BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
D. Pembahasan
Penelitian ini menggunakan analisis regresi dua prediktor untuk mengetahui adanya hubungan antara regulasi diri dan dukungan sosial dengan kecemasan menghadapi dunia kerja pada mahasiswa tingkat akhir Fakultas Psikologi dan Fakultas Teknologi Industri Unissula. Hasil analisis uji hipotesis
pertama menunjukkan koefisien korelasi R = 0,566 dan Fhitung = 29,453 dengan p
= 0.000 (p<0,01). Ini berarti bahwa hipotesis pertama pada penelitian ini dapat diterima. Hasil tersebut menunjukkan bahwa ada hubungan yang sangat signifikan antara regulasi diri dan dukungan sosial dengan kecemasan menghadapi dunia kerja pada mahasiswa tingkat akhir Fakultas Psikologi dan Fakultas Teknologi Industri Unissula.
Nugrahaningtyas, dkk (2014) mengemukakan bahwa kecemasan menghadapi dunia kerja dapat diartikan sebagai suatu perasaan sementara yang tidak menyenangkan mengenai dunia kerja, karena adanya ketidakpastian mengenai kemungkinan yang akan terjadi dimasa depan yang dapat menimbulkan kekhawatiran pada individu. Hawari (2016) menjelaskankan bahwa terdapat dua faktor yang mempengaruhi kecemasan yaitu berupa faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yaitu yang berasal dari dalam diri individu itu sendiri. Dalam hal ini faktor internal merupakan kemampuan dalam meregulasi diri atau melakukan pengaturan diri, sedangkan faktor eksternal yaitu faktor yang berasal dari lingkungan berupa kurang adanya dukungan dari orang-orang di sekitar. Hal tersebut menunjukan bahwa regulasi diri dan dukungan sosial merupakan faktor
yang dapat mempengaruhi kecemasan menghadapi dunia kerja pada mahasiswa tingkat akhir.
Hipotesis kedua pada penelitian ini ingin menguji apakah ada hubungan negatif antara regulasi diri dengan kecemasan menghadapi dunia kerja pada mahasiswa tingkat akhir di Fakultas Psikologi dan Fakultas Teknologi Industri Unissula. Hasil perhitungan korelasi parsial menunjukkan nilai korelasi rx1-2y = -0,406 dengan taraf signifikansi p = 0,000 (p<0,01). Hasil tersebut menunjukkan bahwa ada hubungan negatif yang sangat signifikan antara regulasi diri dengan kecemasan menghadapi dunia kerja, sehingga diketahui hipotesis kedua diterima. Semakin tinggi regulasi diri, maka semakin rendah kecemasan menghadapi dunia kerja.
Hasil tersebut sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Rosliani dan Ariati, (2016) mengenai regulasi diri dengan dengan kecemasan menghadapi dunia kerja pada pengurus ikatan lembaga mahasiswa Psikologi Indonesia (ILMPI) menunjukkan terdapat hubungan negatif yang sangat signifikan antara regulasi diri dengan dengan kecemasan menghadapi dunia kerja, dengan nilai korelasi sebesar -0,610 dengan taraf signifikansi p = 0,000 (p<0,01), hal ini menunjukkan adanya hubungan yang negatif. Artinya semakin tinggi kemampuan regulasi diri, maka semakin rendah tingkat kecemasan menghadapi dunia kerja.
Kecemasan dapat terjadi bila individu dihadapkan pada hal yang mengancam diluar kemampuannya. Klenk, dkk (2012) menyatakan bahwa untuk mengurangi kecemasan dapat dilakukan dengan menerapkan prinsip pengaturan diri atau regulasi diri. Klenk, dkk (2012) berpendapat seseorang yang gagal dalam proses regulasi diri seperti tidak mampu menentukan tujuan atau telah menentukan tujuan, namun gagal dalam melakukannya dapat berdampak pada terjadinya kecemasan. Gagalnya individu dalam menentukan tujuan dimasa depan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan dapat menyebabkan gejala kecemasan dan depresi.
Individu yang memiliki kemampuan meregulasi diri dengan baik akan mampu mengatur pikiran serta tindakannya, misalnya memikirkan strategi untuk
menghadapi dunia kerja, mengikuti organisasi untuk menambah pengalaman dan teman serta mengikuti berbagai pelatihan untuk menambah keterampilan yang berguna dalam dunia kerja. Sebaliknya individu yang tidak memiliki kemampuan regulasi diri yang baik akan merasa kesulitan dalam mengatur pikiran dan tindakan sehingga seringkali mengalami dampak negatif yaitu mengalami perasaan cemas.
Hipotesis ketiga pada penelitian ini ingin menguji apakah ada hubungan negatif antara dukungan sosial dengan kecemasan menghadapi dunia kerja pada mahasiswa tingkat akhir Fakultas Psikologi dan Fakultas Teknologi Industri Unissula. Hasil perhitungan korelasi parsial menunjukkan nilai korelasi rx2-1y = -0,023 dengan taraf signifikansi p = 0,797 (p>0,05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa tidak ada hubungan negatif yang signifikan antara dukungan sosial dengan kecemasan menghadapi dunia kerja. Hal ini berarti hipotesis ketiga pada penelitian ini di tolak.
