BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
Pendidikan pada masyarakat pesisir tentu menarik untuk diteliti. Masayarakat pesisir yang kesehariannya selalu berada di laut sebab pekerjaan yang digeluti mengharuskan mereka untuk setiap waktu harus melaut. Kebutuhan ekonomi tentu mendesak mereka untuk terus bekerja tanpa mengenal panas terik matarai, hujan, angin dan gelombang harus dihadapi demi mencari nafkah keluarga. menarik untuk kita gali mengenai pendidikan masyarakat pesisir, sejauh mana mereka merespon pendidikan di tengan kesibukannya dalam bekerja sebagai nelayan. Yang akan difokuskan ialah melihat sejauh mana perhatian masyarakat pesisir akan pendidikan anak-anaknya.
Dari hasil penelitian yang di lakukan bahwa pada dasarnya masyarakat memahami apa makna pendidikan itu. Terlihat dari jawaban-jawaban mereka tentang makna pendidikan itu. Merekanpun menjelaskan secara sederhana urgensi pendidikan, kemudian mereka pun melihat
bahwa pendidikan memangb benar-benar sebuh keharusan, keputusan mereka yang tak bersekolah mereka anggap sebagai sebuah kesalahan.
Kemudian hasil wawancara dengan beberapa informan tentang pentingnya pendidikan anak, masyarakat dengan yakin mengatakan bahwa pendidikan amatlah penting bagi anak-anak, sebab pendidikan merupakan jembatan yang bisa mereka lalui untuk menggapai cita-cita anak-anaknya.
Dari sektor infrastruktur sekolah berdasarkan hasil observasi peneliti dan wawancara terlihat bahwa fasilitas sekolah di desa Latawe sudah cukup baik. Selain tersedianya beberapa jenjang sekolah juga fasilitas sudah cukup mendukung, kemudian jarak tempuh yang juga agak dekat dari pusat pemukiman sehingga anak-anak bisa mengakses sekolah dengan berjalan kaki.
Melihat infrastruktur yang sudah cukup memadai dan pandangan masyarakat yang baik tentang pendidikan ternyata berbanding terbalik dengan tingkat partisipasinya. Masih banyak anak-anak yang tidak bersekolah seolah menjawab bahwa masyarakat hanya memandang baik pendidikan dari segi argumentasi tapi untuk memanifestasikan peryataannya masih jauh dari kata terealisasi. Hal ini tentu disebabkan oleh beberapa faktor misalnya faktor ekonomi, motivasi anak, lingkungan dan juga di sebabkan karena masih banyaknya masyarakat yang memegang budaya konservastif yang tak peduli dengan pendidikan.
1. Respon Masyarakat Pesisir terhadap Pendidikan di Desa Latawe Secara sederhana respon merupakan reaksi atas stimulus yang telah di berikan oleh organism atau orang lain. Peneliti akan melihat
sejauh mana masyarakat merepon pendidikan itu yang telah di sediakan dan di fasilitasi oleh pemerintah. Tentu menarik untuk melihat lebih jauh tentang pendidikan masyarakat pesisir karena yang telah diketahui bahwa masyarakat pesisir selalu di cirikan dengan masyarakat yang termargilkan, masyarakat yang tidak sepenuhnya mendapatkan perhatian pemerintah.
Fenomena tentang pendidikan pada daerah pesisir memang selalu menarik untuk di gali lebih dalam, masyarakat pesisir yang memang selalu di gambarkan jauh dari yang namanya pendidikan, terlebih lagi masyarakat pesisir yang memang wilayahnya terpencil dan jauh dan sulit untuk di akses. Menjadi nelayan tentu sudah pekerjaan paling mnjanjikan di wilayah pesisir, apalagi kebutuhan ikan yang begitu besar dari daerah-daerah lain tentu menjadi keuntungan bagi masyarakat untuk memasarkan penghasilan ke daerah-daerah lain. Para nelayan selalu melibatkan anak-anaknya untuk membantu dalam pekerjaannya sebagai nelayan. Menjadi seorang anak pesisir dengan peran ganda tentu selalu kita temukan di daerah pesisir. Di satu sisi mereka harus bersekolah sembari di sore harinya membantu orang tua melaut.
