Bab 5 Hasil Penelitian Dan Pembahasan
5.2 Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian ini, akan dibahas tentang peran keluarga dalam pemulihan pasien skizofrenia yang berobat jalan. Hasil kuesioner peran keluarga dalam pemulihan pasien skizofrenia yang berobat jalan adalah cukup sebanyak 47 orang (51,6%). Setyowati (2008) mengatakan bahwa peran dan fungsi keluarga untuk melaksanakan praktek asuhan keperawatan, yaitu untuk mencegah terjadinya gangguan kesehatan dan merawat anggota keluarga yang
sakit. Kemampuan keluarga dalam memberikan asuhan keperawatan
mempengaruhi status kesehatan keluarga. Kesanggupan keluarga melaksanakan pemeliharaan kesehatan dapat dilihat dari tugas kesehatan keluarga yang terlaksana. Keluarga yang mampu melaksanakan tugas kesehatan keluarga berarti sanggup menyelesaikan masalah kesehatan. Hal ini tidak sesuai dengan hasil kuesoiner yang diperoleh bahwa mayoritas peran keluarga masih cukup, berarti keluarga dalam suatu subsistem komunikasi sebagai sistem sosial tidak berjalan semestinya. Ketidaksesuaian yang terjadi pada peran keluarga ini bisa disebabkan oleh suatu stigma yang terjadi pada masyarakat itu sendiri. Selama ini dalam masyarakat banyak beredar suatu persepsi yang salah mengenai gangguan jiwa ada yang percaya bahwa gangguan jiwa disebabkan oleh gangguan roh jahat, ada yang menuduh bahwa itu akibat guna-guna, karena kutukan atau hukuman atas dosanya. Kepercayaan yang salah ini hanya akan merugikan penderita dan keluarganya karena penginap ganggguan jiwa tidak mendapat pengobatan secara cepat dan tepat (Notosoedirjo, 2005). Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Mubin (2008) yang meneliti tentang stigma masyarakat dan stigma
pada diri sendiri memberikan dampak pada keluarga dengan konsekuensi positif dan negatif. Berdasarkan hasil penelitian tersebut adalah makna yang bersifat positif dan negatif. Makna positif berupa terbentuknya koping keluarga yang konstruktif dengan keluarga semakin kompak dan rukun. Selanjutnya makna negatif berupa pengalaman yang tidak menyenangkan, aktivitas seharian terganggu dan keluarga menjadi rendah diri.Keluarga merupakan subsistem komunikasi sebagai sistem sosial yang bersifat unik dan dinamis. Gambaran kondisi yang sulit dipahami ini menjadi upaya penyembuhan menjadi tidak mudah. Hal ini juga bisa dilihat dengan data demografi pada suku atau budaya keluarga dengan mayoritas jawa 38 orang (41,8%), menunjukkan bahwa stigma dalam masyarakat akan penyakit ganggauan jiwa khususnya skizofrenia masih dikatakan dengan penyakit yang disebabkan oleh roh-roh jahat atau setan.
Namun, dalam penelitian ini juga diperoleh hasil kuesioner dengan hasil baik 44 orang (48,4%), belum sebanding dengan nilai mayoritas yang diperoleh. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan keluarga juga berpegaruh dalam merawat pasien skizofrenia,seperti yang diperoleh dalam penelitian bahwa pendidikan keluarga mayoritas adalah SMA dengan jumlah 40 orang (44,0%). Sesuai dengan penelitian Wiyati R (2010) tentang pengaruh psikoedukasi keluarga terhadap kemampuan keluarga dalam merawat klien isolasi sosial, dengan hasil peneliannya bahwa psikoedukasi keluarga mempengaruhi tingkat perawatan dan tingkat koping terhadap pasien isolasi sosial. Menurut Hawari (2003) salah satu kendala dalam upaya penyembuhan pasien gangguan jiwa adalah pengetahuan
penyakit yang memalukan dan membawa aib bagi keluarga. Penilaian masyarakat terhadap gangguan jiwa sebagai akibat dari dialnggarnya laranga, guna-guna, santet, kutukan dan sejenisnya berdsarkan kepercayaan supranatural. Dampak dari kepercayaan masyarakat dan keluarga, upaya pengobatan pasien gangguan jiwa dibawa berobat ke dukun atau paranormal. Kondisi ini diperberat dengan sikap keluarga yang cenderung memperlakukan pasien dengan disembunyikann diisolasi, dikucilkan bahkan sampai ada yang dipasung.
