• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

D. Pembahasan

Hasil analisis yang telah dilakukan dengan menggunakan teknik regresi

menggunakan PROCESS dari Hayes (2013) menunjukkan bahwa terdapat hubungan

antara kecanduan internet dan kesejahteraan psikologis yang dimediasi oleh keterampilan

sosial. Hal ini ditunjukkan oleh nilai F = 11,24 dengan p < 0,01 . Koefisien determinasi

R2 kecanduan internet dan keterampilan sosial memberikan sumbangan sebanyak 13,23%

terhadap kesejahteraan psikologis. Sementara 86,77% lainnya merupakan sumbangan

dari variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Melihat hasil analisis

Kappa-squared terdapat 11,2% efek tidak langsung dari kecanduan internet dan kesejahteraan

psikologis yang menghasilkan estimasi efek b = -0,143 dengan bootstrap standar eror dan

interval kepercayaan 95% berkisar dari -0,254 sampai -0,072.

Dari hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa adanya hubungan antara

kecanduan internet dan kesejahteraan psikologis yang dimediasi oleh keterampilan sosial.

Melihat nilai b yang negatif dapat dikatakan hubungan tersebut merupakan hubungan

negatif jadi hipotesis pertama peneliti diterima, bahwa terdapat hubungan antara

kecanduan internet dan kesejahteraan psikologis yang dimediasi oleh keterampilan sosial.

Dengan kata lain pengaruh negatif kecanduan internet dan kesejahteraan psikologis akan

ini antara lain: munculnya konflik dengan keluarga dan teman dekat, muncul hambatan

serta permasalahan pada aktivitas sosial dan pekerjaan, munculnya depresi, kecemasan,

atau gejala perilaku obsesif, serta muncul gangguan fisiologis misalkan saja insomnia,

sakit kepala, dan mata kering (Ha, et al., 2006). Selain itu juga menyebabkan

permasalahan pada prestasi akademik, kepribadian yang buruk, serta memraktekkan gaya

hidup yang tidak sehat (Zainudin, Din, & Othman, 2013). Kecanduan internet

dipengaruhi oleh rendahnya dukungan positif orang tua dan tingginya kontrol negatif

orang tua, serta rendahnya kapasitas kontrol diri individu (Li, Dang, Zhang, Zhang, &

Guo, 2014).

Kecanduan internet dapat menurunkan kesejahteraan psikologis dikarenakan orang

yang mengalami kecanduan internet memiliki penghargaan diri yang rendah, kepuasan

hidup yang rendah, dan kecenderungan mengalami depresi (Wang, et al., 2013).

Penurunan kesejahteraan psikologis ini akan berdampak pada kehidupan yang bermakna

dan bertujuan pada mahasiswa yang berada pada periode remaja awal dan akhir (Raihana,

2012). Selain itu kecanduan internet akan menyebabkan dimensi dalam kesejahteraan

psikologis akan terganggu. Terganggunya dimensi tersebut dikarenakan enam dimensi

kesejahteraan psikologis bekerja saling berkaitan dalam mengembangan fungsi manusia

adaptif dan pengalaman kehidupan yang positif (Springer & Hauser, 2006) apabila salah

satu dimensi tersebut terganggu maka dimensi lain juga akan terganggu. Dimensi

kesejahteraan psikologis yang dimaksud disini adalah penerimaan diri, hubungan positif

dengan orang lain, kemandirian, penguasaan lingkungan, tujuan hidup dan

pengembangan pribadi (Ryff, 1989). Dalam penelitian ini jenis kelamin tidak

mempengaruhi tingkat kecanduan internet. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian dari

70

Zoccalli (2014) bahwa tidak ada perbedaan jenis kelamin pada remaja yang mengalami

kecanduan internet.

