BAB IV | HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
Perpustakaan merupakan sarana dalam menunjang proses belajar dan mengajar di sekolah guna tercapainya tujuan pendidikan. Sebagaimana yang telah diketahui tujuan dan manfaat perpustakaan bagi SMKN 20 Jakarta adalah untuk menunjang kegiatan belajar siswa, memfasilitasi para tenaga pendidik (guru) untuk mencari bahan referensi mengenai matapelajaran yang diampunya, dan untuk menambah minat baca para siswa.51 Fungsi edukatif yang terkandung dalam perpustakaan menggambarkan bahwa seluruh sarana dan prasarana yang ada di perpustakaan sekolah yang dilengkapi dengan layanan yang diberikan telah banyak membantu para pengguna perpustakaan sekolah untuk memperoleh pengetahuan yang tidak terbatas.
Perpustakaan SMK Negeri 20 Jakarta merupakan salah suatu unit kerja yang disediakan oleh pihak sekolah yang bertugas mengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan karya rekam yang diatur secara sistematis sehingga dapat membantu murid-murid dan guru menyelesaikan tugas-tugas dalam proses belajar mengajar di sekolah. Sistem layanan yang digunakan adalah
sistem terbuka, dimana setiap pengguna perpustakaan sekolah dapat mengambil informasi yang dibutuhkan tanpa bantuan petugas perpustakaan. Perpustakaan SMK Negeri 20 Jakarta menyediakan empat jenis layanan, yakni layanan baca di tempat, layanan sirkulasi, layanan referensi dan layanan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dimana keempat layanan tersebut merupakan standar nasional perpustakaan yang harus dimiliki pada perpustakaan Sekolah Menengah Atas / Madrasah Aliyah,Hanya saja dalam pelaksanaan keempat layanan tersebut belum dapat berjalan dengan optimal, hal tersebut karena keterbatasan sumber daya manusia yang dimiliki. Sebagaimana yang dikatakan oleh pustakawan, “perpustakaan SMKN 20 Jakarta telah berusaha semaksimal mungkin dalam melayani para pengguna perpustakaan, namun karena keterbatasan sumber daya manusia yang dimiliki membuat tersendatnya upaya pelayanan yang dilakukan sehingga pelayanan yang diberikan kurang maksimal”.52
Dengan adanya keempat layanan tersebut diharapkan dapat membantu murid-murid dan guru menyelesaikan tugas-tugas dalam proses belajar mengajar di sekolah. Akan tetapi dari 47 guru yang mengajar hanya 4 guru matapelajaran yang memanfaatkan perpustakaan sekolah dalam proses pembelajaran, namun yang sangat sering memanfaatkan perpustakaan dalam proses pembelajaran adalah guru matapelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Untuk itu penelitian ini hanya berfokus pada matapelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn).
Layanan perpustakaan di SMK Negeri 20 Jakarta yang sangat menunjang dalam proses pembelajaran adalah jenis layanan referensi, Dimana dalam layanan ini selain menyediakan berbagai macam koleksi baik koleksi buku maupun koleksi yang bukan berupa buku (non book material) petugas perpustakaan memberikan informasi kepada guru dan siswa mengenai keberadaan koleksi referensi di perpustakaan, seperti kamus, ensiklopedia, almanak, direktori, buku tahunan, dan lain-lain. Sehingga dapat memudahkan guru dan siswa dalam menemukan informasi yang dibutuhkan selama proses pembelajaran berlangsung.
