• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.2 Pembahasan

Pembelajaran Pkn dengan menggunakan metode mendongeng di kelas II SD Pangudi Luhur Sedayu yang telah dilaksanakan selama dua siklus dengan empat kali pertemuan sudah berjalan sesuai rencana. Proses penggunaan metode mendongeng pada siklus I terbilang lancar namun terdapat beberapa kendala, dikatakan lancar karena seluruh siswa menyimak dongeng dengan baik dan antusias, mulai dari peneliti memperkenalkan tokoh, kegiatan tokoh yang patut dicontoh dan kejadian-kejadian lucu dalam dongeng semua dapat diikuti siswa dengan baik. Penggunaan metode ini juga sangat disukai siswa karena dalam penyampaiannya menggunakan media yang menarik, bervariasi dan mudah ditangkap oleh siswa. Penggunaan gambar, kostum dan cerita yang lucu serta tokoh dalam dongeng yang menggemaskan membuat siswa betah memperhatikan peneliti saat mendongeng. Beberapa kendala juga bermunculan seperti disaat peneliti meminta bantuan dalam dongeng siswa cenderung berebut serta posisi tempat duduk yang membuat beberapa siswa iri.

Hasil dari penelitian untuk minat belajar ditentukan dari dua data yang diperoleh yakni melalui observasi dan melalui kuesioner. Data minat belajar siswa dikumpulkan dari dua instrumen yaitu lembar observasi dan lembar kuesioner. Lembar observasi secara khusus dibagi menjadi dua bagian yakni aspek afektif siswa dan aspek psikomotorik siswa, sedangkan lembar kuesioner dibagikan kepada siswa untuk diisi oleh siswa setelah pelajaran berakhir. Nilai rata-rata pada

kondisi awal untuk minat belajar siswa yang didapat yaitu 54,8 dengan kategori rendah.

Dalam pelaksanaan siklus I siswa nampak antusias terhadap metode yang digunakan, mulai dari proses pembelajaran hingga media yang digunakan membuat siswa merasa senang, kemudian pada akhir siklus peneliti menghitung nilai rata-rata minat belajar siklus I yakni 79,4 dengan kategori tinggi. Kondisi ini meningkat dari kondisi awal, di mana siswa belajar tanpa metode mendongeng namun kondisi pada siklus I dengan hasil 79,4 belum mencapai kriteria keberhasilan siklus I yang diharapkan yakni 80. Pada siklus ini pula rata-rata nilai minat belajar semua individu mengalami kenaikan namun tidak jauh dari rata-rata kondisi awal, ini dikarenakan siswa baru pertama kali belajar dengan metode mendongeng oleh karenanya penelitian akan dilanjutkan pada siklus II.

Proses pembelajaran pada siklus II ini telah dipersiapkan dengan lebih baik oleh peneliti. Suasana belajar yang diciptakan semakin menarik siswa dengan melakukan berbagai kegiatan dalam mendongeng seperti permainan, lokasi pembelajaran juga berbeda, di mana peneliti membawa siswa menuju lokasi outdoor di halaman Gereja di dekat sungai agar sesuai dengan tema dongeng yang dibawakan. Peneliti juga lebih banyak melibatkan siswa dalam proses mendongeng, misalnya dengan membuat sayembara nama untuk tokoh dongeng, media kertas sengaja dibuat kosong dengan tujuan agar siswa yang menggambarnya serta dengan melibatkan siswa dalam aktivitas tokoh dalam dongeng seperti menyapu, membersihkan halaman dan mengambil sampah.

Respon siswa terhadap proses pembelajaran kali ini lebih baik dari siklus sebelumnya.

Suasana pembelajaran yang dibuat menarik dan berbeda dengan keseharian siswa seperti ini membuat siswa nampak lebih antusias sehingga perolehan rata-rata minat belajar siklus II meningkat menjadi 88,2 dengan kategori tinggi. Siklus kedua ini juga berhasil memenuhi target akhir siklus II yakni 85. Keberhasilan tersebut tidak lepas dari pemecahan kendala yang peneliti temukan pada siklus I serta perbaikan yang dilakukan meliputi bahan ajar dalam dongeng, media yang lebih komunikatif, tempat dalam mendongeng serta penguasaan teknik mendongeng yang lebih di pelajari oleh peneliti. Peneliti juga menggunakan media yang bervariasi sehingga siswa tidak bosan dan tidak menduga hal baru yang akan digunakan sehingga unsur surprise membuat siswa merasa senang pada setiap pertemuan. Selain itu refleksi yang peneliti buat pada akhir siklus I untuk memperbaiki proses mendongeng agar dapat berjalan dengan baik dan berdasarkan data yang telah dijelaskan maka metode mendongeng dapat meningkatkan minat belajar siswa kelas II pada mata pelajaran PKn.

