• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.4 Pembahasan

5.4.1 Tingkat Pengetahuan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah disajikan diatas dapat dilakukan pembahasan seperti berikut. Mayoritas responden yang mengikuti penelitian memiliki tingkat pengetahuan yang cukup yaitu sebanyak 74 orang (82.2%), diikuti dengan responden yang memiliki tingkat pengetahuan yang baik yaitu sebanyak 14 orang (15.6%) dan yang memiliki tingkat pengetahuan yang kurang yaitu sebanyak 2 orang (2.2%). Hal ini disebabkan karena informasi tentang narkotika dan efek sampingnya yang diterima baik dikelas maupun diluar kelas adalah sangat minimal. Ini menyebabkan mayoritas responden tergolong dalam tingkat pengetahuan yang cukup terhadap pengertian narkotika efek-efek samping mahupun undang-undang narkotika. Hal ini sesuai dengan pendapat Notoadmodjo (2003) yang menyebutkan bahwa pengetahuan mampu dikembangkan oleh manusia disebabkan karena manusia mempunyai bahasa yang mampu dikomunikasikan informasi yang diperolehi. Jika yang dikomunikasikan tersebut salah terima,maka pengetahuan tentu tidak akan berkembang dengan baik. Menurut Teori BLOOM terdapat 6 tingkatan yaitu, tahu(know) diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Memahami (comprehension) diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar. Aplikasi(Apllication) diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari. Analisis (Analysis) adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu obyek ke dalam komponen- komponen. Sintesis(Synthesis) menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Evaluasi(Evaluation) berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilain terhadap suatu materi atau obyek. Semua tingkatan di atas itu harus tercapai supaya tingkat pengetahuan adalah baik.

5.2.2 Distribusi tingkat pengetahuan siswa/i mengikut kelas SMA ,sumber informasi,umur, jenis kelamin siswa/i Sekolah Menengah Atas (SMA) Swasta Harapan Medan.

Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 5.9 maka dapat di analisa secara deskriptif, tingkat pengetahuan siswa siswi Sekolah Menengah Atas (SMA) Swasta Harapan 1 Medan tentang bahaya narkotika dan efek sampingnya berdasarkan kelas. Siswa dalam kategori tingkat pengetahuan baik lebih banyak berada pada kelas XI dan XII diikuti kelas X. Hal ini menunjukkan berdasarkan kelas juga mempengaruhi sedikit sebanyak tingkat pengetahuan siswa/i tentang bahaya narkotika dan efek sampingnya. Teori Notoadmodjo (2003) yang menyatakan bahwa pengetahuan akan berpengaruh pada perilaku sebagai hasil pendidikan.

Siswa siswi sekolah menengah atas harus memiliki pengetahuan yang baik tentang bahaya narkotika dan efek sampingnya, namun faktanya masih banyak siswa kelas X, kelas XI maupun kelas XII yang belum memiliki pengetahuan yang memadai tentang narkotika. Hanya 8.9% siswa laki-laki dan 6.9% siswi perempuan yang mempunyai pengetahuan baik tentang bahaya narkotika. Pada asumsi saya tingkat pengetahuan tentang narkotika adalah lebih rendah pada siswa yang lebih muda dan berpendidikan lebih rendah karena memiliki pengetahuan asas yang lebih rendah serta kemungkinan kurangnya penyuluhan pada siswa kelas X dibandingkan dengan kelas XI maupun kelas XII tentang narkotika, bahaya narkotika, efek samping narkotika serta undang-undang dan hukum narkotika. Hal ini menunjukkan perlunya informasi maupun pelayanan yang mencukupi bagi siswa menyangkut tentang narkotika.

Berdasarkan karakteristik sumber informasi pada tabel 5.2, dapat diketahui bahwa sumber informasi terbanyak pada siswa adalah lain-lain (organisasi intra sekolah (OSIS), orang tua dan teman) dengan jumlah 30 siswa (33.3%). Berdasarkan data table 5.8., didapati bahawa tingkat pengetahuan responden yang baik adalah dari sumber informasi lain-lain yang terdiri dari organisasi intra sekolah (OSIS), orang tua dan teman yaitu sebanyak 6 orang (6.7%). Menurut Notoatmodjo (2007)informasi

yang diperoleh dari berbagai sumber akan mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang. Bila seseorang memperoleh banyak sumber informasi, maka seseorang cenderung memperoleh pengetahuan yang lebih luas.