Penurunan kesejahteraan psikologis ini akan diperkuat oleh rendahnya

keterampilan sosial. Dapat dikatakan bahwa kesejahteraan psikologis dan keterampilan

sosial memliki hubungan yang positif karena setiap dimensi dalam kesejahteraan

psikologis memiliki hubungan yang kuat dengan keterampilan sosial (Nair, Ravindranath,

& Thomas, 2013). Hal ini sesuai dengan penelitian dari Chris Segrin, Donnerstein,

Taylor, dan Domschke (2007) bahwa dengan kesejahteraan psikologis dan keterampilan

sosial yang bagus terlihat akan menghadapi pengalaman hidupnya dengan tingkat stres

yang rendah. Apabila remaja dengan kesejahteraan psikologis dan keterampilan sosial

yang rendah maka akan menghadapi pengalaman hidupnya dengan tingkat stres yang

tinggi.

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa terdapat 86,77% faktor lain yang

mempengaruhi kesejahteraan psikologis selain kecanduan internet dan keterampilan

sosial. Faktor lain yang mempengaruhi kesejahteraan psikologis ini seperti usia, gender,

pendidikan, dan kepribadian. Pada penelitian ini jenis kelamin tidak mempengaruhi

tingkat kesejahteraan psikologis.

Berdasarkan hasil hipotesis kedua pada penelitian ini yaitu terdapat hubungan

negatif antara kecanduan internet dan kesejahteraan psikologis, semakin tinggi tingkat

kecanduan internet remaja maka semakin rendah tingkat kesejahteraan psikologis remaja.

Hal ini dilihat dari koefisien regresi variabel kecanduan internet sebesar -0.1774 dengan

signifikansi < 0,05. Hasil tersebut sesuai dengan penelitian dari Çardak (2013) dan Wang,

et al., (2013) bahwa kecanduan internet dapat menurunkan kesejahteraan psikologis.

Penelitian dari Muusses, Finkenauer, Kerkhof, dan Billedo (2014) mengungkapkan

psikologis. Rendahnya kesejahteraan psikologis akan berpengaruh pada kesehatan. Selain

itu remaja yang terlibat berselancar di internet / Web dalam tingkat tinggi, memiliki

tingkat kesejahteraan psikologis lebih rendah (Mannell, Zuzanek, & Aronson, 2005).

Sebagian besar remaja yang menggunakan banyak waktunya untuk berinternet, media

sosial serta menggunakan internet untuk komunikasi sehari-hari akan memiliki tingkat

kecanduan internet yang tinggi (Simsek & Sali, 2014).

Koefisien determinasi R2 antara kecanduan internet dan kesejahteraan psikologis

menunjukkan bahwa variabel kecanduan internet memberikan sumbangan sebesar 20%

terhadap variabel kesejahteraan psikologis. Sementara 80% lainnya merupakan

sumbangan dari faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Seperti yang telah

disebutkan diatas faktor lain yang mempengaruhi kesejahteraan psikologis seperti usia,

gender, pendidikan, dan kepribadian.

Selanjutnya berdasarkan analisis hipotesis ketiga pada penelitian ini yaitu terdapat

hubungan negatif antara kecanduan internet dengan keterampilan sosial, semakin tinggi

tingkat kecanduan internet remaja maka semakin rendah tingkat keterampilan sosial

remaja. Hal ini dilihat dari koefisien regresi variabel kecanduan internet sebesar -0,3419

dengan signifikansi < 0,01. Hasil tersebut sesuai dengan penelitian dari Esen dan

Gündoğdu, (2010) serta Majorsy, Kinasih, Andrian, dan Lisa (2013) bahwa remaja yang mengalami kecanduan internet memiliki keterampilan sosial yang rendah. Meningkatnya

kecanduan internet ini menyebabkan berkurangnya keterampilan sosial sehingga

menimbulkan perilaku antisosial, komunikasi yang tidak efektif dengan teman, dan

meningkatkan agresi serta supremasi (Rezaei, Esmaili, & Khademi, 2014). Selain itu

penelitian lain mengungkapkan bahwa seseorang yang mengalami kecanduan internet

maka kemampuan sosialnya akan terganggu sehingga dapat menyebabkan kecemasan

72

pengguna internet yang sangat sering menggunakan internet cenderung kesepian,

memiliki nilai-nilai menyimpang, dan sampai batas tertentu untuk tidak memiliki

keterampilan sosial dan emosional yang merupakan karakterstik dari inteligensi

emosional.

