BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.2 Pembahasan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada status rekam medik di RSUP Haji Adam Malik dari Januari 2011 hingga Desember 2013, maka diperoleh sebanyak 31 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dari total sampel sebanyak 61 sampel.
5.2.1 Jumlah kasus Malaria menurut usia penderita
Dilihat dari kelompok usia penderita, pada penelitian ini didapatkan bahwa jumlah kasus malaria terbanyak terdapat pada kelompok usia 21-30 tahun(32,3%). Ini sesuai dengan Jurnal Kesehatan Masyarakat 2012 yang menyatakan kelompok umur ini merupakan usia produktif dimana memungkinkan
untuk bekerja dan bepergian ke luar rumah sehingga lebih berpeluang untuk kontak dengan vektor malaria (Depkes RI, 2012).
5.2.2 Jumlah kasus menurut jenis kelamin penderita
Berdasarkan hasil yang diperoleh, diketahui bahwa penderita malaria yang berjenis kelamin laki-laki (67,7%), lebih besar daripada yang berjenis kelamin perempuan (32,3%). Penelitian oleh D. Putri menunjukkan laki-laki banyak terinfeksi malaria sebanyak 54,4% dibanding perempuan (45,6%). Perbedaan angka kesakitan malaria pada laki-laki dan perempuan dapat disebabkan oleh faktor-faktor lain seperti kekebalan, keadaan gizi, kebiasaan, lingkungan tempat tinggal dan hal lainnya (Putri, 2012).
5.2.3 Jumlah kasus berdasarkan daerah asal tempat tinggal
Kebanyakan pasien berasal dari Langkat (22,6%) orang, diikutiKota Medan (12,9%) dan sisanyaterdistribusi luas dari berbagai wilayah di Sumatera Utara. Provinsi Sumatera Utara, Kabupaten-kabupaten yang merupakan daerah endemis malaria adalah Asahan, Labuhan Batu, Langkat, Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, Nias dan Nias Selatan. Hal ini memungkinkan mudahnya penderita malaria tersebut terinfeksi dengan vektor malaria di tempat tinggal mereka yang endemis malaria (Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara, 2006).
5.2.4 Jumlah kasus berdasarkan riwayat perjalanan
Menurut Depkes RI (2007), pada pemeriksaan anamnesis akan ditanyakan apakah penderita mempunyai riwayat berkunjung dan bermalam 1-4 minggu yang lalu ke daerah endemik malaria. Pada penelitian ini didapatkan mayoritas penderita malaria sebanyak 55% tidak mempunyai riwayat perjalanan ke luar kota. Namun 45% mempunyai riwayat perjalanan ke luar kota dalam waktu terdekat sebelum terinfeksi malaria. Sebanyak 10 penderita malaria telah pergi ke daerah yang dikenal pasti daerah endemis malaria yaitu Papua (1 orang), Deli Sibolga (4 orang), Bukit Lawang (1 orang), hutan Jambi (1 orang), Tebing Tinggi ( 1 orang), Afrika Selatan (1 orang) dan Sumatera Barat (1 orang). Satu orang
dikenal pasti telah pergi ke satu daerah di Sumatera Barat namun tidak spesifik daerah mana dan empat orang juga mempunyai riwayat bepergian ke luar kota tetapi tidak spesifik ke daerah mana ( WHO, 2010).
5.2.5 Jumlah kasus berdasarkan spesies plasmodium yang terinfeksi penderita
Spesies plasmodium yang paling banyak teridentifikasi pada penelitian iniadalah P. Falciparum (64,5%) dan 35.5% terindentifikasi dengan P.vivax. Di Indonesia, P. falciparum menjadi penyebabkasus malaria terbanyak. Hal ini sesuai dengan Data Riskesdas 2010 menunjukkan bahwa penyebab Malaria tertinggi adalah P.falciparum (86,4%) dan P.vivax (6,9%) (Riskesdas, 2010).
5.2.6 Jumlah kasus berdasarkan manifestasi klinis
Gejala dan tanda klinis paling banyak ditemukan oleh penderita malaria adalah demam (100%). Demam merupakan sebagai salah satu gejala klasik malaria dan kebanyakan penderita datang ke rumah sakit dengan gejala awal demam (Siahaan, 2011). Satu penelitian oleh A. Arsunan menunjukkan hasil yang signifikan dan adanya hubungan yang bermakna antara tanda klinis demam berdasarkan pengukuran suhu tubuh dengan pemeriksaan mikrokopis sehingga tanda klinis demam dapat dijadikan sebagai penyusun algoritma malaria (Arsunan, 2010).
Menggigil dan berkeringat banyak merupakan gejala klinis yang dikeluhkan penderita malaria dalam penelitian ini dengan masing-masing 83,8% dan 87%. Sesuai dengan penelitian oleh M.Nizar menyatakan gejala ini merupakan prediktor yang baik dalam menetapkan seseorang menderita malaria karena mempunyai nilai kemaknaan yang cukup baik pada uji multivariat dan ditemukan nilai duga positif yang cukup tinggi terhadap gejala ini (Nizar, 2011).
