BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
IV.2. Pembahasan
Undang-undang No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran secara implisit menyebutkan bahwa sengketa medik adalah sengketa yang terjadi karena kepentingan pasien dirugikan oleh tindakan dokter atau dokter gigi yang menjalankan praktik kedokteran. Pasal 66 Ayat (1) UU Praktik Kedokteran yang berbunyi: Setiap orang yang mengetahui atau kepentingan dirugikan atas tindakan dokter atau dokter gigi dalam menjalankan praktik kedokteran dapat mengadukan secara tertulis kepada Ketua majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia.
Dengan demikian sengketa medik merupakan sengketa yang terjadi antara pengguna pelayanan medik dengan pelaku pelayanan medik dalam hal ini pasien dengan dokter.
Biasanya pasien menuntut dokter yang menanganinya dikarenakan pihak pasien menganggap bahwa dokter melakukan tindakan tidak sesuai prosedur dan menyebabkan kerugian bagi pihak pasien, baik kerugian materi atau malah memperparah kondisi pasien.
Selama ini pihak Polda belum pernah menerima kasus sengketa medik. Namun dibeberapa media massa telah memberitakan adanya sengketa medik yang terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kasus-kasus sengketa medik yang diberitakan di media massa antara lain:
1. Kompasiana, www.kompasiana.com diunduh pada tanggal 29 July 2011,pukul 22.09 WIB terdapat dugaan malpraktek di salah satu Rumah Sakit di Yogyakarta.
Mr x yang didiagnosis apendicitis oleh dokter Y dioperasi hingga 3 kali karena terjadi perbocoran di lambung. Data pada surat yang dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan Provinsi DIY. Yogyakarta-Balai Penyelenggara Jamkesos tertulis: Diagnose awal : Post op. Lap. Peritonitis umum perforasi gaster multiple perforasi ileum. Terjadinya perforasi pada gastrum dan ileum adalah setelah terjadinya pelaksanaan operasi. Indikasi terjadinya malpraktek dapat dikuatkan bila ditunjang dengan data pasien pada saat masa observasi sebelum tindakan operasi pertama. Seharusnya tindakan operasi pada penderita appendicitis bukanlah merupakan operasi besar. Angka kesembuhannyapun cukup tinggi. Pada keadaan normal,
pemulihan pasien dapat terjadi setelah dua sampai tiga hari.
2. Suara Merdeka online, www.suaramerdeka.com diunduh pada hari jumat tanggal 23 April 2004 terdapat dugaan malpraktek di salah satu Rumah Sakit di Yogyakarta.
3.
Terdapat kasus yang diduga tindakan malpraktek oleh salah satu Dokter yang bekerja di Salah satu Rumah Sakit di Yogyakarta terhadap Mrs.
Y, orang tua dari Mrs. Y yang berprofesi sebagai advokat menggugat RS tersebut. Gugatan tersebut dilakukan karena ia menganggap ada kesalahan diagnosis sehingga apendiks anaknya diambil(dioperasi).
Pada salah satu situs online, www.vivanews.com diunduh pada tanggal 11 Oktober 2011,diunduh pukul 11.39 WIB terdapat dugaan malpraktek di salah satu Rumah Sakit di Yogyakarta. Dugaan malpraktek oleh salah satu Dokter yang bekerja di RS. X terhadap pasien yang bernama Mrs. Y (30), dia merasakan sakit pada perut bagian bawah selama berbulan-bulan mungkin berasal dari alat kontrasepsi IUD yang ia pakai. Alat kontrasepsi berupa IUD dipasang oleh salah satu dokter dari RS. X. Sebelum dipasangi alat kontrasepsi, Mrs. Y mengatakan dirinya melakukan cek
kehamilan sebanyak dua kali dengan hasil negatif.
Rasa sakitnya muncul satu minggu setelah pemasangan IUD,setelah di test Mrs. Y positif hamil padahal ia menggunakan alat kontrasepsi IUD. Pada pemeriksaan USG ditemukan masih ada kontrasepsi di dalam rahimnya. Letak IUD tersebut tidak berada di dalam uterus.Mrs. Y sempat meminta bantuan kepada dr. X yang juga sebagai dokter kandungan dan mempunyai sebuah rumah sakit bersalin di Sleman tetapi beliau tidak bisa membantu dikarenakan yang memasang IUD bukanlah dirinya.
