BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
1. Pelaksanaan Pemberian Suntikan Oksitosin dalam 1 menit Pertama Setelah Bayi Lahir.
Menurut Varney ( 2008 ) pemberian suntikan oksitosin dalam 1 menit pertama segera setelah bayi lahir, untuk pelahiran plasenta menginformasikan kehilangan darah yang jauh lebih sedikit pada penatalaksanaan aktif kala tiga, bahkan pada populasi yang beresiko rendah mengalami perdarahan post-partum. Oksitosin yang diberikan sebelum pelahiran plasenta akan mengurangi perdarahan sampai dengan 40%. Percobaan kala tiga Bristol di Ingris, yang umumnya memberikan obat oksitosin pada ibu setelah bayi baru lahir, menunjukkan bahwa lebih sedikit darah yang hilang pada
penatalaksanaan aktif kala tiga persalinan dibandingkan pada penatalaksanaan fisiologis kala tiga. Penelitian selanjutnya menginformasikan kehilangan darah yang jauh lebih sedikit pada penatalaksanaan aktif kala tiga, bahkan pada populasi yang beresiko rendah mengalami perdarahan post-partum.
Berdasarkan tabel 5.2 dapat dilihat bahwa kepatuhan pelaksanaan manajemen aktif kala tiga oleh bidan dalam upaya mencegah atonia uteri berdasarkan pemberian suntikan oksitosin dalam 1 menit pertama setelah bayi lahir dari 32 responden menunjukkan bahwa mayoritas responden tidak melaksanakan pemberian suntikan oksitosin dalam 1 menit pertama segera setelah bayi lahir yaitu sebanyak 24 responden (75,0%) hal ini menunjukkan jika responden tidak melakukan manajemen aktif kala tiga dengan memberikan oksitosin 10 IU secara IM akan beresiko perdarahan terhadap ibu bersalin, dan dari tabel terlihat bahwa responden tidak kompoten dan tidak peduli dengan dokumentasi yang dilakukan selama pemberian suntikan oksitosin setelah bayi lahir.
2. Pelaksanaan Penegangan Tali pusat Terkendali.
Menurut Hall (2013) penegangan tali pusat terkendali adalah melakukan tarikan kearah sejajar dengan sumbu rahim saat uterus berkontraksi, dan secara stimulant dan melakukan tahanan pada daerah supra pubik. Tujuan melakukan ini adalah melepaskan plasenta dan melahirkan plasenta. Dimana langkah-langkah dalam Penegangan tali pusat terkendali yaitu pindahkan klem (penjepit untuk memotong tali pusat saat kala dua) pada tali pusat sekitar 5- 10 cm dari vulva, letakkan tangan yang lain pada abdomen ibu (beralaskan kain) tepat di atas simfisis pubis. Gunakan tangan ini untuk meraba kontraksi uterus dan
menekan uterus pada saat melakukan penegangan pada tali pusat. Setelah terjadi kontraksi yang kuat, tegangkan tali pusat dengan satu tangan dan tangan yang lain (pada dinding abdomen) menekan uterus kearah lumbal dan kepala ibu (dorso – kranial). Lakukan secara hati-hati untuk mencegah terjadinya inversion uteri.
Berdasarkan tabel 5.3 dapat dilihat bahwa kepatuhan pelaksanaan manajemen aktif kala tiga oleh bidan dalam upaya mencegah atonia uteri berdasarkan penegangan tali pusat terkendali dari 32 responden menunjukkan bahwa mayoritas responden tidak melaksanakan penegangan tali pusat terkendali yaitu sebanyak 28 responden (87,5%) hal ini menunjukkan jika responden tidak melakukan manajemen aktif kala tiga dengan melakukan penegangangan tali pusat terkendali untuk pengeluaran plasenta akan beresiko perdarahan terhadap ibu bersalin yaitu beresiko terjadinya inversio uteri dan dari tabel terlihat bahwa responden tidak kompoten dan tidak peduli dengan dokumentasi yang dilakukan dalam penegangan tali pusat terkendali dalam manajemen aktif kala tiga.
