• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 Hasil Penelitian Dan Pembahasan

2. Pembahasan

2.1 pembahasan stress kerja

a. Stres sosial

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa responden lebih banyak

mengalami stres sosial sebagai stres kerja, dimana perasaan kesal menghadapi

pasien/keluarga pasien yang cerewet (mean=2,11, sd=0,50), pimpinan yang

kurang memperhatikan kesejahteraan (mean=1,97, sd=0,56), kesal dengan teman

yang tidak menyelesaikan pekerjaan dan melimpahkan pada saya (mean=1,97,

sd=0,50), pimpinan yang sering mengintervensi pekerjaan 9mean=1,80 sd=0,55)

dan sering mengalami ketegangan dalam berinteraksi dengan teman sejawat

(mean=1,28, sd=0,50) secara akumulatif memiliki nilai tertinggi daripada skor

stres yang lain.

Hasil penelitian diatas dikaitkan dengan karakteristik demografi,

khususnya pada pelatihan yang pernah diikuti, lebih sedikit perawat yang pernah

mendapatkan pelatihanyang berkaitan dengan penanganan pasien gawat darurat

(PPGD, ATLS,BTCLS) sedangkan selebihnya mendapat pelathan yang tidak

berkaitan dengan penanganan pasien gawat darurat, bahkan ada yang belum

pernah mendapatkan pelatihan sama sekali. Pelatihan yang pernah diikuti dapat

menambah pengetahuan perawatsecara lebih spesifik sehingga ketrampilan akan

bertambah yang akn berakibat pada penampilan kerja ketika menangani pasien.

Perawat yang terampil akan memuaskan pasien atau keluarga pasien yang

diberikan akan berkurang. Sebaliknya bila kurang tanggap dalam menghadapi

pertanyaan dan berbagai keluhan pasienmaka akan mudah terjadi pertentangan

antara perawat, pasien dan keluarga pasien.

Faktor karakteristik lainnya yang mempengaruhi stres sosial ini adalah

pendidikan, sebagian besar perawat yang bertugas di ruang IGD berpendidikan

DIII, sehingga belum mengetahui menajamen memimpin perawat pelaksana yang

baik dan benar. Pengetahuan mengenai peran perawat sebagai pemimpin lebih

banyak diulas di tinggkat pendidikan yang lebih tinggi sehingga tindakan yang

harus dilakukan oleh seorang pemimpin terhadap staf yang mejadi bawahannya

lebih sering terlewatkan. Walaupun kemampuan menajerial perawat dapat ditempa

berdasarkan pengalaman namun akan lebih baik bila telah mengetahui pendapat-

pendapat ahli yang terkait dengan hal tersebut sehingga dapat menjadi wawasan

bagi perawat untuk menerapkan tindakan yang tepat ketika menjadi pemimpin di

ruangan. Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Griffin (2006)

bahwa setiap manajer membutuhkan minimal tiga ketrampilan dasar yaitu: 1)

Ketrampilan konseptual dalam membuat konsep, gagasanatau ide demi kemajuan

organisasi, 2) Ketrampilan dalam berhubungan dengan orang lain yaitu

kemampuan berkomunikasi secara persuasive dengan bawahan yang dipimpnnya,

3) Ketrampilan tehnikal merupakan kemampuan untuk menjalankan suatu

pekerjaan tertentu. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa masih ada pimpinan

yang kurang memperhatikan kesejahteraan bawahan, intervensi pekerjaan yang

berlebihan pada bawahan, hal ini berkontribusi pada stres sosial yang dialami

Selain itu hasil penelitian juga menunjukan bahwa sejawat yang tidak

bertanggungjawab menyelesaikan pekerjaan yang menjadi tugasnya, dirasakan

perawat sebagai stress sosial di lingkungan kerja. Tanggungjawab yang tidak

terselesaikan oleh rekan kerja akan menambah beban kerja perawat yang

dilimpahi tanggungjawab menyelesaikan tugas tersebut. Hasil penelitan ini juga

menunjukan bahwa hal ini sesuai dengan pendapat Mc Vicar (2003), bahwa

perawat yang bertugas di ruang instalasi gawat darurat memiliki beban kerja yang

tinggi. Selain karena jam kerja yang panjang juga disebabkan tuntutan dalam

bekerja. Penambahan beban kerja, akan melipatgandakan beban yang sudah ada

sehingga perawat lebih mudah tertekan dan tidak dapat bekerja dengan optimal.

