• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Pembahasan

Sehabis peneliti mengumpulkan informasi dari hasil riset yang diperoleh dari hasil wawancara, observasi (pengamatan) serta dokumentasi hingga berikutnya periset hendak melaksanakan analisis informasi buat menarangkan lebih lanjut dari riset. Cocok dengan analisis informasi yang diseleksi oleh periset ialah periset menggunkan analisis deskriptif kualitatif(

pemaparan) dengan menganalisis informasi yang sudah periset kumpulkan dari wawancara, observasi serta dokumentasi sepanjang periset mengadakan riset di SMP Islam Tias Bangun Kecamatan Pubian Kabupaten Lampung Tengah tersebut. Informasi yang diperoleh serta dipaparkan oleh periset hendak dianalisis oleh periset cocok dengan hasil riset yang mengacu pada rumusan permasalahan. Dibawah ini merupakan hasil dari analisis periset, ialah:

1. Peran Guru PAI dalam Pendidikan Kerukunan antar Umat Beragama di SMP Islam Tias Bangun Kecamatan Pubian Kabupaten Lampung Tengah

Berdialog menimpa peran, pasti perihal ini berkaitan dengan tugas serta tanggung jawab. Dimana peranan merupakan aksi yang dicoba oleh seseorang dalam sesuatu kejadian. Dalam melaksanakan suatu aksi, seseorang guru tidak boleh sembarangan. Dia wajib betul- betul handal

mengingat salah satu peran guru merupakan selaku teladan untuk siswanya. Tidak hanya itu, banyak sekali peran yang wajib dijalankan oleh seseorang guru tidak semacam yang mayoritas orang tahu. Mayoritas orang berkomentar kalau peran guru cuma sekedar mengajar saja, sementara itu dibalik itu masih banyak sekali yang wajib dicoba oleh seseorang guru, paling utama guru agama. Peran- peran itu antara lain yakni selaku korektor, inspirator, informator, motivator, administrator, inisiator, serta lain sebagainya.

Bertolak dengan judul tesis peran guru PAI dalam pembelajaran kerukunan antar umat beragama di SMP Islam Tias Bangun kecamatan pubian kabupaten lampung tengah, hingga peranan guru agama yang periset peroleh sepanjang riset, baik lewat wawancara ataupun observasi yakni selaku berikut:

Sebagaimana yang disebutkan oleh Bapak Mukhammad Yusuf, S.Pd.I sebagai guru PAI di SMP Islam Tias Bangun Kecamatan Pubian Kabupaten Lampung Tengah, peran guru agama antara lain yakni selaku edukator, dimana guru agama berfungsi aktif dalam memperdalam agama tiap- tiap cocok dengan ajaran yang syar’i bukan yang ekstrem, tidak hanya itu pula mengarahkan hal-hal yang positif yang dapat diaplikasikan di area SMP Islam Tias Bangun Kecamatan Pubian Kabupaten Lampung Tengah yang majemuk. Setelah itu statement Bapak Juwanda S.Pd.

sebagai kepala sekolah berkomentar bahwasanya peran guru PAI merupakan selaku motivator serta fasilitator, ialah guru agama

mengarahkan tentang kehidupan sosial yang dinamis, dimana seorang wajib silih menghargai, sebagaimana yang dicontohkan oleh para guru agama ialah menghargai sesama penyampai ajaran agama sebab guru agama selaku suri tauladan untuk para siswanya. Setelah itu Ibu Renni P P Lestari, S. Pd. I sebagai Waka Kurikulum SMP Islam Tias Bangun Kecamatan Pubian Kabupaten Lampung Tengah meningkatkan bahwasanya peran guru PAI merupakan selaku organisator ialah bagaimana seorang guru sanggup menyusun, merancang serta melakukan program- program yang dapat tingkatkan kerukunan antar umat beragama di SMP Islam Tias Bangun Kecamatan Pubian Kabupaten Lampung Tengah.

