BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
Penulis telah menyajikan data dan menganalisis realitas sosial, mitos dan unsur-unsur yang ada pada cerita Wadu Ntanda Rahi. Oleh karena itu, hasil temuan akan diuraikan sebagai berikut:
1. Realitas sosial dalam cerita Wadu Ntanda Rahi
Realitas merupakan kenyataan-kenyataan sosial budaya di sekitar lingkungan. Realitas yang terdapat dalam cerita Wadu Ntanda Rahi sebagai berikut :
a. Gotong royong
Perilaku sosial yang berbentuk kerjasama atau gotong royong merupakan wujud saling membutuhkan antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya. Hal ini dilakukan untuk mempermudah terselesainya pekerjaan. Kerjasama atau gotong royong sudah menjadi kebiasaan masyarakat Bima. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut:
Suasana kekeluargaan dan kegotong royongan merupakan pemandangan yang cukup menarik dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Tua muda, laki perempuan, bahkan anak bahu membahu membantu sesama. Seberat apapun beban yang mereka
kerjakan akan menjadi sangat ringan. Karena kegotong royongan telah bersemi dalam denyut nadi kehidupan mereka. Yang diilhami oleh sebuah prinsip hidup “kese tohopu dua, dua tahopu tolu” yang menyiratkan bahwa kebersamaan merupakan sesuatu yang mutlak dan manusia tidak mempunyai arti tanpa berhubungan dengan manusia lain (Malingi, 2007; 4).
Masyarakat Bima merupakan masyarakat yang sangat menjunjung tinggi nilai kegotong-royongan. Dalam perbendaharaan bahasa Bima, mereka mengenal istilah Karawi Kaboju untuk merepresentasikan hal tersebut. kerjasama sangatlah penting, selain itu juga kerja sama sudah menjadi tradisi serta kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat Bima karena dalam kehidupan bermasyarakat manusia tidak dapat hidup sendiri, manusia membutuhkan bantuan orang lain.
b. Kesetiaan
Kesetiaan adalah keteguhan hati untuk tetap yalin dan percaya kepada seseorang, seperti yang terdapat dalam kutipan berikut:
Kini tinggalah wanita dalam lingkungan keluarga itu. Yang satu sudah beranjak senja dan yang satu masih muda belia. Yang beranjak senja mulai berjalan tertatih-tatih. Sementara yang muda belia selalu menuntun dan membimbingnya. Ketaatan dan kesetiaan yang ditunjukan wanita muda itu tidak pernah surut sedikitpun. Sebagai buih di lautan yang tetap setia menemani ombak dikala pasang dan surut ( Malingi, 2007; 141 ).
Ina Male merupakan keluarga satu-satunya yang dimiliki La Nggini sekarang setelah pamannya La Wila meninggalkannya dan suaminya pergi merantau ke negeri Gowa sehingga apapun akan ia
lakukan agar ia bisa merawat dan menafkahi Ina Male. Meskipun Ina Male bukan ibu kandungnya, La Nggini tetap setia merawat dan mau hidup bersamanya dengan semua keterbatasannya hingga Ina Male menghembuskan nafas terkahir.
Setelah Ina Male meninggal, kini La Nggini hidup sebatang kara. La Nggini sangat sedih, sebab belum beberapa bulan paman-pamannya meninggal dan disusul oleh mertuanya Ompu Nggaro dan Ina Male. Kemalangan selalu menimpanya, sejak kecil dia sudah menjadi anak yatim piatu dan setelah dia menikah pun, dia harus ditinggal pergi oleh orangorang yang dia sayangi. Satu-satunya harapan La Nggini sekarang yaitu suami yang pergi merantau yang tak kunjung memberikan kabar kepada La Nggini.
c. Tolong-menolong
menolong merupakan sikap saling membantu. Tolong-menolong merupakan kewajiban bagi setiap umat manusia, sebab dengan adanya sikap ini manusia tidak akan merasa kesulitan. Sikap tolong menolong juga akan memupuk rasa kasih sayang antar tetangga, antar teman, antar keluarga dan lain sebagainya. Dibandingkan dengan gotong royong atau kerja sama, budaya tolong-menolong merupakan suatu budaya luhur tanpa pamrih antara satu individu kepada individu lainnya. Hal ini terdapat dalam kutipan :
Keesokan harinya, badaipun reda. Orang-orang berdatangan ke tempat itu. Mereka memotong batang pohon asam yang menimpa La Wila. Dalam suasana duka yang mendalam perlahan mereka mengeluarkan tubuh La Wila dari celah batang pohon itu. Kemudian mengangkat jenazahnya untuk disemayamkan di dalam gubuknya (Malingi, 2007;131-134).