1. Layanan Baca Di Tempat
Layanan baca di tempat merupakan layanan penyediaan ruang baca, dalam hal ini perpustakaan menyediakan tempat untuk membaca bagi para pengguna perpustakaan yang tidak ingin meminjam bahan pustaka, melainkan hanya memanfaatkannya di perpustakaan. sebagaimana dikatakan oleh Darmono:
“...Layanan ruang baca, dimana layanan tersebut diberikan oleh perpustakaan berupa tempat untuk melakukan kegiatan membaca di perpustakaan...”53
Pada umumnya perpustakaan SMKN 20 Jakarta telah menyediakan ruang baca untuk menunjang layanan baca di tempat, dimulai dari ruangan, meja, kursi, pencahayaan ruangan, sampai sirkulasi udara diperhatikan, akan tetapi terbatasnya ruangan yang dimiliki perpustakaan menjadi salah satu kendala dalam memaksimalkan layanan baca di tempat. Sebagaimana yang dikatakan oleh pustakawan SMKN 20 Jakarta:
“...untuk layanan baca di tempat, disediakan meja baca disertai kursinya, ruangan perpustakaan yang dilengkapi pendingin ruangan yang membuat para pengunjung perpustakaan merasa nyaman. Hanya saja adanya keterbatasan luas ruangan, sehingga layanan ini kurang maksimal jika perpustakaan sedang ramai pengunjung...”54
Sejalan dengan apa yang dikatakan oleh pustakawan SMKN 20 Jakarta, guru mata pelajaran yang menggunakan layanan baca di tempat dalam proses pembelajaran di sekolah pun menyatakan demikian, dimana terbatasnya ruangan membuat mobilitas dalam kegiatan belajar mengajar tidak berjalan dengan baik. Hal tersebut sesuai dengan hasil observasi ruangan perpustakaan yang dilakukan. Ruangan yang sejuk, pencahayaan yang pas sangat nyaman untuk para pengunjung serta kursi dan meja yang disediakan tertata rapi, tetapi jumlah kursi dan meja tidak terlalu banyak, sehingga jika perpustakaan ramai
53Darmono, Perpustakaan Sekolah: Pendekatan Aspek Manajemen dan Tata Kerja, Jakarta: Grasindo, 2007.h. 172
pengunjung sulit untuk merasakan layanan baca di tempat. Selain itu dari data kuesioner siswa dengan total sebanyak 75 responden menjelaskan bahwa 46 siswa (61,3%) menjawab setuju bahwa perpustakaan sekolah menyediakan ruang untuk membaca, dan 29 siswa ( 38,7%) menjawab sangat setuju bahwa perpustakaan sekolah menyediakan ruang untuk membaca.
Tabel 4.4
Menyediakan Ruang Untuk Membaca
Alternatif Jawaban Frequency (Responden)
Percent (%) Sangat Tidak Setuju
Tidak Setuju 0 0 0 0 Setuju Sangat Setuju 46 29 61,3 38,7 Total 75 100,0
Dari hasil wawancara dan kuesioner dapat disimpulkan bahwa perpustakaan SMKN 20 Jakarta memiliki layanan baca di tempat, dengan menyadiakan fasilitas meja dan kursi yang diatur sedemikian rupa dan dilengkapi dengan pencahayaan dan pendingin ruangan yang tujuannya untuk memberikan kenyamanan kepada para pengguna perpustakaan, hanya saja layanan baca di tempat belum optimal karena terbatasnya ruangan yang dimiliki perpustakaan, sehingga apabila pengunjung perpustakaan sedang ramai kenyamanan layanan baca di tempat pun semakin berkurang.
2. Layanan Sirkulasi
Tugas pokok bagian sirkulasi adalah melayani para pengguna yang akan meminjam dan mengembalikan bahan pustaka yang ada di perpustakaan. sebagaimana yang dijelaskan oleh Darmono:
“...Layanan sirkulasi merupakan kegiatan yang melayani peminjaman dan pengembalian bahan pustaka...”55
Dalam hal ini, perpustakaan SMKN 20 Jakarta telah melaksanakan layanan sirkulasi, dengan menyediakan kartu anggota, sehingga para pengguna perpustakaan yang telah menjadi anggota dapat merasakan layanan sirkulasi. Sebagaimana dengan pernyataan pustakawan:
“...dalam layanan ini siswa maupun guru dapat meminjam koleksi perpustakaan yang mereka butuhkan jika tidak ingin membaca di tempat dengan catatan harus menjadi anggota perpustakaan terlebih dahulu dan patuh terhadap tata tertib yang berlaku...”56
Selain itu dari data kuesioner siswa dengan total sebanyak 75 responden menjelaskan bahwa45 siswa (60,0%) menjawab setuju bahwa perpustakaan sekolah melayani peminjaman koleksi, dan 30 siswa (40,0%) menjawab sangat setujubahwa perpustakaan sekolah melayani peminjaman koleksi.
