BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.2. Pembahasan
Dari hasil penelitian pada tabel 5.11 gambaran pola makan dan tingkat keparahan stroke iskemik di Departemen Neurologi RSUP H. Adam Malik Medan dengan 100 responden pada penelitian ini menunjukkan bahwa seluruh responden (100%) mengalami tingkat keparahan stroke berat. Hal ini dikarenakan pola makan responden stroke iskemik mayoritas kurang baik yaitu sebesar 65%, tidak baik 21% dan baik hanya 14%. Mayoritas stroke iskemik dialami responden perempuan yaitu sebesar 54% dan responden laki-laki sebesar 46% dengan umur ≥60 tahun lebih banyak yaitu sebesar 75% dan umur <60 tahun hanya 25%. Adapun pekerjaan responden mayoritas bekerja sebagai Wiraswasta yaitu sebesar 29%, Petani sebesar 24%, IRT sebesar 20%, Pegawai Swasta sebesar 14%, PNS/Pensiun sebesar 11% dan Buruh hanya 2%. Responden stroke iskemik mayoritas memiliki dua faktor risiko yaitu sebesar 56%, satu faktor risiko 38% dan tiga faktor risiko lebih sedikit yaitu 6%.
Stroke iskemik tidak hanya dialami oleh laki-laki tetapi perempuan juga dapat mengalaminya. Berdasarkan penelitian Opinhe (2010) didapatkan proporsi laki-laki dibandingkan perempuan sebesar 55% berbanding 45%. Sedangkan menurut Sembiring (2010), didapatkan proporsi laki-laki dan perempuan sebesar 48,4% dan 51,5%. Berbeda pada penelitian ini, mayoritas stroke iskemik dialami perempuan yaitu sebesar 54% dan laki-laki sebesar 46%. Dari 46 responden laki- laki memiliki pola makan baik sebesar 2%, kurang baik 32% dan tidak baik 12% sedangkan responden perempuan memiliki pola makan baik sebesar 12%, kurang baik 33% dan tidak baik 9%.
Pada penelitian ini didapati kelompok usia terbesar penderita stroke iskemik pada kelompok umur ≥60 tahun yaitu sebesar 75% dan umur <60 tahun sebesar 25%. Menurut Greenberg (2009), insidensi stroke meningkat sesuai dengat umurnya. Sekitar dua pertiga penderita stroke berusia diatas 65 tahun. Hal ini didukung juga oleh penelitian Opinhe (2010), kelompok terbesar penderita stroke terdapat pada usia ≥60 tahun yaitu 50%. Pada usia 45 -59 tahun didapati penderita stroke 45%, dan pada usia <45 tahun hanya 5%, juga penelitian Ade (2010) dimana didapatkan kelompok usia terbesar penderita stroke pada kelompok
usia 45-65 tahun sebesar 54,8%. Ini adalah karena pada usia ≥60 tahun, proses penuaan sudah terjadi dan termasuk salah satu factor resiko yang tidak dapat dikendalikan.
Berdasarkan pekerjaan, pada penelitian ini mayoritas responden bekerja sebagai Wiraswasta yaitu sebesar 29%, Petani sebesar 24%, IRT sebesar 20%, Pegawai Swasta sebesar 14%, PNS/Pensiun sebesar 11% dan Buruh hanya 2%. Tingginya persentase IRT mengalami stroke iskemik yaitu sebesar 20%, sesuai dengan hasil penelitian Ade (2010). Dalam penelitiannya ditemukan IRT merupakan pasien stroke iskemik terbanyak yaitu sebesar 33,3%. Hal ini mungkin disebabkan berbagai faktor risiko pada ibu rumah tangga, seperti kurang aktivitas fisik, tingkat stress yang tinggi, dan pola makan yang kurang baik.
Bagi memenuhi kriteria inklusi pada penelitian, peneliti telah membuat catatan tambahan untuk karekteristik responden melalui wawancara, yaitu faktor resiko mayor yang dimiliki responden seperti hipertensi, diabetes mellitus dan hiperkolesterolemia. Didapati bahwa mayoritas responden memiliki dua faktor resiko yaitu sebesar 56%, satu faktor resiko 38% dan tiga faktor resiko lebih sedikit yaitu 6%. Dua faktor resiko terbanyak yang dialami responden adalah hipertensi dan hiperkolesterolemia. Secara teoritis, hipertensi dan hiperkolesterolemia dapat menyebabkan aterosklerosis, dimana penumpukan plak
(fatty deposits) terjadi di pembuluh darah. Ini seterusnya merusak aliran darah ke otak, yang akhirnya menyebabkan stroke (National Center for Chronic Disease Prevention and Health Promotion, 2014).