Dari beberapa peran yang telah disebutkan di atas terlihat bahwasanya peran guru sebagai edukatorlah yang paling dominan didalam pembelajaran kerukunan antar umat beragama karena memang tugas seorang guru adalah sebagai pendidik yang mengajar dikelas, yang langsung bersinggungan dengan para siswa. Sehingga ketika menyampaikan materi disitulah peran yang sangat vital, ketika guru menyampaikan materi yang sesuai dengan apa yang diinginkan oleh toleransi itu sendiri maka akan membuat siswa paham dengan apa sebenarnya itu toleransi dan yang terpenting dari pada itu guru sebagai teladan bagi para siswa, jadi ketika guru bersikap toleran maka secara tidak langsung para siswa melihat dan tidak jarang mereka akan mencontoh apa yang guru mereka lakukan. Tidak bisa dibayangkan jika

guru tersebut bersikap intoleran bisa membuat anak jadi mengikutinya. Ini sangat bertentangan dengan Islam yang sangat mengajarkan toleransi antar umat beragama. Peran guru sebagai edukator sebagaimana yang didapat dari hasil penelitian bahwasanya guru PAI yang ada di SMP Islam Tias Bangun Kecamatan Pubian Lampung Tengah telah berusaha menyampaikan materi yang bisa meningkatkan toleransi diantara para siswa dan telah berusaha mencontohkan nilai-nilai toleransi agama kepada siswanya.

Peran sebagai motivator bagi para siswapun penting untuk meningkatkan toleransi pada diri siswa karena dengan alasan sebagai berikut sesuai dengan apa yang didapatkan dari penelitian. Menghilangkan pandangan dunia dan menghilangkan jarak diantara mereka secara nyata dengan batas-batas yang diperbolehkan oleh agama, memperkuat kerjasama antar siswa, karena dengan partisipasi akan lebih mudah untuk menjalin ketangguhan yang ketat di antara mereka, berusaha mengembangkan sikap menghargai orang lain dengan baik dengan tidak mengindahkan usia, agama, ras, dan budaya, tidak berbicara buruk tentang orang lain dan memperhatikan orang lain ketika berbicara tanpa mengganggu pembicaraan, berusaha untuk menanamkan sikap berbicara dengan sopan dan ramah, seperti menggunakan kata-kata "maafkan saya",

"tolong", "tolong" dan "maaf" dan tidak mengecewakan orang lain yang menghormati dan tidak memaksakan kehendaknya pada orang lain.

Terlihat dari apa yang disampaikan ketika bisa dipraktek dengan maksimal

maka akan semakin menunjang dan meningkatkan toleransi pada siswa akan tetapi berdasarkan wawancara yang telah dilakukan guru hanya bisa semuanya melakukan hal-hal di atas.

Peran sebagai fasilitator bagi para siswapun penting untuk meningkatkan toleransi pada diri siswa karena dengan alasan sebagai berikut sesuai dengan apa yang didapatkan dari penelitian menfasilitasi arti bukan hanya sekedar fasilitas secara fisik akan tetapi secara non fisik yang terpenting dimana pendampingan, ketika ada masalah baik secara umum maupun secara khusus perihal toleransi karna terkadang mereka butuh akan tempat untuk mengeluarkan masalahkan kepada orang lain tapi tidak ada tempat untuk menyalurkan hal tersebut disinilah salah satu peran guru sebagai fasilitator akan tetapi sebagai mana data yang didapatkan guru kurang menyentuh rana tersebut.

Peran sebagai organisator bagi para siswapun penting untuk meningkatkan toleransi pada diri siswa karena dengan alasan sebagai berikut sesuai dengan apa yang didapatkan dari penelitian bekerja sama dengan teman-teman siswa, bekerjasama dengan wali siswa, partisipasi yang dilakukan oleh kami sebagai pengajar dan wali, bila dilakukan dengan tepat dan efektif, dapat menambah energi siswa untuk latihan di sekolah, penunjang kegiatan ekstrakurikuler yang terkadang menjadi kendala adalah beberapa pengajar merasa canggung jika siswanya merasa lebih dinamis dalam mengerjakan ekstrakurikulernya. Guru akan tetapi sebagaimana data yang didapatkan guru kurang menyentuh rana tersebut.

Berdasarkan peran-peran yang telah dilakukan oleh guru PAI di SMP Islam Tias Bangun Kecamatan Pubian Lampung Tengah dalam upaya pembelajaran kerukunan antar umat beragama. Peran guru sebagai edukator telah berjalan dengan baik terlihat dari sudah terlaksananya tugas-tugas utama seorang guru sebagai edukator yaitu melakukan proses pembelajaran yang menanamkan nilai-nilai toleransi kepada para peserta didiknya dan juga terus berupaya mencontohkan nilai-nilai toleransi kepada para peserta didik. Adapun untuk peran guru sebagai motivator, fasilitator dan organisator belum berjalan dengan maksimal terlihat dari sekolah belum menjalankan tugasnya yaitu menyediakan guru agama yang seagama dengan para siswa yang ada, sekolah hanya menyediakan guru PAI saja sebagai guru agama di sekolah serta sebagai organisator guru belum terlalu memberikan ruang yang sama kepada semua siswanya untuk ikut serta didalam semua kegiatan yang bersifat kebersamaan.