Tabel 4.11 Rangkuman Minat Belajar Siswa pada Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II Berdasarkan Observasi dan Kuesioner

No.

Sebelum tindakan Sesudah tindakan

Kondisi awal Siklus I Siklus I

Rata-rata minat Ket. Rata-rata minat Ket. Rata-rata minat Ket.

1 35 Rendah 70 Tinggi 57,5 Cukup

2 57,5 Cukup 70 Tinggi 77,5 Tinggi

3 45 Rendah 50 Cukup 80 Tinggi

4 52,5 Rendah 62,5 Cukup 87,5 Tinggi

5 45 Rendah 97,5 Tinggi 97,5 Tinggi

6 50 Rendah 75 Tinggi 90 Tinggi

7 60 Cukup 82,5 Tinggi 97,5 Tinggi

8 45 Rendah 77,5 Tinggi 82,5 Tinggi

9 67,5 Tinggi 92,5 Tinggi 97,5 Tinggi

10 60 Cukup 77,5 Tinggi 92,5 Tinggi

11 62,5 Cukup 85 Tinggi 95 Tinggi

12 57,5 Cukup 67,5 Tinggi 95 Tinggi 13 67,5 Tinggi 75 Tinggi 82,5 Tinggi

14 50 Rendah 72,5 Tinggi 82,5 Tinggi

15 65 Cukup 72,5 Tinggi 77,5 Tinggi

16 72,5 Tinggi 85 Tinggi 97,5 Tinggi

17 45 Rendah 80 Tinggi 97,5 Tinggi

18 55 Rendah 72,5 Tinggi 75 Tinggi

19 52,5 Rendah 67,5 Tinggi 92,5 Tinggi

20 60 Cukup 95 Tinggi 97,5 Tinggi

21 65 Cukup 92,5 Tinggi 92,5 Tinggi

22 55 Rendah 95 Tinggi 95 Tinggi

23 45 Rendah 90 Tinggi 80 Tinggi

24 60 Cukup 80 Tinggi 85 Tinggi

25 45 Rendah 90 Tinggi 95 Tinggi

26 55 Rendah 92,5 Tinggi 97,5 Tinggi

27 55 Rendah 87,5 Tinggi 85 Tinggi

28 50 Rendah 75 Tinggi 87,5 Tinggi

29 55 Rendah 72,5 Tinggi 87,5 Tinggi

Total 1590 2302,5 2557,5

Rata-rata kelas

54,8 Rendah 79,4 Tinggi 88,2 Tinggi

Tabel 4.12 Rangkuman Klasifikasi Capaian Minat Belajar Siswa

Klasifikasi Jumlah

Tinggi Cukup Rendah

Kondisi Awal 3 siswa 9 siswa 17 siswa 29 siswa Siklus I 27 siswa 2 siswa - 29 siswa Siklus II 28 siswa 1 siswa - 29 siswa

Berdasarkan data di atas dapat dilihat bahwa pada kondisi awal bahwa 17 siswa pada klasifikasi rendah, 9 siswa pada kalsifikasi cukup dan sisanya 3 siswa pada klasifikasi tinggi dalam capaian minat belajar. Setelah pelaksanaan siklus I diketahui bahwa 27 siswa termasuk klasifikasi tinggi sedangkan klasifikasi cukup hanya 2 siswa, dan tidak ada siswa dengan minat belajar rendah. Pada siklus II dengan metode mendongeng semakin menambah jumlah siswa yang masuk ke dalam klasifikasi tinggi yakni 28 siswa dan 1 siswa berada pada klasifikasi cukup.