a. Pandangan Masyarakat Pesisir tentang Pendidikan
Ditengah kesibukan dalam bekerja sebagai nelayan, tentu para orang tua juga harus dan wajib untuk memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Karena tentu motivasi orang tua dalam menfasilitasi anaknya sangat di butuhkan sang anak sebagai
jembatan mereka menggapai mimpi. Selain sebagai jalan untuk mereka meraih cita-citanya tentu dengan pendidikan tinggi juga dapat meningkatkan status sosial orang tua dalam masyarakat. Seperti di dalam kajian sosiologi tentang stratifikasi sosial bahwa salah satu jalan untuk meningkatkan status sosial adalah dengan pendidikan.
Masyarakat pada umumnya terbagi menjadi dua pandangan dalam melihat pendidikan. Pertama bahwa ada sebagian masyarakat yang memang kurang aktif dalam dunia pendidikan terlihat dari rendahnya minat untuk menfasilitasi anak-anaknya bersekolah, kurang memotivasi anak-anak dan juga tidak adanya tindakan-tindakan tegas kepada sang anak saat anak berusaha untuk berhenti sekolah.
Kemudian terdapat pula golongan masyarakat yang memang sadar akan urgensi pendidikan. Selalu berusaha bagaimana caranya agar anak-anaknya bisa bersekolah. Selain agar anak-anak bisa hidup dengan baik dan memilki pekerjaan salah satu alasan lain tentu untuk meningkatkan status sosial. Menjadi sebuah kebanggan juga seorang anak pesisir yang hidup dengan perekonomian sederhana namun bisa membiayai anaknya sampai ke perguruan tinggi.
Fakta lain yang terlihatat bahwa banyak anak-anak pesisir yang berhenti sekolah memang di karenakan tidak adanya minat untuk bersekolah. Lebih senang ikut orang tua melaut ketimbang
harus kesekolah. Akhinya saat seoranga anak meraasa sudah bisa mencari uang seperti orang tuanya, maka keluar sekolah adalah tindakan yang selalu mereka pilih.
Perlu adanya edukasi khusus untuk masyarakat pesisir misalnya sosialisasi pendidikan di daerah pesisir agar para orang tua lebih memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Karena salah satu jalan untuk keluar dari kemiskinan dan ketertinggalan adalah dengan berpendidikan. Peningkatan sumber daya manusia masyarakat pesisir menjadi perlu agar kelak tak banyak lagi anak-anak pesisir yang mengikuti jejak orang tuanya yang mengais rezeki di lautan, gelombang, angin, hujan, panas dan dingin harus dilalui. b. Pentingnya Pendidikan bagi Anak-anak Pesisir
Kualitas sumber daya manusia menjadi problem bagi masyarakat Indonesia, tak terkecuali masyarakat pesisir yang terkadang jauh dari pusat keramaian kota, jauh dari perhatian pemerintah. Upaya pemberdayaan masyarakat pesisir menjadi perlu dilakukan agar kelak generasi-generasi/anak-anak pesisir tidak merasakan apa yang orang-orang tua mereka rasakan. Kualitas pendidikan dan kesehatan haruslah selalu diperhatikan, sebab dua unsur pokok ini terkadang menjadi problem bagi masyarakat pesisir.
Secara umum dilihat dari argumentasi mereka bahwa pada dasarnya pendidikan memang perlu bagi generasi-generasi muda. Ditengah kehidupan yang problemya semakin-hari semkin kompleks tentu menjadi amat penting pendidikan dewasa ini, selain
sebagai jalan untuk meraih masa depan yang cerah, juga sebagai antisipasi agar anak-anak kelak tidak bekerja seperti mereka.