Dari hasil wawancara di Polda, belum pernah ada kasus sengketa medik yang dilaporkan oleh pasien atau keluarga pasien ke Polda. Apabila ada kasus yang dilaporkan ke Polda, prosedur yang akan diterapkan sama seperti kasus yang lain sesuai ketentuan yang berlaku.
Polda akan melakukan penyelidikan dan penyidikan apabila ada laporan dari masyarakat. Polda akan memeriksa dan meminta keterangan saksi-saksi ataupun pihak tersangka. Hal ini sesuai dengan tugas dan wewenangnya dalam UU No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia Pasal 16. Pada
pasal 16 disebutkan bahwa tugas dan wewenang kepolisian adalah:
a. Melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan dan penyitaan;
b. Membawa dan menghadapkan orang kepada penyidik dalam rangka penyidikan;
c. Memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi.
Pada prinsipnya siapapun yang merasa dirugikan oleh tindakan orang lain termasuk dokter atau rumah sakit maka pasien tersebut dapat melapor ke kepolisian setempat. Hal ini sesuai dengan UU No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia Pasal 15 poin a yang berisi Kepolisian menerima laporan dan/atau pengaduan dari siapapun yang terkena masalah.
Setelah proses pelaporan dan/atau pengaduan maka Kepolisian akan melakukan penyelidikan dan penyidikan terkait kasus yang disengketakan atau yang dipermasalahkan. Kepolisian melakukan penyelidikan dan penyidikan dengan cara memanggil tersangka dan saksi yang melihat kejadian untuk dimintai keterangan, selain itu Kepolisian juga akan mengumpulkan semua barang
bukti yang menyangkut kasus yang disengketakan. Dalam hal ini sesuai dengan pasal 16 butir c,f UU No. 2 Tahun 2002 yang berisi:
a. Membawa dan menghadapkan orang kepada penyidik dalam rangka penyidikan;
b. Memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi.
Kasus sengketa medik dapat dihentikan jika bukti-bukti yang didapatkan dari tersangka, saksi dan barang-barang bukti yang ditemukan tidak cukup bukti. Pada saat ini Kepolisianlah yang menentukan apakah suatu kasus itu akan diberhentikan atau akan dilanjutkan.
Pada pasal 16 butir h UU No. 2 Tahun 2002 yang menyebutkan bahwa kepolisian dapat mengadakan penghentian kasus. Hal ini sesuai dengan hasil yang didapatkan pada tabel 1.
Apabila pada hasil penyidikan didapatkan bukti yang cukup maka proses hukum akan berlanjut tetapi jika pada hasil penyelidikkan tidak didapatkan bukti yang cukup kuat maka kasus dapat dihentikan. Dalam proses penyidikan tindak pidana termasuk kasus sengketa medik diperlukan adanya alat bukti. Alat bukti ini digunakan
untuk mempermudah menyelesaikan suatu masalah tindak pidana seperti sengketa medik, sehingga nantinya kita dapat menentukan mana pihak yang dianggap bersalah dan mana yang dianggap benar. Alat bukti tersebut antara lain keterangan saksi, keterangan tersangka, keterangan ahli. Keterangan ahli disini adalah memanggil saksi ahli sesuai dengan kasus yang terjadi, jadi tidak harus semua saksi ahli akan dipanggil.
Pada kasus sengketa medik pembuktiannya didasarkan terpenuhi atau tidaknya semua unsur pidana karena tergantung dari jenis kriminal malpraktek yang didakwakan. Dalam pasal 184 ayat 1 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) disebutkan bahwa alat-alat bukti yang digunakan untuk membuktikan perbuatan pidana yaitu keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk dan keterangan terdakwa
Setelah memanggil saksi ahli, pihak Polda bisa juga memberitahukan kejaksaan jika pihak Polda yakin kasus yang terjadi tersebut merupakan tindak pidana.
Jika seorang penyidik dari Polda sudah merasa cukup dalam mengidentifikasi kasus maka akan dilakukannya pemberkasan berkas perkara, setelah dibuat surat akan dikirim ke pihak Kejaksaan Negeri. Dalam waktu 14 hari
jaksa akan meneliti berkas yang diberikan oleh penyidik Polda dan jika belum lengkap maka jaksa akan mengembalikan kembali berkasnya ke Polda. Penyidik polda akan melengkapi petunjuk sehingga berkas menjadi lengkap. Setelah lengkap penyidik Polda akan menyerahkan tersangka berikut barang bukti sesuai daftar barang bukti kepada kejaksaan negeri dan selanjutnya perkara sepenuhnya dipegang oleh pihak jaksa.
