• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Pembahasan

Pembahasan dalam skripsi ini terdiri atas dua hal, yaitu peningkatan keterampilan membaca cepat dan perubahan tingkah laku siswa setelah mengikuti pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming.

1. Peningkatan keterampilan membaca cepat

Pembahasan hasil penelitian berdasarkan hasil tes prasiklus, siklus I, dan siklus II. Pembahasan hasil penelitian setiap siklus diperoleh dari data tes dan data nontes. Hasil tes dan nontes siklus I dan siklus II digunakan untuk mengetahui peningkatan keterampilan membaca cepat dan perubahan perilaku siswa setelah dilakukan pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming.

Sebelum dilakukan tes keterampilan membaca cepat dengan teknik skimming, dilakukan tes prasiklus untuk mengetahui seberapa besar keterampilan awal siswa dalam membaca cepat. Hasil tes pada tes prasiklus menunjukkan bahwa kemampuan awal siswa 46,64 pada kecepatan membaca sedangkan hasil pemahaman membaca cepat sebesar 38,64. Hasil tes tersebut menunjukkan bahwa tingkat keterampilan awal siswa dalam membaca cepat masih di bawah target yang telah ditentukan yaitu sebesar 70.

Untuk mengetahui peningkatan keterampilan siswa dalam membaca cepat dengan teknik skimming digunakan data tes yang diperoleh dari tes pada siklus I dan siklus II. Hasil tes siklus I dan siklus II dibandingkan dengan hasil tes prasiklus untuk mengetahui perubahan keterampilan membaca cepat siswa dari kondisi awal hingga setelah dilakukan keterampilan membaca cepat dengan teknik skimming. Pada siklus I dan siklus II ditargetkan nilai rata-rata sebesar 70. Berikut ini penjabaran peningkatan keterampilan membaca cepat dengan teknik skimming prasiklus, siklus I dan siklus II.

Tabel 14

Peningkatan Kecepatan Membaca

No Kategori Prasiklus Siklus I Siklus II

Skor persentase Skor Presentase Skor Presentase 1 Sangat Cepat 0 0 0 0 783 16,7 2 Cepat 200 5,5 955 22,3 885 22,3 3 Sedang 2250 83,4 1989 61,2 1619 50 4 Lambat 0 0 0 0 138 5,5 5 Sangat Lambat 60 5,5 261 16,7 97 5,5 Jumlah 2510 100% 3205 100% 3522 100% Persentase rata-rata 46,64% 59,56% 65,45%

Tabel di atas menunjukkan tingkat kecepatan membaca siswa prasiklus, siklus I, dan siklus II. Rata-rata kecepatan membaca siswa pada prasiklus sebesar 46,64% atau termasuk kategori lambat, sedangkan pada siklus I kecepatan membaca siswa sebesar 59,56% atau termasuk kategori sedang. Berdasarkan hasil tes tersebut, terjadi peningkatan kecepatan membaca siswa sebesar 12,92%. Pada siklus II, hasil tes kecepatan membaca sebesar 65,45%. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan kecepatan membaca siswa dari siklus I ke siklus II, yaitu sebesar 5,89%. Hasil tes siklus II belum memenuhi target yang telah ditetapkan yaitu sebesar 70. Tabel berikutnya yaitu penjabaran peningkatan pemahaman membaca cepat.

Tabel 15

Peningkatan Pemahaman Membaca teks No Kategori Prasiklus Siklus I Siklus II

Skor persentase Skor Persentase Skor Persentase 1 Sangat Baik 0 0 0 0 270 16,7 2 Baik 80 5,5 300 22,3 750 55,5 3 Cukup 200 22,3 430 44,5 280 27,8 4 Kurang 350 50 150 22,3 0 0 5 Sangat Kurang 60 22,3 40 11,2 0 0 Jumlah 690 100% 920 100% 1300 100% Persentase rata-rata 38,34% 51,12% 72,23%

