• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.2. Pembahasan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dengan menggunakan data sekunder yang didapat dari data rekam medis penderita rinosinusitis kronis, diperoleh data mengenai profil penderita yang dijabarkan sebagai berikut.

Angka kejadian rinosinusitis kronis di RSUP Haji Adam Malik Medan pada tahun 2013 adalah sebanyak 120 orang. Multazar (2011) dalam penelitiannya mendapatkan penderita rinosinusitis yang datang ke RSUP Haji Adam Malik

Medan tahun 2008 sebesar 296 penderita. Menurut Soetjipto (2006) dalam Multazar (2011), data dari Divisi Rinologi Departemen THT RSCM Januari- Agustus 2005 menyebutkan jumlah pasien rinologi pada kurun waktu tersebut adalah 435 pasien, 69%nya (300) pasien adalah rinosinusitis kronis.

Menurut tabel 5.1. dijelaskan bahwa penderita rinosinusitis kronis yang paling banyak berada pada rentang usia 51-60 tahun yaitu sebanyak 26 orang (21,7%).

Menurut Fokkens (2012) dalam penelitiannya menyatakan bahwa prevalensi rinosinusitis kronis meningkat seiring pertambahan usia dengan rata- rata 6,6% pada kelompok usia 50-59 tahun, sementara itu setelah usia 60 tahun, prevalensi menurun menjadi 4,7%. Desrosiers (2011) dalam penelitiannya menyatakan angka kejadian rinosinusitis kronis meningkat pada usia ≥12 tahun dan bertambah banyak dengan pertambahan usia. Halawi (2013) menyebutkan bahwa rinosinusitis kronis biasa terjadi pada usia 18-64 tahun.

Dari data di atas diketahui bahwa kejadian rinosinusitis kronis lebih banyak mengenai kelompok usia dewasa. Hal ini mungkin dikarenakan usia dewasa lebih aktif beraktivitas di luar rumah sehingga lebih sering terpapar alergen atau polutan, juga seiring dengan perubahan gaya hidup dan pola makan (Multazar, 2011).

Menurut tabel 5.2. dijelaskan bahwa penyakit rinosinusitis kronis lebih sering diderita oleh perempuan dengan jumlah 67 orang (55,8%), berbanding dengan laki-laki 53 orang (44,2%). Hasil ini sejalan dengan penelitian-penelitian sebelumnya, bahwa perempuan lebih banyak mengalami rinosinusitis kronis daripada laki-laki.

Penelitian yang dilakukan Multazar (2011) menyatakan proporsi penderita rinosinusitis kronis lebih banyak dijumpai pada jenis kelamin perempuan sebanyak 57,09%, sedangkan laki-laki 42,9%. Chen (2009) dalam penelitiannya di Kanada, menyebutkan bahwa prevalensi rinosinusitis kronis tertinggi pada wanita yaitu sebesar 5,7%, sementara laki-laki sebesar 3,4%.

Lebih banyaknya ditemukan penderita rinosinusitis kronis yang berjenis kelamin perempuan kemungkinan karena perempuan lebih khawatir terhadap

kesehatannya, sehingga perempuan akan lebih cepat memeriksakan dirinya ke dokter. Sementara itu menurut Fokkens (2012), terdapat efek hormonal dari estrogen, progesteron, dan placental growth hormon pada mukosa nasal dan pembuluh darah yang mungkin berpengaruh terhadap terjadinya rinosinusitis kronis.

Menurut tabel 5.3. pekerjaan yang paling banyak terdapat pada penderita rinosinusitis kronis yaitu pekerjaan sebagai pegawai negeri yang berjumlah 29 orang (24,2%). Multazar (2011) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa proporsi penderita rinosinusitis kronis pada PNS sebesar 21,3%. Menurut Pujiwati (2006) dalam Multazar (2011), yang melakukan penelitian terhadap 80 orang pekerja, didapatkan yang menderita rinosinusitis kronis akibat kerja sebanyak 35 orang (43,8%).

Tingginya angka kejadian rinosinusitis kronis yang ditemukan pada pegawai negeri mungkin disebabkan oleh seringnya terpapar oleh alergen atau polutan yang berpotensi menyebabkan rinosinusitis kronis. Apabila terus-menerus terpapar oleh lingkungan yang berpolusi, udara dingin dan kering serta kebiasaan merokok yang lama akan menyebabkan perubahan mukosa dan merusak silia (Mangunkusumo, 2011).