Tabel 4.5
Melayani Peminjaman
Alternatif Jawaban Frequency (Responden)
Percent (%) Sangat Tidak Setuju
Tidak Setuju 0 0 0 0 Setuju 45 60,0 Sangat Setuju 30 40,0 Total 75 100,0
Dari hasil wawancara dan kuesioner dapat disimpulkan bahwa perpustakaan SMKN 20 Jakarta menerapkan layanan sirkulasi yaitu melayani peminjaman dan pengembalian koleksi dengan catatan bahwa pengguna perpustakaan telah terdaftar menjadi anggota perpustakaan dan
55Darmono, Op. Cit., h. 174
patuh terhadap tata tertib yang telah ditetapkan oleh perpustakaan. dalam hal ini seluruh siswa telah menggunakan layanan sirkulasi ini, sebagian besar koleksi yang mereka pinjam adalah koleksi yang berkaitan dengan buku pelajaran, mengingat para siswa menggunakan buku BOS (Bantuan Operasional Sekolah) dalam proses pembelajaran.
3. Layanan Referensi
Pada layanan ini petugas perpustakaan memberikan informasi kepada para pengguna mengenai keberadaan koleksi referensi di perpustakaan, seperti kamus, ensiklopedia, almanak, direktori, buku tahunan, dan lain-lain. Sebagaimana yang dikatakan Bafadal:
“...Layanan referensi adalah kegiatan pelayanan yang diberikan kepada para pengguna perpustakaan yang berhubungan dengan pelayanan pemberian informasi dan bimbingan belajar...”57
Koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan telah disusun sesuai dengan klasifikasinya masing-masing sehingga memudahkan para pengguna untuk menemukan informasi yang dibutuhkannya. Perpustakaan SMKN 20 Jakarta telah menyediakan berbagai macam koleksi, dari koleksi cetak sampai koleksi digital hal tersebut dapat dilihat dari dokumen perpustakaan pada bagian koleksi, dimana perpustakaan sekolah hanya memiliki 5.614 koleksi. Menurut IFLA Pedoman Perpustakaan Sekolah, sumber daya buku yang sesuai hendaknya menyediakan 10 buku per murid.58 Jumlah keseluruhan murid yang ada di SMKN 20 Jakarta pada tahun ajaran 2014/2015 adalah 737 siswa, jika dikalikan 10 maka seharusnya jumlah koleksi yang dimiliki adalah 7.370. Artinya, perpustakaan SMKN 20 Jakarta belum memiliki koleksi yang memadai.
Selain itu dari data kuesioner siswa dengan total sebanyak 75 responden menjelaskan bahwaterdapat 1 siswa (1,3%) menjawab sangat tidak setuju bahwa perpustakaan sekolah mengadakan program bimbingan
57Ibrahim Bafadal, Pengelolaan Perpustakaan Sekolah, Jakarta: Bumi Aksara, 2006. h. 133
58 IFLA /UNESCO, Pedoman Perpustakaan Sekolah, Jakarta: PNRI,2006, (http://www.ifla .org/VII/s11/pubs/school- guidelines.htm) diakses pada Januari 2015.h.13
belajar, 43 siswa (56,0%) menjawab tidak setujubahwa perpustakaan sekolah mengadakan program bimbingan belajar, 30 siswa (40,0%) menjawab setuju bahwa perpustakaan sekolah mengadakan program bimbingan belajar, dan 2 siswa ( 2,7%) menjawab sangat setuju bahwa perpustakaan sekolah mengadakan program bimbingan belajar.
Tabel 4.6
Mengadakan Program Bimbingan Belajar
Alternatif Jawaban Frequency (Responden)
Percent (%) Sangat Tidak Setuju
Tidak Setuju 1 42 1,3 56,0 Setuju 30 40,0 Sangat Setuju 2 2,7 Total 75 100,0
Perpustakaan SMKN 20 Jakarta mengadakan program bimbingan belajar. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan pustakawan bahwa “perpustakaan sekolah mempunyai program bimbingan belajar yang tertera pada program perpustakaan, akan tetapi hal tersebut hanya di sosialisasikan saat masa orientasi siswa saja”.59 Artinya, perpustakaan sekolah mempunyai program bimbingan belajar namun promosinya kepada para pengguna perpustakaan belum optimal.