Kutipan di atas menunjukkan bahwa nilai sosial tolong-menolong masih kental dalam masyarakat Bima pada masa itu, tidak hanya pada saat suka saja, pada saat duka pun orang-orang masih mengurakan niat baik mereka untuk saling tolong-menolong seperti yang dilakukan para tetangga menolong dan orang-orang yang ada pada saat kejadian duka yang menimpa keluarga Ina Male.
d. Saling memaafkan
Saling memaafkan merupakan sikap memberi ampun karena sesuatu kesalahan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Selain itu, memaafkan adalah kesediaan hati untuk menerima kesalahan masa lalu serta keinginan untuk hidup tanpa menaruh rasa benci dan dendam pada seseorang. Memaafkan bukan hanya mengucapkan kata maaf saja tetapi harus disertai dengan ketulusan hati dan alangkah lebih baik jika kita bisa memaafkan orang lain sebelum ia meminta maaf.
Fitnah yang telah disebarkan oleh La Bandi telah melahirkan ketegangan dan kesalahpahaman antara kaum pendatang dan orang-orang pribumi. Orang-orang-orang pribumi berbondong-bondong mendatangi kapal saudagar dengan membawa senjata tajam degan maksud
menyerang para pendatang. Akan tetapi berkat kearifan dan kebijaksaan seorang kepala kampung (Ompu) dalam menyelasaikan masalah-masalah yang dihadapi warganya, kedua belah pihak akhirnya bisa harmonis kembali dan tidak ada kesalahpahaman lagi. Sebagaimana kutipan dalam novel berikut:
Demikianlah keputusan yang diambil oleh kepala kampung itu. Kedua belah pihak menganggukkan kepala. Lalu mereka saing berjabat tangan dan berangkulan. Saling meminta dan memberi maaf. Suasana yang sejak tadi menegang berubah menjadi suasana keakraban. Kepala kampung itu telah mampu menjadikan dirinya sebagai seorang tokoh yang arif dan bijaksana dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi warganya (Malingi, 2007; 202).
Sikap saling memaafkan dapat berlaku secara universal, bukan hanya dari yang kecil terdahap yang besar, tetapi bisa juga dari yang tua ke yang muda, maupun antar teman. Permintaan maaf dan memaafkan dapat menunjukkan keterbukaan hati, sikap memaafkan untuk mengalah bukan berarti kita akan dikalahkan tetapi mengalah untuk sebuah rasa cinta, kasih sayang, dan ketulusan terhadap sesama. Demikian pun yang dilakukan La Nggini terhadap sahabatnya La Bandi seperti yang tunjukkan pada hal 212-214 berikut :
“Sahabatku. Maafkan aku……” Ia berkata lirih di dalam pelukan La Nggini.
“Sebelum kata itu terucap dari bibirmu, aku telah lebih dulu memaafkanmu.”
Tangisan kedua anak manusia itu semakin menggema. Dan pelukan mereka pun semakin erat. Lalu perlahan-lahan La Nggini keluar dari pelukan La Bandi (Malingi, 2007; 213-214).
Kutipan di atas menujukkan bahwa betapa mulianya seorang La Nggini. Dengan hati yang ikhlas ia memaafkan temannya La Bandi yang telah menyebarkan fitnah sehingga ia dicaci maki, di arak keliling kampung, dikucilkan. Fitnah tersebut juga menyebabkan La Nggini diusir dari kampungnya sebab ia dituduh telah melanggar adat serta menimbulkan aib bagi kampung halamannya .
e. Kekeluargan
Kekeluargaan merupakan perihal yang berkaitan dengan kelurga (sanak saudara dan kaum kerabat), misalnya dengan menyelesaikan masalah secara mufakat. Kekeluargaan merupakan sebuah hubungan yang dibangun atas dasar pengertian, kasih sayang, serta kebaikan yang terbentuk oleh ikatan darah maupun ikatan yang terbentuk secara emosional. Sifat ini ditunjukkan oleh sikap La Wila sebagai seorang paman dengan segala keterbatasannya mau membesarkan La Nggini setelah kedua orangtunya meninggal dalam banjir besar yang melanda kampungnya. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut :
“Tumben kau berdandan serapi ini.” La Wila menyapa keponakannya.