Berdasarkan hasil penelitian bahwa meyarakat pesisir memiliki ekspektasi yang besar terhadap pendidikan. Harapan yang besar di ungkapkan masyarakat pesisir tentu membuat kita merasa bahwa ternyata masyarakat peduli pada pendidikan. Tetapi dibalik harapan itu ada saja hal-hal yang membuat harapan itu tak terealisasikan. Banyak masyarakat yang memang berkeinginan untuk menyekolahkan anak-anaknya, namun akibat faktor ekonomi dan faktor lingkungan dan juga motivasi anak-anak untuk menuntut ilmu yang rendah tentu membuat harapan-harapan mereka hanya menjadi sebatas angan-angan belaka.
c. Keadaan Infrastruktur Sekolah di Desa Latawe
Infrastruktur merupakan salah satu penunjang bagi bergeraknya pendidikan itu. Infrastruktur haruslah selalu baik agar tercipta suasana belajar yang baik dan kondusif. Selain itu infrastruktur juga dapat membangkitkan motivasi anak-anak untuk lebih giat dalam menuntut ilmu. Di saat fasilitas pendidikan kurang baik, tentu minat bersekolahpun akan menurun, misalnya sekolah-sekolah dengan bangunan usang, jaraknya yang jauh dari pusat pemukiman, fasilitas belajar mengajar yang rusak tentu akan mempengaruhi minat anak bersekolah.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan informan dapat disimpulkan bahwa infrastruktur sekolah di Desa
Latawe tergolong baik, ini di karenakan dari berbagai jenjang sekolah sudah tersedia di desa mulai dari TK, Sekolah Dasar sampai SMP. Tentu sebuah kesyukuran di daerah pesisir seperti desa Latawe bisa merasakan fasilitas sekolah yang lumayan baik walau untuk melanjutkan ke jenjang sekolah menengah harus menggunakan kendaraan, karena berjarah 8-15 Km. ditambah lagi adanya sekolah baru di kecamatan SMK Pelayaran yang baru beberapa tahun dibuka. Sekolah ini tentu relevan dengan background masyarakat pesisir yang tentu laut adalah dunianya. 2. Partisipasi Masyarakat Pesisir terhadap Pendidikan
Partisipasi adalah proses aktif dan inisiatif yang muncul dari masyarakat serta akan terwujud sebagai suatu kegiatan nyata apabila terpenuhi oleh 3 faktor pendukung yaitu ; adanya kemauan, kemampuan, dan kesempatan untuk berpartisipasi ( Slamet : 1992 ). Kemauan dan kemampuan tentu lahir dari pribadi atau masyarakat sendiri sedangkan kesempatan berpartisipasi dating dari pihak yang memberikan peluang.
Demikian halnya dengan partisipasi masyarakat dalam dunia pendidikan, untuk berpartisipasi tentu dibutuhkan niat dari masyarakat apakah masyarakat pesisir bersedia atau berniat untuk mendukung anaknya bersekolah atau malah sebaliknya. Kemudian hal lain adalah sebesar apapun niat orang tua untuk menyekolahkan anaknya apabila ia tidak mampu dari segi ekonomi ( tidak memiliki kemampuan ekionomi ) tentu ini juga tidak bisa terealisasi. Komponen-kompenen
lain ialah peluang untuk bersekolah, apakah sekolah itu tersedia atau tidak di lingkungan masyarakat.
Berdasarkan hasil penelitian bahwa pada dasarnya masyarakat pesisir terbagi atas dua pandangan dalam melihat pendidikan, yang pertama bahwa masih banyak masyarakat pesisir yang masih apatis akan masa depan anak-anaknya. Masih banyak masyarakat yang tidak bisa memberikan dukungan kepada anak-anaknya entah itu dukungan moral atau motivasi maupun dukungan ekonomi. Kemudian golongan yang kedua ada juga tipikal masyarakat yang memang sangat memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Tidak ingin anak-anaknya mengikuti jejaknya menjadi seorang nelayan sehingga orang tua berusaha untuk bagaimana caranya agar anak-anaknya bisa bersekolah dengan baik agar bisa menggapai cita-citanya dan ilmunya bisa berguna bagi anak pribadi, orang tuanya dan masyarakat banyak.
Banyaknya anak-anak pesisir berhenti sekolah di sebebkan oleh beberapa faktor ;
a. Faktor Ekonomi
Rendahnya sumber daya manusia masyarakat pesisir membuat mereka tak bebas dalam memilih pekerjaan. Sehingga masyarakat pesisir mayoritas bekerja sebagai seorang nelayan, jenis pekerjaan yang tentu saja tidak membutuhkan background akademik. Menjadi seorang nelayan tidak lantas menjadi mereka hidup sejahtera dan menjanjikan ekonominya. Apalagi jikalau dalam satu keluarga memiliki banyak anak tentu beban akan semakinberat.