Hasil tersebut tidak sesuai dengan beberapa penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara dukungan sosial dengan kecemasan menghadapi dunia kerja. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Sekarina dan Indriana (2018) mengenai dukungan sosial dengan kecemasan menghadapi dunia kerja pada siswa kelas XII SMK Yudya Karya Magelang menunjukkan terdapat hubungan negatif yang sangat signifikan antara dukungan sosial dengan dengan kecemasan menghadapi dunia kerja, dengan nilai korelasi sebesar = -0,519 dengan nilai p = 0,000 (p<0,01). Hasil tersebut menunjukkan bahwa hipotesis yang diajukan peneliti terbukti, yaitu terdapat hubungan negatif yang sangat signifikan antara dukungan sosial dengan kecemasan menghadapi dunia kerja.
Begitu pula hasil penelitian yang dilakukan oleh Nugrahaningtyas, dkk (2014) mengenai dukungan sosial keluarga dengan kecemasan menghadapi dunia kerja pada siswa kelas XII SMK Muhammadiyah 1 Wedi Klaten menunjukkan terdapat hubungan negatif yang sangat signifikan antara regulasi diri dengan dengan kecemasan menghadapi dunia kerja, dengan nilai korelasi sebesar = -0,433 dengan nilai p = 0,000 (p<0,01). Hasil tersebut menunjukkan bahwa
hipotesis yang diajukan peneliti terbukti, yaitu terdapat hubungan negatif yang sangat signifikan antara dukungan sosial orang tua dengan kecemasan menghadapi dunia kerja.
Kerlinger (2004) menyebutkan bahwa terdapat hal-hal yang menjadi penyebab atau tidak terbuktinya hipotesis antara lain teori dan hipotesis yang salah, metodologi yang tidak tepat, pengukuran yang tidak adekuat atau pengukuran yang ceroboh dan analisis yang salah. Widhiarso (2012) juga menyebutkan bahwa penyebab hasil uji hipotesis tidak signifikan adalah kurang kuatnya teori yang digunakan, peneliti kurang cermat dalam menjabarkan konsep teoritik menjadi butir pernyataan, ukuran sampel yang terlalu kecil, dan teori belum banyak diuji dalam penelitian. Hasil penelitian yang tidak signifikan didalam penelitian ini sesuai dengan pendapat Widhiarso (2012) bahwa yang pertama penelitian ini memiliki ukuran sampel yang kecil sehingga mempengaruhi hasil signifikansi dan minimnya pengujian dukungan sosial dengan kecemasan menghadapi dunia kerja pada tingkat Universitas pada penelitian-penelitian yang sebelumnya. Alasan lain yang mungkin terjadi, mahasiswa pada tingkat akhir sudah mulai sibuk dengan urusan skripsi sehingga jarang berkumpul dengan teman-temannya dan kebanyakan mahasiswa jarang pulang kerumah orang tua. Hal tersebut membuat mahasiswa kurang mendapatkan dukungan sosial dari orang tua maupun temannya. Padahal Rosenfeld, dkk (2000) berpendapat dukungan sosial didapatkan dari teman sebaya, saudara maupun keluarganya.
Berdasarkan hasil deskripsi data skala kecemasan menghadapi dunia kerja menunjukkan bahwa kecemasan menghadapi dunia kerja pada mahasiswa tingkat akhir di Universitas Islam Sultan Agung tergolong rendah. Hal ini dapat diketahui dari rentang skor subjek yang berada dalam kategori rendah dengan jumlah 65 mahasiswa dari 128 mahasiswa subjek penelitian. Hasil data tersebut menunjukkan adanya perbedaan dengan hasil studi pendahuluan yang dilakukan pada beberapa mahasiswa Fakultas Psikologi, Fakultas Hukum, dan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Sultan Agung. Studi pendahuluan yang dilakukan yaitu observasi dan wawancara pada beberapa mahasiswa menunjukkan hasil
bahwa terdapat gejala kecemasan dalam menghadapi dunia kerja pada mahasiswa tingkat akhir. Perbedaan ini dikarenakan terlalu sedikitnya subjek dalam studi pendahuluan sehingga kurang representatif. Studi pendahulaun hanya dilakukan di Fakultas Psikologi, Fakultas Hukum, dan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Sultan Agung sedangkan penelitian berada di Fakultas Teknologi Industri.
Adapun besarnya pengaruh regulasi diri dan dukungan sosial pada penelian ini memberikan sumbangan efektif sebesar 32% yang dapat dilihat dari koefisien determinasi (r2) sebesar 0,320. Keseluruhan sumbangan efektif berasal dari regulasi diri. Hal ini menunjukkan masih ada 68% dari faktor lain yang mempengaruhi kecemasan menghadapi dunia kerja yang tidak diungkap dalam penelitian ini misalnya faktor jenis kelamin, status sosial ekonomi, karakteristik kepribadian seperti efikasi diri, kepercayaan diri, konsep diri, harga diri, kematangan karir, dan kontrol diri.