4.2.2 Prestasi belajar

Peneliti juga menggunakan metode mendongeng untuk meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran PKn dari kondisi sebelumnya. Proses pembelajaran dengan metode mendongeng berjalan sesuai rencana yang telah dibuat, pada kegiatan apersepsi peneliti mengajak siswa untuk bernyanyi sebagai pengantar menuju metode yang akan digunakan sebelum pada akhirnya peneliti mulai mendongeng. Proses pembelajaran berjalan dengan penuh semangat dari siswa, di mana siswa terlihat senang, tidak terbebani dengan materi yang diberikan, antusias dalam menjawab pertanyaan serta tidak mengeluh atas tugas-tugas dalam LKS yang diberikan kepada mereka.

Hasil dari prestasi belajar kondisi awal didapat dari data tahun sebelumnya yakni nilai ulangan. Nilai rata-rata prestasi belajar tersebut adalah 74,9 dengan jumlah siswa tuntas belajar atau mencapai KKM sebanyak 16 siswa dari 30 total siswa atau 53,33% sedangkan 14 siswa lainnya atau 46,67% belum tuntas belajar. Pada siklus I, peneliti menggunakan metode mendongeng untuk menyampaikan

pesan berupa materi pelajaran yang diatur dan disampaikan dalam alur cerita dongeng. Dalam proses pembelajaran siswa mampu mengikuti pelajaran dengan baik, media yang digunakan juga belum pernah ada di kelas ini, sehingga bagi siswa benar-benar sesuatu yang baru pertama dilakukan di kelas mereka. Untuk mendapatkan data penelitian maka peneliti membagikan soal evaluasi yang diberikan pada akhir siklus I, dengan rata-rata prestasi belajar siswa yang didapat yakni sebesar 75,9 dengan jumlah siswa tuntas sebanyak 20 siswa atau 68,97% sedangkan 9 siswa atau 31,03% masih berada di bawah KKM.

Belajar dari kendala yang dihadapi pada siklus I, maka peneliti menggunakan beberapa strategi baru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, seperti dengan berfokus pada masing-masing individu saat mendongeng agar mereka merasa terlibat dan aktif, mengatur ruangan atau lokasi penelitian sehingga siswa tidak bosan, menggunakan alat peraga yang lebih baik, serta memberikan contoh materi dalam bentuk kegiatan atau perilaku nyata yang ada di sekitar siswa ke dalam dongeng yang disampaikan, sehingga melalui contoh-contoh dan konsep yang ada siswa akan lebih mengeksplor pemahaman mereka sendiri. Pada saat mendongeng peneliti juga memberikan banyak kesempatan bagi siswa untuk bertanya sehingga tidak perlu menunggu akhir cerita untuk bertanya namun tetap dengan peraturan yang baik. Segala usaha yang dilakukan menunjukkan hasil yang baik dengan data prestasi belajar yang diperoleh pada siklus II yakni sebesar 81,5 dengan jumlah siswa tuntas 23 dari 29 siswa atau 79,31% dan siswa belum tuntas hanya menjadi 6 siswa atau 20,69%.

Pada siklus II ini masih terdapat 6 anak yang belum tuntas belajar, peneliti kemudian mengamati kondisi anak tersebut dan melakukan beberapa tanya jawab ringan sebagai refleksi peneliti, setelah mengamati beberapa anak tersebut diketahui bahwa 3 anak memang cenderung kurang cepat menangkap materi dalam mengikuti pelajaran yang selalu diberikan baik dari guru kelas sendiri maupun peneliti, 1 anak lainnya antusias dengan metode namun terlalu banyak bercanda sehingga kehilangan fokus belajar dan menurun dari siklus sebelumnya, sedangkan 2 anak lain memang tidak fokus dengan soal yang diberikan terbukti dengan lembar jawaban yang tidak diisi dalam pengerjaannya, walaupun demikian penelitian siklus II telah mencapai target akhir penelitian yakni 80 pada nilai rata-rata kelas dan sudah mencapai target akhir yakni 75% ketuntasan, dan berdasarkan data tersebut metode mendongeng dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas II pada mata pelajaran PKn. Berikut merupakan rangkuman dari data prestasi belajar siswa:

Tabel 4.13 Rangkuman Prestasi Belajar Siswa pada Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II