“Ori (Paman) sepertinya tidak tahu saja. Inikan saat-saat panen.” “Karena panen kau mesti berdandan seperti ini. Aku curiga janganjangan…..” La Wila mengganggu.
“Ada kumbang yang akan menghampiri bunga yang aku tanam.” “Ah….. Ori bias-bisa saja bersajak.” (Malingi, 2007; 25-26).
Penggalan cerita di atas menujukkan betapa beruntungnya La Nggini memiliki seorang paman yang sangat mengasihi dan menyayanginya. Meskipun La Nggini bukan anak kandungnya, La Wila selalu menginginkan yang terbaik untuk La Nggini termasuk pasangan hidupnya karena bagi La Wila kebahagiaannya adalah ketika dia bisa melihat La Nggini bahagia.
f. Rasa Malu
Malu merupakan perasaan tidak enak hati atau merasa hina, rendah karena berbuat sesuatu yang kurang baik. Rasa malu merupakan suatu kemampuan di dalam jiwa setiap insan yang dapat berfungsi sebagai penghalang bagi seseorang untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak terpuji. Hal itu terdapat dalam kutipan tersebut :
Sementara suara kentongan serta teriakan orang-orang semakin lantang. Memecah kebisuan malam itu. Dengan langkah yang semakin tak pasti La Bandi menuruni bukit itu. Sejenak ia berpikir. Haruskah ia meyerahkan diri kepada orang-orang yang tengah sibuk mencarinya? Atau kembali berada bersama La Nggini di puncak bukit. Dua pertanyaan itu belum dapat ia temukan jawabannya. Terpaksa ia harus kembali duduk di bawah pohon yang rindang itu. Menangis dan meratapi nasibnya. Sesaat kemudian tatapannya tertuju kepada ranting pohon yang tepat berjarak dua jengkal di atas kepalanya. Kemudian kepada akar-akar dan serat pohon yang digunakan orang-orang sebagai tali (Malingi, 2007; 214-215).
Kutipan di atas menunjukkan bahwa La Bandi telah menyadari kesalahannya. Ia merasa malu atas perbuatannya yang dilakukannya terhadap La Nggini sehingga ia pergi dari kampung dan menyendiri di sebuah bukit. Perasaan bersalah selalu menghantuinya sehingga ia meminta maaf bahkan membujuk La Nggini untuk ikut turun dari bukit tersebut bersamanya. Akan tetapi La Nggini tetap pada pendirian untuk tetap berada di bukit sampai La Nggusu datang menjemputnya. La Bandi semakin bingung sehingga ia memilih mengakhiri hidunya dengan cara yang tidak wajar yaitu bunuh diri.
g. Persahabatan
Persahabatan merupakan perilaku saling mendukung antara dua orang atau lebih dalam bermasyarakat. Sahabat akan menyambut kehadiran sesamanya dan menunjukkan kesetiakawanan satu sama lain dan sahabat sejati adalah ketika mereka ada baik saat suka maupun duka. Seperti yang terlihat dalam kutipan novel berikut :
Dari luar pagar bambu yang mengelilingi gubuk itu muncullah beberapa gadis remaja. Mereka adalah La Mpodi Roka, La Bandi, La Ajo Honggo, dan La Moso Rawe. Teman sepermainan sejak kecil. Seiring dan sejalan. Bagai sekuntum bunga yang sedang mekar di tanam desa itu (Malingi, 2007;27).
Kutipan di atas menunjukkan bahwa La Nggini memiliki lebih dari seorang sahabat dan mereka selalu bersama-sama sejak mereka kecil, hari demi hari mereka lalui bersama baik dalam keadaa suka maupun duka.
h. Peduli terhadap Sesama
Dalam hidup bermasyarakat, manusia tidak boleh mementingkan diri sendiri, rasa peduli terhadap sesama itu harus ada sebab manusia tidak mungkin bisa hidup sendiri, pasti membutuhkan orang lain. Peduli terhadap sesama juga akan membangun suatu masyarakat yang memiliki tingkat sosial tinggi serta akan mewujudkan hubungan yang harmonis. Hal ini bisa dilihat dalam kutipan berikut :
Semua tetangga berdatangan ke gubuk itu. Mereka heran seketika melihat keadaan La Nggini. Ada yang membuat air gula dan memasukkan ke kerongkongan. Ada pula yang berusaha mencari dukun dan tabib untuk mengobatinya. Kemudian sesaat setelah dua tiga teguk air gula masuk ke kerongkongannya La Nggini mulai perlahan membuka matanya. Dalam pandagan yang masih samar. Ia terkejut melihat banyak yang berkumpul di sekelilingnya. Barulah ia sadar atas apa yang telah terjadi pada dirinya (Malingi, 2007: 156).