Pada tabel di atas dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan pemahaman membaca teks dari prasiklus ke siklus I. Hasil tes prasiklus pemahaman membaca teks sebesar 38,34% atau masuk kategori kurang. Pada siklus I hasil tes pemahaman membaca teks sebesar 51,12% masuk kategori cukup. Berdasarkan hasil tersebut, adanya peningkatan pemahaman membaca teks sebesar 12,78%. Pada hasil tes siklus II juga mengalami peningkatan dari tes siklus I, hasil tes siklus II sebesar 72,23%. Sehingga terjadi peningkatan sebesar 21,11%. Hasil tes siklus II sudah memenuhi target yang telah ditetapkan yaitu sebesar 70. Berdasarkan hasil tes, terjadi peningkatan keterampilan membaca cepat dalam membaca buku teks bahasa Indonesia dengan teknik skimming.

2. Perubahan tingkah laku siswa

Selama proses pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming, peneliti melakukan pengamatan tingkah laku siswa. Pengamatan dilakukan pada siklus I dan siklus II melalui instrumen nontes berupa observasi, jurnal, wawancara, dan dokumentasi.

Pedoman observasi yang digunakan pada siklus I sama dengan siklus II. Aspek-aspek dalam observasi meliputi sikap positif dan sikap negatif. Aspek positif siswa meliputi (1) siswa memperhatikan pelajaran dengan sungguh-sungguh; (2) siswa membaca cepat dengan penuh perhatian; (3) siswa mengerjakan soal dengan baik; (4) siswa aktif bertanya ketika mengalami kesulitan selama pembelajaran; (5) siswa tidak mengganggu teman. Aspek negatif siswa meliputi (1) siswa meremehkan penjelasan guru; (2) siswa enggan melakukan kegiatan membaca cepat; (3) siswa

meremehkan tugas untuk mengerjakan soal; (4) siswa enggan bertanya ketika mengalami kesulitan selama pembelajaran; (5) siswa mengganggu teman.

Berdasarkan hasil observasi pada siklus I dan siklus II dapat diketahui perubahan perilaku siswa. Ada penambahan jumlah siswa yang melakukan sikap positif dan terjadi penurunan jumlah siswa yang melakukan sikap negatif. Pada aspek observasi positif siswa memperhatikan pelajaran dengan sungguh-sungguh pada siklus II lebih besar dari pada siklus I. Pada aspek negatif siswa meremehkan penjelasan guru, jumlah siswa yang meremehkan penjelasan guru pada siklus II lebih sedikit dari pada jumlah siswa pada siklus I.

Pada aspek positif siswa membaca cepat dengan sungguh-sungguh, jumlah siswa yang membaca dengan sungguh-sungguh pada siklus II lebih banyak daripada siklus I. Pada aspek negatif siswa enggan membaca cepat, jumlah siswa yang enggan membaca cepat pada siklus II berkurang dari siklus I.

Pada aspek positif siswa mengerjakan soal pemahaman membaca teks dengan sungguh-sungguh, jumlah siswa yang mengerjakan soal dari guru siklus II lebih banyak dari pada siklus I. Untuk aspek negatif siswa enggan mengerjakan soal pemahaman membaca teks siklus II, jumlahnya lebih sedikit dari pada siklus I.

Aspek berikutnya yaitu keaktifan siswa untuk bertanya ketika mengalami kesulitan. Jumlah yang aktif bertanya pada siklus II lebih banyak daripada siklus I. Pada aspek negatif, siswa segan bertanya ketika kesulitan bertanya jumlahnya lebih sedikit dari siklus I.

Aspek terakhir, yaitu siswa tidak mengganggu teman. Pada siklus II jumlah siswa yang tidak mengganggu teman bertambah daripada siklus I. Pada aspek negatif siswa yang mengganggu teman lebih sedikit daripada siklus I.

