BAB IV: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
Teams Game and Tournament (TGT) adalah salah satu model
pembelajaran kooperatif yang menempatkan peserta didik dalam kelompok –
kelompok belajar yang beranggotakan 5 sampai 6 orang peserta didik yang
memiliki kemampuan, jenis kelamin dan suku kata atau ras yang berbeda.
Pembelajaran TGT dimulai dengan Tahap Penyajian Kelas, yaitu: bahan ajar
dalam TGT mula-mula diperkenalkan melalui presentasi kelas. Presentasi ini
paling sering menggunakan pengajaran langsung atau suatu ceramah-diskusi
yang dilakukan oleh guru. Pada kegiatan ini peserta didik bekerja lebih dahulu
untuk menemukan informasi atau mempelajari konsep-konsep atas upaya mereka
sendiri. Setelah guru mempresentasikan bahan ajar, tim tersebut berkumpul untuk
mempelajari LKS atau bahan lain.
Permainan ini diawali dengan memberitahukan aturan permainan. Setelah
itu permainan dimulai dengan membagikan kartu – kartu soal untuk bermain (kartu soal dan kunci ditaruh terbalik di atas meja sehingga soal dan kunci tidak
terbaca. Setiap pemain dalam tiap meja menentukan dulu pembaca soal dan
pemain yang pertama dengan cara undian. Kemudian pemain yang menang
undian mengambil kartu undian yang berisi nomor soal dan diberikan kepada
pembaca soal. Pembaca soal akan membacakan soal sesuai dengan nomor undian
yang diambil oleh pemain. Selanjutnya soal dikerjakan secara mandiri oleh
76
Setelah waktu untuk mengerjakan soal selesai, maka pemain akan
membacakan hasil pekerjaannya yang akan ditanggapi oleh penantang searah
jarum jam. Setelah itu pembaca soal akan membuka kunci jawaban dan skor
hanya diberikan kepada pemain yang menjawab benar atau penantang yang
pertama kali memberikan jawaban benar.
Jika semua pemain menjawab salah maka kartu dibiarkan saja. Permainan
dilanjutkan pada kartu soal berikutnya sampai semua kartu soal habis dibacakan,
dimana posisi pemain diputar searah jarum jam agar setiap peserta dalam satu
meja turnamen dapat berperan sebagai pembaca soal, pemain, dan penantang.
Disini permainan dapat dilakukan berkali – kali dengan syarat bahwa setiap peserta harus mempunyai kesempatan yang sama sebagai pemain, penantang, dan
pembaca soal. Dalam permainan ini pembaca soal hanya bertugas untuk
membaca soal dan membuka kunci jawaban, tidak boleh ikut menjawab atau
memberikan jawaban pada peserta lain.
Setelah semua kartu selesai terjawab, setiap pemain dalam satu meja
menghitung jumlah kartu yang diperoleh dan menentukan berapa poin yang
diperoleh berdasarkan tabel yang telah disediakan. Selanjutnya setiap pemain
kembali kepada kelompok asalnya dan melaporkan poin yang diperoleh
berdasarkan tabel yang telah disediakan. Selanjutnya setiap pemain kembali
kepada kelompok asalnya dan melaporkan poin yang diperoleh kepada ketua
kelompok. Ketua kelompok memasukkan poin yang diperoleh anggota
kelompoknya pada tabel yang telah disediakan, kemudian menentukan kriteria
77
Pembelajaran IPA dengan menggunakan model cooperative learning tipe
Teams Game And Tournament (TGT) pada kelas IV A, mampu menumbuhkan
partisipasi aktif peserta didik selama pembelajaran. Peserta didik menjadi lebih
antusias dalam proses belajar mengajar, karena model cooperative learn. Guru dapat menerapkan prinsip pembelajaran yang dilakukan dengan bermain (belajar
sambil bermain dalam pembelajaran). Kegiatan seperti ini dapat membuat
suasana pembelajaran tidak menjenuhkan bagi peserta didik dan aktif selama
proses pembelajaran.Sedangkan metode konvensional lebih banyak menuntut
keaktifan guru daripada pesera didik. Peserta didik menjadi lebih pasif dalam
pembelajaran dan guruakan kesulitan dalam menyimpulkan bahwa peserta didik
mengerti atau tidak mengerti pada materi yang diajarkan.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penyampaian materi struktur
tumbuhan dan fungsinya dengan model cooperative learning tipe Teams Game
And Tournament (TGT) lebih efektif untuk meningkatkan pemahaman konsep
belajar peserta didik dibandingkan dengan metode pembelajaran konvensional.
hal tersebut tidak terlepas dari penggunaan model cooperative learning tipe
Teams Game And Tournament (TGT) lebih meningkatkan keaktifan peserta
didik dalam kegiatan diskusi kelompok sehingga dapat menemukan pengetahuan
secara bersama, memperbaiki pemahaman serta mengembangkan pemikiran
peserta didik.
