• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.4. Pembahasan

Penelitian ini melibatkan 71 orang responden dimana responden laki-laki yaitu sebanyak 47 orang sedangkan responden perempuan 24 orang. Rata-rata umur responden adalah 49,59 tahun dengan umur termuda 20 tahun dan tertua 68 tahun(SD=10,670). Berdasarkan kategori umur, responden paling banyak berada pada kategori umur 45-64 tahun, yaitu 46 orang (60,6%). Hal ini sesuai dengan laporan USRDS 2013 yang menyatakan bahwa jumlah pasien hemodialisis di Amerika Serikat terbanyak berada pada kelompak usia 45-64 tahun.

Penambahan berat badan antara dua sesi hemodialisis dinyatakan dengan

interdialytic weight gain (IDWG) dihitung berdasarkan presentasi kenaikan berat

badan antara dua seesi hemodialisis. IDWG merupakan indikator kelebihan asupan cairan dan natrium. Data IDWG responden dibagi dua kategori, yaitu IDWG ringan (≤ 4,8 %) dan IDWG berat (≤ 4,8 %) (NKF KDOQI, 2005). responden yang memiliki IDWG ringan sebanyak 46 orang (64,8%), sedangkan responden yang memiliki IDWG berat sebanyak sebanyak 25 orang (35,2%). Sementara itu, rata-rata IDWG seluruh responden adalah 3,9197% dengan nilai minimun 0% dan maksimum 9,2%(SD=2,30674). Hasil tersebut sedikit berbeda dengan penelitian Suryarinilsih (2010) di RS Dr. M. Djamil Padang, dimana didapatkan 68 responden dengan rata-rata IDWG 4,62% dengan nilai minimum 0,88% dan maksimum 8,16% (SD=1,66).

IDWG pada umumnya dipengaruhi oleh kebiasaan makan, faktor lingkungan, dan level perawatan diri. IDWG biasanya meningkat pada periode interdialitik yang melewati akhir minggu (Lopez-gomez, 2005). Dalam penelitian ini didapatkan hubungan yang antara umur dan IDWG. Dimana didapatkan IDWG relatif lebih rendah pada usia yang lebih muda dibandingkan dengan usia lanjut. Pada uji chi square didapatkan p=0,024 yang berarti ada hubungan positif antara kelompok umur dengan kelompok IDWG. Hasil tersebut berbeda dengan penelitian Istanti (2009) yang tidak menemukan hubungan antara umur dengan IDWG pada pasien gagal ginjal stadium terminal. Kimmel (2000), Ifudu (2002), dan Lopez-gomez (2005) menemukan adanya hubungan berbanding terbalik antara umur dengan IDWG, dimana IDWG yang tinggi relatif sering ditemukan

U nive rsit a s Sum a t e ra U t a ra  

pada umur muda dibandingkan tua. Hal tersebut terjadi akibat kepatuhan pola makan yang buruk pada pasien berumur lebih muda dibandingkan umur lebih tua (Kimmel, 2000).

Dari jenis kelamin, ditemukan tidak ada perbedaan bermakna IDWG pada laki-laki dibadingkan dengan IDWG pada pasien perempuan. Pada uji chi square didapatkan p=0,813 yang berarti tidak ada hubungan antara kelompok jenis kelamin dengan kelompok IDWG. IDWG berhubungan dengan kepatuhan pasien mengatur pola makan, dan mengatur asupan cairan dan garam, ditemukan kepatuhan yang lebih buruk pada pasien laki-laki dibandingkan pada pasien perempuan (Kimmel, 2000). Perbedaan IDWG pada laki-laki dibandingkan dengan perempuan juga disebabkan oleh perbadaan komposisi tubuh, dimana komposisi tubuh laki-laki yang terdiri dari 60% air sedangkan perempuan terdiri dari 50% air. Dari perbedaan komposisi tubuh, jelas bahwa kebutuhan cairan dan peningkatan berat badan karena cairan lebih besar pada laki-laki dibandingkan perempuan.

Dari penelitian ini didapatkan bahwa hipotensi intradialitik terjadi pada 50,7% responden. Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan dengan insidensi hipotensi intradialitik beberapa literatur (NKF KDOQI, 2005) yang menyatakan bahwa hipotensi intradialisis terjadi pada 20-30% dari semua tindakan hemodialisis. Daugirdas (2010) mengemukakan bahwa hipotensi intradialitik merupakan komplikasi tersering hemodialisis dan menemukan insedensi hipotensi intradialisis 15-30% dari semua tindakan hemodialisis. Data kejadian hipotensi intradialitik pada penelitian ini tidak bisa disejajarkankan dengan insidensi pada beberapa literatur. Penelitian ini menggunakan jumlah responden sebagai sampel, sedangkan pada penelitian lain menggunakan tindakan hemodialisis sebagai sampel.