Menurut tabel 5.4. keluhan paling berat sehingga menyebabkan penderita rinosinusitis kronis memeriksakan diri ke dokter adalah keluhan sumbatan hidung sebanyak sebanyak 89 orang (74,2%).

Menurut Multazar (2011), pada penelitiannya terdapat proporsi keluhan hidung tersumbat sebanyak 78,6%. Survey di Korea menyebutkan dari keseluruhan prevalensi rinosinusitis kronis, ditemukan adanya sumbatan hidung yaitu sebesar 6,95%. Gejala yang paling sering terdapat pada penderita rinosinusitis kronis adalah sumbatan hidung (Bachert, 2014).

Hidung tersumbat terjadi karena adanya proses inflamasi yang disebabkan adanya infeksi. Bila terjadi infeksi organ-organ yang membentuk KOM (kompleks ostiomeatal), maka akan mengalami edema, sehingga mukosa yang berhadapan akan saling menempel. Hal ini menyebabkan silia tidak bergerak dan

juga menyebabkan tersumbatnya ostium sehingga terjadi penghambatan drainase sinus. (Mangunkusumo, 2011).

Menurut tabel 5.5. sinus yang paling sering terkena pada penderita rinosinusitis kronis adalah sinus maksilaris yaitu sebanyak 67 orang (55,8%). Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Bubun (2009), yang menyatakan bahwa lokasi sinus yang terbanyak ditemukan yaitu di sinus maksila kanan maupun kiri, diikuti secara berturut-turut sinus etmoid anterior dan posterior, sinus frontalis, dan paling sedikit sinus sfenoid.

Sinus maksila merupakan sinus yang paling sering terinfeksi, karena merupakan sinus paranasal yang terbesar dan letak ostiumnya lebih tinggi dari dasar sinus, sehingga drainase hanya tergantung dari gerak silia, dan juga drainase harus melalui infundibulum yang sempit. Infundibulum adalah bagian dari sinus etmoid anterior, jika terjadi pembengkakan akibat radang atau alergi pada daerah ini dapat menghalangi drainase sinus maksila dan selanjutnya menyebabkan sinusitis (Soetjipto, 2011).

Menurut tabel 5.6. dijelaskan bahwa dari penelitian ini didapatkan alergi menjadi faktor yang banyak dialami penderita rinosinusitis kronis yaitu sebanyak 35 orang (29,2%). Hasil ini sesuai dengan penelitian Green (2014) yang menyatakan prevalensi alergi sebanyak 84% pada penderita rinosinusitis kronis. Beberapa survey menemukan prevalensi atopi hingga mencapai 60% pada pasien rinosinusitis kronis (Leo, 2007).

Alergi juga dapat merupakan predisposisi infeksi karena terjadi edema mukosa dan hipersekresi. Mukosa sinus yang membengkak dapat menyumbat ostium sinus dan mengganggu drainase, menyebabkan infeksi lebih lanjut, yang selanjutnya menghancurkan epitel permukaan, dan siklus seterusnya berulang (Hilger, 2013).

Menurut tabel 5.7. terapi yang paling sering diberikan adalah terapi medikamentosa sebanyak 95 orang (79,2%), sesuai dengan penelitian Multazar (2011), proporsi penatalaksanaan pada penderita rinosinusitis kronis yang terbanyak adalah dengan medikamentosa sebanyak 77,36%.

Pada dasarnya yang ingin dicapai melalui terapi medikamentosa adalah kembalinya fungsi drainase ostium sinus dengan mengembalikan kondisi normal rongga hidung (Selvianti, 2008). Jika pada pemeriksaan ditemukan adanya faktor predisposisi seperti deviasi septum, kelainan atau variasi anatomi kompleks ostiomeatal (KOM), hipertrofi adenoid pada anak, polip, kista, jamur, gigi penyebab sinusitis, dianjurkan untuk melakukan penatalaksanaan yang sesuai dengan kelainan yang ditemukan. Jika tidak ditemukan faktor predisposisi, diduga kelainan adalah bakterial yang memerlukan pemberian antibiotik dan pengobatan medik lainnya (Soetjipto, 2011).

Dokumen terkait