Kutipan di atas menunjukkan rasa peduli yang tinggi dalam kehidupan bermasyarakat. Di saat La Nggini sendirian dalam keadaan tak sadarkan diri, para tetangga datang menolongnya tanpa pamrih. Tolong menolong itu terjadi karena adanya kepedulian.
i. Cinta Kasih
Cinta adalah rasa sangat suka atau sayang kepada sesuatu (seseorang). Sedangkan kasih, artinya perasaan sayang, cinta atau suka kepada sesuatu (seseorang). Dengan demikian, cinta kasih dapat diartikan sebagai perasaan suka kepada seseorang. Kisah cinta La
Nggini dan La Nggusu dimulai pada masa tanam. Pada saat itu La Nggusu sedang membantu orang tuanya di ladang, begitupun dengan La Nggini. Ketika melihat La Nggini debaran jantung La Nggusu semakin kuat da kencang, dan itu tanda ia menyukai La Nggini. Sejak pertemuan pertama, bayangan La Nggini selalu muncul dihadapannya. Apapun yang ada di hadapannya berubah menjadi sosok La Nggini dan La Nggini pun mengalami hal yang sama seperti La Nggusu. Berikut kutipannya :
Setiap La Nggini datang, mata La Nggusu selalu tertuju padanya. Dan debaran jantung La Nggusu terpacar dari raut wajahnya (Malingi, 2007; 19).
Ternyata La Ngginipun megalami perasaan yang sama. Pertemuan dan pandangan pertama di ladang itu member arti dan kesan yang sulit untuk dilupakan. Setiap saat pikiran La Nggini selalu tertuju ke kampung seberang, kampung La Nggusu. Ingin rasanya masa panen itu tiba, sehingga ia dapat bertemu dengan La Nggusu (Malingi, 2007; 20).
Kisah cinta mereka ternyata berlanjut sampai ke pelaminan. Mereka berdua tinggal di sebuah gubuk yang dibangun sediri oleh La Nggusu. Karena pernikahan tersebut didasari oleh rasa cinta sehingga kehidupan mereka sangat harmonis. Keduanya saling mengasihi. Selayaknya istri yang menyayangi suaminya, La Nggini takut terjadi sesuatu pada La Nggusu karena La Nggusu sering pergi melaut.
2. Mitos-mitos dalam cerita Wadu Ntada Rahi
a. Mitos dala cerita Wadu Ntanda Rahi adalah kesetiaan La Nggini dalam menanti La Nggusu yang pergi merantau selama sepuluh dan tidak berkabar sedikitpun. Sampai akhirnya La Nggini menjadi Batu yang di sebut Wadu Ntanda Rahi (Batu yang memandang dan mengenang suaminya).
b. Untuk menghentikan sang bayu mengamuk mereka akan membaca mantra, dengan menengadahkan tangan dan segala peralatan dapur mulai dari gayung, tempayan serta beberapa butir garam di buang di pekarangan. Karena demikianlah kepercayaan orang-orang pada masa. 3. Unsur-unsur yang ada dalam cerita Wadu Ntanda Rahi
a. Unsur Budaya
Unsur Budaya yang terdapat dari cerita “Wadu Ntanda Rahi” jika dari kecil kita di didik dengan budi pekerti yang baik maka sampai dewasa kita akan selalu menjadi manusia yang memiliki kepribadian yang baik juga. Sebaliknya jika dari kecil kita tidak di didik dengan budi pekerti yang baik, kelak kita juga tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan. Untuk mendapatkan sesuatu kebahagiaan kita harus rela berkorban, dan hal inilah yang di alami oleh La Nggusu. Dari kecil La Nggusu selalu dinasehati dan ditanamkan falsafah hidup oleh Ayah dan Bundanya hingga besar disaat ia meninggalkan isteri serta Ayah dan Ibunya, hingga La Nggusu tidak pernah lagi bertemu dengan istrinya La Nggini juga Ompu Nggaro dan Ina Male, karena La Nggusu sendiri
mati tenggelam di lautan lepas, juga istrinya mengabdikan diri menjadi batu, serta Ompu Nggaro dan Ina Male juga meninggal dunia.
