dua rata-rata untuk menguji hipotesis penelitian.
Uji perbedaan rata-rata menggunakan uji t karena data berdistribusi normal dan homogen. Hasil perhitungan diperoleh rata-rata kelas eksperimen adalah 76,20 dan kelas kontrol adalah 53,77. Selanjutnya dilakukan uji t yang memperoleh thitung = 7,813 dan ttabel = 1,667. Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa
hitung tabel
t t , maka H0 ditolak dan H1 diterima. Yang artinya kemampuan komunikasi matematika peserta didik kelas eksperimen yang menggunakan model pembelajaran Think-Talk-Write (TTW) dan kelas kontrol yang menggunakan pembelajaran konvensional memiliki rata-rata yang berbeda. Dari rata-rata tersebut menunujukkan bahwa rata-rata kelas eksperimen lebih tinggi dari kelas kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan komunikasi matematika peserta didik yang menggunakan model pembelajaran Think-Talk-Write (TTW) lebih baik daripada kemampuan komunikasi matematika peserta didik yang menggunakan pembelajaran konvensional.
Diketahui bahwa terdapat perbedaan dari tiap-tiap indikator kemampuan komunikasi matematika peserta didik. Selanjutnya
114 indikator kemampuan komunikasi matematika dikelompokkan berdasarkan aspek komunikasi yang diukur. Ditunjukkan bahwa tingkat ketercapaian indikator mempunyai perbedaan pada tiap-tiap indikator kemampuan komunikasi matematika peserta didik.
Pertama, pada indikator merumuskan definisi, menjelaskan ide secara tulisan, persentase pencapaian kelas eksperimen adalah 74,03% dengan kategori baik. Sedangkan untuk kelas kontrol adalah 21,25% dengan kategori cukup. Hal ini menunjukkan jika kemampuan kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol, dilihat dari selisih persentase pencapaian kedua kelas tersebut yang cukup besar yaitu 52,78%.
Kedua,indikator menggunakan istilah-istilah, notasi-notasi, maupun simbol matematika untuk menyajikan ide-ide matematika secara tulisan, persentase pencapaian pada kelas eksperimen adalah 86,33%, sedangkan pada kelas kontrol adalah 71,30%. Persentase tersebut menunjukkan kategori sangat baik untuk kelas eksperimen dan kategori baik untuk kelas kontrol. Walaupun perbedaan antara kedua kelas tersebut tidak terlalu besar, tapi terlihat bahwa kelas eksperimen memiliki kemampuan lebih tinggi dari kelas kontrol dengan selisih persentase sebesar 15,03%.
Ketiga, indikator menyatakan ide atau situasi matematika secara tulisan dengan gambar, maupun diagram, kelas eksperimen mendapat persentase pencapaian sebesar 66,93%, sedangkan pada kelas kontrol adalah 47,02%. Persentase kedua kelas tersebut memiliki selisih sebesar 19,91%. Di mana kelas eksperimen
115
berkategori baik sedangkan kelas kontrol berkategori cukup.
Keempat, indikator menyatakan gambar atau diagram ke dalam ide-ide matematika, persentase pencapaian kelas eksperimen adalah 83,66% dengan kategori sangat baik. Sedangkan untuk kelas kontrol adalah 76,31% dengan kategori baik. Hal ini menunjukkan jika kemampuan kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol.
Di samping itu, dari persentase perhitungan ketercapaian kemampuan komunikasi matematika peserta didik pada kelas eksperimen tersebut dapat dilihat jika indikator ketiga memiliki persentase yang paling rendah dibandingkan dengan persentase indikator-indikator yang lainnya, walaupun selisihnya tidak terlalu besar dan masih dalam kategori baik. Penyebab indikator-indikator tersebut memperoleh persentase yang paling rendah dibandingkan dengan indikator yang lain dapat disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya adalah peserta didik yang masih kebingungan untuk menggambarkan himpunan ke dalam diagram venn. Masih banyak dari peserta didik yang belum tepat dalam menunjukkan irisan, gabungan, komplemen, maupun selisih dari diagram venn yang mereka gambar. Peserta didik hanya menggambar diagram Venn-nya saja tetapi kurang mampu menunjukkan irisan, gabungan, selisih, maupun komplemennya.
Selisih persentase perhitungan ketercapaian kemampuan komunikasi matematika peserta didik tiap indikator menunjukkan perbedaan kemampuan komunikasi matematika antar kelas
116 eksperimen dan kelas kontrol. Selisih terbesar terjadi pada indikator pertama yaitu pada indikator merumuskan definisi, menjelaskan ide secara tulisan, dengan selisih persentasenya adalah 52,78%.
Secara menyeluruh, rata-rata persentase pencapaian kelas eksperimen adalah 76,20% dan kelas kontrol adalah 53,77%.
Terjadi perbedaan rata-rata antara kelas eksperimen yang mendapat perlakuan model pembelajaran Think-Talk-Write (TTW) dan kelas kontrol hanya dengan pembelajaran konvensional. Dari perhitungan tersebut menunjukkan kemampuan komunikasi matematika kelas eksperimen memiliki kategori baik dengan persentase 76,20% dan rata-rata hasil tes kemampuan komunikasi matematika peserta didik adalah 76,20. Sedangkan pada kelas kontrol memiliki kemampuan komunikasi matematika dalam kategori cukup dengan rata-rata persentase 53,77%. dan rata-rata nilai hasil tes kemampuan komunikasi matematika peserta didik adalah 53,77.
