• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.2. Pembahasan

5.2.1. Prevalensi siswa merokok

Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap 90 siswa SMP Dharma Pancasila, Medan, prevalensi siswa yang merokok sebesar 1.1 % . Penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian Global Youth Tobacco Survey pada tahun 2004 di SMP di Medan yang melaporkan prevalensi siswa yang merokok adalah sebanyak 34.9%. Selain itu, Global Youth Tobacco Survey, 2004 turut melaporkan sebanyak 34% siswa di SMP di Jakarta yang merokok dan 33% siswa di SMP di Bekasi yang merokok.

Menurut asumsi peneliti, prevalensi merokok pada siswa SMP Dharma Pancasila rendah karena sudah terdapat penyuluhan awal mengenai rokok dan bahaya merokok terhadap siswa tersebut sehingga menyebabkan mereka tidak mahu merokok karena mereka sadar efek yang bisa disebabkan oleh rokok. Selain itu juga terdapat anggota keluarga siswa yang melarang siswa untuk merokok.

5.2.2. Usia siswa SMP mulai merokok

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, satu orang siswa SMP Dharma Pancasila yang merokok itu berusia 12 tahun. Hasil ini serupa dengan penelitian yang dilakukan oleh Smet (1999) yang mengatakan usia siswa SMP mengisap rokok kali pertama adalah pada umur 11-13 tahun. Penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian Global Youth Tobacco Survey pada tahun 2006 yang mengatakan usia anak mulai mengisap merokok adalah pada umur kurang dari 10 tahun.

5.2.3. Jumlah rokok yang dihisap oleh siswa dalam satu hari

Jumlah rokok yang dihisap oleh siswa SMP yang merokok berdasarkan penelitian adalah sebanyak 1-2 batang dalam sehari. Siswa ini dikategorikan sebagai perokok ringan. Mengikut pandangan peneliti, perokok ringan mempunyai peluang yang tinggi untuk berhenti merokok jika mereka mendapatkan penyuluhan dan pengetahuan yang cukup.

5.2.4. Faktor-faktor siswa SMP merokok

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di SMP Dharma Pancasila, faktor siswa merokok adalah karena siswa tersebut ingin coba-coba. Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Mariani, S.R., (2004) turut mendapatkan hasil yang sama yaitu pada mulanya remaja merokok karena untuk suka-suka dan rasa ingin tahu yang seterusnya berlanjutan kepada ketagihan merokok. Selain itu, faktor lain yang menyebabkan siswa ini merokok adalah disebabkan terdapat anggota keluarganya yang merokok yaitu pamannya. Hal ini serupa dengan penelitian yang dilakukan oleh Mariani, S.R., (2004) mengatakan salah satu faktor remaja merokok adalah karena terdapat anggota keluarga remaja yang merokok. Sebagai contoh, bapak atau

abang remaja tersebut menghisap rokok. Oleh karena itu mereka berpendapat tidak salah bagi mereka untuk merokok.

Pada penelitian juga dijumpai terdapat teman siswa tersebut yang merokok. Smet (1999) mengatakan remaja merokok ketika bersama-sama dengan teman mereka. Penelitian yang dilakukan oleh Jusuf (1994) di Jakarta Timur, perilaku merokok sering disebabkan oleh anggota keluarga seperti abang dan temannya.

Pada penelitian ini didapati terdapat anggota keluarga yaitu ibu responden yang menghalangi anaknya untuk tidak merokok tetapi responden tersebut masih tetap juga merokok. Hasil ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Mariani, S.R., (2004) yang mengatakan ibu bapa tidak peduli anaknya merokok. Mengikut pandangan peneliti mengapa responden masih lagi merokok walaupun sudah dilarang oleh ibunya karena sikap remaja itu yang ingin hidup bebas dan tidak suka dikengkang. Selain itu pengaruh teman yang merokok lebih memainkan peranan terhadap remaja merokok.

5.2.5. Pengetahuan Siswa

Berdasarkan tabel 5.3 menunjukkan pengetahuan siswa SMP Dharma Pancasila mengenai rokok dan bahaya merokok secara umum sudah baik. Pengetahuan responden meliputi kandungan dalam rokok dan efek yang bisa terjadi apabila mengisap rokok seperti penyakit jantung, penyakit paru, kanker, ketagihan, gangguan pada kehamilan, efek pada anak dan efek pada perokok pasif. Sebagian besar siswa menjawab dengan benar terhadap beberapa pernyataan yang diajukan. Sebagian besar siswa (91.1%) mengetahui bahawa merokok bisa menyebabkan ketagihan. Sebagian besar siswa (77.8%) mengetahui bahawa merokok bisa menyebabkan gangguan pada janin seperti terjadinya keguguran pada wanita hamil. Sebagian besar siswa (80.0%) mengetahui bahawa wanita hamil yang merokok, bisa

menyebabkan anak yang dilahirkan mengalami gangguan perkembangan fisik dan gangguan intelektual. Namun, terdapat sebilangan siswa (77.8%) yang tidak tahu bahan-bahan kimia yang terdapat dalam rokok.