Stres sosial merupakan salah satu stres yang dapat dijumpai pada perawat

karena tekanan di tempat kerja. Menurut survey yang dilakukan oleh Willims

(2004) resiko perawat menderita stres sosial dua sampai tiga kali lebih tinggi

daripada individu yang tidak bekerja sebagai perawat. Kesimpulan ini diambil

berdasarkan penelitian terhadap 190 responden yang bertugas di Department of

Veteran Affairs Medical Center, Barat Daya Amerika Serikat dimana sebagian

besar menyatakan, bahwa stress sosial terutama ketidaknyaman dengan pasien

dan keluarga yang memberikan pernyataan secara verbal tentang ketidakpuasan

terhadap semua tindakan perawat. Kesimpulannya adalah stres sosial merupakan

stres yang paling sering dialami perawat. Hal ini karena pekerjaan perawat

merupakan pekerjaan tim yang membutuhkan dukungan dari banyak pihak agar

tujuan dari tindakan yang telah ditetapkan dapat dicapai. Dukungan dari

keluarga pasien. Pekerjaan yang hanya akan sukses bila dikerjakan secara

kolektif, akan sangat mengganggu bila salah satu unsur dari bagian tersebut tidak

dapat bekerjasama atau tindakan yang di tampilkan tidak sesuai harapan, bila hal

tersebut ditemukan maka akan timbul streskerja.

b. Stres fisik

Dampak stressor yang dimanifestasikan dengan gangguan fisik seperti

letih, otot kaku (kaku leher) selama dan setelah menyelesaikan pekerjaan

(mean=1,91, sd=0,59), merasa ada gangguan tidur setelah pulang dari bekerja

(mean=1,64, sd=0,43), selalu mengalami sakit kepala saat bekerja (mean=1,62,

sd=0,53), mudah lupa serta sulit konsentrasi (mean=1,55, sd=0,45), merasa

tegang, gemetar dan keringat dingin saat menghadapi pasien kritis (mean=1,40,

sd=0,49) merupakan stres fisik yang berikutnya setelah stres sosial yang dialami

perawat di ruang Instalasi Gawat darurat Rumah Sakit kota Langsa. Keadaan ini

diakibatkan karena tugas yang dilakukan umumnya menuntut kecepatan dan

ketepatan dalam mengantisipasi kondisi pasien agar mampu melalui kondisi kritis

sebelum mendapat pertolongan selanjutnya atau terhindar dari kecacatan yang

lebih buruk lagi. Intensitas kerja yang demikian tinggi lama kelamaan akan

berdampak pada kondisi fisik perawat seperti keletihan yangberlebihan, kekakuan

otot seluruh tubuh dan lain sebagainya. Jennngs (2005), mencatat bahwa perawat

beresikomenderita keletihan fisik kronis terutama yang dituntut untuk selalu

bekerja dengan standard an beban kerja tinggi. Fakta penelitian ini menunjukan

bahwa stres fisik merupakan stress kerja yang memiliki nilai skor mean tinggi

c. Stres psikologi

Dampak lain dari stressor kerja perawat yang bertugas di ruang IGD yang

dimanfestasikan ke dalam gejala psikologis adalah perasaan tertekan dengan

ketatnya peraturan yang harus dipatuhi (mean=1,71, sd=0,45), adalah stres kerja

yang tergolong sering dikeluhkan perawat di ruang Instalasi Gawat Darurat

RumahSakit Kota Langsa. Peraturan yang ditetapkan meskipun bertujuan baik

untuk meningkatkan kedisiplinan dankinerja perawat namun terkadang dapat

menimbulkan konflik dalam bekerja. Konflik dengan pasien menyebabkan

perawat tidak hanya harus mempunyai keahlian dalam melakukan tugasnya

namun harus mampu melakukan negosiasi agar tercapai keputusan yang

menyenangkan bagi kedua belah pihak. Sementara itu, Jennings (2005)