3. Masase Fundus Uteri
Menurut Rogers et al (2008) segera setelah kelahiran plasenta, dilakukan rangsangan taktil (pemijatan) fundus uteri. Dari penelitian yang dilakukan di Assiut, Mesir yang melibatkan 200 orang wanita melahirkan, dengan memberikan pemijatan fundus uteri secara berkala selama 10 menit pada 60 menit pertama setelah melahirkan memberikan hasil perdarahan <500 ml dan mengurangi penggunaan uteronika tambahan. Di Indonesia ini adalah standar dalam penanganan kala tiga.
Berdasarkan tabel 5.4 dapat dilihat bahwa kepatuhan pelaksanaan manajemen aktif kala tiga oleh bidan dalam upaya mencegah atonia uteri berdasarkan masase fundus uteri dari 32 responden menunjukkan bahwa mayoritas responden tidak melaksanakan masase fundus terkendali yaitu sebanyak 29 responden (90,6 %) hal ini menunjukkan jika responden tidak melakukan manajemen aktif kala tiga dengan melakukan masase fundus uteri setelah pengeluaran plasenta akan beresiko perdarahan terhadap ibu bersalin dan dari tabel terlihat bahwa responden tidak kompoten dan tidak peduli dengan dokumentasi yang dilakukan dalam masase fundus uteri dalam manajemen aktif kala tiga.
4. Kepatuhan Pelaksanaan Manajemen Aktif Kala Tiga oleh Bidan dalam Upaya Mencegah Atonia Uteri
Menurut Culsum (2006, dalam Suwarnisih, 2011, hal. 2) mengatakan kepatuhan berasal dari kata patuh yang berarti disiplin dan taat. Patuh adalah sikap positif individu yang ditunjukkan dengan adanya perubahan secara berarti sesuai dengan tujuan yang ditetapkan atau patuh dalam kamus ilmiah populer diartikan sebagai tindakan taat, turut perintah, setia dan loyal akibat motif-motif internal individu.
Berdasarkan tabel 5.5 dapat dilihat bahwa kepatuhan pelaksanaan manajemen aktif kala tiga oleh bidan dalam upaya mencegah atonia uteri berdasarkan catatan medik dari 32 responden menunjukkan bahwa mayoritas responden tidak patuh dalam melakukan manajemen aktif kala tiga dalam upaya mencegah atonia uteri berdasarkan catatan medik yaitu sebanyak 29 responden (90,6 %) tidak sesuai dengan manajemen aktif kala tiga. Responden yang tidak patuh dalam penelitian tersebut yaitu dari 5 bidan delima yang tidak patuh 2 bidan delima dan dari 32 responden bidan yang
telah mengikuti APN sebanyak 19 responden dan yang tidak patuh sebanyak 16 responden.
Faktor penghambatnya adalah dari faktor kebijakan pemerintah dan faktor penolong karena dalam pelaksanaan manajemen aktif kala tiga dalam upaya mencegah atonia uteri berdasarkan catatan medik tidak ada pengawasan dari pemerintah yang mengawasi catatan medik setiap bidan dalam persalinan nya. Sehingga bidan tidak peduli dengan dokumentasinya.
Dari Faktor Penolong dalam perihal pengetahuan tentang manajemen aktif kala tiga semua responden mengetahuinya, tetapi masih banyak bidan yang melakukan drip oksitosin ketika pembukaan lengkap hal ini terlihat bahwa bidan masih belum yakin akan efektifitas manajemen aktif kala tiga, dan kondisi lingkungan yang tidak mendukung seperti tidak ada yang membantu dalam menolong persalinan termasuk diantaranya tidak ada yang mengurus bayi, tidak ada yang mengingatkan maslah waktu dan juga tidak ada yang bertugas untuk kebersihan lingkungan ruangan kerja yang mengakibatkan bidan tidak patuh dalam melakukan dokumentasi atau pun catatan medic dalam menolong persalinan.