• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.2. Pembahasan

Dari hasil penelitian diketahui bahwa kepala Kantor Kementerian Agama, kepala Badan Kepegawaian Daerah, dan ketua Persatuan Guru Republik Indonesia Kabupaten Aceh Tenggara belum mengetahui adanya Peraturan Bersama 5 Menteri terkait dengan pemataan dan pemerataan guru.

Namun demikian, kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Tenggara sudah mengetahui adanya Peraturan Bersama 5 Menteri terkait dengan pemataan dan pemerataan guru.

Dari hasil penelitian juga diketahui bahwa penyebab Peraturan Bersama 5 menteri terkait dengan pemetaan dan pemerataan guru belum dilaksanakan karena pihak Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Tenggara belum menerima Peraturan Bersama 5 menteri terkait dengan pemetaan dan pemerataan guru. Berbeda halnya dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan

yang telah melaksanakan Peraturan Bersama 5 menteri di Kabupaten Aceh Tenggara sejak tanggal 12 Maret 2014.

BKPP juga belum berperan terkait Peraturan Bersama 5 menteri tentang pemetaan dan pemerataan guru belum dilaksanakan di Kabupaten Aceh Tenggara. Dalam hal ini, kebijakan tentang guru mengacu kepada Keputusan Bupati tentang Perpindahan, pemetaan, dan pemerataan guru berdasarkan usulan dari Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga. BKPP juga belum pernah mendiskusikan secara internal atau dengan dinas terkait lainnya terkait Peraturan Bersama 5 menteri termasuk Petunjuk Teknisnya.

Di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Tenggara sudah memiliki peta guru yang menginformasikan tentang kelebihan dan/atau kekurangan guru Pegawai Negeri Sipil. Namun demikian, Peraturan Bersama 5 menteri termasuk Petunjuk Teknisnya belum didiskusikan secara internal atau dengan instansi terkait lainnya.

Dari hasil penelitian diketahui bahwa Kantor Kementerian Agama dan Persatuan Guru Republik Indonesia Kabupaten Aceh Tenggara sangat setuju menurut Petunjuk Teknis (Bab VI bagian Sanksi) yang menyatakan bahwa provinsi, kabupaten/kota yang tidak melaksanakan Peraturan Bersama 5 menteri akan mendapat sanksi berupa “Penghentian sebagian atau seluruh bantuan finansial fungsi pendidikan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan”. Akan tetapi, kendala yang dihadapi oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Tenggara saat pelaksanaan Peraturan Bersama 5 menteri terkait dengan pemetaan dan pemerataan guru Pegawai Negeri Sipil

adalah banyaknya guru yang keberatan dipindahkan ke tempat yang jauh dari tempat tinggal mereka dan siap menerima sanksi dengan membuat pernyataan tertulis.

Di lingkungan kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Tenggara diketahui bahwa guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) sudah terdistribusi, akan tetapi belum secara merata. Diketahui juga bahwa dalam pelaksanaan Peraturan Bersama 5 menteri terutama terkait dengan kewajiban mengajar mereka 24 jam banyak guru yang protes. Mereka tidak mau mengajar ke tempat yang jauh dari tempat tinggalnya, sementara kalau di sekolah yang dekat dengan tempat tinggal mereka sudah kelebihan guru.

Penataan dan pemerataan guru merupakan prasyarat utama dalam rangka upaya meningkatkan kualitas pendidikan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan memindahtugaskan guru- guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) sesuai dengan ketentuan Peraturan Bersama 5 Menteri. Mutasi menurut Hasibuan (2000:101) adalah: “Suatu perubahan posisi/jabatan/tempat/pekerjaan yang dilakukan baik secara horizontal maupun vertikal (promosi/demosi) di dalam suatu organisasi”. Berdasarkan pendapat Hasibuan tersebut dapatlah dicermati bahwa pada prinsipnya mutasi adalah memutasikan karyawan PNS kepada posisi yang tepat dan pekerjaan yang sesuai, agar semangat produktivitasnya meningkat.

