BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.4. Pembahasan
Anemia selama kehamilan masih merupakan masalah bagi ibu hamil terutama di negara berkembang. Tingginya persentase anemia selama kehamilan dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin didalam kandungan. Penelitian yang dilakukan oleh Olubukola et al (2011) di kota Ibadan menunjukkan 20,2% ibu hamil mengalami anemia pada trimester pertama, 30,0% mengalamin anemia pada trimester kedua, dan 31,1% mengalami anemia pada trimester ketiga kehamilannya.
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (2013), anemia pada ibu hamil yang sesuai dengan kriteria anemia WHO dan Pedoman Kemenkes 1999, sebesar 37,1%. Pada penelitian yang dilakukan oleh Gebremedhin, Enquselassie, dan Umeta (2014) secara cross sectional pada 629 ibu hamil, persentase anemia ringan sebesar 20,4%, anemia sedang, 10,4% dan anemia berat 0,7%.
Pada penelitian ini di dapat persentase ibu hamil dengan anemia ringan sebesar 36%, anemia sedang 34,8%, dan anemia berat 0,4%. Penelitian lain juga dilakukan oleh Alizadeh et al (2014) secara crossectional didapat yang ibu dengan kadar Hb <10,5 g/dL sebesar 23,3%, 10,5-12,0 g/dL sebesar 57,9% dan
≥12,0 g/dL sebesar 18,8%.
Beberapa penelitian mengatakan bahwa tingginya persentase anemia pada ibu hamil disebabkan oleh status gizi yang kurang, jarang mengontrol kandungan selama kehamilan, tingkat pendidikan yang rendah, tinggal di daerah pedesaan, dan 50 – 70% ibu hamil dengan anemia termasuk ke dalam golongan sosio- ekonomi yang rendah. Selama kehamilan sebaiknya melakukan pemeriksaan kandungan minimal 4 kali, sekali pada trimester satu, sekali pada trimester dua, dan dua kali pada trimester ketiga (Ali et al., 2011).
Pada penelitian yang dilakukan Yi et al (2013), 63,4% ibu yang menderita anemia memiliki IMT dibawah 21. Pada penelitian yang dilakukan secara cohort
oleh AL-Farsi et al (2011), ibu yang memiliki jumlah paritas ≥ 5 memiliki risiko 4,37 kali mengalami anemia selama kehamilan. Menstruasi ibu sebelum hamil juga dapat mempengaruhi kadar Hb ibu selama kehamilan. Penelitian yang dilakukan oleh Kefiyalew et al (2014) menyatakan ibu yang mengalami menstruasi lebih dari 5 hari berisiko1,6 kali menderita anemia selama kehamilan. Selain itu, 34,6% ibu yang mengalami anemia memiliki waktu menstruasi diatas 5 hari.
Di Indonesia masalah anemia pada kehamilan masih tinggi. Selain karena tingkat pendidikan yang rendah, kesadaran ibu hamil untuk memeriksakan kandungan selama kehamilan masih kurang. Pada penelitian yang dilakukan oleh Agus et al (2012) di Jawa Barat, sebagian ibu hamil menganggap kehamilan itu adalah proses yang normal dalam kehidupan sehingga tidak perlu berkonsultasi
kepada dokter. Sebagian besar lebih memilih untuk berkonsultasi dengan paraji (ahli medis tradisional yang menangani persalinan) padahal terdapat Polindes (Pondok bersalin desa) atau posyandu yang dapat melayani konsultasi kesehatan ibu dan bayi di desa tersebut.
Sebagian menyatakan kondisi keuangan yang menyebabkan mereka tidak berkonsultasi ke balai pengobatan desa. Walaupun ada yang menggunakan kartu jamkesmas, mereka menganggap tidak semua pelayanan yang ditanggung oleh kartu tersebut sehingga terjadi salah paham tentang penggunaan kartu tersebut.
Selain itu, kurangnya sosialisasi tentang promosi kesehatan juga masih kurang. Misalnya promosi tentang program SIAGA yang merupakan salah satu program untuk kesehatan ibu dan janin yang sudah terbukti manfaatnya yang telah dilaporkan dari beberapa tempat di Indonesia (Titaley et al., 2010).
Alizadeh et al (2014) melakukan penelitian tentang hubungan kadar Hb ibu dengan nilai APGAR bayi. Hasilnya, terdapat hubungan yang signifikan antara Kadar Hb ibu dan nilai APGAR bayi yang dilahirkannya. Nilai APGAR dibawah 8 meningkat pada ibu dengan anemia. Pada kehamilan, anemia paling sering disebabkan oleh defisiensi besi oleh karena asupan yang kurang.
