BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Pembahasan
1. Kecemasan Suami Menghadapi Istri Yang Bersalin Normal
Berdasarkan hasil analisis statistik yang diperoleh maka peneliti menyimpulkan terdapat gambaran yang signifikan tentang tingkat kecemasan suami menghadapi istri bersalin normal di Rumah Sakit Bersalin Sundari Medan tahun 2015.
Data ini relevan dengan pendapat Bobak (2005) yang menyatakan suami yang ingin melindungi istri dari segala kemungkinan bahaya dan para calon ayah yang sangat khawatir tentang kesehatan dan kesejahteraan bayinya yang belum hadir. Suami akan merasa cemas pada hari-hari dan minggu-minggu menjelang tanggal persalinan yang diperkirakan.
Tingkat kecemasan Kecemasan ringan f % Kecemasan sedang f % Kecemasan berat f % Total f % Batak 2 13,3 7 46,7 4 40,0 15 50,0 Aceh 0 0 4 50,0 4 50,0 8 26,6 Jawa 0 0 0 0 1 100 1 3,4 Padang 0 0 3 50,0 3 50,0 6 20,0 TOTAL 2 6,7 14 46,7 14 46,7 30 100
Hal ini sesuai dengan penelitian Nurjanah (2013) yang memperoleh hasil penelitian yang menunjukkan bahwa tingkat kecemasan suami saat menghadapi persalinan istri sebagian besar mengalami kecemasan ringan. Berdasarkan karakteristiknya sebagian besar mengalami kecemasan ringan pada usia menengah, pendidikan rendah, dan bekerja.
Berdasarkan hasil penelitian yang saya lakukan bahwa suami yang menghadapi istri bersalin normal memiliki kecemasan, karena suami merasa khawatir tentang keselamatan istri dan bayi nya. Suami merasa cemas ketika melihat istri nya kesakitan tetapi dia tidak bisa mengurangi rasa sakit itu.
Sesuai dengan hasil penelitian yang telah dipaparkan akan dilakukan pembahasan lebih lanjut yang bertujuan untuk menginterpretasikan data hasil penelitian dan kemudian dibandingkan dengan konsep atau teori yang terkait.
1. Tingkat Kecemasan Suami Berdasarkan Karakteristik Suami
Tingkat kecemasan suami saat menghadapi persalinilan istri sangat bervariasi, berdasarkan penelitian yang saya lakukan jumlah responden dalam penelitian ini adalah 30 responden dan didapatkan tingkat kecemasan yang bervariasi. Sebagian besar responden mengalami kecemasan sedang 14 dan kecemasan berat yaitu sebanyak 14 responden (46,7%). Bervariasinya tingkat kecemasan suami saat menghadapi persalinan istri menguatkan pendapat Lukaningsih, 2011 yang menyatakan bahwa kecemasan adalah suatu penyerta yang normal dari pertumbuhan, dari perubahan, dan dari pengalaman sesuatu yang baru dan belum dicoba. Berdasatkan Tabel 5.3 tingkat kecemasan suami saat menghadapi persalinan istri dapat diketahui sebanyak 30 responden mengalami kecemasan berat, pendapat yang dikemukakan oleh Lukaningsih, 2011 mengatakan bahwa pertambahan anggota keluarga dan kelahiran merupakan peristiwa besar dalam kehidupan ditambahkan pendapat Maryunani, 2010 yang mengatakan bahwa persalinan merupakan peristiwa yang menyebabkan keluarga
berada dalam situasi krisis. Persalinan merupakan pengalaman yang penuh dengan kecemasan baik bagi ibu bersalin maupun keluarga, terutama suami sebagai orang terdekat dengan ibu bersalin. Berikut akan dibahas mengenai tingkat kecemasan suami berdasarkan karakteristik suami. Karakteristik suami yang diteliti dan akan dibahas dalam penelitian ini meliputi umur,suku, tingkat pendidikan, dan pekerjaan.
a. Distribusi Frekuensi Tingkat Kecemasan Suami Berdasarkan Umur
Mayoritas tingkat kecemasan suami saat menghadapi istri bersalin normal yaitu pada usia 20-25 tahun yaitu sebanyak 17 responden (56,6%) dan 13 responden diantarnya mengalami kecemasan ringan. Usia merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya kecemasan pada seseorang, hal ini sesuai dengan pendapat Musbikin, (2006) yang mengatakan bahwa pada umumnya kecemasan seseorang berkembang pada usia remaja dan dewasa awal, kondisi ini dapat menjadi panik pada usia remaja akhir sampai uisa 30an.
Berdasarkan hasil penelitian yang saya lakukan bahwa kecemasan berat banyak dialami pada usia muda (20-25 tahun) dan usia (26-30 tahun) yaitu masing-masing 13 responden. Stuart, (2007) berpendapat bahwa kecemasan yang timbul karena faktor usia berkaitan dengan sedikit banyaknya pengalaman masa lalu terhadap hal yang sama yang dapat menyebabkan kecemasaan. Berdasarkan uraian diatas dapat diketahui bahwa usia suami saat berpengaruh terhadap tingkat kecemasan suami saat menghadapi persalinan istri.
b. Distribusi Frekusensi Tingkat Kecemasan Suami Berdasarkan Pendidikan
Berdasarkan hasil penelitian yang saya lakukan bahwa sebagian besar responden mengalami kecemasan ringan pada pendidikan S2 yaitu sebanyak 2 responden (15,4%) dan sebagian besar mengalami kecemasan berat dengan pendidikan rendah yaitu sebanyak 6 responden (60,0%). Pendidikan pada setiap orang memiliki arti masing-masing. Pendidikan
pada umumnya berguna dalam mengubah pola pikir, pola bertingkah laku dan pola pengambilan keputusan (Notoatmojo, 2000).
Berdasarkan hasil penelitian yang saya lakukan bahwa kecemasan berat banyak dialami oleh responden yang memiliki pendidikan rendah yaitu sebanyak 6 responden. Pada seseorang yang hanya memiliki tingkat pendidikan rendah akan cenderung lebih mengalami kecemasan karena pola adaptif yang kurang terhadap hal yang baru dan mengakibatkan pola koping yang kurang pula (Mariyam & Kurniawan, 2008). Responden yang tidak mengalami kecemasan banyak dialami oleh responden dengan pendidikan tinggi yaitu sebanyak 2 responden dapat dilihat pada Tabel 5.6. Tingkat pendidikan yang cukup akan lebih mudah dalam mengidentifikasi stres dalam diri sendiri maupun dari luar dirinya. Tingkat pendidikan juga dapat memepengaruhi kesadaran dan pemahaman terhadap stimulus. Responden yang tidak mengalami kecemasan juga dapat dipengaruhi adanya kesiapan sosial ekonomi, kematangan usia, dan pengalaman peralinan sebelumnya. Berdasarkan uraian diatas dapat diketahui bahwa tingkat pendidkan suami sangat berpengaruh pada tingkat kecemasan suami saat menghadapi persalinan istri.
c. Distribusi Frekuensi Kecemasan Suami Berdasarkan Tingkat Pekerjaan
Berdasarkan hasil penelitian yang saya lakukan bahwa semua responden telah bekerja dan sebagian besar responden mengalami kecemasan ringan yaitu sebanyak 2 responden. Bekerja diartikan sebagai suatu kegiatan untuk menghasilkan atau membantu menghasilkan barang dan jasa dengan maksud untuk memperoleh penghasilan berupa uang dan barang, dalam kurun waktu tertentu.
Jenis-jenis pekerjaan diantaranya PNS, wiraswasta, karyawan. Bekerja berhubangan dengan tingkat penghasilan atau status sosial ekonomi seseorang. Berdasarkan hasil
penelitian, status sosial ekonomi berhubungan dengan tingkat kecemasan, suami dengan tingkat sosial ekonomi yang rendah memiliki tingkat kecemasan yang tinggi (Stuart, 1998).
Berdasarkan uaraian diatas dapat disimpulakan bahwa bekerja dapat mempengaruhi kecemasan suami saat meghadapi persalinan istri.
d. Gejala Kecemasan Yang Sering Dialami Suami
Gejala kecemasan suami saat menghadapi persalinan istri disini yang akan dibahas ada 5 gejala yaitu ketegangan, perasaan cemas, gangguan otot tubuh, gangguan system saraf, dan tingkah laku.
1) Ketegangan
Keadaan yang ditandai dengan hilangnya konsentrasi kekacauan dalam berpikir dan ragu-ragu. Berdasarkan penelitian yang saya lakukan dan teori di atas bahwa setiap suami yang mendampingi istri bersalin normal akan mengalami ketegangan karena hal ini merupakan pertama kali di alaminya.
Berdasarkan uraian diatas dapat kita ketahui bahwa ketegangan dapat dialami oleh suami saat menghadapi persalinan istri.
2) Perasaan Cemas
Nolan, (2004) yang menyatakan bahwa kecemasan adalah kondisi emosional yang tidak menyenangkan, yang ditandai dengan aktifnya sistem saraf pusat. Ditambahkan oleh pendapat Nita, (2007) yang menyatakan bahwa kecemasan adalah kondisi yang sakit dari rasa takut pada seseorang yang disertai dengan ketegangan dan kekhawatiran. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulakan bahwa gejala kecemasan merasa tegang dapat dialami suami saat menghadapi persalinan istri.
3) Gangguan Otot Tubuh
Pendapat Murkoff, (2006) yang menyatakan bahwa kecemasan adalah suatu keadaan emosi yang kompleks dan kronis yang diiringi kekhawatiran dan ketakutan sebagai komponen utamanya adalah dicirikan dengan berbagai bentuk kegelisahan dan gangguan-gangguan kejiwaan. Berdasarkan uraian diatas dapat kita ketahui bahwa gejala kecemasan gelisah dapat dialami oleh suami saat menghadapi persalinan istri.
4) Gangguan System Saraf
Keadaan dimana suhu meningkat secara tiba-tiba sehingga menyebabkan kemerahan disertai keringat mengucur diseluruh tubuh dan membuat rasa tidak nyaman. Rasa panas yang diderita ini biasanya berhubungan dengan cuaca panas dan lembab. Masalah ini akan memberikan perubahan yang menganggap bahwa persalinan itu adalah keadaan yang sangat mengerikan karena kurangnya pengertian dan pendidikan tentang persalinan. Berdasarkan uraian diatas dapat kita ketahui bahwa gejala kecemasan gangguan sistem syaraf dapat dialami oleh suami saat menghadapi persalinan istri.
5) Tingkah Laku
Pendapat Murkoff, (2006) yang menyatakan bahwa kecemasan adalah suatu keadaan emosi yang kompleks dan kronis yang diiringi kekhawatiran dan ketakutan sebagai komponen utamanya adalah dicirikan dengan berbagai bentuk kegelisahan dan gangguan- gangguan kejiwaan. Berdasarkan uraian diatas dapat kita ketahui bahwa gejala kecemasan gelisah dapat dialami oleh suami saat menghadapi persalinan istri.