Pasien hemodialisis yang memiliki faktor resiko hipotensi intradialitik adalah pasien wanita, pasien dengan diabetes melitus, pasien dengan penyakit kardiovaskuler, pasien dengan penggunaan obat antihipertensi lebih dari satu, pasien dengan usia muda, pasien dengan status nutrisi buruk, dan hiperfostatemia

(NKF KDOQI, 2005). IDWG yang tinggi juga merupaka faktor resiko terjadinya hipotensi intradialitik. Beberapa faktor resiko tersebut diteliti pada penelitian ini.

Dalam penelitian ini, faktor umur didapatkan tidak berhubungan dengan kejadian hipotensi intradialitik. Pada uji chi square pada data kelompok umur dan kejadian hipotensi intradialitik, didapatkan p=0,704 yang berarti tidak ada hubungan antara umur responden dengan kejadian hipotensi intradialitik. Dari pasien yang berumur 65-74 tahun, didapatkan 33,3% pasien mengalami hipotensi intradialitik. Dari pasien yang berumur 45-64 tahun, didapatkan 48,8% pasien mengalami hipotensi intradialitik. Sedangkan dari pasien yang berumur 20-44 tahun, didapatkan 50,6% pasien mengalami hipotensi intradialitik. Data tersebut berbeda dengan laporan NKF KDOQI (2005), dimana didapatkan 44% pasien berumur ≥65 tahun, sedangkan 32% pasien yang lebih muda tahun mengalami hipotensi intradialisis. Umur pasien dihubungan dengan hipotesi intradialitik pada kepatuhan pengobatan dan kontrol asupan natrium maupun cairan. Menurut, penelitian Inrig (2011), usia muda menjadi faktor resiko tingginya IDWG yang manjadi faktor resiko kejadian hipotensi intradialitik.

Dalam penelitian ini, faktor penggunaan obat antihipertensi lebih dari satu didapatkan tidak berhubungan dengan kejadian hipotensi intradialitik. Pada uji chi

square pada data kelompok penggunaan obat antihipertensi lebih dari satu dan

kejadian hipotensi intradialitik, didapatkan p=0,106 yang berarti tidak ada hubungan antara umur responden dengan kejadian hipotensi intradialitik. Dari pasien menggunakan obat antihipertensi ≤1 jenis, didapatkan 63% pasien mengalami hipotensi intradialitik. Pada pasien yang menggunakan obat antihipertensi >1 jenis, didapatkan 43,2% pasien mengalami hipotensi intradialitik.

Dalam penelitian ini, faktor IDWG didapatkan berhubungan dengan kejadian hipotensi intradialitik. Pada uji chi square pada data kelompok IDWG dan kejadian hipotensi intradialitik, didapatkan p=0,032 yang berarti ada hubungan antara IDWG responden dengan kejadian hipotensi intradialitik. Data IDWG juga dianalisis dengan uji korelasi koefisien Cramer untuk data kategorik (Sujarweni, 2012), dimana nilai signifikan Phi, Cramer’s V, dan Koefisien

U nive rsit a s Sum a t e ra U t a ra  

Kontingensi didapatkan p=0,032 (p<0,05) . Didapatkan p=0,032 (p<0,05) menunjukkkan adanya korelasi antara IDWG dengan kejadiah hipotensi intradialitik.

Dari analisis data, didapatkan bahwa IDWG berat merupakan faktor resiko terjadinya hipotensi intradialitik dengan OR=3,020 yang berarti bahwa pasien hemodialisis dengan IDWG tinggi memiliki resiko 3,020 kali lebih tinggi menglami hipotensi intradialitik dibandingkan dengan pasien yang memiliki IDWG ringan. IDWG tinggi yang merupakan faktor resiko kejadian hipotensi intradialitik berkaitan dengan tingginya laju ultrafiltrasi saat hemosialisis. IDWG dengan tekanan darah interdialisis memiliki hubungan berbanding lurus dimana setiap kenaikan 1% persentase IDWG berhubungan dengan peningkatan 1,00 mmHg tekanan darah sistolik predialisis dan penurunan tekanan darah pascadialisis. Kondisi tersebut, mendukung terjadinya hipotensi intradialitik (Lopez-Gomez, 2005 dan Inrig, 2011).

Dokumen terkait