Koefisien determinasi R2 kecanduan internet memberikan sumbangan sebesar

10,38% terhadap variabel keterampilan sosial. Sementara 89,62% lainnya merupakan

sumbangan variabel atau faktor lainnya yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Faktor

lain yang mempengaruhi keterampilan sosial ini seperti keluarga, pendidikan,

lingkungan, dan hubungan teman sebaya. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa

jenis kelamin mempengaruhi tingkat keterampilan sosial, perempuan memiliki

keterampilan sosial lebih baik daripada laki-laki.

Selanjutnya analisis deskriptif kesejahteraan psikologis pada remaja mempunyai

mean hipotetik (µ: 90 ) lebih rendah dari mean empirik (x: 107,17). Hal ini menunjukkan bahwa kesejahteraan psikologis subjek penelitian cenderung tinggi. Subjek yang

memperoleh umpan balik yang positif ketika menggunakan sosial media berbasis internet

maka dapat mencapai tingkat kesejahteraan psikologis yang tinggi sekaligus dapat

meningkatkan harga diri (Young & Abreu, 2011). Selain itu efikasi diri yang tinggi dan

kecerdasan emosi dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis. Tingkat kesejahteraan

psikologis yang tinggi memiliki peran preventif pada pengembangan masalah kesehatan

mental dari waktu ke waktu (Springer, Pudrovska, & Hauser, 2011). Hasil penelitian dari

Rachmayani (2014) mengungkapkan bahwa remaja pengguna internet dengan ciri

kepribadian extraversion dan openness to experience cenderung memiliki tingkat

kesejahteraan psikologis yang tinggi. Sedangkan remaja yang memiliki kepribadian

juga mengungkapkan bahwa kesejahteraan psikologis yang tinggi cenderung dimiliki

oleh remaja dengan literasi digital yang rendah.

Pada penelitian ini ditemukan pula bahwa tingkat keterampilan sosial pada remaja

subjek penelitian cenderung tinggi. Hal ini disimpulan dari dan mean hipotetik (µ: 72 )

keterampilan sosial lebih rendah dari mean empirik (x : 82,76). Remaja yang memiliki

tingkat keterampilan sosial yang tinggi akan pandai bergaul, sehingga tidak cemas apabila

harus berhubungan dengan orang lain dan memiliki konsep diri yang lebih tinggi selain

itu menjadi lebih berani, tidak ragu-ragu, dan tidak malas dalam berhubungan dengan

orang lain. (Ramdhani, 1994). Remaja dengan keterampilan sosial yang tinggi mampu

mengomunikasikan pesan nonverbal, mampu mengontrol serta meregulasi emosinya,

melibatkan orang lain dalam interaksi sosial, mampu memahami komunikasi verbal yang

disampaikan orang lain, dan mampu menempatkan diri dalam lingkungan sosial (Riggio,

1986).

Hasil analisis pada variabel kecanduan internet pada remaja dapat dilihat

menunjukkan bahwa mean hipotetik lebih tinggi (µ: 60 ) daripada mean empirik (x:

44,93). Hal ini menunjukkan bahwa secara empirik kecanduan internet subjek cenderung

rendah. Rendahnya tingkat kecanduan internet ini dapat dikatakan bahwa remaja

merupakan rata-rata pengguna online, dapat sering berselancar di Web dengan waktu

agak terlalu lama, tetapi memiliki kontrol atas penggunaan internet (Young, 1995).

Kontrol diri yang rendah berhubungan dengan internet adiksi (Özdemir, Kuzucua, & Ak,

2014), jadi dapat dikatakan bahwa seseorang yang memiliki kontrol diri yang tinggi tidak

akan mengalami kecanduan internet.

Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa remaja tidak mengalami kecanduan

internet ketika memilki keterampilan sosial dan kesejahteraan psikologis yang bagus.