Berdasarkan tabel 1 No. 3 e dapat diketahui bahwa dalam penanganan kasus sengketa medik di Kepolisian khususnya Polda yang menyangkut profesi dokter, penyedia dapat meminta bantuan organisasi profesi yaitu Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Berdasarkan tabel 2 No.
1 bahwa IDI ikut serta dalam penyelesaian kasus sengketa medik jika diminta oleh Polda. Hal ini karena dalam memahami masalah hubungan dokter dan pasien tidak bisa hanya dilihat dari adanya cedera ataupun meninggalnya pasien. Namun harus dilihat dari segi disiplin profesinya, keilmuannya. Penilaian tersebut membutuhkan bantuan IDI sehingga penanganan suatu kasus sengketa medik dapat di nilai segi materiilnya yaitu
ada tidaknya kesalahan dalam memberikan pemeriksaan medik pada pasien, Polda maupun pihak IDI.
Dalam hal ini IDI dapat membantu dalam hal memilih seorang dokter untuk dijadikan saksi ahli. Hal ini sesuai dengan Surat Edaran Menteri Kesehatan tahun 2007 tentang penegakan hukum di bidang kesehatan,yang isinya adalah:
a. Setiap dugaan pelanggaran hukum yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang diajukan oleh masyarakat kiranya dapat disampaikan terlebih dahulu kepada Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia untuk penetapan ada atau tidaknya kesalahan dalam penerapan disiplin kedokteran;
b. Proses penegakkan hukum yang dilakukan oleh pihak yang berwenang di bidang kesehatan dilaksakan melalui pendekatan yang selalu menjunjung tinggi harkat dan martabat profesi tenaga kesehatan, asas praduga tidak bersalah, hubungan dokter dan tenaga kesehatan dengan pasien sebagai hubungan kepercayaan harus sama-sama dilindungi kepentingan hukumnya, tidak meresahkan tenaga kesehatan dan tidak mengganggu pemberian pelayanan kesehatan kepada masyarakat;
c. Dalam penanganan dugaan pelanggaran hukum kesehatan yang berhubungan dengan tenaga kesehatan agar berkoordinasi dengan pihak penyidik setempat dengan mengikutsertakan organisasi profesi. Bila terdapat keraguan dalam menyelidiki pelanggaran hukum kesehatan yang disebabkan oleh hasil pengobatan yang tidak sesuai dengan yang diharapkan berkaitan dengan penyelenggaraan praktik kedokteran, sedapat mungkin dihindari penyebutan nama/identitas dokter, rumah sakit atau sarana kesehatan oleh pers;
d. Dalam penanganan dugaan pelanggaran hukum kesehatan yang berhubungan dengan tenaga kesehatan agar berkoordinasi dengan pihak penyidik setempat dengan mengikutsertakan organisasi profesi terkait. Dalam rangka kepentingan penyelidikan dan penyidikan oleh pihak POLRI. Dinas Kesehatan terlebih dahulu memanfaatkan dan memberdayakan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) bidang kesehatan yang ada sesuai dengan kewenanganya masing-masing, khususnya dalam hal-hal yang berkaitan dengan STR, SIP, Papan Nama Praktik.
e. Untuk membantu dalam proses penegakan hukum mulai dari penyelidikan dan penyidikan sampai dengan
penuntutan di Pengadilan diperlukan pihak aparat penegak hukum, pihak organisasi profesi dibidang kesehatan dapat dimintakan bantuannya sebagai saksi ahli sesuai bidang dan atau pengalamannya masing-masing;
f. Dalam penegakan hukum tetap harus diperhatikan ketentuan tentang Praktik Kedokteran dan kaedah-kaedah etika kedokteran yang lazim berlaku seperti Ketentuan Wajib Simpan rahasia kedokteran dan Pedoman Organisasi Kedokteran sedunia.
Surat Edaran Menteri Kesehatan No 680 tahun 2007 merupakan pelaksanaan dari Pasal 29 UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan yang berisi: Dalam hal tenaga kesehatan diduga melakukan kelalaian dalam menjalankan profesinya, kelalaian tersebut harus diselesaikan terlebih dahulu melalui mediasi.