b. Unsur Agama
Unsur agama yang didapat dari cerita “Wadu Ntanda Rahi” adalah apabila Allah SWT sudah berkehendak maka tidak ada satupun mahluk di dunia ini yang bisa megingkarinya. Misalnya yang di alami oleh La Nggusu dan La Nggini. Mereka berani bersumpah atas nama Tuhan, demi membuktikan kesetiaan mereka, hingga akhirnya Allah pun mengabulkan Do’a mereka La Nggusu mati tenggelam, dan La Nggini mengabdikan dirinya menjadi batu.
c. Unsur Moral
Dalam cerita rakyat “Wadu Ntanda Rahi” memiliki banyak Unsur moral. Seperti yang dilakukan oleh La Nggini ia selalu berharap dalam hatinya jika La Nggusu menjadi pendamping hidupnya ia akan merasa sangat bahagia, dan yang akhirnya La Nggini juga mendapatkan La Nggusu yang menjadi lelaki idamanya selama ini. Seperti yang dilakukan oleh sahabat La Nggusu, selalu meyakinkan La Nggusu bahwa istrinya setia untuk menunggu kedatangan La nggusu. Juga La Bandi sahabat La Nggini yang sudah berusaha menfitnah dirinya, berusaha naik bukit untuk mengajak La Nggini untuk pulang ke kampung, dan memohon ma’af atas kesalahanya, La Nggini pun memaafkan sahabatnya, sekalipun ia tidak ingin pulang ke kampung.
d. Unsur Sosial
Dalam cerita rakyat Wadu Ntanda Rahi memiliki Unsur sosial. Hubungan manusia dengan manusia (sekelompok) manusia lainya dalam konteks kemasyarakatan. Hal ini menjadi sangat penting mengingat manusia itu tidak hidup sendiri-sendiri di atas dunia ini, akan tetapi dalam kesehariannya bergaul dan berinteraksi dengan manusia lain. Manusia itu memiliki banyak persamaan dan perbedaan.
Manusia merupakan mahluk sosial dan saling membutuhkan satu sama lain. Untuk melakukan kegiatan kegotongroyongan, dan adat-adat yang berlaku di daerah Bima, kegiatan sebelum Wi’i nggahi sebelum di adakan adat-adat yang lain juga kegiatan pesta di hari pernikahannya.
BAB V PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap cerita rakyat Wadu Ntanda Rahi dapat di simpulkan bahwa:
1. Realitas sosial cerita Wadu Ntanda Rahi
Realitas sosial yang terdapat dalam cerita Wadu Ntanda Rahi, yaitu: Gotong royong, kesetiaan, tolong-menolong, saling memaafkan, kekeluargaan, rasa malu, persahabatan, peduli terhadap sesama, cinta kasih
2. Mitos dalam cerita Wadu Ntanda Rahi
Mitos dalam cerita Wadu Ntanda Rahi adalah kesetiaan seorang istri dalam penantiannya yang panjang. Sampai dia menjadi Batu yang di sebut Wadu Ntanda Rahi (Batu yang memandang dan mengenang suaminya). Dan masyarakat Bima masih percaya pada mantra-mantra. 3. Unsur-unsur dalam cerita “Wadu Ntanda Rahi” adalah sebagai
berikut: Unsur budaya, unsur agama, unsur moral, dan unsur sosial. B. Saran-saran
Penulis mengharapkan kepada para pembaca dan pencinta sastra khususnya sastra lisan dan sastra daerah, agar dapat mengambil pelajaran dari apa yang penulis paparkan yaitu mendalami isi yang terkandung di dalam cerita tersebut. Karena cerita ini sangat berguna untuk orang tua dan juga
untuk anak. Hal ini menegaskan kepada kita tentang pentingnya orang tua bagi anaknya, dan perlunya anak bagi orang tua terbesar hak dan kewajiban masing-masing.
DAFTAR PUSTAKA
Aminuddin. 2002. Pengantar Apresiasi Karyas Sastra. Jakarta: Sinar Baru.
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktika. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Berger, peter L., dan Luckman Thomas. 1990. The Sosial Contruction of Reality:
A Treatise in The Sociology of Knowledge. Harmondswirth: Penguin Boks
Ltd.
Damono, Sapardi Djoko. 2002. Pedoman Penelitian Sastra. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.
Danandjaya, James. 1997. Folklor Indonesia, Ilmu Gosip, Dongeng dll. Jakarta: Pustaka Grafiti.
