• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

Proses Advokat Dalam pendampingan Hukum Korban Pelecehan Seksual

terdiri dari beberapa hal yang meliputi :

1. Mendapatkan surat kuasa dari korban tindak pidana pelecehan

seksual.

2. Membantu korban secara Cuma-Cuma (Pro-deo) terhadap korban

tindak pidana pelecehan seksual.

3. Mendapatkan amanah dari lembaga Bantuan Hukum untuk

mendampingi Korban tindak pidana pelecehan seksual.

48

Ibid

49

Dalam hal ini proses pendampingan terhadap korban tindak pidana

pelecehan seksual dilakukan dari tingkat penyidikan, penuntutan, sampai

ketingkat persidangan.

Didalam tingkat penyidikan Advokat berhak mendampingi korban

pelecehan seksual, Polres Resor Tegal mempunyai Unit PPA ( Pelayanan

Korban dan Anak ), Unit PPA mempunyai tugas dan wewenang

memberikan pelayanan dalam bentuk perlindungan terhadap korban dan

anak yang menjadi korban kekerasan seksual adalah Unit PPA

menggunakan Standar Operasional Penanganan Kasus Anak pada Unit

PPA. Ada beberapa yang dilakukan oleh Unit PPA untuk mencerminkan

sebagai aparat penegak hukum dalam menangani kasus kekerasan seksual

terhadap anak. Diantaranya yaitu :

a. Pihak Unit PPA memberikan konsultasi kepada keluarga korban atau

korban itu sendiri, mengenai peristiwa yang dihadapi oleh korban.

b. Mendampingi dalam pembuatan laporan, setelah adanya kepastian

mengenai tindak pidana yang telah diceritakan korban maupun keluarga

korban.

c. Setelah pihak Unit PPA mendampingi dalam pembuatan laporan, maka

langkah yang di ambil adalah mengantar korban tersebut ke rumah

sakit, guna untuk kepentingan visum. Tujuan visum tersebut untuk

mempermudah proses pembuktian karna tindak pidana kekerasan

seksual sangatlah baru, sehingga dengan hasil visum tersebut

d. Melapor ke Sat Reskrim mengenai tindak pidana pelecehan seksual

terhadap korban, guna mendapat persetujuan dari pimpinan untuk

melanjutkan proses tindak pidana tersebut.

e. Mendampingi korban yang menjadi korban pelecehan seksual sampai

pada penyidikan, dengan mengedepankan hak-hak yang diperoleh

korban.

f. Melakukan penyidikan atau bisa disebut Olah TKP ( Tempat Kejadian

Perkara ). Hal ini bertujuan untuk melengkapi bukti lain.

Penegakan hukum yang dilakukan oleh Polres Resor Tegal dalam hal

tindak pidana kekerasan seksual terhadap anak dengan mengupayakan

penyuluhan hukum kepada masyarakat, dengan diadakannya

penyuluhan hukum, masyarakat diharapkan dapat memahami

Perundang-undangan terkait kekerasan seksual, khususnya

undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas

Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. Maka dari

itu masyarakat dituntut untuk turut membantu pihak Polres Resor Tegal

dalam menegakan hukum. Masih rendahnya tingkat pendidikan

masyarakat sehingga pengetahuan akan hukum masih minim. Selain

melakukan penyuluhan hukum, pihak Unit PPA (pelayanan korban dan

anak) Polres Resor Tegal dalam menegakan hukum yaitu dengan

mendampingi korban dalam pembuatan laporan polisi, laporan polisi

dibuat di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT), SPKT bertugas

penerimaan dan penanganan pertama laporan atau pengaduan,

mengantarkan anak yang menjadi korban ke rumah sakit dengan tujuan

visum, membuat berita acara pemeriksaan anak yang didampingi oleh

orang tua korban, psikolog, didampingi penasehat hukum, dalam hal

penyelidikan Unit PPA memeriksa saksi-saksi yang melihat kejadian

perkara tersebut, jika tidak ada saksi maka korban akan dimintai

keterangan dalam kasus kekerasan seksual yang didampingi oleh

Polwan dan psikolog, mengecek keberadaan pelaku serta

menangkapnya, setelah pelaku tertangkap maka akan dimintai

keterangan mengenai kekerasan seksual terhadap anak50.

Menurut Kepala Unit PPA Polres Resor Tegal Iptu Aris Maryono, S.H.

pelecehan seksual terhadap anak dan korban di Kabupaten Tegal setiap tahun

selalu meningkat, rata-rata kasus kekerasan seksual yang ada di Kabupaten

Tegal pelaku merupakan anak yang masih dibawah umur. Berdasarkan hasil

penelitian yang diperoleh penulis, berikut adalah data dari unit PPA Polres

Resor Tegal mengenai kekerasan seksual yang terjadi di Kabupaten Tegal.