2. Faktor Pendukung dan Penghambat Terjadinya Kerukunan antar Umat Beragama di SMP Islam Tias Bangun Kecamatan Pubian Lampung Tengah

Ada beberapa hal yang menjadi faktor pendukung dan faktor penghambat guru PAI dalam pembelajaran kerukunan antar umat agama di SMP Islam Tias Bangun Kecamatan Pubian Lampung Tengah.

Dari hasil wawancara dan observasi yang peneliti peroleh, ditemukan bahwa faktor pendukung dan faktor penghambat tersebut diantaranya ialah: Model yang mencontohkan dalam keluarga biasanya diberikan oleh

bapak, ibu, atau anak yang lebih dewasa. Contoh model dalam keluarga meliputi: ibu dan bapak yang tidak pilang kasih terhadap anak-anaknya, : ibu dan bapak sebagai orang tengah atau hakim, Seorang saudara yang lebih dewasa yang berusaha menjadi suri tauladan bagi adik adiknya dan, seorang anak yang mengikuti dengan nama besar keluarga dalam mentalitas dan aktivitas. Model yang mencontohkan dalam sekolah biasanya diberikan oleh pendidik, direktur sekolah, ketua dewan siswa, dan pengawas kelas. Hal-hal yang patut disyukuri dalam iklim sekolah antara lain: Ikut membantu meringankan beban teman dengan uang jajan kita, efektif memperhatikan perkembangan eksplorasi, ikut menjaga kerapian sekolah. Model yang mencontohkan dalam masyarakat biasanya diberikan oleh pionir, pionir daerah setempat. Contoh yang baik secara lokal meliputi: Ikut serta dalam latihan, pemberian darah serta membantu para penyintas peristiwa bencana, mengawasi untuk menjaga keamanan alam dan ikut berpartisipasi dalam kegiatan gotong royong. Jika dilihat contoh atau taladanlah yang sangat mendukung untuk terjadinya toleransi beragama dalam diri siswa memang dengan mencontoh lebih real dalam hal pembelajaran. Adapun penghambat yang ada adalah diawal penyesuaian pada dikala menyesuaikan diri hidup bersama dengan temen-temennya. Metode mereka membagikan data, berdialog, mereka terkadang mengikutkan suatu ras, tradisi, maupun agama. Aspek penghambatnya mereka- mereka yang saat sebelum tiba kesini, mereka terdapat yang dimasuki fanatisme uraian.

3. Solusi dari Hambatan Terjadinya Kerukunan antar Umat Beragama di SMP Islam Tias Bangun Kecamatan Pubian Lampung Tengah

Kemudian, untuk usaha-usaha yang dilakukan dalam membangunkerukunan siswa antar agama dari wawancara di atas dapat kita ketahui bahwasanya Faktor pendukung terjadinya kerukunan antar umat beragama di SMP Islam Tias Bangun Kecamatan Pubian Lampung Tengah dapat disimpulkan sebagai berikut:

Langkah pertama yang bisa kita lakukan untuk mewujudkan atau menumbuhkan sikap toleransi pada diri sendiri adalah kita mengetahui serta memahami apa itu toleransi, menumbuhkan Rasa Nasionalisme perlu kiranya kita menumbuhkan rasa nasionalisme dalam diri. Sebagai bagian dari warga Negara Indonesia, baiknya kita tidak hanya sekadar tahu dan hafal isi pancasila, namun juga paham makna dari setiap silanya. Seperti dalam sila pertama Pancasila, aspek agama disebut pertama kali. Hal ini merupakan pertanda bahwa agama merupakan salah satu kebebasan manusia untuk meyakini apa yang diyakininya bijak dalam bermedia, bijak dalam bermedia pun perlu, tidak mudah menyerap segala informasi dan isu-isu yang beredar sebelum ditelisik kebenarannya.

A. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian mengenai peran guru PAI dalam pembelajaran antar umat beragama di SMP Islam Tias Bangun Kecamatan Pubian Lampung Tengah dapat ditarik kesimpulan yakni:

1. Peran Guru PAI dalam Pembelajaran antar Umat Beragama di SMP Islam Tias Bangun Kecamatan Pubian Lampung Tengah

a. Edukator

Memberikan pemahaman tentang toleransi agama dengan menelaah materi ajar yang selalu dikaitkan dengan masalah toleransi agama. berusaha secara konsisten memberikan dukungan kepada siswa agar mereka umumnya menjalin hubungan baik dengan berbagai agama. memimpin membiasakan diri memanfaatkan sejarah tokoh, menjalin hubungan baik dengan berbagai agama, untuk itu para siswa di suruh membantu perencanaan acara-acara penting keagamaan.

b. Motivator

Menghilangkan pandangan dunia dan menghilangkan jarak diantara mereka secara nyata dengan batas-batas yang diperbolehkan oleh agama, memperkuat kerjasama antar siswa, karena dengan partisipasi akan lebih mudah untuk menjalin ketangguhan yang ketat di antara mereka, berusaha mengembangkan sikap menghargai orang lain dengan baik dengan tidak mengindahkan usia, agama, ras, dan budaya,

tidak berbicara buruk tentang orang lain dan memperhatikan orang lain ketika berbicara tanpa mengganggu pembicaraan, berusaha untuk menanamkan sikap berbicara dengan sopan dan ramah, seperti menggunakan kata-kata "maafkan saya", "tolong", "tolong" dan "maaf"

dan tidak mengecewakan orang lain yang menghormati dan tidak memaksakan kehendaknya pada orang lain.

c. Fasilitator

Mencoba untuk mengungkapkan kepada mereka dengan terus-menerus menyambut percakapan sehingga sikap mereka terbuka dan kemudian mereka tidak mengulangi hal yang persis sama, pendekatan melalui Arahan dan Nasihat wewenang yang tidak mementingkan diri sendiri yang ditunjukkan dengan kehendak sendiri, terutama endorse yang bersifat instruktif.

d. Organisator

Bekerja sama dengan teman-teman siswa, bekerjasama dengan wali siswa, partisipasi yang dilakukan oleh kami sebagai pengajar dan wali, bila dilakukan dengan tepat dan efektif, dapat menambah energi siswa untuk latihan di sekolah, penunjang kegiatan ekstrakurikuler yang terkadang menjadi kendala adalah beberapa pengajar merasa canggung jika siswanya merasa lebih dinamis dalam mengerjakan ekstrakurikulernya.

2. Faktor Pendukung dan Penghambat Terjadinya Kerukunan antar Umat Beragama di SMP Islam Tias Bangun Kecamatan Pubian Lampung Tengah

Ada beberapa hal yang menjadi variabel pendukung dan unsur penekan bagi instruktur PAI dalam pembelajaran kerukunan antar umat agama di SMP Islam Tias Bangun Kecamatan Pubian Lampung Tengah Dari hasil wawancara dan observasi yang didapat penulis, terlacak unsur pendukung dan penghambatnya antara lain: Model yang mencontohkan dalam sekolah biasanya diberikan oleh pendidik, direktur sekolah, ketua dewan siswa, dan pengawas kelas. Hal-hal yang patut disyukuri dalam iklim sekolah antara lain: Ikut membantu meringankan beban teman dengan uang jajan kita, efektif memperhatikan perkembangan eksplorasi, ikut menjaga kerapian sekolah. Model yang mencontohkan dalam masyarakat biasanya diberikan oleh pionir, pionir daerah setempat. Contoh yang baik secara lokal meliputi: Ikut serta dalam latihan, pemberian darah serta membantu para penyintas peristiwa bencana, mengawasi untuk menjaga keamanan alam dan ikut berpartisipasi dalam kegiatan gotong royong. Jika dilihat contoh atau taladanlah yang sangat mendukung untuk terjadinya toleransi beragama dalam diri siswa memang dengan mencontoh lebih real dalam hal pembelajaran.

a. Faktor Pendukung Terjadinya Kerukunan antar Umat Beragama di SMP Islam Tias Bangun Kecamatan Pubian Lampung Tengah

Sering terjadi kerjasama di antara mereka yang membuat mereka siap untuk lebih mengenal satu sama lain dengan lebih baik.

contoh terpuji dari bapak instruktur. Saya pikir ini adalah sekutu yang sangat tidak biasa dan bantuan luar biasa dari pendirian

b. Faktor Penghambat Terjadinya Kerukunan antar Umat Beragama di SMP Islam Tias Bangun Kecamatan Pubian Lampung Tengah

Menuju awal perubahan ketika menyesuaikan diri dengan hidup masing-masing dengan para sahabatnya, cara mereka memberikan data, berbicara, kadang-kadang menggabungkan ras, adat, atau agama, faktor penghambat adalah individu-individu yang sebelum datang ke sini, mereka dimasuki oleh obsesi.