Kebutuhan sehari-hari akan tinggi akibat banyak tanggungan. Jadi bukan sesuatu yang mustahil jika banyak anak berhenti sekolah selain karena akan membantu orang tuanya juga karena masalah ekonomi yang membuat mereka tidak bisa melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.
b. Faktor Motivasi
Motivasi anak tentu juga menjadi amat perlu, untuk apa orang tua bercita-cita menyekolahkan anaknya jika anak-anak tidak memiliki keinginan untuk bersekolah. Disini perlunya dukungan orang tua dalam memberikan dorongan motivasi kepada anak-anak saat mulai jenuh dan merasa kesulitan di sekolah. Orang tua harus pandai-pandai dalam memberikan masukan nasehat agar anak-anak bisa yakin bahwa jalan pendidikan akan merubah masa depannya kelak. Hal seperti ini yang kurang dimiliki masyarakat pesisir. c. Faktor Lingkungan
Salah satu hal yang menjadi faktor penyebab banyaknya anak-anak pesisir yang berhenti sekolah, lingkungan yang membuat anak-anak menjadikan mereka bekerja keras. Di usia mereka yang semestinya fokus pada pendidikan malah berbanding terbalik yang di alami anak-anak pesisir. Dilingkungannya mereka di ajarkan untuk bekerja dan mencari uang dengan mudah, terlibat langsung dalam mencari nafkah menjadikan mereka sosok yang pekerja keras. Hal ini membuat pandangan mereka bahwa di usia seperti inipun merek sudah bisa menghasilkan uang, jadi bagi mereka tak
perlu sekolah tinggi-tinggi untuk bisa mendapat penghasilan. Kebiasaan dalam melaut membuat mereka seolah menjadi sosok yang dewasa yang cenderung pekerja keras dan mandiri, pada akhirnya merekapun disibukkan dengan aktifitas melaut yang lebih menjanjikan menurut mereka ketimbang harus bersekolah.
d. Budaya Konservatif
Yang menjadi problem masyarakat pesisir ialah rendahnya tingkat pendidikannya, hal ini sedikit-demi sedikit berpengaruh terhadap pandangan masyarakat terhadap urgennya pendidikan itu. Masyarakat seolah tidak begitu merasakan manisnya pendidikan sehingga cenderung apatis terhadap pendidikan anak-anaknya. Seperti di dalam teori stimulus-respon-organisme bahwa jika seseorang merespon baik sesuatu, maka ia akan cenderung mendekati sesuatu itu. Tentu dikalangan akademisi, pejabat, pengusa dll berbeda pandangnya dalam merespon pendidikan, seorang pejabat tentu berusaha agar semua anak-anaknya bersekolah agar bisa mengikuti jejaknya. Berbeda halnya dengan masyarakat pesisir, jika mereka tak merasakan nikmatnya buah dari berpendidikan itu tentu mereka akan acuh tak acuh akan pendidikan anak-anaknya.
Secara substantive bahwa masyarakat pesisir secara argumentasi mereka cenderung merespon baik pendidikan itu, dimana masyarakat seolah berfikir bahwa pendidikan merupakan sesautu yang harus di dekatkan kepada anak-anak. Karena pendidikan merupakan jembatan
untuk anak-anak bisa meraih apa yang mereka cita-citakan. Dari beberapa informan yang diwawancarai hampir semua informan mengatakan bahwa pendidikan itu perlu bagi anak-anak, karena di tengah kompleksnya permasalahan hidup pendidikan seolah menjadi wadah untuk anak-anak bisa meningkatkan taraf ekonomi mereka.
Namun semangat masyarakat untuk menfasilitasi anak-anaknya bersekolah seolah berbanding terbalik dengan tingkat partisipasinya. Terlihat dari adanya ketimpangan antara jumlah anggota keluarga yang bersekolah dengan yang tidak bersekolah amatlah jauh. Masih banyak saja masyarakat yang hanya menfasilitasi 1-2 orang anak-anaknya untuk bersekolah dan anak-anak lain hanya bisa bekrja bagi laki-laki.