Dari hasil wawancara dan kuesioner dapat disimpulkan bahwa perpustakaan SMKN 20 Jakarta berusaha menerapkan layanan referensi dengan baik, Untuk layanan koleksi, perpustakaan sekolah telah menyediakan berbagai macam koleksi, hanya saja jumlah koleksi yang dimiliki dengan jumlah siswa yang ada tidak sesuai dengan pedoman perpustakaan sekolah yang dikeluarkan IFLA/UNESCO, artinya koleksi yang dimiliki belum memadai. Sedangkan untuk program bimbingan belajar tidak terlaksana dengan baik, karena siswa hanya diperkenalkan
dengan perpustakaan hanya saat masa orientasi saja, sehingga tidak menumbuhkan minat baca siswa secara berkelanjutan.
4. Layanan Teknologi dan Informasi (TIK)
Dalam kegiatan layanan ini perpustakaan menerapkan layanan yang berbasis teknologi informasi dan komunikasi guna memaksimalkan layanan yang diberikan kepada para pengguna, misalnya dalam pengelolaan koleksi, pengolahan bahan pustaka, sistem sirkulasi dan informasi berbasis web serta penelusuran bahan pustaka dan sebagainya. Sebagaimana dijelaskan oleh I Putu Suhartika:
“...Layanan teknologi informasi dan komunikasi adalah kegiatan pelayanan yang diberikan kepada para pengguna dengan mengimplementasikan TIK (teknologi informasi dan komunikasi) secara terpadu guna mencapai layanan prima...”60
SMKN 20 Jakarta telah menerapkan layanan berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), dimana para pengguna perpustakaan dapat menemukan informasi yang dibutuhkan tanpa harus datang ke lokasi perpustakaan. hal tersebut dibuktikan dengan adanya sistem digital library yang diberikan oleh dinas pendidikan DKI Jakarta, sebagaimana dikatakan oleh pustakawan SMKN 20 Jakarta:
“...dalam layanan TIK kami menyediakan Digital Library. Yang dapat diakses dihttp://library.smkn20jkt.sch.id/index.php kapanpun dan dimanapun dengan catatan harus menjadi anggota terlebih dahulu. Pada digital library ini kami mempunyai koleksi e-book, video interaktif, dan animasi. Digital library ini merupakan sumbangan dari dinas dengan menggunakan sistem senayan...”61
Dengan adanya layanan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) diharapkan dapat membantu guru dan siswa dalam mencari informasi yang mereka butuhkan selama proses pembelajaran. Akan
60 I Putu Suhartika, Implementasi Teknologi Informasi Sebagai Usaha Peningkatan Mutu Layanan Perpustakaan, Majalah Online Visi Pustaka Vol.6 No.2-Desember 2004. h.3
tetapi penerapan layanan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) belum berjalan dengan optimal, karena pihak sekolah belum menyediakan jaringan internet sebagai akses utama layanan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), sehingga para siswa dan guru tidak dapat memanfaatkan layanan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) secara maksimal karena terhambat dengan ketersediaan jaringan internet. Hal tersebut sejalan dengan pernyataan guru matapelajaran yang memanfaatkan perpustakaan dalam proses pembelajaran.
“...dalam layanan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sebenarnya sangat membantu, sayangnya belum tersedianya jaringan internet di sekolah, sehingga kami sulit mengakses perpustakaan digital..”62
Berdasarkan data yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa layanan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) telah diterapkan di SMKN 20 Jakarta. Dengan adanya digital library para pengguna perpustakaan dapat menemukan informasi yang dibutuhkan tanpa harus berkunjung ke perpustakaan. Berbagai macam koleksi yang disediakan pada digital library yang berupa koleksi digital, dimulai dari e-book, video interaktif dan animasi. Semua koleksi tersebut dapat di akses dihttp://library.smkn20jkt.sch.id/index.php kapanpun dan dimanapun dengan catatan harus menjadi anggota terlebih dahulu. Akan tetapi layanan tersebut belum optimal karena belum tersedianya jaringan internet, dimana jaringan internet merupakan salah satu sarana yang diperlukan agar dapat mengakses digital library tersebut. sehingga layanan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang ada belum dapat menunjang proses pembelajaran di sekolah.