No

Sebelum

tindakan Sesudah tindakan

Kondisi awal Siklus I Siklus II

Nilai Ketuntasan Nilai Ketuntasan

1 55 Tidak tuntas 30 Tidak tuntas

2 40 Tidak tuntas 50 Tidak tuntas

3 70 Tidak tuntas 80 Tuntas

4 75 Tuntas 90 Tuntas

5 95 Tuntas 95 Tuntas

6 85 Tuntas 100 Tuntas

7 90 Tuntas 100 Tuntas

8 70 Tidak tuntas 80 Tuntas

9 85 Tuntas 100 Tuntas

10 90 Tuntas 90 Tuntas

11 65 Tidak tuntas 80 Tuntas

12 80 Tuntas 85 Tuntas

13 80 Tuntas 60 Tidak tuntas

14 75 Tidak tuntas 30 Tidak tuntas

15 55 Tidak tuntas 85 Tuntas

16 80 Tuntas 90 Tuntas

17 75 Tuntas 100 Tuntas

18 80 Tuntas 80 Tuntas

19 80 Tuntas 55 Tidak tuntas

20 75 Tuntas 80 Tuntas

21 70 Tuntas 95 Tuntas

22 85 Tuntas 85 Tuntas

23 60 Tidak tuntas 65 Tidak tuntas

24 75 Tidak tuntas 90 Tuntas

25 80 Tuntas 95 Tuntas 26 90 Tuntas 80 Tuntas 27 80 Tuntas 95 Tuntas 28 85 Tuntas 100 Tuntas 29 75 Tuntas 100 Tuntas Total 2200 2365 Rata-rata kelas 74,9 75,9 81,5

tuntas 16 siswa 20 siswa 23 siswa

tidak

tuntas 14 siswa 9 siswa 6 siswa

Persentase pencapaian KKM (75)

Tabel 4.14 Capaian Minat Belajar dan Prestasi Belajar Siswa pada Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II

No Kondisi Awal Siklus I Siklus II

Minat Prestasi Minat Prestasi Minat Prestasi

1 40 - 70 55 57,5 30 2 60 - 70 40 77,5 50 3 45 - 50 70 80 80 4 52,5 - 62,5 75 87,5 90 5 72,5 - 97,5 95 97,5 95 6 57,5 - 75 85 90 100 7 75 - 82,5 90 97,5 100 8 47,5 - 77,5 70 82,5 80 9 85 - 92,5 85 97,5 100 10 60 - 77,5 90 92,5 90 11 75 - 85 65 95 80 12 57,5 - 67,5 80 95 85 13 67,5 - 75 80 82,5 60 14 57,5 - 72,5 75 82,5 30 15 65 - 72,5 55 77,5 85 16 77,5 - 85 80 97,5 90 17 67,5 - 80 75 97,5 100 18 60 - 72,5 80 75 80 19 62,5 - 67,5 80 92,5 55 20 65 - 95 75 97,5 80 21 75 - 92,5 70 92,5 95 22 65 - 95 85 95 85 23 55 - 90 60 80 65 24 65 - 80 75 85 90 25 50 - 90 80 95 95 26 60 - 92,5 90 97,5 80 27 70 - 87,5 80 85 95 28 70 - 75 85 87,5 100 29 57,5 - 72,5 75 87,5 100 rerata kelas 62,7 74,9 79,4 75,9 88,2 81,5

Tabel di atas menunjukkan bahwa peningkatan minat belajar juga diimbangi dengan peningkatan yang terjadi pada prestasi belajar siswa, sehingga metode mendongeng dapat dijadikan metode yang efektif untuk meningkatkan minat belajar sekaligus meningkatkan prestasi belajar siswa dalam pelajaran PKn.

Pada penelitian ini, diketahui bahwa indikator keberhasilan telah disusun oleh peneliti sebelumnya dan berikut rangkuman hasil capaian minat belajar dan prestasi belajar siswa mulai dari kondisi awal hingga akhir siklus I dan akhir siklus II:

Tabel 4.15 Keberhasilan Penelitian

Peubah Indikator Kondisi awal

Siklus I Siklus II Target Capaian Target Capaian

Minat belajar siswa Nilai rata-rata minat 54,8 80 79,4 85 88,2 Prestasi belajar siswa Nilai rata-rata kelas 74,9 75 75,9 80 81,5 Persentase jumlah siswa yang mencapai KKM 53,33% 70% 68,97% 75% 79,31%

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa target penelitian baik pada variabel minat belajar siswa maupun prestasi belajar siswa sudah memenuhi target akhir dari penelitian sehingga penelitian ini dapat dikatakan berhasil.

Gambar 4.1 Diagram Capaian Minat Belajar

Dokumen terkait