Hasil penelitian oleh Rustini (2002) mengenai Gambaran Tingkat Pengetahuan mengenai NAPZA pada murid-murid SMU Marsudirini Kemang Pratama Bekasi menunjukkan bahwa jumlah responden yang mendapat informasi mengenai narkotika dari orang tua dan memiliki pengetahuan yang baik yaitu sebanyak 64.3%. Begitu juga pada penelitian ini dimana responden yang memiliki pengetahuan baik yaitu sebanyak 6.7% paling banyak mendapat sumber informasi daripada organisasi intra sekolah, orang tua dan teman. Pada asumsi saya, tingkat pengetahuan siswa mendapat sumber informasi dari orang tua paling banyak adalah karena hubungan komunikasi antara orang tua dan remaja yang lancar dan terbuka yang dapat membantu remaja mengetahui hal – hal yang diinginkan oleh remaja sehubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan remaja dengan lebih jelas.

Selain daripada itu, berdasarkan tabel 6.0 didapati bahwa distribusi tingkat pengetahuan tentang bahaya narkotika dan efek sampingnya berdasarkan kelompok umur tidak menunjukkan suatu gambaran jelas. Pada asumsi saya, ini mungkin karena siswa SMA Harapan 1 Medan, tidak terdiri daripada satu golongan umur tertentu sahaja pada setiap kelas. Terdapat perbedaan umur yang nyata antara siswa pada setiap kelas sehingga menjadi kurang jelas predileksi dari tingkat pengetahuan. Ini berlainan pula dengan Notoadmotjo 2003, umur merupakan variabel yang selalu diperhatikan delam penelitian-penelitian epidemiologi yang merupakan salah satu hal yang mempengaruhi pengetahuan. Umur adalah lamanya hidup seseorang dalam tahun dihitung sejak dilahirkan. Semakin tinggi umur seseorang , maka semakin bertambah pula ilmu atau pengetahuan yang dimiliki karena pengetahuan seseorang diperoleh dari pengalaman sendiri maupun pengalaman yang diperoleh dari orang lain (Notoatmodjo,2003).

Akhirnya distribusi tingkat pengetahuan siswa SMA Harapan 1 tentang bahaya narkotika dan efek sampingnya sesuai proporsi jenis kelamin pada tabel 5.7 menunjukan lebih banyak siswa tergolong dalam tingkat pengetahuan baik dibanding siswi. Selain itu menurut hasil penelitian Ian(2003) yang berjudul Smoking, Drinking, Drug use And Sexual Health Among Schoolchildren In The Western Isles, juga menunjukkan bahwa laki-laki lebih banyak menyalahgunakan obat dibandingkan dengan responden perempuan. Ian juga menyatakkan salah satu faktor laki-laki mempunyai tingkat pengetahuan yang lebih baik daripada perempuan adalah karena pergaulan remaja laki-laki cenderung lebih luas daripada remaja perempuan .

Dahulu teori freud yang menyatakan bahwa perempuan kurang memiliki hasrat untuk berprestasi dan cenderung lebih mendengarkan, sedangkan anak laki-laki melihat (Sarlito, 2005). Menurut asumsi saya bahwa jenis kelamin mempengaruhi dalam memahami ilmu pengetahuan dimana laki-laki lebih dominan dengan berpengetahuan baik. Hal ini dikarenakan remaja laki-laki lebih cenderung memiliki rasa keingintahuan lebih besar dan sifat ingin mencoba suatu hal lebih tinggi. Sehingga tingkat pengetahuan mereka tentang narkotika umumnya lebih banyak di bandingkan remaja perempuan.

Hasil keseluruhan ini berbeda dengan hasil penelitian oleh Rustini (2002) mengenai Gambaran Tingkat Pengetahuan Mengenai NAPZA pada murid-murid Marsuridini Kemang Bekasi dimana siswa yang pengetahuannya baik mengenai narkotika adalah sebesar 55.2% sedangkan pengetahuan yang kurang baik sebesar 44.8%. Manakala dalam penelitian ini ternyata bahwa mayoritas responden yang mengikuti penelitian memiliki tingkat pengetahuan yang cukup yaitu sebanyak 74 orang (82.2%), diikuti dengan responden yang memiliki tingkat pengetahuan yang baik yaitu sebanyak 14 orang (15.6%) dan seterusnya dengan tingkat pengetahuan yang kurang yaitu sebanyak 2 orang (2.2%). Baik tidaknya pengetahuan siswa tentang narkotika dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Beberapa faktor tersebut

misalnya umur, kelas, jenis kelamin, dan pendidikan. Selain itu keterpaparan media informasi yang sangat mendukung. Media informasi tersebut seperti petugas kesehatan, media cetak, maupun media elektronik. Makin banyak mendapatkan informasi maka makin tinggi pengetahuan akan narkotika.

Dokumen terkait