74

psikologis agar remaja tidak mengalami kecanduan internet. Peningkatan keterampilan

sosial dan kesejahteraan psikologis dapat dilakukan melalui pelatihan. Pelatihan

keterampilan sosial diperlukan untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan

psikologis, salah satunya dengan cara peningkatan hubungan sosial (Greene & Burleson,

2003). Pelatihan keterampilan sosial ini dapat terdiri dari beberapa alternatif yakni

modelling, penguatan positif, pembinaan dan praktek, serta pemecahan masalah (Michelson, Sugai, Wood, & Kazdin, 1983). Metode ini efektif untuk meningkatkan

keterampilan sosial, harga diri, dan menurunkan tingkat kecemasan selama tiga bulan (Ramdhani, 1994). Modelling dilakukan untuk memberikan contoh langsung dari

keterampilan sosial. Biasanya, terapis berfungsi sebagai model yang menggambarkan perilaku yang tepat yang perlu dilakukan. Selain itu model ini juga dapat dilakukan oleh pemeran atau aktor/aktris, melalui video, atau gabungan dari model yang sesungguhnya dan model video. Ramdhani (1994) menggunakan rekaman kaset video yang berisi adegan keterampilan sosial. Adegan disusun berpedoman pada interaksi yang dilakukan dalam kehidupan sosial sehari-hari.

Penguatan positif mengacu pada proses dimana respon meningkatkan frekuensi

karena diikuti oleh reward atau perilaku yang sesuai. Ketika keterampilan sosial

meningkat diikuti konsekuensi penguatan positif. Konsekuensi ini meliputi perhatian atau

penerimaan sosial, pemberian token atau poin yang dapat ditukarkan dengan reward

lainnya, hak yang spesial atau aktivitas, dan lain sebagainya. Dua program penting dari

penguatan positif adalah dorongan dan pembentukan. Dorongan disini berasal dari dari

stimulus antesenden yang membangkitkan perilaku meliputi instruksi, coaching, dan

modeling merupakan isyarat untuk melakukan apa yang dilihat sebelum perilaku

terbentuk. Pembentukan merupakan penguatan perilaku yang mampu dikembangkan.

tepat, yang dilakukan dengan cara memberi penguatan terhadap peserta yang

menunjukkan kinerja yang tepat, apabila peserta berhasil melakukan peran yang

dilatihkan secara in-vivo, maupun apabila peserta mengemukakan target perilaku yang

ingin dilakukan (Michelson, Sugai, Wood, & Kazdin, 1983).

Pembinaan dan praktek. Pembinaan melibatkan petunjuk yang jelas, memraktekkan

perilaku, dan umpan balik sebagai dorongan yang telah melakukan respon sesuai serta

untuk meningkatkan hasil. Praktek terdiri dari melakukan perilaku yang diinginkan

seperti bermain peran (Michelson, Sugai, Wood, & Kazdin, 1983). Bermain peran

dilakukan dengan cara mendengarkan petunjuk yang disajikan model atau melalui video.

Setelah itu dilanjutkan dengan diskusi mengenai aktivitas yang dimodelkan. Latihan

verbalisasi sangat diperlukan di sini melalui diskusi mengenai kejadian-kejadian yang

sering membuat peserta berada dalam kesulitan. Bagi pelatih, latihan ini dapat dilakukan

dengan cara menyajikan situasi/model, dan menanyakan pada klien mengenai apa yang

akan dilakukannya apabila berada dalam situasi seperti itu. Setelah diskusi selesai, latihan

bermain peran dapat dilakukan (Ramdhani, 1994).

Pelatihan pemecahan masalah. Pelatihan pemecahan masalah berfokus pada

pengembangan pada beberapa langkah pemecahan masalah untuk membantu

memecahkan masalah dengan berbagai alternatif pada situasi interpersonal,

mempertimangkan saran dan diterapkan dengan tindakan sosial, serta untuk

mempertimbangkan konsekuensi perilakunya (Michelson, Sugai, Wood, & Kazdin,

1983).