Dulkheim Emile. 2011. The Elementary Forms of The Religious Life. Terj. Yogyakarta: IRCiSoD
Fahmiyati, Laeli. 2012. Unsur-unsur sosial dalam Cerita Rakyat Nusantara. Universitas Muhammadiyah Purwokerto
Fananie, Zainuddin. 2002. Telaah Sastra. Surakarta: Muhammadiyah University Prees
Hadi, Wiyono Eko, 2007. Kamus Bahasa Indonesia Lengkap. Bandung: Palanta.
http://chunkybrandalz.blogspot.in/2013/11/legenda-wadu-ntanda-rahidi-desa-bedi.html.
http://teguhwirwan.blogdetik.com
Kosasih E.N. dan Kosasih A.S. 2003. Kompetensi Ketatabahasaan dan
Kesusastraan Cermat Berbahasa Indonesia. Bandung: CV. Yrama
Widya.
Malingi, Alan. 2007. Wadu Ntanda Rahi. Bima: CV. Mahani Persada
Mulyana, Rahmat. 2011. Budaya Unsur mengaktikulasikan. Jakarta: ALFABETA.
Musfiroh, Tadkiroatun. 2008. Cerdas Melalui Bermain. Jakarta: Grasindo.
Nurgiyantoro, Burhan. 2005. Teori Pengkajian Fiksi. Gajah Mada: University Press.
Nurgiyantoro, Burhan. 2011. Peunsuran Otentik (dalam Pembelajaran Bahasa). Yogyakarta: Gajah Mada: University Press.
Rafiek, M. k. 2005. Teori Pengkajian Fiksi. Gajah Mada: University Press.
________. 2010. Teori Sastra: Kajian Teori dan Praktik. Bandung: PT. Refika Aditama.
________. 2011. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Ratna, Nyoman Kutha. 2007. Estetika Sastra dan Budaya. Yogyakarta: Pustaka Belajar
________. 2009. Penelitian Sastra, Teori, Metode, dan Teknik. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Riyanto, Yatim. 2007. Metodologi Penelitian Budaya Kualitatif dan Kuantitatif. Surabaya: Unesa University Press.
Rohrberger. Woods. 1971. Reading and Writing About Literature. Random House: New York.
Rosyadi. 1995. Unsur-unsurBudaya dalam Naskah Kaba. Jakarta: CV Dewi Sri.
Saebani, Ahmad. 2008. Metode Penelitian. Bandung: Penerbit CV. Pustaka Setia.
Semi, M. Atar. 1988. Kritik Sastra Sebuah Pengantar. Padang: Angkasa Raya _______. 1990. Menulis Efektif. Padang: Angkasa Raya.
_______. 1993. Anatomi Satra. Padang: Angkasa Raya.
Soekanto, Soerjono. 1983. Pribadi dan Masyarakat (Suatu Tujuan dan Sosiologos). Bandung: Alumni.
Suhaimi. 2014. Struktur dan Fungsi Cerita Rakyat Pak Alui Sastra Lisan
Masyarakat Melayu Kabupaten Sanggau. Universitas Tangerang
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif. Bandung: Alfa Beta.
_______. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif R & D. Bandung: Alfa Beta.
Suharman, Taufik. 2014. Analisis Unsur Instrinsik dalam Cerita Rakyat Raden
Temenggung Setia Pahlawan Kabupaten Melawi Kecamatan Nanga Pinoh. Kalimantan Barat: Universitas Tanjungpura
Suyatno. 2004. Teknik Pembelajaran Bahasa dan Sastra. Surabaya: SIC.
Suyitno. 2009. Apresiasi Puisi dan Prosa. Surakarta: LPP UNS dan UNS Press.
Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya
Wellek, Rene dan Austin Warren. 1990. Teori Kesusastraan. Terjemahan Melani Budianto. Jakarta: Gramedia.
Wiyatmi. 2006. Pengantar Kajian Sastra. Yogyakarta: Pustaka
Uzey. 2009. “Macam-macam Unsur”. Dalam http://uzey.blogspot.com/2009/09 pengertian-Unsur. Diakses pada tanggal 25 Oktober 2009.
Yogi. 2012. “Definisi Mitos”. Artikel dipublikasikan http://yogi-ilmubudayadasar.blogspot.com. Diakses (20 juli 2018).
KOPRUS DATA No Kutipan Bahasa
Bima
Terjemahan Ket. Realitas Sosial
Sumber 1 karawi kaboju
ededu karawi ma