Berdasarkan hasil observasi selama siklus I dan siklus II, jumlah siswa pada keseluruhan aspek observasi positif meningkat pada siklus II. Pada aspek negatif, jumlah keseluruhan aspek observasi negatif berkurang pada siklus II. Dengan demikian, observasi aspek positif siswa dari siklus I ke siklus II mengalami peningkatan sedangkan pada observasi aspek negatif mengalami penurunan.

Perubahan tingkah laku siswa juga dapat dilihat dari jurnal, baik jurnal siswa jurnal guru. Pada jurnal siswa dapat diketahui pendapat siswa mengenai pembelajaran membaca cepat dalam membaca buku teks bahasa Indonesia dengan teknik skimming. pertanyaan yang diajukan siswa berjumlah lima pertanyaan, antara lain (1) minat siswa terhadap pembelajaran membaca cepat; (2) pendapat siswa terhadap penjelasan guru tentang pembelajaran membaca cepat; (3) ketertarikan siswa terhadap teknik skimming; (4) pendapat siswa tentang penyebab kesulitan dalam pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming; (5) pesan, kesan, dan saran siswa terhadap pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming.

Pada aspek pertama, minat siswa terhadap pembelajaran membaca cepat. Jumlah siswa yang berminat atau senang terhadap pembelajaran ini pada siklus II lebih banyak dari pada siklus I, da untuk jumlah siswa yang tidak senang pada siklus II lebih sedikit dari siklus I.

Aspek kedua yaitu, pendapat siswa terhadap penjelasan guru tentang pembelajaran membaca cepat. Jumlah siswa yang merasa penjelasan guru lebih mudah dipahami pada siklus II lebih banyak dari pada siklus I, dan untuk jumlah siswa yang merasa penejlasan guru sulit dipahami pada siklus II lebih sedikit dari siklus I.

Aspek ketiga yaitu, ketertarikan siswa terhadap teknik skimming. jumlah siswa yang tertarik pada siklus II lebih banyak daripada siklus I, dan lebih sedikit siswa yang tidak tertarik pada siklus II daripada siklus I.

Aspek pendapat siswa tentang penyebab kesulitan dalam pemebelajaran membaca cepat dengan teknik skimming. Jumlah siswa yang merasa mudah lebih banyak pada siklus II daripada siklus I, dan jumlah siswa yang merasa kesulitan lebih sedikit daripada siklus I.

Aspek terakhir pesan, kesan, dan saran siswa terhadap pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming. Semua siswa memberikan pesan, kesan, dan saran baik pada siklus I maupun siklus II. Berdasarkan hasil jurnal di atas, terjadi perubahan respon kearah yang lebih baik dari siklus I ke siklus II.

Selain jurnal siswa, guru juga menggunakan jurnal guru untuk melakukan pengamatan terhadap tingkah laku siswa pada saat pembelajaran berlangsung. Aspek- aspek pengamatn guru meliputi (1) catatan mengenai kesiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran; (2) keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran

membaca cepat dengan teknik skimming; (3) catatan mengenai tanggapan siswa tentang teknik skimming; (4) catatan mengenai tanggapan siswa terhadap tugas pada kegiatan membaca cepat dengan teknik skimming; (5) catatan mengenai kejadian- kejadian yang muncul pada saat pembelajaran membaca cepat dengan teknik

skimming.

Aspek pertama yaitu, catatan mengenai kesiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran. Kesiapan siswa lebih pada siklus II daripada siklus I. Pada siklus II, siswa lebih tenang dan siap mengikuti pembelajaran membaca cepat dalam membaca buku teks bahasa Indonesia dengan teknik skimming.

Aspek kedua keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming. Pada siklus II siswa lebih aktif daripada siklus I. Siswa lebih aktif bertanya, baik secara langsung maupun pada saat guru mendekati siswa.

Aspek catatan mengenai tanggapan siswa tentang teknik skimming pada siklus I, masih banyak siswa yang mengalami kesulitan. Namun, pada siklus II yang mengalami kesulitan semakin berkurang. Siswa mulai senang membaca dengan teknik skimming.