3. Solusi dari Hambatan Terjadinya Kerukunan antar Umat Beragama di SMP Islam Tias Bangun Kecamatan Pubian Lampung Tengah

Maka pada saat itu, atas upaya yang dilakukan dalam membangun kerukunan antar umat beragama dari pertemuan di atas, dapat kita sadari bahwa variabel pendukung kerukunan antar umat beragama di SMP Islam Tias Bangun Kecamatan Pubian Lampung Tengah sebagai berikut:

Langkah awal yang dapat kita lakukan untuk mengenali atau mengembangkan sikap resiliensi dalam diri kita adalah kita mengetahui dan memahami apa itu resistensi, mengembangkan Rasa Patriotisme Kita perlu mengembangkan rasa patriotisme dalam diri kita. Sebagai ciri warga negara Indonesia, seharusnya kita tidak hanya sekedar mengetahui dan mengingat substansi Pancasila, tetapi juga memahami makna dari setiap statutanya. Seperti dalam aturan utama Pancasila, sudut pandang ketat

diacu terlebih dahulu. Ini merupakan indikasi bahwa agama merupakan salah satu kesempatan manusia untuk menerima apa yang diterimanya.

a. Cerdik bermedia, lihai bermedia juga penting, sulit mencerna semua data dan isu yang berputar-putar sebelum mengecek kenyataan.

B. Saran

Mengingat tujuan yang telah diungkapkan, penulis menyampaikan beberapa gagasan sebagai berikut:

1. Terus berusaha meningatkan kemampuan dalam memperdalam materi tentang ketoleransian bagi guru PAI

2. Terus berusaha mencontohkan nilai-nilai toleransi agama kepada siswanya.

3. Harus ada manajemen remaja dalam pemanfaatan media sosial karena mereka sering mendapatkan pemahaman yang keliru dari media sosial mereka sendiri.

4. Lebih meningkat pelayanan bimbingan konseling kepada para siswa 5. Agar segera ada guru agama sesuai agama para siswa yang ada.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman Assegaf, Pendidikan Islam di Indonesia, Yogyakarta: Surya Press, 2007

Abdurrahmat Fathoni, Metodologi Penelitian dan Teknik Penyusunan Skripsi, Jakarta: Rineka Cipta, 2006

Abu Tolhah, Kerukunan Antar Umat Beragama, Semarang: IAIN Walisongo, 1980

Ali Maksum, Pluralisme dan Multikulturalisme, Malang: Aditya Media Publishing, 2011

Alo Liliweri, Gatra-Gatra Komunikasi Antar Budaya, Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2001

Andi Supangat, Statistika dalam Kajian Deskriptif, Inferensi, dan Nonparametrik, Jakarta: Kencana Premada Media Group, 2010

Bashori, Pendidikan Islam Kontemporer, Bandung: PT Reflika Aditama, 2009 Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Kualitatif, Jakarta: Kencana Prenanda

Median Group, 2005

Cece Wiyaja dan Tabrani Yusran, Kemampuan Guru dalam Proses Belajar Mengajar, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994

Depag RI, Bingkai Teologi Kerukunan antar Umat Beragama di Indonesia, Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Agama Proyek Peningkatan Kerukunan Antar umat Beragama di Indonesia, 1997

Dewan Ensiklopedi Indonesia, Ensiklopedia Indonesia Jilid 6, Van Hoeve, tth Djamal Satori dan Aan Komariah, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung:

Alfabeta, 2014

E. Mulyasa, Menjadi Guru Professional, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011 Edi Kusnadi, Metodologi Penelitian, Metro: STAIN Metro dan Ramayana Pers,

2008

Faisal Ismail, Dinamika Kerukunan antar Umat Beragama, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014

Hamzah Tauleka Zn, Sosiologi Agama, Sarabaya: IAIN SA Press, 2011

Imam Syaukani, Komplikasi Kebijakan dan Peraturan Undang-Undang Kerukunan Umat Beragama, Jakarta: Puslitbang, 2008

Irwan Masdudi, Berislam secara Toleransi Bandung: Mizan Pustaka, 2011 Jirhanuddin, Perbandingan Agama, Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2010

Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Edisi Revisi, Cet. 31, Bandung: Rosda Karya, 2013

Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2014

M. Atta Satria, “Implementasi Toleransi di Pondok Pesantren Darut Taqwa Pasuruan”, Jurnal Syariah dan Hukum, Vol 6 No 1, Juni 2014,

Mangun Budiyanto, Ilmu Pendidikan Islam, Yogyakarta: Griya Santri, 2011 Muhamad Nurdin, Kiat Menjadi Guru Profesional, Jogjakarta: Ar-RuzzMedia,

2008

Muhammad Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010

N. Yustisia, Hypno Teaching, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2012

Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010

Ni Putu Alit Wulandari, “Bentuk Toleransi antar Umat Beragama pada Siswa”, Jurnal Sosial dan Hemaniora, Vol 2, No 1, 2019

Nurkholish Majid, Plularisme Agama Kerukunanan dalam Keberagaman, Jakarta: Kompas, 2001

Ridwan Lubis, Cetak Biru Peran Agama, Jakarta: Puslitbang, 2005

Sail Agil Munawar, Fiqih Hubungan antar Umat Beragama, Jakarta: Ciputat Press, 2003

Said Agil Husain Al-Munawar, Fiqih Hubungan antar Umat Beragama, Jakarta:

Ciputat Press, 2005

Soetjipto dan Raflis Kosasi, Profesi Keguruan, Jakarta: Reneka Cipta, 1999 Suban Ayun, “Perwujudan Sikap Toleransi Pada Siswa Kelas II SMA Negri Pulai

Murutai”, Jurnal Pendidikan, Vol.14 No 1 Januari 2015

Sudjangi, Profil Kerukunan antar Umat Beragama, Badan Penelitian dan Pengembangan Agama Poyek Peningkatan Kerukunan antar Umat Beragama

Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif R & D, Bandung: Alfabeta, 2009

Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, Cet. 16, Bandung:

Alfabeta, 2012

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Edisi Revisi, Cet. 14, Jakarta: Rineka Cipta, 2010

Suharso dan Ana Retnoningsih, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Semarang:

Widya Karya, 2006

Sukardi, Metodologi Penelitian Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 2003 Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian, Jakarta: Rajawali Pers, 2013 Suparlan, Guru sebagai Profesi, Yogyakarta: Hikayat Publishing, 2006

Surati, “Pengaru Persepsi Peserta Didik Mengenai Media Sosial Teradap Sikap Toleransi”, Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan, Vol. 5 No. 1 Maret 2017

Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak dalam Interaksi Edukatif, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2000

Tajbad, et.al, Dasar-Dasar Kependidikan Islam, Surabaya: Karya Aditama, 1996 Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta:

Balai Pustaka, 1989

Wahyuddin dkk, Pendidikan Agama Islam Untuk Perguruan Tinggi, Jakarta: PT Gramedia Widia Sarana Indonesia, 2009

WJS. Poerwadartima, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1980

Zakiyuddin Baidhawy, Pendidikan Agama Berdasarkan Multikultural, Jakarta:

Erlangga, 2005

Zuhairi, et.al, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, Jakarta: Rajawali Pers, 2016

ALAT PENGUMPUL DATA (APD)

PERAN GURU PAI DALAM PEMBELAJARAN KERUKUNAN ANTAR UMAT BERAGAMA DI SMP ISLAM TIAS BANGUN KECAMATAN

PUBIAN LAMPUNG TENGAH PEDOMAN WAWANCARA

A. Pengantar

1. Wawancara ditanyakan kepada kepala sekolah, waka kurikulum, guru PAI, dan siswa di SMP Islam Tias Bangun Kecamatan Pubian Lampung Tengah dengan maksud untuk mendapatkan informasi tentang “Peran Guru PAI dalam Pembelajaran Kerukunan antar Umat Beragama di SMP Islam Tias Bangun Kecamatan Pubian Lampung Tengah”

2. Informasi yang diperoleh dari kepala sekolah, waka kurikulum, guru PAI, dan siswa sangat berguna bagi penulis untuk menganalisis tentang “Peran Guru PAI dalam Pembelajaran Kerukunan antar Umat Beragama di SMP Islam Tias Bangun Kecamatan Pubian Lampung Tengah”

3. Data yang kami dapatkan semata-mata hanya untuk kepentingan penelitian, untuk itu kepada kepala sekolah, waka kurikulum, guru PAI,

3. Data yang kami dapatkan semata-mata hanya untuk kepentingan penelitian, untuk itu kepada kepala sekolah, waka kurikulum, guru PAI,