Michelson, Sugai, Wood, dan Kazdin (1983) mengugkapkan bahwa terdapat tiga

cara untuk menilai keterampilan sosial remaja yaitu dengan observasi perilaku, informasi

dari orang lain, dan pengukuran. Observasi perilaku meliputi pengamatan yang

76

dalam tes bermain peran. Informasi dari orang lain seperti guru, teman sebaya, dan

keluarga yang berada pada lingkungan sosial diperlukan untuk mengevaluasi,

mendeskripsikan, atau menilai kemampuan sosial. Pengukuran seperti kuisioner, skala,

dan paper-and-pencil tes bergantung pada rating, evaluasi, atau penjelasan dari dirinya

sendiri tentang perilaku sosial.

Pada perkembangan zaman teknologi informasi sekarang ini tidak dapat melarang

penggunaan internet dalam kehidupan sehari-hari walaupun dapat mengakibatkan

kecanduan. Melarang penggunaan internet merupakan bentuk intervensi tradisional yang

tidak praktis sehingga tidak mungkin untuk dilakukan. Fokus pengobatan sebaiknya

terdiri dari moderasi dan mengontrol penggunan (Young, 1990).

Beberapa teknik untuk mengobati kecanduan internet menurut Young (1990)

adalah: (a) berlatih menggunakan waktu berlawanan dalam penggunaan internet, tujuan

dari latihan ini seseorang yang memiliki gangguan pola rutinitas dapat beradaptasi ulang

dengan pola waktu yang baru untuk menghentikan kebiasaan online. (b) menggunakan

pemberhenti eksternal, teknik sederhana ini dapat menggunakan alarm jadi alarm diatur

waktunya untuk online dan tidak online. (c) mengatur tujuan, pengguna internet mengatur

penggunaan internetnya sebagai contoh ingin menggunakan internet selama 20 jam,

pengguna mungkin berencana untuk menggunakan internet dari pukul 8 sampai 10 malam

setiap hari kerja, dan pukul 1 sampai 6 pada hari Sabtu dan Minggu. (d) menjauhkan diri

dari aplikasi tertentu, (e) menggunakan kartu pengingat, digunakan sebagai pengingat

dari apa yang mereka ingin menghindari dan apa yang ingin mereka lakukan untuk diri

mereka sendiri ketika mereka mencapai pilihan dan ketika mereka akan tergoda untuk

menggunakan internet daripada melakukan sesuatu yang lebih produktif atau yang lebih

sehat, kemudian kartu ini dilihat berapa kali dalam seminggu menuliskan dalam kartu

manfaat yang diperoleh dengan mengendalikan penggunaannya sebagai alat untuk

meningkatkan motivasi mereka pada saat-saat keputusan menarik diri dari aktivitas

online. (f) mengembangkan kemampuan pribadi, cara yang dilakukan dengan menginstruksikan untuk membuat daftar setiap kegiatan atau perilaku yang telah

diabaikan atau dibatasi ketika kebiasaan online muncul. (g) memasukkan kelompok

pendukung yang bertujuan untuk membantu mengurangi kegiatan online, dan (h) terapi

keluarga, diperlukan untuk pecandu internet yang sudah menikah dan keluarga yang

hubungan telah terganggu dipengaruhi oleh kecanduan internet. Intervensi dengan

keluarga harus fokus pada beberapa bidang utama: (1) mendidik keluarga tentang

bagaimana kecanduan internet bisa terjadi, (2) mengurangi menyalahkan perilaku

kecanduan internet, (3) meningkatkan komunikasi terbuka tentang masalah pramorbid

dalam keluarga yang mendorong pecandu untuk mencari pemenuhan kebutuhan

emosional psikologis secara online, dan (4) mendorong keluarga untuk membantu

pemulihan seperti menemukan hobi baru, mengambil liburan panjang, atau

mendengarkan ungkapan perasaan. Dukungan yang kuat dari keluarga dapat memulihkan

orang dari kecanduan internet (Young, 1990).

Tiga intervensi pertama yang dipaparkan merupakan teknik manajemen waktu yang

sederhana. Namun, intervensi lainnya diperlukan bila manajemen waktu saja tidak akan

memperbaiki gangguan kecanduan internet (Young, 1990).

Dokumen terkait