Aspek selanjutnya yaitu, catatan mengenai tanggapan siswa terhadap tugas pada kegiatan membaca cepat dengan teknik skimming, pada siklus I sebagian siswa merasa kurang antusias untuk membaca dan mengerjakan soal. Namun pada siklus II siswa lebih antusias untuk membaca dan membaca soal.

Aspek terakhir yaitu, catatan mengenai kejadian-kejadian yang muncul pada saat pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming. Catatan antara siklus I dan siklus II hampir sama, tentang kejadian yang muncul pada saat pembelajaran

membaca cepat, setelah melihat dari siswa secara langsung, hasilnya memuaskan dari hasil tes pilihan ganda untuk siswa.

Wawancara dilakukan di luar jam pelajaran, terhadap siswa yang memperoleh kecepatan yang cepat, sedang, dan lambat. Kegiatan wawancara ini bertujuan untuk mengetahui tanggapan yang diberikan siswa dalam pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming. Hal yang ditanyakan adalah (1) pendapat siswa dalam pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming; (2) pendapat siswa tentang penjelasan guru mengenai teknik skimming; (3) kesulitan yang dihadapi siswa terhadap penggunaan teknik skimming dalam kegiatan membaca cepat; (4) perasaan siswa ketika dapat meningkatkan kecepatan membaca; (5) saran siswa terhadap pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming.

Pertanyaan pertama yaitu pendapat siswa dalam pembelajaran keterampilan membaca cepat dengan teknik skimming, siswa yang mendapatkan kecepatan membaca cepat dalam siklus I dan siklus II merasa senang dan tertarik dengan pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming karena merupakan pembelajaran yang menarik dan menambah banyak pengetahuan dan bisa lebih meningkatkan keterampilan membaca cepat. Siswa yang kecepatan membacanya sedang, pada siklus I dan siklus II, merasa tertarik dengan pembelajaran keterampilan membaca cepat dengan teknik skimming, karena dengan pembelajaran tersebut dapat mengukur kemampuan pada saat membaca merasa tertarik dengan pembelajaran keterampilan membaca cepat dengan teknik skimming, dan dengan pembelajaran membaca cepat tersebut bisa lebih mudah mencari isi topik bacaan. Siswa yang memperoleh kecepatan membacanya lambat pada siklus I maupun siklus II, merasa

tertarik dengan pembelajaran keterampilan membaca cepat dengan teknik skimming, akan tetapi merasa dikejar waktu akhirnya tidak konsentrasi dan masih kurang mengerti pemakaian tekniknya.

Pendapat siswa tentang penjelasan guru mengenai teknik skimming, siswa yang memperoleh kecepatan membacanya cepat pada siklus I dan siklus II merasa penjelasan guru mudah dipahami karena runtut dan disertai contoh dam penjelasan guru lebih jelas dibanding membaca materi dari buku secara utuh. Siswa yang memperoleh kecepatan membacanya sedang pada siklus I maupun siklus II juga berpendapat bahwa penjelasan guru mudah dipahami karena materi membaca cepat tidak begitu sulit dan mudah dimengerti. Siswa yang memperoleh kecepatan membacanya lambat pada siklus I dan siklus II berpendapat bahwa penjelasan guru jelas dan bikin semangat dan bisa dimengerti walaupun tidak semuanya.

Kesulitan yang dihadapi siswa terhadap penggunaan teknik skimming dalam kegiatan membaca cepat, bagi siswa yang memperoleh kecepatan membacanya pada siklus I dan siklus II, mereka merasa kesulitan di saat konsentrasinya pudar dan waktu yang relatif singkat. Siswa yang memperoleh kecepatan membacanya sedang pada siklus I maupun siklus II merasa agak kesulitan karena susah untuk mengetahui ide utamanya dari teks tersebut dan bacaannya kurang menarik. Siswa yang memperoleh kecepatan membacanya lambat pada siklus I maupun siklus II merasa kesulitan untuk menemukan ide utama karena merasa kurang memiliki pengetahuan dan wawasan yang berhubungan dengan teks bacaan.