Pada penelitian ini, didapatkan pasien stroke iskemik dengan pola makan tidak baik sebanyak 21%, kurang baik 65% dan baik 45%. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Jefry (2012), dimana dalam penelitiannya didapatkan pasien stroke iskemik dengan pola makan tidak baik sebanyak 7,1%, kurang baik 54,8% dan baik 38,1%. Berbeda pula dengan penelitian Ade (2010), dimana pasien stroke dengan pola makan tidak baik 43,9%, pola makan kurang baik 36,8% dan pola makan baik 19,3%. Perbedaan ini terjadi mungkin karena pengambilan data yang berbeda. Pada penelitian ini, pengambilan data lebih banyak dilakukan dengan wawancara bukan kepada pasien langsung, tetapi
dengan orang terdekat (alloanamnesa) yang mengetahui keseharian pasien atau responden. Ini dilakukan karena kebanyakan dari pasien stroke iskemik akut yang dirawat di RSUP H. Adam Malik Medan sulit berkomunikasi dengan baik.
Pola makan kurang baik (65%) merupakan pola makan terbanyak pada asien stroke iskemik dalam penelitian ini. Pola makan tidak baik atau kurang baik menurut pertanyaan dalam wawancara yang diajukan adalah konsumsi makanan olahan santan yang sering (89%), konsumsi daging yang sering (47%), konsumsi jajanan yang berminyak atau gorengan yang sering (57%), konsumsi kopi yang sering (37%), konsumsi camilan (snacks) yang sering (56%) dan konsumsi makanan siap saji yang sering (57%). Menurut Puspita (2008), kebiasaan konsumsi makanan tinggi lemak dan kolesterol seperti makanan olahan santan, daging, jajanan yang berminyak atau gorengan, camilan (snacks) dan makanan siap saji yang sering dapat menyebabkan peningkatan kadar kolesterol dalam tubuh. Peningkatan kadar kolesterol ini memungkinkan tertimbunnya kolesterol pada dinding pembuluh darah sehingga mengakibatkan aterosklerosis yang menjadi pemicu kepada kejadian stroke.
Kebiasaan responden mengkonsumsi kopi (37%) rata-rata 2-4 kali dalam satu minggu juga dapat berpengaruh pada peningkatan tekanan darah. Peningkatan tekanan darah menyebabkan seseorang lebih rentan menderita stroke karena peningkatan tekanan darah dapat mempermudah terjadinya kerusakan pada dinding pembuluh darah, sehingga mempermudah terjadinya penyumbatan di otak (Yulia, 2013). Menurut Febrina (2011), terdapat hubungan frekuensi minum kopi dan jumlah kopi yang dikonsumsi dengan peningkatan tekanan darah. Hasil ini didukung juga dengan teori bahwa kafein yang terkandung dalam kopi dapat mempengaruhi tekanan darah dengan cara meningkatkan kadar katekolamin di pusat vasomotor dan menstimulasi langsung miokard yang akan meningkatkan tekanan darah (Junaidi, 2011).
Pada penelitian ini dijumpai tingginya konsumsi sayur dan buah-buahan pada pasien stroke iskemik. Sejumlah 83% responden mengaku sering (hampir setiap hari) mengkonsumsi sayuran dan buahan. Ini bertentangan dengan teori asupan makanan yang mengandung banyak sayur dan buah mengurangi terjdinya
stroke (Bethesda Stroke Center, 2011). Menurut peneliti, ini mungkin terjadi karena dalam penelitian ini tidak ditelusuri tentang pola makan sayuran dan buahan secara terperinci kepada pasien, misalnya proporsi sayuran dan buahan atau jenis sayuran dan buahan yang dikonsumsi.
Salah satu penyebab meningkatnya angka kejadian stroke di Indonesia kebelakangan ini adalah karena pola hidup rakyat yang tidak sehat seperti malas berolahraga, konsumsi makanan yang tinggi kolesterol dan lemak, sehingga banyak diantara mereka yang mengidap berbagai penyakit yang merupakan pemicu kepada serangan stroke iskemik (KBI Gemari, 2003).