Penulis mengambil data dari tahun 2015 sampai 2019 yang disajikan dalam

tabel berikut :

50

Wawancara dengan Bapak Iptu Aris Maryono, Kepala Unit perlindungan Korban dan Anak Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Tegal. Hari kamis 15 Desember 2019, Bertempat di polres Tegal

Data Kasus Kekerasan Seksual Terhadap Anak di Kabupaten Tegal Tahun 2015-2019 No Jenis Kekerasan 2015 2016 2017 2018 2019 1. Pencabulan 5 11 6 1 1 2. Eksploitasi Seksual - - - 1 - 3. Pemerkosaan 6 8 7 5 7

Berdasarkan data diatas kekerasan seksual terhadap anak dan korban

meningkat dari tahun ke tahun, khususnya untuk kasus pemerkosaan setiap

tahun selalu meningkat, untuk kasus pencabulan angka tertinggi yaitu pada

tahun 2016-2017, kasus yang tidak terjadi yaitu eksploitasi seksual hanya ada

satu kasus di tahun 2017. Oleh sebab itu maka aparat penegak hukum,

khususnya kepolisian agar dapat mencegah angka tingginya kekerasan

seksual terhadap anak di Kabupaten Tegal. Dengan melibatkan dari berbagai

lembaga-lembaga yang terkait, sertaperan masyarakat untuk ikut serta dalam

melindungi anak agar tidak terjadinya kekerasan seksual terhadap anak.

Kasus pelecehan seksual tersebut meperlihatkan betapa lemahnya sistim

hukum untuk melindungi dan menjamin akses keadilan bagi korban.

Meskipun Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan

Anak sudah mengalami perubahan kedua kalinya menjadi Undang-undang

Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, menjelaskan perlunya

pemberatan sanksi pidana dan pemberian hukuman tambahan bagi pelaku

kejahatan atau kekerasan seksual terhadap anak sebagai upaya pencegahan

dan rehabilitasi serta memberikan efek jera kepada pelaku kekerasan seksual,

karena kejahatan sudah sangat mengancam kelangsungan hidup dan tumbuh

kembang anak, serta dampak yang diakibatkan menjadi trauma seumur hidup.

Tetapi dengan fakta yang ada sanksi pidana yang dijatuhkan bagi pelaku

kekerasan seksual terhadap anak belum sepenuhnya memberikan efek jera

dan belum mampu mencegah terjadinya kekerasan seksual terhadap anak.

Kekerasan seksual terhadap anak, mungkin bisa diselesaikan secara

restorative, hal tersebut bergantung pada kondisi si korban, sebab beberapa faktor yang mempengaruhi penegakan hukum terhadap tindak pidana yang

terjadi di tengah-tengah masyarakat. Kasus pelecehan seksual terhadap

korban akan terhambat dengan faktor masyarakat dan faktor budaya yang ada

didalam masyarakat itu sendiri.

Menurut Kepala unit PPA Iptu Aris Maryono, S.H. untuk

mengoptimalkan kinerja unit PPA dan mencegah terjadinya Pelecehan

terhadap anak unit PPA melaksanakan pelayanan 24 jam. Unit PPA dalam

mencegah pelecehan seksual terhadap anak dan korban lebih

memprioritaskan hak-hak anak dan korban serta bantuan pendampingan

terhadap anak sampai pada penyidikan. Perlindungan yang dilaksanakan

korban tidak serta merta mengacu pada Undang-undang Perlindungan Anak.

Tetapi berdasarkan pelaksanaan Perkapolri Nomor 3 Tahun 2008 tentang

Pembentukan Ruang Pelayanan Khusus dan Tata Cara Pemeriksaan Saksi

atau Korban Tindak Pidana. Perlindungan terhadap anak korban kekerasan

seksual yang dilaksanakan unit PPA Polres Resor Tegal menggunakan

perlindungan secara preventif dan perlindungan represif.

1. Perlindungan Preventif

Perlindungan secara preventif merupakan suatu tindakan yang dilakukan

Polres Resor Tegal untuk mencegah semakin banyaknya kekerasan terhadap

anak khususnya kekerasan seksual, dilakukan dalam bentuk penyuluhan dan

sosialisasi kepada masyarakat.

2. Perlindungan Represif

Perlindungan represif merupakan upaya yang dilakukan unit PPA Polres

Resor Tegal dalam melaksanakan bentuk pelayanan terhadap anak yang

menjadi korban kekerasan seksual, bertujuan untuk memberikan rasa

aman dan menjamin keselamatan fisik dan psikis korban sebagai pelapor

atau saksi korban di wilayah hukum Polres Resor Tegal‟‟.

