• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.2 Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian didapat bahwa proporsi usia berhenti haid responden di

wilayah kerja Puskesmas Polonia Medan mayoritas pada kelompok 40-52 tahun dengan

jumlah 61 (78,2%). Hal ini sesuai dengan Teori Prawirohardjo (2008) dimana usia terjadinya

menopause berada dalam rentang 40-52 tahun dan termasuk dalam menopause normal.

Sedangkan jika wanita mengalami menopause sebelum umur 40 tahun, maka wanita

mengalami menopause dini dan jika pada usia diatas 52 tahun maka wanita tersebut dikatakan

mengalami menopause terlambat.

Dari hasil penelitian diperoleh bahwa gambaran diri ibu pada masa menopause di

wilayah kerja Puskesmas Polonia Medan mayoritas gambaran diri positif dengan jumlah 77

(98,7%). Asumsi penulis menyatakan bahwa hal ini terjadi karena ibu menopause mayoritas

berlatarbelakang SD dengan jumlah 44 (56,4%). Penelitian ini sesuai dengan teori yang

mengatakan bahwa wanita berpendidikan rendah mempunyai reaksi pasif atau jarang

menopause itu sebagai hal yang tidak dapat dipungkiri (Pusdinakes, 1992). Informasi dapat

mereka peroleh dengan mengunjungi tenaga kesehatan dan berdiskusi dengan teman sebaya.

Memang kenyataannya, semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin mudah seseorang

merubah tingkah lakunya (Desi, 2007 dalam Wulandari et al, 2009).

Keluarga juga merupakan lingkungan yang dapat menjadikan individu merasa aman.

Dalam penelitian ini dapat dilihat bahwa adanya pemahaman suami yang sangat besar

(71,8%) dan tempat tinggal anak pun mayoritas bersama dan dekat/tetanggaan dengan mereka

(23,1%). Penelitian oleh Sugiyarti et al (2011) menyatakan bahwa dukungan dan peran positif

dari suami sebagai pasangan hidup dan anak-anak sebagai anggota keluarga terdekat dapat

memberikan bantuan yang sangat besar dalam mengatasi kecemasan ataupun kekhawatiran

tersendiri ketika menghadapi menopause. Pada saat itu seorang wanita membutuhkan

pengertian atas ketidakstabilan emosi yang dialami dan dukungan positif sehingga mereka

merasa mendapat kepedulian, perlindungan serta rasa aman dari orang-orang disekitarnya.

Kasdu tahun 2002 (dalam Nurmadina, 2010) juga menyatakan bahwa untuk dapat menjalani

menopause dengan baik, seseorang membutuhkan kemauan untuk memandang hidup sebagai

sebuah harapan dan juga dibutuhkan pikiran positif dalam memandang setiap perubahan/

peristiwa yang mereka alami selama menopause. Pikiran sikap positif tersebut dapat muncul

apabila ada dukungan dari orang-orang sekitar termasuk suami sebagai pasangan hidup.

Responden dalam penelitian ini mayoritas lebih percaya diri setelah menopause dengan

jumlah 76 (97,4 %), Asumsi peneliti menyimpulkan bahwa mereka merasa lebih bebas karena

tidak kepikiran haid lagi, memaklumi ketuaan dan juga sudah ada suami, anak-anak dan cucu

yang selalu sayang dan memberi perhatian kepada mereka. Sesuai dengan teori Stein dan

diberikan keluarga (suami) seperti ungkapan normal, pertanyaan positif, atau bentuk-bentuk

respek lainnya, akan menimbulkan kepercayaan diri pada individu dan mengurangi rasa

bersalah. Dan juga Teori Priest tahun 1994 (dalam Sugiyarti, 2011) menyatakan bahwa

kepercayaan diri menjadi keyakinan individu untuk mampu berperilaku sesuai dengan yang

diharapkan dalam menghadapi berbagai masalah termasuk, dalam menghadapi masa

pra-menopause wanita.