Model pembelajaran cooperative learning mendorong meningkatkan
kemampuan peserta didik dalam memecahkan berbagai masalah yang ditemui
78
dalam menemukan dan merumuskan alternatif pemecah masalah materi pelajaran
yang dihadapi. Tujuan pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi
dimana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan
kelompoknya.
Keberhasilan pembelajaran kooperatif adalah ditentukan oleh
keberhasilan kelompok. Maka dengan demikian kemauan bekerja sama dalam
kelompok perlu ditekankan dalam proses pembelajaran. Seperti tiap anggota
kelompok mau membantu anggota yang lain mengalami kesusahan dalam
belajar. Adanya kemauan untuk kerja bekerja sama itu kemudian dipratekkan
dalam aktivitas dan kegiatan yang tergambarkan dalam kemampuan bekerja
sama. Pada dasarnya, TGT merupakan varian dari diskusi kelompok. Teknis
pelaksanaannya hampir sama dengan diskusi kelompok. Pertama-tama, guru
meminta siswa untuk duduk berkelompok-kelompok.Masing-masing anggota
diberi nomor. Setelah selesai, guru memanggil nomor (baca;anggota) untuk
mempresentasikan hasil diskusinya. Guru tidak memberitahu nomor berapa yang
akan berpresentasi selanjutnya. Begitu seterusnya hingga semua nomor
terpanggil. Pemanggilan secara acak ini akan memastikan semua siswa
benar-benar terlibat dalam diskusi tersebut.
Model pembelajaran kooperatif tipe Teams Game And Tournament
(TGT) menekankan peserta didik untuk saling bekerja sama dengan kelompok
sehingga masing-masing anggota kelompok paham dengan hasil kerja
kelompoknya dan bertanggung jawab terhadap hasil kerta tersebut, sehingga
79
pembelajaran. Dengan demikian peserta didik akan merasa termotivasi untuk
belajar dan aktivitas belajar dapat meningkat, maka pada akhirnya dapat
meningkatkan hasil belajar peserta didik.
Peningkatan pemahaman konsep belajar ditunjukan angka indeks yang
dicapai siswa setelah melakukan proses dan kegiatan-kegiatan pembelajaran,
yang menjadi kriteria hasil belajar adalah memberikan pertimbangan tentang
hasil belajar yang dicapai oleh siswa. Berdasarkan faktor-faktor yang
mempengaruhi hasil belajar tersebut dapat diketahui bahwa hasil belajar siswa
dapat ditentukan dari banyak faktor diantaranya faktor yang bersumber dari diri
siswa sendiri dan faktor yang berasal dari lingkungan di sekitar siswa.
Pemahaman merupakan proses, perbuatan dan cara memahami. Dengan
pemahaman, peserta didik diminta untuk membuktikan bahwa ia memahami
hubungan yang sederhana di antara fakta – fakta atau konsep. Penulis dapat menyimpulkan bahwa pemahaman konsep terhadap hasil belajar merupakan hal
penting dalam proses belajar mengajar, karena dapat menjadi petunjuk untuk
mengetahui sejauh mana keberhasilan seorang siswa dalam kegiatan belajar
mengajar yang telah dilaksanakan. Dengan demikian jika pencapaian hasil
80 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang diuraikan di atas, maka
dapat disimpulkan bahwa, model pembelajaran Teams Game And Tournament
(TGT) memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap peningkatan pemahaman
konsep peserta didik kelas IV A MI Ismaria Al-Qur‟aniyah Bandar Lampung dengan thitung = 2,310 dan ttabel = 1,99897 yang berarti thitung > ttabel. Dengan demikian kemampuan rata-rata peserta didik termasuk dalam kategori sedang.