Keluarga merupakan faktor yang sangat penting dalam proses kesembuhan klien yang mengalami gangguan jiwa. Kondisi keluarga yang teraupetik dan mendukung klien sangat membantu kesembuhan klien dan memperpanjang kekambuhan. Proses penyembuhan pada klien gangguan jiwa harus dilakukan secara holistic dan melibatkan anggota keluarga. Tanpa itu, sama halnya dengan penyakit umum, penyakit jiwa pun bisa kambuh. Keluarga sangat penting untuk ikut berpartisipasi dalam proses penyembuhan karena keluarga merupakan pendukung utama dalam merawat pasien yang memberikan asuhan keperawatan pasien gangguan jiwa. Oleh karena itu, asuhan keperawatan berfokus pada keluarga bukan hanya memulihkan keadaan klien tetapi bertujuan untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan keluarga dalam mengatasi masalah kesehatan jiwa dalam keluarga (Keliat, 1996).
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan peneliti bahwa peran keluarga yang mayoritas sebanyak 47 orang (51,6%) dengan kategori cukup. Hal ini belum menunjukkan bahwa peran keluarga sudah sepenuhnya memberikan arti bahwa
dan tidak ada lagi kekambuhan bagi pasien. Gambaran kondisi yang sulit dipahami ini menjadi upaya untuk penyembuhan menjadi tidak mudah. Dalam sejarah perkembangan psikologi abnormal, pada zaman demonology, orang yang mengalami gangguan jiwa diyakini dipengaruhi oleh kuasa roh jahat atau setan. Pemahaman ini menjadikan adanya stigma dalam masyarakat pula bahwa keberadaan orang yang mengalami gangguan jiwa sulit atau bahkan tidak bisa sembuh. Stigma masyarakat ini berkaitan dengan upaya penyembuhan terhadap gangguan jiwa. Berdasarkan penelitian kejiwaan yang dilakukan oleh Mubin (2008) yang meneliti tentang stigma msyarakat dan stigma pada diri sendiri memberikan dampak pada keluarga dengan konsekuensi positif dan negatif. Berdasarkan hasil penelitian adalah terdapat makna stigma yang dapat diambil oleh keluarga diantaranya adalah makna yang bersifat positif dan negatif. Makna positif berupa terbentuknya koping keluarga yang konstruktif dengan keluarga semakin kompak dan rukun. Selanjutnya makna negative berupa pengalaman yang tidak menyenangkan, aktivitas seharian terganggu dan keluarga menjadi rendah diri.
Proses penyembuhan pada pasien gangguan jiwa harus dilakukan secara holistic dan melibatkan anggota keluarga. Tanpa itu, sama halnya dengan penyakit umum, penyakit jiwa pun bisa kambuh. Keluarga sangat penting untuk ikut berpartisipasi dalam proses penyembuhan karena keluarga merupakan pendukung utama dalam merawat pasien yang memberikan asuhan keperawatan pasien dengan gangguan jiwa. Oleh karena itu, asuhan keperawatan berfokus pada
mengembangkan dan meningkatkan kemampuan keluarga dalam mengatasi masalah kesehatan jiwa dalam keluarga (Keliat,1996). Hasil penelitian yang sebagian diperoleh peneliti dengan hasil 44 orang (48,4%) adalah baik menunjukkan bahwa peran keluarga disini sudah melakukan semua peran, tugas dan fungsi keluarga secara baik sehingga kekambuhan pada klien pun akan jarang. Dalam hal merawat menunjukkan dukungan yang penuh terhadap klien dan keluarga serta masyarakat telah mendukung akan perawatan pada klien. Menurut Rivai (1996) terdapat empat faktor yang mempengaruhi penerimaan klien skizofrenia oleh keluarga, yaitu: pengetahuan keluarga, struktur keluarga, dukungan keluarga, dan ekonomi keluarga. Namun dari keempat faktor tersebut jika terpenuhi secara baik,maka pelaksanaan perawatan klien skizofrenia akan baik. Keluarga adalah suatu ikatan ikatan atas dasar perkawinan anatara orang dewasa yang berlainan jenis yang hidup bersama atau sesorang laki-laki atau seorang perempuan yang sudah sendiri dengan atau tanpa anak, dan tinggal disuatu rumah tangga (Suprajitno, 2004). Adanya suatu iktan tersebut menunjukkan bahwa keluarga masih menganggap klien sebagai angggota keluarga mereka secara sah. Rasa kekhawatiran dan mensia-siakannya klien skizofrenia karena ketaatannya dengan aturan agama yang diyakini keluarga sehingga keluarga merasa takut akan dosa. Hal ini di tunjukkan oleh data demografi oleh keluarga bahwa keluarga mempunyai kepaercayaan masing-masing.