Selain itu, mayoritas responden (93,6%) merasa senang setelah menopause. Asumsi

peneliti mengatakan bahwa hal ini terjadi karena haid tidak akan merepotkan mereka lagi

karena tidak merasakan capek, nyeri, kotor dan bau dengan kata lain merasa bebas pergi

kemana-mana dan melakukan apa saja. Penelitian oleh Putri (2012) yang menyatakan bahwa

beberapa wanita memandang menopause dengan positif dan menerima perubahan dalam

dirinya, mereka menganggap kondisi ini sebagai bagian dari siklus kehidupannya. Mereka

yang berpandangan seperti itu menganggap setelah masa reproduksi berakhir, mereka tidak

direpotkan dengan haid yang datang rutin setiap bulan sehingga tidak mengganggu aktivitas

mereka terutama beribadah. Kondisi seperti inilah menggambarkan individu yang mempunyai

penerimaan diri dan symptom depresi tidak muncul (Burns, 1993 dalam Putri, 2012).

Dalam penelitian ini responden mayoritas beragama Islam (70,5%). Abdullah (2004)

menyatakan bahwa kebanyakan pemeluk agama Islam merasa tenang pada masa menopause

karena lebih leluasa untuk beribadah, sehingga kegiatan ibadah lebih meningkat di usia tua.

Asumsi penulis mengatakan bahwa ibu menopause di daerah kecamatan Medan Polonia ini

memasrahkan kepada Tuhan (sesuai dengan agamanya masing-masing) apa yang terjadi

dalam dirinya ketika menghadapi menopause. Penelitian oleh Sari (2011) mengemukakan

dikerjakan kecuali dengan mendekatkan diri kepada Tuhan. Menurut Chesler & Barbarin

(1987) dalam Friedmen (1998) kegiatan keagamaan diidentifikasi individu sebagai cara paling

penting dalam mengatasi suatu stressor yang berkaitan dengan proses kesehatan, atau sebagai

metode yang sangat penting dan sangat sering digunakan dalam membantu permasalahan

yang dihadapi seperti halnya permasalahan-permasalahan yang diderita wanita menopause,

serta dukungan spiritual juga membuat mampu mentoleransi ketegangan terhadap perubahan

yang terjadi dalam kehidupan. Ibrahim tahun 2002 (dalam Irmawati, 2003) mengatakan

apabila wanita menopause mampu mengalihkan perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan

ke hal-hal positif dengan cara melakukan berbagai aktivitas yang berguna maka mereka akan

memperoleh kebahagiaan dalam kehidupannya. Ada beberapa wanita pada masa ini justru

menemukan hiburan dengan cara mendekatkan diri dengan agama.

Dari hasil penelitian ini hanya berjumlah satu orang (1,3%) yang memiliki gambaran

diri negatif. Berdasarkan keterangan yang diberikan responden didapat bahwa hal ini terjadi

dikarenakan setelah berhenti haid responden merasa khawatir ketika akan memasuki

menopause, merasa tidak cantik lagi ataupun tidak bugar lagi serta tidak menjadi wanita yang

seutuhnya karena kulitnya sudah keriput dan sudah terlihat jelek. Responden juga mengatakan

bahwa lebih baik haid lagi supaya badannya tetap enak. Penelitian oleh Rostiana et al tahun

2009 menyatakan bahwa masalah fisik yang individu hadapi seperti merasa lebih gemuk dan

mudah lelah, tua keriput dan tidak cantik lagi membuat dirinya takut untuk menghadapi masa

menopause. Sesuai dengan pendapat Fredman dan Di Tomassco (1994), masalah fisik dapat

menyebabkan symptom seperti kelelahan atau depresi yang dapat mempengaruhi ambang

Lagi pula responden mudah/sering merasa stress akan penyakit diabetes mellitus yang

dideritanya. Dengan kata lain responden kurang bisa mengendalikan perubahan yang terjadi

saat mengalami menopause ini dan merasa lebih semangat dengan hidupnya masa muda dulu.

Hal ini sesuai dengan teori Cytrunbaum (dalam Craig, 1986) mengatakan bahwa pada saat

memasuki menopause wanita akan mengalami perubahan-perubahan internal atau perubahan

secara fisik dan hormonal dan juga mengalami transisi atau krisis dalam kehidupannya, baik

dalam pekerjaan, rumah tangga, hubungan sosial, dan lain-lain yang semuanya itu dapat

Dokumen terkait