menyatakan bahwa perasaan mempunyai wewenang (empowerment) di tempat

pekerjaandimana perawat diberi andil untuk memutuskan hal-hal yang terait

dengan peraturan dengan memperhaika efek positif dan negatif keputusan yang

diambil serta mempertimbangkan sisi kemanusiaan berdampak pada peningkatan

perasaan autonomi dan kepercayaan diri sehingga kepuasan kerja meningkat dan

berkurangnya ketegangan akibat kerja (job strain). Sedangkan bila perawat tidak

memiliki hal tersebut, akan mudah mengalami keletihan mental,

depersonalization dan tidak dapat berprestasi dalam bekerja dimana keadaan ini

merupakan alas an sebagian besar perawat di Inggris memutuskan burnout dari

tempat kerja di negara seperti Amerika.

Pernyataan sering marah dan mengomel pada saat bekerja (mean=1,64,

merasa jenuh dan malas masuk kerja (mean=1,35 sd=0,62), mudah tersinggung

pada saat bekerja (mean=1,46 sd=0,78) merupakan gejala dari stres kerja lain

yang dialami perawat krena selalu merasa tertekan dan tidak nyaman dengan

kondiai kerja. Tekanan yang berlebihan dalam jangka waktu lama dapat

menyebabkan sebagian perawat mengalami penurunan motivasi kerja, stres psikis

yangdialihkan kedalam bentuk gejala fisik, serta tidak mampu bersosialisasi

dengan baik sehingga kinerja yang ditampilkan di tempat kerja sebatas

menjalankan kewajiban tanpa ada usaha untuk memberi kemampuan optimal

sebagai seorang perawat.

Fitzgibbon (2006), mencatat hal yang sama juga dialami perawat di

Ontario Kanada. Stres fisik dirasakan oleh perawat meningkat seiring oleh usia

sedangkan stres psikologi seperti perasaan tertekan, frustasi dan lain-lain lebih

banyak dirasakan perawat yang berusia muda, dan wanita memiliki skor stres

psikologi lebih tinggi di bandingkan dengan pria, hal ini berkaitan dengan

karakteristik jenis kelamin responden dalam penelitian ini, dimana jumlah

perawat perempuan (42,22%) lebh sedkit daripada perawat laki-laki (57,78%)

olehsebab itu, stres psikolog memliki nilai skor mean lebih rendah dibandngkan

stres kerja lain.

2.2. Pembahasan strategi koping

a. Koping berfokus pada masalah

Strategi koping yang banyak disetujui oleh perawat adalah melanjutkan

sd=0,50) hal ini disetujui karena sebagian perawat ada merasa bahwa stress yang

dialami selama ini terkait dengan ketrampilan yang kurang memadai. Pendidikan

diharapkan dapat membuka cakrawala berpikir lebih baiklagi dan kemampuan

dalam memberi asuhan keperawatan akan lebih meningkat sehingga

meminmalisasiterjadinya ketegangan dalam bekerja. Selain ketrampilan dan

pengetahuan, kerjasama dengan teman sejawat, pimpinan, pasien dan keluarga

pasien (mean=2,35 sd=0,50) diharapkan dapat mengurangikemungkinan

terjadinya konflik. Responden menganggap kerjasama akan saling membangun

pengertian sehingga mengurangi salah faham baik dalam bekerja, menjalankan

yugas dari pimpinan atau memberi pelayanan pada pasien, memahami dan

memberikan pemahaman pada keluarga pasien untuk dapat mendukung

kesembuhan pasien. Strategi koping lain yang dianggap penting dilakukan oleh

respnden dalam mengatasi stres di tempat kerja yaitu berusaha memperbaiki

kesalahan dalam pekerjaan selangkah demi selangkah (mean=2,44 sd=0,50)

perawat berusaha mencari pemecahan sebab terjadi masalah dan memperbaiki

tindakan yang telah dilakukan dengan usaha yang lebih baik lagi. Berpikir

positif terhadap masalah dalam pekerjaan (mean=2,37 sd=0,56) serta mencoba

berkonsultasi dengan pimpinan dalam menghadapi masalah pekerjaan

(mean=2,31 sd=0,55), tindakan ini dapat meningkatkan kepercayaan diri perawat

dan meningkatkan motivas kerja karena mendapatkan penyelesaian seperti yang

b. Koping berfokus pada emosi

Strategi koping yang berfokus pada emosi umumnya lebih banyak

digunakan perawat untuk mengatasi stres kerja adalah mendekatkan diri kepada

Tuhan (mean=2,73 sd=0,45) hal ini karena seluruh responden beragama islam,

sehingga merasakan manfaat dari mendekatkan diri kepada Tuhan, yaitu

responden mengaku menjadi lebih dapat menerima semua masalah dalam

pekerjaan dan mempunyai kekuatan untuk menghadapi masalah tersebut.

Berharap semua pekerjaan dapat terselesaikan dengan baik (mean=2,64 sd=0,48)

adalah hal lain yang dilakukan perawat ketika mengalami stres. Hal ini dapat

membantu perawat untuk menenangkan diri dan meredakan emosi sehingga

dapat berpikir lebih fokus lagi terhadap pekerjaan. Strategi lainnya menganggap

pekerjaan sebagai rutinitas yang harus dijalani (mean=2,24 sd=0,64) merupakan

cara perawat untuk memotivasi diri dengan berharap segala sesuatu menjadilebih

baik, walaupun penyelesaian ini bersifat sementara. Mencoba berolahraga untuk

mengatasi kejenuhan (mean=2,20 sd=0,46) merupakan strategi tepat untuk

mengatasi stres, selain meningkatkan kebugaran, olahraga dapat mengeluarkan

hormon endorphin yang bisa memberikan rasa happy dan lebih relaks.

Dukungan dari teman dan keluarga dalam menghadapi masalah pekerjaan

(mean=2,31 sd=0,47) adanya dukungan atau masukan dari orang

terdekat/keluarga dalammemahami stres kerja yang dialami, akan memotivasi

perawat berusaha seoptimal mungkin mencari penyelesaian masalah pekerjaan

Kesimpulannya secara keseluruhan strategi koping yang lebih banyak

digunakan adalah koping yang berfokus pada masalah dibandingkan koping

yang berfokus pada emosi. Koping yang berfokus pada emosi merupakan jenis

koping yang bisa digunakan untuk meredakan ketegangan dalam jangka pendek,

sedangan koping yang berfokus pada masalah mempunyai dampak yang lebih

panjang dmana hasilnya akan terlihat setelah beberapa waktu. Kopng berfokus

pada masalah menurut Atkinson (2003), lebih efektif digunakan dibandingkan

koping berfokus pada emosi. Hal ini karena koping berfous pada emosi dapat

menjadi maladaptive bila individu tidak dapat memilih jalan yang tepat, seperti

menggunakan obat-obatan. Masalah yang dihadapi tidak terselesaikan bahkan

tetap ada ketika efek dari obat telah hilang. Sebaliknya koping yang berfous

pada masalah akan melibatkan nerbagai bentuk manajemen stres yang lebih

efektif untuk memyelesaikan masalah sehingga stress yang dirasakan akan

Dokumen terkait