Pertanyaan selanjutnya yaitu, perasaan siswa ketika kecepatan membacanya meningkat pada siklus I dan siklus II, menurut siswa yang memperoleh kecepatan

membacanya cepat, merasa senang karena keterampilan membacanya lebih meningkat dan merasa senang dan kagum. Siswa yang memperoleh kecepatan membacanya sedang pada siklus I dan siklua II, merasakan karena bisa menambah prestasi juga bahagia dan senang. Bagi siswa yang memperoleh kecepatan membacanya lambat pada siklus I maupun siklus II, merasakan senang karena sudah mulai bisa memperbaiki keterampilan membacanya dan merasa senang.

Pertanyaan terakhir yaitu, saran siswa terhadap pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming, menurut siswa yang memperoleh kecepatan membacanya cepat pada siklus I dan siklus II memberikan saran agar keterampilan membaca ini tidak hanya mengetahui ide utamanya saja, tetapi harus paham dengan bacaannya dan teknik skimming ini harus lebih sering digunakan dalam pembelajaran membaca. Siswa yang memperoleh kecepatan membacanya sedang pada siklus I dan siklus II memberikan saran kepada peneliti agar lebih ditingkatkan lagi dan tidak terlalu cepat dalam menjelaskan materi pelajaran, karena mereka masih kurangnya konsentrasi. Bagi siswa yang memperoleh kecepatan membacanya lambat pada siklus I maupun siklus II, memberikan saran agar dijelaskan kembali teknik skimming dan bisa membaca dalam waktu yang singkat.

Perubahan perilaku kearah positif juga bisa terlihat pada hasil dokumentasi. Pengambilan dokumentasi pembelajaran membaca cepat dalam membaca buku teks bahasa Indonesia dengan teknik skimming yang dilakukan pada siklus I dan siklus II. Foto yang diambil terdiri atas, (1) Aktivitas siswa saat kegiatan membaca cepat dengan teknik skimming; (2) Aktivitas siswa ketika menghitung kecepatan membaca;

(3) Aktivitas siswa saat menjawab soal tes. Berikut ini perbandingan dokumentasi siklus I dan siklus II.

Siklus I Siklus II

Gambar 8. Perbandingan Aktivitas Siswa Membaca Cepat

Gambar di atas adalah perbandingan aktivitas siswa membaca cepat pada siklus I dan siklus II. Terlihat masih ada beberapa siswa yang melakukan kesalahan dalam membaca. Kesalahan tersebut di antaranya, mengangkat teks bacaan, menyangga kepala. Banyak pula yang membaca dengan sungguh-sungguh.

Siklus I Siklus II

Gambar 9. Perbandingan Aktivitas Siswa Menghitung Kecepatan Membaca

Gambar di atas terlihat siswa menghitung kecepatan membaca. Pada siklus I dan Siklus II siswa dengan sungguh-sungguh untuk menghitung kecepatanya secara individu.

Siklus I Siklus II

Gambar 10. Perbandingan Aktivitas Siswa Menjawab soal

Pada gambar di atas terlihat perbandingan aktivitas siswa ketika menjawab soal. Pada siklus I dan siklus II siswa terlihat sunguh-sungguh mengerjakan soal, namun masih ada juga siswa yang masih terlihat kurang. Siswa menggunakan waktu seefektif mungkin, siswa mulai percaya pada diri sendiri dengan menjawab soal tanpa harus melihat atau menanyakan pada teman yang lain.

Sesuai dengan hasil pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa terjadi perubahan perilaku siswa kelas VIII D SMP-Terpadu Darul „Amal Sukabumi kearah yang lebih positif setelah dilakukan pembelajaran membaca cepat dalam membaca buku teks bahasa Indonesia dengan teknik skimming.

BAB V PENUTUP A.Simpulan

Berdasarkan data-data, analisis, dan pembahasan dalam penelitian ini yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, maka penulis mengambil simpulan sebagai berikut.

1. Terjadi peningkatan keterampilan membaca cepat dalam membaca buku teks bahasa Indonesia siswa kelas VIIID SMP Terpadu Darul „Amal Sukabumi tahun ajaran 2011-2012 setelah mengikuti pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming.

2. Telah terjadi perubahan perilaku siswa kelas VIIID SMP-Terpadu Darul „Amal Sukabumi tahun ajaran 2011-2012, setelah mengikuti pembelajaran membaca cepat dengan teknik skimming. Perubahan perilaku siswa ini dapat dibuktikan dari hasil data nontes yang berupa observasi, jurnal, wawancara, dan dokumentasi foto.

B.Saran

Berdasarkan hasil simpulan di atas, maka saran dapat peneliti sampaikan sebagai berikut.

1. Pertahankan atau lebih ditingkatkan lagi keterampilan membaca cepat dalam membaca buku teks bahasa Indonesia, dapat menggunakan atau memanfaatkan teknik skimming dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran dengan teknik tersebut. Penerapan teknik skimming ini

diharapkan mampu membuat proses pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia pada aspek keterampilan menjadi lebih bervariatif

2. Para peneliti dalam bidang bahasa dapat melakukan penelitian yang serupa dengan menggunakan teknik pembelajaran yang berbeda sehingga mendapatkan alternatif teknik pembelajaran membaca cepat.

DAFTAR PUSTAKA

Alfin, Jauharoti dkk. Bahasa Indonesia 1, Surabaya: Learning Assistance Program For Islamic Schools, 2008

Anindyarini, Atikah dan Sri Ningsih. Bahasa Indonesia untuk SMP/MTS Kelas VII, Jakarta: Depdiknas, 2008

Angga, Prambudi Tristono. Peningkatan Kemampuan Membaca Cepat pada Mata Pelajaran bahasa Indonesia Siswa kelas V SD Negeri Siliwangi 01 Kecamatan Semarang Barat, Program D2 PGKSD, UNNES. 2006

Cahyani, Isah dan Hodijah. Kemampuan Berbahasa Indonesia di Sekolah Dasar, Bandung: UPI Press, 2007

Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2008

Fatmawati, Elly. 2005. Peningkatan Keterampilan Membaca Cepat 250 kpm dengan Pembelajaran Berjenjang dan Penilaian Authentic Assessment pada Siswa Kelas VIIIA MTs. Miftahul Ulum Rengaspendawa Kabupaten Brebes Tahun Ajaran 2004/2005. Skripsi: Jurusan Bahasa dan SastraIndonesia.

Fred, N. kerlinger. Asas-asas Penelitian Behavioral,Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2006

Harras, Kholid, Endah Tri Priyanti, dan Titik Harsiati. Membaca 1, Jakarta: Universitas Terbuka, 2007

Harras, Kholid dan Lilis Siti Sulistyaningsih. Membaca 1, Jakarta: Universitas Terbuka, 1999

Iskandarwassid dan Dadang Sunendar. Strategi Pembelajaran Bahasa, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008

Kasuriyanta, Budinuryatna dan Koermen, Imam. Pengajaran Berbahasa Indonesia, Jakarta: Universitas Terbuka, 2007

Khasanah, Uswatun. Peningkatan Keterampilan Membaca Cepat untuk Menemukan Ide Pokok dengan Teknik Ayunan Visual Siswa X-II SMA Negeri 2 Semarang Tahun ajaran 2008/2009. (Skripsi: Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, UNNES 2009)

Laksono, Kisyani dkk. Membaca 2, Jakarta: Universitas Terbuka, 2007

Nur, Muhammad. Speed Reading For Beginners, (Panduan Membaca lebih cepar, lebih cerdas, dan pemahaman yang lebih baik), ed. Bahasa Indonesia

Resmini Novi, Yayah Churiyah, dan Nenden Sundori. Membaca dan Menulis di SD: Teori dan pengajarannya. Bandung: UPI Press, 2008

Saadie, Ma‟mur dkk. Strategi Pembelajaran Bahasa Indonesia. Jakarta: Universitas Terbuka, 2007

Sandjaja dan Albertus Heriyanto. Panduan Penelitian, Jakarta: Prestasi Pustaka, 2006 Sundawa, Dadang, Yon Rizal, dan Rifai Asfari. Kurikulum dan Buku Teks

Pendidikan Ekonomi, Jakarta: Universitas Terbuka, 2007

Susilo. Penelitian Tindakan Kelas, Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2007 Suyadi. Penelitian Tindakan Kelas, Jogjakarta: DIVA Press, 2010

Tarigan, Henry Guntur dan Djojo Tarigan Telaah Buku Teks Bahasa Indonesia, Bandung: Angkasa, 2009

www.muhammadnoer.com/2009/07/teknik-membaca-skimming/ kamis 27-10-11. 20.16

Yanti, Dewi. Penerapan Memotong dan Merekatkan (Cutting-Gluing) dalam Pembelajaran Menulis Resensi Novel Tahun Ajaran 2010-2011,Skripsi Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2010

Yunus, Mohamad at. al. Bahasa Indonesia (Tim Penulis Bahas Indonesia UT-ASMI), Jakarta: Universitas Terbuka, 2007

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) SIKLUS I

Sekolah : SMP TERPADU DARUL AMAL JAMPANGKULON SUKABUMI Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia

Kelas/Semester : VIII / I

Aspek : Membaca

Standar Kompetensi : Memahami ragam wacana tulis dengan membaca memindai, membaca cepat.

Kompetensi Dasar : Menyimpulkan isi suatu teks dengan membaca cepat 250 kara per menit.

Indikator :

 Mampu mengukur kecepatan membaca untuk diri sendiri dan teman;

 Mampu menjawab pertanyaan dengan peluang ketepatan 75%;

 Mampu menyimpulkan isi teks bacaan.

Alokasi Waktu : 2 X 40 menit (1 pertemuan) A. Tujuan Pembelajaran

1. Siswa dapat mengukur kecepatan membaca untuk diri sendiri dan teman;

2. Siswa dapat menjawab pertanyaan dengan peluang ketepatan 75%; 3. Siswa dapat menimpulkan isi teks bacaan.

B. Materi Pembelajaran

C. Metode Pembelajaran 1. Ceramah 2. Diskusi 3. Penugasan

D. Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran Pertemuan I

1. Kegiatan Awal

a. Guru mengucapkan salam; b. Guru mengabsen siswa;

c. Guru menjelaskan materi membaca cepat

d. Guru menyuruh siswa membaca teks yang telah dibagikan. 2. Kegiatan Inti

a. Siswa membaca teks yang telah diberikan oleh guru;

b. Siswa menghutung jumlah kata yang telah dibaca dalam waktu satu menit;

c. Siswa mengerjakan soal yang diberikan guru

d. Siswa mengumpulkan soal dan jawaban yang telah dikerjakanya 3. Kegiatan Akhir

a. Siswa bersama guru mengadakan simpulan; b. Guru mengadakan refleksi.

E. Alat dan Sumber Belajar

1. Teks berita yang dibaca 2. Pengukur waktu (Stopwatch) 3. Buku pelajaran

F. Penilaian 1. Tes a. Observasi b. Tes terulis 2. Bentuk instrument a. Lembar observasi b. Tes pilihan ganda

Soal

POPULASI ORANG UTAN YANG SEMAKIN TERANCAM 200-500 Ekor Diperdagangkan Tiap Tahun, Aparat tidak Tegas

Pemburuan liar satwa liar, seperti orang utan hingga saat ini belum bisa diatasi. Kampanye akan pentingnya pelestarian satwa yang dilindungi belum menyadarkan masyarakat untuk menghentikan perilaku yang tidak bertanggung jawab.

Salah satu satwa yang menjadi incaran pemburu adalah orang utan.

Dokumen terkait