Pada penelitian ini turut ditemukan penderita dengan gejala mual dan muntah dengan masing-masing sebanyak 51,6% dan 35,5%. Pada penelitian oleh Dwi Putri mendapatkan sebanyak 77% dari 248 penderita malaria di RSUD Dr. M. Yunus tahun 2012 mengalami mual dan muntah (Putri, 2012).
Sakit kepala merupakan manifestasi klinis dengan adanya pelepasan faktor-faktor pemicu nyeri dari dalam eritrosit yang ikut keluar dengan pecahnya eritrosit kerana lepasnya merozoit. Hasil penelitian ini menunjukkan hanya 8 (25,8%) mengalami gejala sakit kepala sesuai dengan penelitian sebelum ini oleh Dinas kesehatan Kabupaten Propinsi Sulawesi Tengah menemukan nilai sensitivitas yang rendah sehingga menunjukkan penderita suspect malaria yang tidak mengalami sakit kepala tetapi hasil positif secara mikroskopis lebih tinggi. (Paerunan, 2010).
Gejala anemia atau pucat turut ditemukan dalam penelitian ini dengan jumlah sebanyak 10 (32,3%) orang. Anemia adalah suatu keadaan yang ditandai dengan menurunnya kadar zat warna merah dalam sel darah merah atau eritrosit yang disebut hemoglobin. Penelitian oleh Dwi Putri (2012) diRSUD Dr. M. Yunus
Kota bengkulu tahun 2012 menunjukkan daripada 22 sampel penderita malaria, sebanyak 3 orang mengalami anemia berat.
Nyeri sendi/otot merupakan manifestasi klinis dari pengeluaran zat pemicu sakit yang keluar bersama merozoit ketika eritrosit pecah dan adanya histamin release TNF-a yang menyebabkan adanya sensasi nyeri otot dan sendi. Dilihat dari gejala nyeri otot/sendi, hanya 7 orang mengalami keluhan tersebut. Sesuai dengan penelitian sebelum ini oleh A. Arsunan menunjukkan nilai sensitivitas yang lebih rendah sehingga penderita suspek malaria yang tidak mengalami gejala ini dengan hasil mikroskopis yang positif lebih tinggi di Pulau Ambon (Arsunan, 2010).
5.2.7 Jumlah kasus berdasarkan lama demam dan tipe demam
Pada penelitian ini menunjukkan tipe demam paling banyak yaitu tipe intermitten (100%). Pada hari-hari pertama penderita malaria akan mengalami panas irregular, kadang-kadang remitten dan intermitten, pada saat tersebut dingin atau menggigil jarang terjadi. Pada akhir minggu pertama tipe panas bertukar menjadi intermitten dan periodik setiap 48 jam dengan gejala klasik trias malaria (WHO, 2010).
Dari lama demam, didapati dalam penelitian ini, demam selama 7-8 hari (29%), diikuti dengan lebih daripada 2 minggu (22,6%). Dari penderita malaria P.falciparum, didapatkan kebanyakan mengalami demam selama lebih dari 2 minggu yaitu 8 orang dan 5 penderita malaria P. vivax kebanyakan mengalami demam selama lebih dari 2 minggu. Penelitian oleh M. Amani mendapatkan gejala klinis pada penderita malaria adalah demam dengan rata- rata lama demamnya selama 2 minggu (Amani, 2009).
5.2.8 Jumlah kasus berdasarkan komplikasi dan tanpa komplikasi
Pada penelitian ini didapati bahwa 10 orang menderita malaria tanpa komplikasi yaitu masing-masing 5 penderita malaria vivax dan 5 penderita malaria falciparum. Pada 21 penderita malaria dengan komplikasi, dijumpai 71,4% disebabkan P. falciparum. Penelitian ini mendapatkan penderita paling banyak mengalami komplikasi pada kelainan hati (57,1%), dan selebihnya anemia (47,6%), gagal ginjal akut (14,3%), malaria cerebral (14,3%), dan infeksi paru- paru (4,8%). Penderia malaria vivax mengalami komplikasi anemia (83,3%)dan penurunan kesadaran (16,7%). Komplikasi malaria umumnya disebabkan P.falciparum dan digolongkan sebagai malaria berat oleh WHO. Berdasarkan penelitian oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Banggai Propinsi Sulawesi Tengah, komplikasi jarang terjadi pada penderita yang tinggal di daerah endemik, seiring dengan terbentuknya imunitas.
Menurut penelitian oleh Dwi Putri (2012),komplikasi malaria banyak diderita oleh penderita malaria dengan jenis P.falciparum. Jenis parasit ini memang yang paling berbahaya diantara keempat jenis parasit malaria karena penyakit yang ditimbulkannya dapat menjadi berat. Pasien dengan malaria berat dan berkomplikasi dapat ditemukan berupa gangguan kesadaran (tetapi masih dapat dibangunkan), sangat lemah, dan ikterus (kadar bilirubin darah >3mg%) sehingga disebut malaria biliosa. Selain itu dapat juga disertai dengan komplikasi berupa malaria cerebral, kejang umum, gagal ginjal, hipoglikemia, gangguan keseimbangan cairan, elektrolit, dan asam basa, edema paru, kolaps sirkulatorik dan syok, perdarahan spontan pada gusi dan hidung, hiperpireksia/hipertermia, hiperparasitemia, hemoglobinuria malaria dan anemia berat (Putri, 2012).