IDI akan memilih seorang dokter untuk dijadikan saksi ahli. Dalam pasal 1-4 Pada Anggaran Dasar Ikatan Dokter Indonesia (AD/ART IDI) disebutkan bahwa yang termasuk anggota IDI antara lain a. Anggota muda adalah sanjana kedokteran, warga negara Indonesia yang benijazah dan diakui oleh Pemenintah Republik Indonesia. b. Anggota biasa adalah dokter warga negara
Indonesia yang berijazah dan diakui oleh Pemerintah Republik Indonesia. c. Anggota luar biasa adalah dokter warga negara asing yang bekerja di Indonesia. d.
Anggota kehormatan adalah mereka yang telah berjasa dalam lapangan kesehatan dan atau kedokteran. Pada kutipan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa, IDI akan memilih seorang yang akan dijadikan saksi ahli. Tentu kriteria saksi yang dipilih oleh IDI harus sesuai dengan isi dari pasal 1-4 pada Anggaran Dasar Ikatan Dokter Indonesia (AD/ART IDI).
IDI merupakan organisasi profesi yang dilibatkan dalam penyelesaian kasus sengketa medik di Polda. Jika ada laporan ke Polda tentang kasus sengketa medik, pihak Polda akan menindak lanjuti, jika masalah yang ditemukan terkait medis yang belum dikuasainya dia akan menghubungi dan berkoordinasi dengan IDI. Nantinya IDI akan menyarankan dokter siapa yang cocok dijadikan saksi ahli untuk kasus tersebut , IDI yang akan menentukan saksi ahli yang akan dipilih untuk mendampingi dokter yang terkena kasus ini. Jumlah saksi ahli yang akan dipanggil bisa satu ataupun lebih tergantung kasusnya, kadang ada yang memakai dua saksi ahli. Saksi ahli yang kedua berfungsi mengungkapkan
second opinion. Saksi ahli yang dipilih adalah saksi ahli yang sesuai kompetensi kasus misalnya kasus yang terjadi berhubungan dengan bedah maka pihak IDI akan memilih dokter bedah sebagai saksi ahlinya sesuai dengan kompetensi ilmunya. Dokter yang bersengketa mempunyai hak yang sama dengan dokter yang lain didalam keanggotaan IDI. Salah satunya mempunyai hak meminta bantuan IDI jika menghadapi sengketa medik. IDI memiliki 3 badan kelengkapan yang disebutkan dalam AD ART IDI pada pasal 13 yaitu Badan Pembinaan dan Pembelaan Anggota (BP2A), Badan Pengembangan Pendidikan Keprofesian Berkelanjutan (BPPKB), Badan Pembinaan Penelitian dan Pengembangan (BP3).
Kasus sengketa medik sendiri dibagi menjadi 3 pelanggaran, apakah itu pelanggaran etik, disiplin atau pidana. Jika dokter hanya melanggar etik tetapi dianggap melakukan tindakan malpraktek maka IDI pasti turun tangan dan berusaha membantu dokter yang terkena kasus tesebut. Jika dokter hanya melakukan pelanggaran etik saja maka sudah ada badan yang khusus melakukan diagnosis terhadap kasus tersebut yaitu Majelis Kehormatan Etika Kedokteran(MKEK).
41 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Dari penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut:
V.1. Kesimpulan
1. Pada penelitian ini tidak didapatkan kasus sengketa medik di Polda DIY. Prosedur didalam menyelesaikan sengketa medik sebagian besar akan diberlakukan sama seperti kasus-kasus lainnya, kecuali adanya permintaan bantuan ke organisasi profesi untuk membantu memperjelas perkara yang disengketakan.
2. IDI sebagai organisasi profesi dokter berperan dalam pemilihan saksi ahli dan IDI akan membantu anggotanya yang dianggap bersalah oleh penyidik apabila menurut IDI dokter tersebut sudah melaksanakan prosedur sesuai dengan tugas profesinya.
Saran untuk penelitian selanjutnya:
V.2. Saran
1. Perlu untuk mendalami bagaimana prosedur penanganan kasus sengketa medik di Kepolisian secara lebih rinci sehingga masyarakat dapat memahami.
2. Perlu adanya penelitian lebih lanjut tentang prosedur penyelesaian sengketa medik di lembaga kepolisian selain Polda DIY, misalnya di Polresta.