Kementerian Agama Kabupaten Aceh Tenggara akan secepatnya membahas dan mengaplikasikan Peraturan Bersama 5 Menteri terkait dengan penataan dan pemerataan guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) di wilayah

kerjanya. Selanjutnya, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Tenggara menyikapinya protes dari guru terkait dengan kewajiban mengajar 24 jam adalah bagi guru yang keberatan dipetakan pihak Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga harus dan sudah membuat surat pernyataan di atas materai 6000 yang berisikan bahwa guru bersedia menanggung resiko yang ada seperti tidak bisa mendapat tunjangan profesi dan fungsional. Namun demikian, bagi guru yang mau dipetakan disuruh mencari sekolah-sekolah yang kekurangan guru dan langsung membuat permohonan pindah dan segera diproses oleh Dinas Pendidikan, Pemudan, dan Olahraga.

Di lingkungan kantor Kementerian Agama guru Non Pegawai Negeri Sipil/Kontrak belum secara merata terdistribusi atau tertata dengan baik ke semua jenjang dan jenis Satuan Pendidikan termasuk di pedalaman. Namun demikian, pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Tenggara sudah melaksanakan Petunjuk Teknis Peraturan Bersama 5 menteri terkait dengan penataan dan pemetaan guru disebutkan bahwa guru Pegawai Negeri Sipil dapat dipindahkan antar Satuan Pendidikan, antar Jenis Pendidikan, antar kabupaten/kota, dan antar propinsi.

Jumlah guru yang ada di lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Aceh Tenggara diupayakan merata. Namun demikian, ada mata pelajaran tertentu gurunya berlebih dan ada mata pelajaran tertentu gurunya masih sangat kurang. Sementara itu, proses pelaksanaan Petunjuk Teknis Peraturan Bersama 5 menteri terkait dengan penataan dan pemetaan guru disebutkan bahwa guru Pegawai Negeri Sipil dapat dipindahkan antar Satuan Pendidikan, antar Jenis

Pendidikan, antar kabupaten/kota, dan antar propinsi sudah melakukan dua kali pemetaan dan pemerataan guru jenjang Sekolah Dasar.

Sebenarnya di lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Aceh Tenggara sesuai dengan kebutuhan, guru di madrasah masih sangat kurang.

Oleh karena itu, untuk mengatasi kekurangan guru di Kementerian Agama Kabupaten Aceh Tenggara dilakukan dengan mengangkat guru baru sesuai dengan kebutuhan. Sementara itu, hasil proses pelaksanaan Petunjuk Teknis Peraturan Bersama 5 menteri terkait dengan penataan dan pemetaan guru disebutkan bahwa guru Pegawai Negeri Sipil dapat dipindahkan antar Satuan Pendidikan, antar Jenis Pendidikan, antar kabupaten/kota, dan antar propinsi adalah sekolah- sekolah yang gurunya menumpuk (berlebih) sekarang sudah sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal dan sekolah- sekolah yang kekurangan guru sebagian besar sudah terpenuhi.

Kebijakan mutasi PNS juga perlu diketahui melalui pendekatan yang menggunakan metode deskriptif. Melalui pendekatan deskriptif diharapkan akan menghasilkan informasi yang terpercaya dan valid mengenai hasil- hasil kebijakan. Dalam hal ini, Wahab (2005:86-87) menegaskan bahwa: “Pembuat kebijakan dapat memainkan peran yang cukup berarti dalam rangka pencapaian tujuan kebijakan dengan cara mendayagunakan wewenang yang mereka miliki untuk menstrukturkan proses implementasi secara tepat dan efektif”.

Selanjutnya, Lester dan Steward dalam Nugroho (2004:197) mengelompokkan evaluasi kebijakan menjadi: “(1) Evaluasi proses, (2) Evaluasi impak/dampak, dan (3) Evaluasi kebijakan”. Mengenai tiga hal

evaluasi tersebut, evaluasi proses adalah evaluasi yang berkenaan dengan proses pelaksanaan. Evaluasi impak, yaitu evaluasi berkenaan dengan hasil dan/atau pengaruh dari pelaksanaan kebijakan, sedangkan evaluasi kebijakan, yaitu menyangkut tentang kebenaran hasil yang dicapai telah mencerminkan tujuan yang dikehendaki.