Didalam teori Pertukaran Mikro dan Makro Peter M Blau di katakana bahwa suatu usaha bergerak dari tingkat mikro ke tingka makro. Pada tingka makro membedakan penghargaan intrinsik, di mana pertukaran dengan penghargaan intriksik tunduk pada hambatan – hambatan normative tertentu yang menghalangi terjadinya tawar menawar mengenai biaya dan imbalan dan yang mengurangi perhatian terhadap apa yang seharusnya di bayar oleh individu.
Artinya bahwa di dalam teori pertukaran ini di katakana suatu usaha kecil bergerak ke usaha yang lebih besar. Jika dikaitkan dengan masyarakat pesisir bahwa masyarakat semestinya melakukan pertukaran social dari yang awal seharusnya membantu membiayai anak-anaknya untuk bersekolah apabila mampu secara ekonomi, dan tentu proses ini akan memberikan imbalan kelak dengan imbal;an yang lebih besar.
Misalnya anak-anak yang bersekolah kelak nantinya akan memiliki masa depan yang cerah, membantu perekonomian orang tua, mengangkat derajat orang tuanya bahkan bisa mewujudkan cita-cita orang tuanya misalnya seorang anak yang mewujudkan harapa orang tuanya kebitullah, memenuhi setiap kebutuhan orang tua dll.
Bukan hanya orang tua yang dituntut untuk mewujudkan harapan ini tentu peran seorang anak juga di butuhkan di mana anak-anak harus berusaha untuk tetap melanjutkan pendidikan serumit apapun itu. Cita-cita harus tetap di tanamkan dalam diri agar apa yang menajdi harapan orang tua dapat terwujud. Rela berkoraban demi pendidikan dan kelak seorang anak yang bersunggung-sungguh akan memetik buah dari apa yang mereka tanam, seperti ungkapan Man Jadda Wa Jada artinya barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan meendapatkan hasil.
Didalam teori struktur dan fungsional Talcot Parson, di dalam (Ritzer & Goodman, 2003:121) dengan sistim AGIL memandang sistim dalam masyarakat sebagai satu kesatuan, dan semua sistim harus berfungsi sesuai dengan fungsinya agar sistim sosial dapat berlangsung sesuai dengan tujuannya.
Dalam relasi antara pendidikan dan masyarakat tentu terdapat tiga komponen pokok yang saling berkaitan dan saling membutuhkan antara sekolah, siswa dan orang tua. Tiga komponen ini harus menjaga hubungan dengan baik agar ketiga komponen ini bisa sejalan dalam mencapai tujuan. Sekolah harus menjadi tempat yang nyaman bagi siswa, tempat siswa belajar mendidik siswa agar bisa mengembangkan potensi yang ia miliki.
Bentuk dukungan yang diberikan sekolah ialah selalu menjaga kualitas dan mutu pendidikan itu, mulai dari infrastruktur, kegiatan pembelajaran dan juga iklim sekolah yang baik hingga membuat siswa nyaman berada disekolah. Di sisi lain peran orang tua ialah menjadi pembimbing dan pendidik bagi siswa di rumah, memotivasi siswa untuk lebih giat dalam menuntut ilmu dan menjaga hubungan yang baik dengan pihak sekolah ( melalui komite ). Saat hubungan ini dapat berjalan baik tentu akan berdampak positif bagi semua, siswa akan mendapatkan haknya yakni pendidikan dan orang tua akan merasa bangga saat anak-anaknya bisa mendapatkan pendidikan yang baik di sekolah.
Namun apabila satu dari ketiga komponen di atas tidak berjalan sebagaimana peranannya tentu akan terjadi kekacauan, misalnya seorang anak menjadi malas ke sekolah akibat kurang lengkapnya fasilitas sekolah, atau karena proses belajar mengajar yang tidak menarik / membosankan hingga membuat siswa malas untuk kesekolah. Disisi lain juga orang tua harus menjadi motivator untuk siswa, mendukung setiap kegiatan siswa yang berkaitan dengan pendidikan, menfasilitasi anak dari segi materi dan selalu mengontrol kegiatan-kegiatan siswa di rumah agar terhindar dari hal negative yang merugikan siswa dan orang tua.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN