BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.3 Pembahasan
Hasil penelitian, menunjukkan jumlah prevalensi epilepsi pada anak periode 1 Januari 2011 hingga 31 Disember 2012 di RSUP Haji Ada m Malik sejumlah 40 subyek penelitian yang didiagnosa dengan epilepsi. Karakteristik yang diambil untuk melihat prevalensi epilepsi pada anak di RSUP Haji Adam Malik adalah umur, jenis kelamin dan tipe epilepsi. Berdasarkan hasil yang diperoleh, umur anak yang diteliti adalah dari usia 4 bulan sampai 16 tahun. Berdasarkan kelompok usia, paling sering menderita epilepsi adalah pada umur 4 bulan sampai 5 tahun dengan adalah sebanyak 17 orang 42,5% dan hasil yang didapatkan pada penelitian ini tidak sama denga n penelitian yang telah dilakukan sebelum ini oleh Tjandarjani (2012), penelitiannya di RS Anak dan Bunda Harapan Kita
n 9.5% 85.7% .0% 4.8% 100.0%
Total 3 33 2 2 40
melaporkan epilepsi pada anak sering terjadi adalah pada umur 1 sampai 12 bulan. Hal ini mendukung pernyataan dari Hauser yang mengataka n bahawa resiko terkena epilepsi adalah tinggi pada awal usia kehidupan (Tjandarjani, 2012).
Hasil penelitian ini menyatakan bahwa, sebahagian besar pasien anak berumur 4 bulan hingga 5 tahun yang diperoleh berdasarkan catatan rekam medis, rata -rata usia ini yang datang berobat di RSUP Haji Adam Malik periode 2011 sampai 2012. Penelitian ini menemukan bahwa orang tua pasien lebih perhatian untuk membawa anaknya berobat.Hal tersebut menggambarkan bahawa kejang khususnya epilepsi dapat menyebabkan suatu kondisi yang mengkhawatirkan atau mencemaskan orang tua.
Di samping itu, epilepsi dapat mengancam jiwa, jika terjadi suatu status epileptikus.Sedangkan jumlah anak yang paling sedikit menderita epilepsi adalah umur ≥16 tahun, sebanyak 1 orang (2.5%). Umur ini adalah paling kecil dikarenakan, jarang yang datang berobat di RSUP Haji Adam Malik berdasarkan catatan yang didapatkan rekam medis, hal ini mendukung penelitian Rizaldi.P (2006) bahawa kasus epilepsi menurun apabila umur semakin meningkat dewasa (Rizaldi. P, 2006).
Dari hasil penelitian, didapatkan jenis kelamin yang lebih dominan untuk mendapatkan epilepsi di RSUP Haji Adam Malik, adalah lebih banyak pada anak perempuan sebanyak 21 orang (52,5%) berbanding jenis kelamin laki -laki seramai 19 orang (47,5%). Namun penelitian sebelum ini yang dilakukan di RS Dr.Kariadi, Semarang, menemukan jenis kelamin laki -laki lebih banyak menderita epilepsi dengan presentase 60,6% berbanding jenis kelamin perempuan dengan presentase 39,4 % (Husam, 2008).
Hasil penelitian Hauser (2002) laki -laki mempunyai risiko lebih kecil mengalami epilepsi dibandingkan dengan perempuan.Hal ini sejalan dengan data epidemiologis WHO (2006), namun dinyatakan bahwa penyebab perbedaan risiko tersebut masih belum jelas dan diperluk an penelitian lanjutan (Hauser, 2002).
Terdapat penelitian lain (Tjandarjani,2012) yang menyebutkan bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna di antara jenis kelamin laki -laki dan perempuan terhadap kemungkinan terjadinya epilepsi. Hasil penelitian ters ebut sesuai dengan penelitian sebelumnya yang menemukan bahwa terdapat prevalensi yang sama antara laki-laki dan perempuan terhadap terjadinya epilepsi. Penyebab hal ini belum diketahui secara pasti, namun diduga hormon seks berkaitan dengan etiologi dari epilepsi itu sendiri.