Perbedaan rata-rata tersebut menunjukkan bahwa perlakuan pada kelas eksperimen lebih baik terhadap hasil tes kemampuan komunikasi matematika dibandingkan dengan kelas kontrol yang menggunakan pembelajaran konvensional. Selain itu, nilai rata-rata pada kelas eksperimen dan kelas kontrol juga menunjukkan bahwa ada peningkatan yang terjadi di mana nilai rata-rata pada kelas eksperimen lebih baik daripada nilai rata-rata kelas kontrol.
117
Adanya perbedaan ini dipengaruhi oleh perlakuan yang berbeda yang diberikan pada kelas eksperimen dan kelas kontrol.
Pada kelas eksperimen diberikan perlakuan model pembelajaran Think-Talk-Write (TTW) di mana peserta didik dibebaskan untuk berperan secara aktif saat pembelajaran berlangsung, peran guru hanya fasilitator, peserta didik diberikan kesempatan untuk mengkomunikasikan ide-ide mereka secara lisan maupun tulisan, mengkonstruksi pengetahuannya, beragumentasi dan berdiskusi dengan peserta didik lainnya untuk memecahkan sebuah permasalahan yang ada. Sehingga banyak terjadi komunikasi antar peserta didik maupun peserta didik dengan guru.
Hal ini sesuai dengan pandangan Kontruktivistik, yang menyebutkan jika pembentukan pengetahuan harus dilakukan oleh si pelajar, pelajar harus aktif melakukan kegiatan, aktif berpikir, menyusun konsep dan memberi makna tentang hal-hal yang dipelajari. Pandangan ini juga menekankan bahwa peranan utama dalam kegiatan belajar adalah aktifitas siswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Siswa diberi kebebasan untuk mengungkapkan pendapat dan pemikirannya tentang sesuatu yang dihadapinya.1 Pandangan kontruktivisme ini juga didukung oleh teori Bruner yang mementingkan partisipasi aktif dari tiap peserta didik saat pembelajaran. Sedangkan menurut Piaget dan Vygotsky, diperlukan adanya kemampuan bahasa dalam belajar
1Asri Budiningsih, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta : PT Rineka Cipta, 2005), hlm. 58-60.
118 yang timbul dalam interaksi aktif peserta didik dengan lingkungannya untuk membentuk sebuah pengetahuan pada peserta didik,. Seperti interaksi sosial dengan teman sebaya, khusunya beragumentasi dan berdiskusi membantu memperjelas pemikiran menjadi lebih logis. Akan lebih sulit jika kemampuan berbahasa dan keaktifan saat pembelajaran tersebut tidak dapat dikembangkan oleh peserta didik secara maksimal.
Hal ini menunjukkan bahwa dengan pembelajaran yang menggunakan model Think-Talk-Write (TTW) di mana peserta didik dapat mengkomunikasikan ide-ide mereka secara lisan maupun tulisan dan membuat peserta didik berperan aktif saat pembelajaran di kelas, menjadikan hasil belajar dan kemampuan komunikasi matematika menjadi lebih baik dan meningkat.
Khusunya pada kemampuan komunikasi matematika pada indikator merumuskan definisi, menjelaskan ide secara tulisan, yang ditunjukkan dengan persentase pencapaian kelas eksperimen yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol. Hal ini bisa dilihat dari selisih persentase pencapaian kedua kelas tersebut yang cukup besar yaitu 52,78%. Selisih ini merupakan selisih paling besar diantara indikator-indikator komunikasi matematika yang lain.
Sedangkan hasil observasi yang dilakukan pada setiap pertemuan di kelas eksperimen menggunakan lembar observasi yang digunakan untuk mengamati secara langsung bagaimana situasi dan kondisi kemampuan komunikasi matematika peserta
119
didik kelas VII SMP Negeri 1 Mlonggo yang memperoleh pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Think-Talk-Write (TTW), didapatkan jika terjadi kenaikan persentase kemampuan komunikasi matematika peserta didik pada kelas eksperimen di setiap pertemuannya rata-rata persentase kemampuan komunikasi matematika peserta didik yang menggunakan model pembelajaran Think-Talk-Write (TTW) selalu mengalami kenaikan disetiap pertemuannya. Pertemuan pertama rata-rata persentase kemampuan komunikasi matematika peserta didik sebesar 72% dengan kategori baik, kemudian naik 6% pada pertemuan kedua menjadi 78%, sedangkan pada pertemuan ketiga juga terjadi kenaikan sebesar 7% menjadi 85% dengan kategori sangat baik. Hal itu dikarenakan karena peserta didik dapat mengikuti dengan baik langkah-langkah pembelajaran yang digunakan selama pembelajaran.
Walaupun mereka baru mengenal model-model pembelajaran yang digunakan, namun mereka antusias karena kombinasi model pembelajaran yang digunakan menyenangkan dan membuat peserta didik mampu untuk mengikuti pembelajaran, seperti mereka dapat membuat pertanyaan dan jawaban dengan bahasa sendiri, dapat mengungkap ide dan pendapat mereka sendiri, dapat bertukar pikiran dengan teman, dapat tanya jawab dengan teman dan guru, dan lain sebagainya.
Hal ini menunjukkan bahwa model pembelajaran Think-Talk-Write (TTW) menjadi solusi pembelajaran yang efektif untuk
120 pencapaian kemampuan komunikasi matematika peserta didik pada materi himpunan kelas VII.