Mekanisme kekurangan zat besi dapat mempengaruhi kehamilan sepenuhnya belum diketahui. Salah satu hipotesis mengatakan bahwa selama kehamilan kebutuhan oksigen meningkat karena peningkatan metabolisme ibu dan janin, apabila kekurangan zat besi akan mempengaruhi produksi Hb yang mengangkut oksigen ke seluruh jaringan ibu dan janin, dan oksigenasi terganggu menyebabkan hipoksia yang meningkatkan konsentrasi noreprineprin yang akan merangsang produksi corticoropin-releasing hormone yang akan merangsang produksi
cortisol janinyang dapat mempengaruhi proses kelahiran (Ribot et al., 2012.
Produksi hormon Cortisol janin ini akan mempengaruhi hormon progesteron, estrogen, dan reseptor hormon oksitosin di miometrium. Kondisi ini dapat menyebabkan dilatasi serviks dan kontraksi pada miometrium (Lelic et al.,
2014). Selain itu, cortisol juga dapat menghambat produksi insulin-like growth factor 2 janin yang dapat mempengaruhi pertumbuhan janin didalam kandungan (Rodriguez-Bernal et al., 2012).
Hipotesis lain mengatakan bahwa ibu hamil dengan defisiensi zat besi dapat meningkatkan jumlah stress oxidative disirkulasi darah ibu sehingga dapat mengganggu perkembangan plasenta dan janin dan menyebabkan gangguan pada bayi yang dilahirkan oleh ibu tersebut. Namum penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk membuktikan hipotesis tersebut (Savajols et al., 2014).
Menurut Lissauer dan Fanaroff (2009), nilai APGAR dipengaruhi oleh banyak faktor, kadar Hb ibu hanya salah satu dari beberapa faktor yang dapat mempengaruhi nilai APGAR bayi baru lahir.
Kadar Hb ibu pada trimester ketiga hanya menjadi salah satu faktor risiko yang mempengaruhi keadaan bayi yang lahir. Kadar Hb ibu yang rendah pada trimester ketiga disebabkan oleh peningkatan jumlah produksi plasma yang berlebihan. Beberapa penelitian yang dilakukan pada ibu hamil di Eropa dan Amerika menunjukkan bahwa kadar Hb pada trimester pertama yang berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan janin (Stephansson et al.,
2000).
Nilai APGAR dapat dipengaruhi oleh faktor dari ibu, faktor janin dan faktor plasenta. penyakit hipertesi, diabetes melitus, infeksi pada kehamilan, terapi obat-obatan, polihidramnion, oligohidramnion, cara kelahiran dan anastesi yang digunakan merupakan faktor ibu yang dapat mempengaruhi nilai APGAR bayi. Faktor janin diantaranya adalah kelahiran prematur, kelahiran ganda, pertumbuhan janin terhambat, malformasi kongenital, dan lainnya. Untuk faktor plasenta adalah koriomnionitis, plasenta previa, abrubsio plasenta, dan prolaps tali pusat (Lissauer dan Fanaroff, 2009).
Pada penelitian cohort yang dilakukan oleh Lone et al (2004), risiko untuk bayi lahir dengan nilai APGAR rendah 1,8 kali lebih besar pada ibu hamil yang anemia daripada ibu hamil non anemia. Pada penelitian ini didapat, ibu dengan anemia 0,9 kali lebih berisiko melahirkan bayi asfiksia daripada ibu yang memiliki kadar Hb normal.
Pada penelitian ini, hasil analisa dengan uji korelasi pearson didapati korelasi antara Hb ibu dengan nilai APGAR bayi yang dilahirkannya (r) +0,102, yang menunjukkan korelasi kedua variabel tersebut sangat lemah. Penelitian lain
juga dilakukan oleh Lee et al (2006), hubungan antara kadar Hb ibu dengan nilai APGAR bayi baru lahir memiliki korelasi (r) 0,231, yang menunjukkan derajat korelasi sangat lemah juga.
Penelitian yang dilakukan Francis dan Nayak (2013), didapat p nilai APGAR pada menit pertama dan pada menit kelima p > 0,05, sehingga kadar Hb ibu tidak memiliki hubungan yang signifikan pada nilai APGAR menit pertama dan kelima. Namum pada penelitian yang dilakukan oleh Laflamme (2010), terdapat anemia pada ibu hamil sebanyak 17,5% dan berhubungan dengan rendahnya nilai APGAR pada menit pertama dengan nilai p < 0,05 yang menunjukkan ada hubungan yang signifikan.
Untuk Taraf signifikansi p > 0,05 yang berarti, hipotesis yang menyatakan “ Ada hubungan antara kadar Hb ibu dengan nilai APGAR bayi baru lahir di RSU Artha Medica Binjai tahun 2013”, ditolak karena tidak memiliki hubungan secara signifikan.