Hasil penelitian pada periode 1 Januari 2011 hingga 31 Disember 2012, sebagian besar anak yang didiagnosa dengan epilepsi di RSUP Haji Adam Malik adalah perempuan, hal ini disebabkan karena pada periode ini lebih banyak anak perempuan yang dideteksi dengan epilepsi yang datang ke RSUP Haji Adam Malik yang dirujuk di bagian neurologi anak.
Klasifikasi tipe epilepsi yang diteliti berdasarkan International League Against Epilepsy (ILAE) 1989, yang dikelompokkan pada penelitian i ni adalah tipe epilepsi berdasarkan letak fokus, umum, serangan fokal atau umum dan epilepsi dengan situasi. Pada penelitian, ditemukan tipe epilepsi umum yang menjadi tipe yang sering menyerang pasien anak di RSUP Haji Adam Malik, dengan jumlah pasien sejumlah 33 orang (82,5%). Hasil yang didapatkan ini sama dengan hasil yang didapatkan oleh penelitian sebelum ini, Serdaroglu dkk
(2004) melaporkan bahawa dari 49.813 anak didapatkan 55,2 % terdiagnosa epilepsi umum. Hal ini berlaku, disebabkan karena pa da umumnya pasien anak didiagnosa pasti dengan tipe epilepsi umum jenis idiopatik, Hal ini berhubung dengan etiologinya sendiri, di mana anak ini mendapatkan sindroma epilepsi ini karena faktor genetik.
Faktor genetik ini didapatkan dari garis keturunan ay ah (paternal) atau mempunyai riwayat keluarga yang mempunyai penyakit atau sindroma epilepsi.Penelitian melaporkan, tipe epilepsi umum idiopatik dengan kejang epilepsi mioklonik pada bayi dan remaja serta epilepsi absans pada anak dan remaja. Pada kejang epilepsi mioklonik pada bayi dan remaja, bias terjadi pada pasien normal, dan jenis ini biasanya terjadi pada pagi hari, setelah bangun dari tidur dengan ciri khas pasien mengalami sentakan yang tiba - tiba. Sementara
epilepsi absans pada anak dan remaja um umnya hanya terjadi pada masa anak -nak atau awal remaja dengan ciri khas biasanya penderita tiba -tiba melotot atau matanya berkedi-kedip dengan kepala terkulai.Kejadiannya cuma beberapa detik dan bahkan sering berlaku tanpa disadari (ILAE 1989).
Tipe epilepsi serangan umum dan fokal, juga tipe epilepsi dengan situasi berdasarkan hasil penelitian, diperoleh prevalensi yang paling rendah yaitu masing-masing seramai 2 orang (5.0%). Penelitian sebelumnya juga mendapatkan hasil yang sama karena serangan umum dan fokal tidak dapat dipastikan dengan jelas manakala epilepsi berkaitan situasi di RSUP Haji Adam Malik jarang ditemukan karena kebanyakkan yang datang berobat ditegakkan diagnosanya adalah tipe epilepsi umum (idiopatik).
Pada penelitian ini subyek pen elitian didapat melalui metode total sampling. Penelitian ini juga hanya dilakukan untuk mengetahui prevalensi epilepsi pada anak di RSUP Haji Adam Malik periode 2011 sampai 2012 dan karakteristik yang diambil adalah umur, jenis kelamin dan tipe epilepsi. Pada tipe epilepsi, hanya dilihat umum bukannya subtipe dan tidak menghubungkan kejadian epilepsi dengan etiologi. Semua data jenis kelamin dan umur pasien juga diperoleh dari catatan rekam medis yang dicatat dalam berkas yang berbeda dengan jumlah sampel sebanyak 40 orang, dan rentang umur anak diperoleh dari umur 4 bulan hingga 16 tahun.