Belum terdistribusinya dengan baik guru di lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Aceh Tenggara sampai ke sekolah pelosok, akan tetapi.

pedoman atau aturan yang digunakan oleh Kementerian Agama selama ini saat melakukan distribusi guru adalah PMA tahun 2010 tentang Pedoman Pendistribusian Guru dan Pengawas. Selain itu, kendala yang dihadapi dalam melakukan distribusi guru di lingkungan Kementerian Agama adalah jarak antara madrasah satu dengan lainnya saling berjauhan dan guru umum di madrasah masih sangat kurang.

BAB V PENUTUP

5.1. Simpulaan

1. Di Kabupaten Aceh Tenggara masih terdapat kesenjangan penataan dan pemerataan guru, baik di lingkungan Kementerian Agama maupun Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.

2. Di Kabupaten Aceh Tenggara penataan dan pemerataan guru walaupun sudah dilaksanakan, akan tetapi masih belum sesuai dengan yang ditentukan oleh Peraturan Bersama 5 menteri tentang Penataan dan Pemerataan Guru Pegawai Negeri Sipil.

5.2. Saran

1. Agar pemerintah daerah di Kabupaten Aceh Tenggara dapat melakukan penataan dan pemerataan guru, baik di lingkungan Kementerian Agama maupun Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.

2. Agar pemerintah daerah di Kabupaten Aceh Tenggara dalam melakukan penataan dan pemerataan guru, baik di lingkungan Kementerian Agama maupun Dinas Pendidikan dan Kebudayaan sesuai dengan yang ditentukan oleh Peraturan Bersama 5 menteri tentang Penataan dan Pemerataan Guru Pegawai Negeri Sipil.

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Azrul. 1996. Pengantar Administrasi Kesehatan. Edisi Pertama. Cetakan Ketiga. Jakarta: Depkes RI.

Arman, Syamsuni. 1995. Kajian Dampak Sosial Budaya dalam Pembangunan (Pengantar tentang Kerangka Konsep, Metodologi, dan Teknik). Dalam Proyeksi. Publikasi Ilmiah untuk Mahasiswa, Staf Pengajar, dan Alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Tanjungpura, Pontianak.

Nomor: 1 Tahun VI. Agustus 1995. ASSN 1215 – 9252.

Arikunto, Suharsimi. 2003. Prosedur Penelitian, Suatu Praktek. Jakarta:Bina Aksara.

Dwiyanto, Agus, et al. 2002. Birokrasi di Indonesia (Laporan Penelitian).

Yogyakarta: FISIPOL UGM.

Dwidjowijoto, R. N. 2008. Public Policy. Jakarta: Elek Media Komputindo.

Dharma, Surya. (2009). Manajemen Kinerja Falsafah Teori dan Penerapannya.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Fatah, N. 1996. Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Hasibuan, Malayu. 2000. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Aksara.

Krismartini, dkk. 2008. Analisis Kebijakan Publik, Jakarta: Universitas Terbuka.

Lembaga Administrasi Negara RI. 2005. SANKRI, Buku III – Landasan dan Pedoman Pokok Penyelenggaraan dan Pengembangan Sistem Administrasi Negara. Jakarta: LAN.

Mustopadidjaya. 2005. Manajemen Proses Kebijakan Publik. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara - Duta Pertiwi Foundation.

Moleong, Lexy J. 2005. Metologi Penelitian Kualitatif. Bandung : remaja Rosda Karya.

Nitisemito, Alex, S. 1996. Manajemen Personalia (Manajemen Sumber Daya Manusia). Jakarta: Ghalia Indonesia.

Ndraha, Taliziduhu. 2003. Kybernologi, Ilmu Pemerintahan Baru. Jilid 1 dan 2.

Jakarta: Rineka Cipta.

Dokumen terkait