Upaya pendampingan yang dilaksanakan oleh Polres Resor Tegal, yaitu :

a. Melaksanakan pembinaan kepada masyarakat agar selalu tertib dan

menciptakan rasa aman.

b. Penyuluhan kepada masyarakat tentang tindak pidana kekerasan terhadap

di sekolah-sekolah, di tingkat universitas, pondok pesantren, karang taruna

dan ibu-ibu PKK.

c. Pelaksanaan penyuluhan mulai ditingkat desa dan kecamatan.

d. Pendataan masyarakat.

e. Pencegahan serta peringatan kepada masyarakat terhadap ancaman atau

sanksi pidana kekerasan terhadap anak terkhususnya kekerasan seksual.

f. Menghimbau kepada masyarakat untuk saling bekerjasama dengan

kepolisian jika mengetahui adanya kekerasan terhadap anak dan

melaporkan.

g. Memberikan peringatan dan bahaya dari kekerasan seksual terhadap anak

serta dampak buruk bagi masa depan anak.

h. Menghimbau para orang tua atau masyarakat saling menjaga anak, agar

tidak ada unsur kekerasan terhadap anak.

i. Mengadakan penyuluhan hukum, rendahnya tingkat pendidikan masyarakat

di wilayah Hukum Kabupaten Tegal, sehingga pengetahuan akan hukum

masih rendah, oleh sebab itu harus diadakannya bimbingan dan penyuluhan

tentang hukum dari aparat penegak hukum.

j. Melaksanakan Patroli secara rutin

k. Dengan diadakan patroli yang rutin maka akan meminimalisir terjadinya

tindak pidana. Dimana aparat kepolisian terjun

langsung ke masyarakat dan bergabung dalam menjaga keamanan dan

ketertiban. Aparat kepolisian melakukan patroli ke daerah yang rawan

l. Bekerjasama dengan petugas Polri yang bertugas di tingkat desa sampai

dengan kelurahan atau bisa kita sebut Bhabinkamtibmas.

Polri yang bertugas di tingkat desa atau kelurahan dapat disebut

Bhabinkamtibmas (Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban

Masyarakat), tugas pokok Bhabinkamtibmas didasarkan pada Pasal 27

Peraturan Kapolri Nomor 3 Tahun 2015. Tugas pokok Bhabinkamtibmas

adalah melakukan pembinaan masyarakat, deteksi dini dan mediasi atau

negosiasi agar tercipta kondisi yang kondusif di desa atau kelurahan.

m. Berkaitan dengan kasus kekerasan terhadap anak, Polres Tegal tidak

menampung anak korban kekerasan seksual, tetapi Polres Tegal telah

bekerjasama dengan pihak instansi-instansi atau lembaga yang menaruh

perhatian terhadap persoalan anak. Beberapa instansi yang bekerjasama

dengan Polres Tegal adalah BAPAS (balai pemasyarakatan), Dinas

Pemberdayaan Korban, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan

Keluarga Berencana ( Dinas P3A dan P2KB ), Dinas Sosial, Rumah sakit51.

Berdasarkan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem

Peradilan Pidana Anak pada Pasal 65, BAPAS (balai pemasyarakatan)

bertugas :

a. membuat laporan penelitian kemasyarakatan untuk kepentingan Diversi,

melakukan pendampingan, pembimbingan, dan pengawasan terhadap Anak

51

Wawancara dengan Bapak Iptu Aris Maryono, Kepala Unit perlindungan Korban dan Anak Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Tegal. Hari kamis 15 Desember 2019, Bertempat di polres Tegal

selama proses Diversi dan pelaksanaan kesepakatan, termasuk

melaporkannya kepada pengadilan apabila Diversi tidak dilaksanakan.

b. membuat laporan penelitian kemasyarakatan untuk kepentingan penyidikan,

penuntutan, dan persidangan dalam perkara Anak, baik di dalam maupun di

luar sidang, termasuk di dalam LPAS dan LPKA.

c. menentukan program perawatan Anak di LPAS dan pembinaan Anak di

LPKA bersama dengan petugas pemasyarakatan lainnya;

melakukan pendampingan, pembimbingan, dan pengawasan terhadap Anak

yang berdasarkan putusan pengadilan dijatuhi pidana atau dikenai

tindakanmelakukan pendampingan, pembimbingan, dan pengawasan

terhadap Anak yang memperoleh asimilasi, pembebasan bersyarat, cuti

menjelang bebas, dan cuti bersyarat.

Menurut Kepala Unit PPA Iptu Aris Maryono, S.H. jika pelaku merupakan

masih dibawah umur maka pendampingan yang harus dilakukannya dengan

memperhatikan hak-hak anak tersebut meskipun telah melakukan perbuatan

tindak pidana. Setiap anak dalam proses peradilan pidana berhak

diperlakukan secara manusiawi dengan memperhatikan kebutuhan sesuai

dengan umurnya. Serta melakukan upaya Diversi, diversi

merupakanpengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan

pidana sampai keluar proses peradilan pidana52.

52

Wawancara dengan Bapak Iptu Aris Maryono, Kepala Unit perlindungan Korban dan Anak Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Tegal. Hari kamis 15 Desember 2019, Bertempat di polres Tegal

Dokumen terkait