DAFTAR PUSTAKA
Afandi, D., 2009, Mediasi : Alternatif Penyelesaian Sengketa Medis, Majalah Kedokteran Indonesia, volume : 59, No. 5, Mei 2009.
Dahlan, S, 2000, Ilmu Kedokteran Forensik. Pedoman Bagi Dokter dan Penegak Hukum, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang.
Guwandi, 1991, Etika dan Hukum Kedokteran, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
Gunawan, 1992, Memahami Etika Kedokteran, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Hanafiah,J., dan Amir, A., 1999, Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan, ECG Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta.
Sampurna, B., 2005, Etika Kedokteran dan Penanganan Pelanggaran Etika di Indonesia, available from : URL: http://www.freewebs.com/etika kedokteranindonesia.
Sampurna, B., 2007, Pemberitaan Malpraktik Kedokteran,
available from : URL:
http://www.freewebs.com/malpraktik
Siddiki. Mediasi di pengadilan dan asas peradilan sederhana, cepat dan biaya ringan.[cited 2009 Mei 16]. Available from : www.badilag.net.
Albert.Penerapan mediasi di pengadilan pada dugaan malpraktik. [cited 2009 Mei 16],Available from : http://albertdeprane.blogspot.com/2009/04/penerapa n-mediasi dipengadilan-pada.html
Sampurna, B.2005. Etika Kedokteran Indonesia dan Penanganan Pelanggaran Etika di Indonesia. Diunduh dari http://www.freewebs.com
19.00 Media massa :
Kompasiana, Dugaan Malpraktik di Rumah Sakit X, Yogyakarta diunduh dari www.kompasiana.com pada tanggal 14-02-2012 pada pukul 21.30.
Suara Merdeka, RS X Digugat Bekas Konsultan Hukumnya, diunduh dari www.suaramerdeka.com pada tanggal 14-02-2012 pada pukul 22.00.
Vivanews, Hamil 7 Bulan, Ada Alat Spiral di Rahim, diunduh dari www.vivanews.com pada tanggal 14-02-2012 pada pukul 22.15
Peraturan Perundang-undangan :
Undang-Undang No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran
Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia
Undang-Undang Rumah Sakit No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah sakit.
Surat Edaran No 680/MENKES/E/VI/2007 tentang Penegakan Hukum di Bidang Kesehatan
LAMPIRAN DAFTAR PERTANYAAN NO VARIABEL PERTANYAAN 1 Jumlah kasus
sengketa medik
• Berapa banyak kasus yang dilaporkan ke lembaga penyelesaian sengketa ?
• Berapa kasus sengketa medik yang dilaporkan ?
2 Prosedur pengaduan
• Bagaimana prosedur pengaduan disampaikan?
3 Waktu pengaduan • Kapan pengaduan disampaikan ke lembaga penyelesaian sengketa?
4 Macam kasus sengketa medik
• Apa saja macam kasus ?
5 Pihak yang
bersengketa
• Siapa saja yang bersengketa ?
• Profesi apa saja yang terlibat dalam sengketa medik?
6 Prosedur penyelesaian
• Bagaimanakah cara lembaga penyelesaian sengketa menyelesaian sengketa medik ?
• Apakah semua kasus yang dilaporkan, diselesaian semua ?
• Adakah kasus yang sudah dilaporkan, namun dicabut kembali ?
• Apakah para pihak yang bersengketa boleh diwakilkan?
• Apakah para pihak boleh menghadirkan saksi ?
• Apakah organisasi profesi
dilibatkan ?
7 Hasil keputusan • Bagaimana keputusan dari kasus-kasus yang diselesaikannya?
• Bagaimana keputusan tersebut dilaksanakan ?
• Apakah semua keputusan dari lembaga penyelesaian sengketa bisa diterima pihak-pihak yang bersengketa?
• Apakah lembaga penyelesaian sengketa bisa menjatuhkan sanksi ?
• Bagaimana bila ada pihak yang tidak menerima keputusan lembaga penyelesaian sengketa?
8 Jumlah kasus
yang bisa diselesaikan
• Berapa banyak kasus yang bisa diselesaikan ?
• Berapa banyak kasus yang tidak bisa diselesaikan ?
9 Lama
penyelesaian
• Berapa lama kasus bisa diselesaikan
? 10 Kendala yang
dihadapi
• Apa saja yang menjadi kendala didalam menyelesaian sengketa medik?
• Bagaimana cara mengatasi kendala – kendalanya?