Pengetahuan siswa yang baik ini dipengaruhi oleh penyuluhan yang dilakukan oleh pihak sekolah terhadap bahaya merokok. Selain itu juga terdapat informasi dari iklan dan juga koran yang menayangkan mengenai bahaya merokok. Pada usia meningkat remaja, remaja juga sudah tahu untuk membedakan yang baik dan yang tidak baik dan merokok merupakan sesuatu yang tidak baik. Guru juga sangat berperan dalam mengajarkan kepada siswa-siswa mereka mengenai gaya hidup yang sehat dan salah satu daripadanya adalah tidak mengisap rokok. Guru di SMP Dharma Pancasila memiliki pengetahuan yang baik mengenai merokok. Menurut Notoatmodjo (2007, pengetahuan dapat mempengaruhi seseorang untuk bertindak. Dengan memiliki pengetahuan yang baik, guru bisa memberikan infomasi kepada siswa mengenai bahayanya merokok.

5.2.6. Sikap Siswa Tentang Merokok

Berdasarkan tabel 5.4 menunjukkan bahwa 94.4% siswa mempunyai sikap yang baik mengenai merokok. Sebanyak 95.6% bersetuju bahawa merokok perlu dilarang ditempat umum. 97.8% siswa bersetuju bahawa rokok tidak bisa dijualkan kepada anak yang berusia kurang 18 tahun. Selain itu, sebanyak 93.3% siswa berpendapat ceramah merokok perlu dilakukan di sekolah. 92.2% siswa pula bersetuju orang yang merokok di tempat umum perlu disuruh untuk tidak mengisap rokok. Sebanyak 94.4% bersetuju untuk tidak mengambil rokok apabila ditawarkan rokok oleh orang lain. Namun terdapat 33.3% tidak bersetuju untuk tidak bergaul dengan orang yang mengisap rokok.

Sikap yang baik yang ditunjukkan oleh siswa ini disebabkan mereka sudah ada kesadaran mengenai bahayanya merokok. Mereka ingin ceramah dilakukan di sekolah supaya mereka dapat tahu mengenai rokok dan bahayanya merokok dengan lebih mendalam. Selain itu, pengetahuan yang baik mengenai merokok juga akan berpengaruh mengenai sikap yang baik yang ditunjukkan oleh siswa SMP terhadap merokok. Secara umumnya, siswa SMP Dharma Pancasila menunjukkan sikap yang baik mengenai merokok.

5.2.7 Tindakan siswa terhadap merokok

Berdasarkan tabel 5.5 menunjukkan sebanyak 65.6% siswa SMP Dharma Pancasila mempunyai tindakan yang baik terhadap merokok. Sebanyak 95.6% siswa tidak akan pernah sekalipun menjadi perokok bagi yang tidak merokok dan akan berhenti merokok bagi yang merokok. Sebanyak 94.4% siswa akan menghadiri program berhenti merokok yang dianjurkan sekolah dan 97.8% akan menghadiri ceramah mengenai bahaya merokok. Selain itu, sebanyak 97.8% siswa berpendapat untuk tidak mengambil rokok apabila ditawarkan rokok oleh orang lain. Sebanyak 64.4% siswa tidak akan pergi ke warkop apabila terdapat teman yang mengisap rokok di situ manakala 35.6% akan pergi ke warkop tersebut tetapi tidak mengisap rokok. Jika terdapat orang yang merokok di tempat umum, 55.6% siswa akan memilih untuk pergi dari situ manakala hanya 43.3% akan meminta orang tersebut untuk tidak merokok di situ. Apabila terdapat orang yang meminta siswa untuk membeli rokok, sebanyak 38.9% siswa menolak untuk membeli rokok pada orang tersebut. 34.4 % siswa akan merasa serba salah untuk membeli rokok tersebut manakala 26.7% siswa akan membelikan rokok pada orang tersebut. Sebanyak 48.9 % siswa akan menasihati semua orang yang dia kenal untuk tidak mengisap rokok manakala 40.0% siswa hanya akan menasihati orang-orang tertentu sahaja untuk tidak mengisap rokok.

Pengetahuan akan mempengaruhi seseorang untuk bertindak. Berdasarkan penelitian, sebagian besar nilai tingkat pengetahuan dan tindakan sampel hampir sama yaitu pengetahuan baik (66.7%) dan tindakan baik (65.6%). Sebagai contoh, siswa dengan pengetahuan yang baik tidak akan mengisap rokok yaitu merupakan tindakan yang baik. Siswa dengan tindakan yang tidak baik terhadap merokok kemungkinan akan mengisap rokok. Oleh itu, pihak sekolah terutamanya guru sangat berperan untuk menambahkan lagi pengetahuan siswa terhadap rokok dan bahaya merokok supaya semaikn banyak siswa yang mempunyai tindakan yang baik terhadap merokok.

Dokumen terkait