Tingginya angka frekuensi stroke iskemik disebabkan oleh banyaknya faktor yang dapat menyebabkan menurunnya aliran darah ke otak yang akan mengakibatkan terjadinya stroke iskemik. Perubahan aliran darah baik di tingkat makrosirkulasi maupun mikrosirkulasi akan menyebabkan perubahan seluler maupun subseluler akibat iskemi otak fokal dan global. Keadaan iskemi global terjadi karena aliran darah ke otak secara keseluruhan menurun akibat menurunnya tekanan perfusi misalnya karena syok irreversibel akibat henti jantung, perdarahan sistemik yang massif, fibrilasi atrial berat dan lain lain. Sedangkan iskemi fokal terjadi akibat menurunnya tekanan perfusi otak regional, dimana keadaan ini dapat disebabkan oleh sumbatan atau tertutupnya aliran darah otak baik sebagian maupun seluruh lumen pembuluh darah otak (Jefry, 2012).
Dalam Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS) yang dikeluarkan oleh Direktorat Gizi Depkes tahun 1995, susunan makanan yang dianjurkan adalah yang menjamin keseimbangan zat-zat gizi, hal ini dapat dicapai dengan mengkonsumsi beraneka ragam makanan setiap hari. Dalam pola gizi seimbang, pengelompokan bahan makanan digambarkan dalam bentuk kerucut, dimana dasar kerucut memuat bahan makanan sumber energi seperti beras, gandum, kentang dan lain-lain yang secara proporsional paling banyak dimakan sehari-hari. Ditengah kerucut adalah sumber zat pengatur yang terdiri dari sayur dan buah- buahan, sedangkan di ujung kerucut adalah sumber zat pembangun yang paling sedikit dimakan sehari-hari terdiri dari lauk hewani dan lauk nabati (Almatsier, 2004).
Menurut Junaidi (2003), pola makan dapat memengaruhi risiko stroke melalui efeknya pada tekanan darah, kadar kolesterol serum, gula darah, berat badan dan sebagai prekursor aterosklerosis lainnya. Kesalahan pola makan tidak lain karena ketidakseimbangan komposisi makanan yang dikonsumsi yang mengandung protein, lemak dan karbohidrat tinggi tetapi kandungan serat, vitamin dan mineralnya rendah. Hal ini dapat menjadi pencetus dari berkembangnya penyakit degeneratif seperti penyakit jantung koroner, hipertensi, diabetes dan stroke.
Dari penelitian ini juga diketahui bahwa sebanyak 100 orang (100%) pasien yang menjadi responden, menurut perhitungan dengan menggunakan
barthel index tergolong dalam stroke berat, dimana skor/nilai yang diperoleh pasien adalah dibawah 50. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Fauzi (2012), dimana dari 67 orang responden yang diteliti, didapatkan bahwa 100% menderita stroke berat. Hasil ini didapat mungkin dikarenakan oleh responden yang diambil hanya yang melakukan rawat inap, sementara pasien rawat jalan tidak dijadikan sebagai responden. Pasien yang dirawat inap tentunya memiliki masalah yang lebih berat ketimbang pasien rawat jalan, karena pasien rawat inap biasanya memerlukan tindakan khusus dan memiliki keterbatasan dalam aktivitas.
Dari hasil analisis data juga didapatkan hasil bahwa dari 14 responden dengann pola makan baik seluruhnya memiliki tingkat keparahan stroke berat, dari 65 responden dengan pola makan kurang baik seluruhnya juga memiliki tingkat keparahan stroke berat dan dari 21 responden dengan pola makan tidak baik seluruhnya juga memiliki tingkat keparajan stroke berat.
Skala pengukuran tingkat keparahan stroke yang digunakan adalah
Barthel Index. Pada Barthel Index, ditanyakan mengenai sejauhmana keterbatasan seorang pasien yang menderita stroke. Indeks Barthel juga merupakan suatu indeks untuk mengukur kualitas hidup seseorang dilihat dari kemampuan melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari secara mandiri. Jika skor/nilai yang didapat seorang pasien 51-100, berarti pasien tersebut tergolong dalam stroke ringan. Artinya, para penderita stroke ringan itu memiliki keterbatasan aktivitas yang lebih minimal dibandingkan para penderita stroke berat, yang memiliki skor
0-50. Jadi, semakin rendah nilai Barthel Index pasien stroke, maka makin terbatas pula aktivitas yang dapat dilakukannya. Indeks Barthel umum digunakan karena sifat pengerjaan nya yang sederhana dan tidak memerlukan keahlian khusus karena hanya mengamati kemampuan pasien melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari.