BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
F. Pembahasan
Pada bab I telah diuraikan tentang permasalahan yang dihadapi dalam penelitian ini adalah rendahnya keaktifan siswa dan kurang maksimalnya prestasi belajar siswa. Permasalahan tersebut muncul karena model pembelajaran yang digunakan cenderung menggunakan metode pembelajran konvensional, salah satunya adalah ceramah sehingga siswa menjadi cepat boas an, kurang semangat, kurang aktif dan pelaksanaan
pembelajaran berjalan tidak menyenangkan. Untuk itu diperlukan suatu model pembelajaran yang dapat memecahkan masalah tersebut, model pembelajaran yang diterapkan adalah model pembelajaran kooperatif dengan teknik make a match. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keaktifan dalam KBM dan prestasi belajar siswa, yang dilaksanakan selama empat kali pertemuan yaitu berlangsung dalam tiga siklus. Penelitian ini dilaksanakan pada akhir bulan Oktober sampai dengan awal Desember 2010.
Sebelum melaksanakan penelitian, peneliti melakukan pra penelitian tindakan kelas Pra penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk memperoleh skor dasar siswa guna menghitung skor peningkatan pertama kali. Selain itu pra penelitian tindakan kelas ini juga sebagai ajang pengantar peneliti untuk memperkenalkan metode pembelajaran kooperatif teknik Make a Match yang akan diterapkan selama proses penelitian secara klasikal.
Teknis make a match membantu siswa untuk bekerja sama dalam kelompok. Hal ini karena mereka menerapkan suatu kesatuan dalam kelompok. Jadi, mereka saling tergantung satu sama lain demi mendapatkan hasil yang maksimal untuk kelompok mereka. Pada siklus I, karena kurang terbiasa dengan metode tersebut siswa ada yang masinh kebingungan dan siswa juga kurang bergantung satu sama lain. Mereka memilih terlihat mengerjakan secara mandiri dan tidak begitu memperdulikan pendapat orang lain. Akan tetapi secara berangsur-angsur
terbiasa pada siklus II dan siklus III, mereka sudah saling tergantung satu sama lain. Mereka sudah menyatu dengan kelompoknya. Tanggung jawab perorangan mereka juga berangsur-angsur membaik. Mereka sudah dapat bertanggung jawab dari tugas yang sudah diberikan pada mereka.
Pada aspek keaktifan siswa dengan instrument penelitian yang digunakan adalah lembar observasi keaktifan yang dapat dilihat pada lampiran 3 dengan indikator meliputi : memberikan ide/pendapat, menerima pendapat orang lain, menanggapi pendapat orang lain, melaksanakan tugas yang diberikan oleh kelompok, kepedulian terhadap kesulitan sesama anggota kelompok, keikutsertaan dalam membuat laporan dan keikutsertaan dalam melaksanakan presentasi hasil belajar. Kriteria keaktifan siswa yang telah ditentukan adalah sekurang-kurangnya 75% dari jumlah siswa yang memiliki tingkat keaktifan antara 16 – 21 dari total indikator keaktifan yang diamati. Pada pelaksanaannya, tingkat keaktifan siswa kelas XI KJ B terus mengalami peningkatan di tiap siklusnya. Pada siklus I, siswa hanya mencapai 29,41% dari kriteria 75% yang telah ditentukan dan terus naik pada siklus II mencapai 41.18% dari tingkat criteria yang ditentukan. Pada siklus III siswa sudah nyaman dengan metode pembelajaran teknis make a match dan sudah memahami pelajaran, hal ini dibuktikan dari ingkat keaktifan siswa yang mencapai 79,41%. Dapat disimpulkan bahwa tingkat keaktifan siswa pada siklus III sudah mencapai criteria minimum 75% yang telah ditentukan sebelumnya,
dikarenakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan motivasi siswa untuk member nilai terbaik bagi kelompok mereka masing-masing.
Pada aspek prestasi, kriteria prestasi belajar yang telah ditentukan yaitu nilai seluruh siswa mencapai KKM (75). Pada pelaksanaannya, prestasi belajar siswa kelas XI KJ B terus mengalami peningkatan di tiap siklusnya. Pada pre-test, semua nilai siswa berada dibawah KKM 75 dengan nilai rata-rata kelas 48,28 sehingga belum sesuai dengan kriteria keberhasilan tindakan. Dan pada test siklus I sudah mengalami peningkatan nilai rata-rata kelas menjadi 79,56, namun masih ada 7 siswa yang nilai testnya dibawah KKM 75 sehingga belum sesuai dengan kriteria yang ditentukan. Pada siklus II juga mengalami peningkatan nilai rata-rata kelas menjadi 86,18, sama seperti pada siklus I masih siswa yang nilai testnya dibawah KKM 75, namun menurun menjadi 3 siswa sehingga belum sesuai dengan kriteria yang ditentukan dan perlu ditindak lanjuti pada siklus III. Pada siklus III siswa sudah memahami pelajaran, hal ini dibuktikan dari hasil nilai test siklus III nilai rata-rat kelas menjadi 91.59 dan sudah tidak ada lagi nilai siswa dibawah KKM 75. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil test siklus III siswa sudah mencapai criteria yang telah ditentukan sebelumnya, dikarenakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan motivasi siswa untuk memberi nilai terbaik bagi kelompok mereka masing-masing.
Menurut hasil wawancara yang dilakukan kepada guru dan siswa, guru berpendapat bahwa teknik make a match dapat meningkatkan
keaktifan dan prestasi siswa karena membuat siswa tidak statis dan bersemangat dalam belajar. Sebagian menurut siswa, meskipun awalnya bingung dengan teknik make a match namun siswa menjadi bersemangat dalam belajar dan siswa jadi lebih memahami materi yang diberikan oleh guru karena adanya latihan-latihan ringan yang dikerjakan setiap akhir pembelajaran.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa pembelajran di SMK Negeri 1 Sedayu dengan model pembelajaran teknis make a match dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam KBM. Hal ini dibuktikan dengan hasil observasi yang menunjukan adanya peningkatan keaktifan siswa. Penerapan model ini mampu merubah proses pembelajaran yanga awalnya siswa pasif menjadi aktif.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa pembelajaran di SMK Negeri 1 Sedayu dengan model pembelajaran teknis make a match dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Hal ini dibuktikan dengan hasil observasi yang menunjukan adanya peningkatan prestasi belajar dilihat melalui hasil belajar.
Penerapan model pembelajaran teknik make a match ini, siswa merasa ada upaya perbaikan pembelajaran yang meningkatkan kualitas belajar pada mata diklat mendiagnosis permasalahan pengoperasian PC yang tersambung jaringan, saling menghargai pendapat orang lain serta keberanian mengungkap pendapat.