BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Pembahasan
Dari tabulasi data, diketahui bahwa setelah menggunakan teknik Make a
Match dalam kegiatan belajar mengajar bahasa Jerman, penguasaan kosakata bahasa Jerman peserta didik kelas X Bahasa meningkat. Persentase peningkatan nilai penguasaan kosakata bahasa Jerman dari sebelum diberikan tindakan sampai siklus satu adalah sebesar 5.1%. Kemudian peningkatan dari siklus I sampai siklus II adalah sebesar 6.1%. Dan peningkatan dari sebelum
diterapkannya teknik Make a Match (pratindakan) sampai setelah
diterapkannya teknik Make a Match (siklus II) adalah sebesar 11.5%. Terjadi
peningkatan nilai pada penguasaan kosakata bahasa Jerman peserta didik
dikarenakan kartu-kartu yang digunakan dalam teknik Make a Match
membantu peserta didik menghafal kosakata secara cepat dan mudah. Selain itu, kartu-kartu yang berisikan kata-kata benda disertai artikel juga membantu peserta didik untuk menghafal artikel dari suatu benda.
Kartu-kartu yang digunakan dalam teknik Make a Match ini adalah kartu-
kartu berwarna. Hal tersebut menambah daya tarik peserta didik dalam penerepannya. Selain itu, kartu yang berwarna membantu peserta didik dalam
menghafal. Seperti dalam materi Schule (nomen) kartu berwarna pink
berisikan gambar dan kartu berwarna hijau berisikan nama dari gambar tersebut. Dengan begitu, peserta didik dapat mengingat nama dari suatu benda dengan mudah. Kemudian setelah permainan usai, guru memberikan lembar tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik. Lembar tugas ini berisi soal- soal yang sama dengan isi dari kartu-kartu saat permainan. Setelah peserta
didik menghafal lewat lisan dari kartu, peserta didik menuangkannya ke dalam tulisan dalam lembar soal. Hal ini dimaksudkan agar kosakata yang telah dihafal peserta didik melalui indera penglihatannya dalam kartu, dapat melekat di dalam otak peserta didik melalui tulisan. Sebab melihat, mengucapkan, dan menuliskan adalah perpaduan paling baik dalam mengingat.
Sebelum diterapkannya teknik Make a Match, ada 10 orang peserta didik
yang memiliki nilai kurang dari KKM. Padahal soal yang diberikan saat tes berisi materi-materi yang telah dipelajari peserta didik sebelumnya. Hal ini membuktikan bahwa peserta didik belum dapat menghafal baik bunyi maupun tulisan dari kosakata-kosakata bahasa Jerman pada pembelajaran sebelumnya. Sebagai contoh, seperti yang diungkapkan oleh peserta didik dengan nomer
absen 12 dalam angket pertama “Saya belum terbiasa dengan penulisan
dalam kosakata Jerman, dan sedikit sulit membacanya.”. Bila dilihat dari perolehan nilai penguasaan kosakata peserta didik nomor absen 12 ada peningkatan yang berarti dari sebelum diterapakannya teknik sampai siklus kedua. Sebelum diterapaknnya teknik peserta didik tersebut hanya memperoleh nilai sebesar 70, setelah siklus satu berjalan nilai meningkat menjadi 80, dan pada akhir siklus peserta didik tersebut memperoleh nilai
sebesar 94. Ini menjadi salah satu bukti nyata bahwa teknik Make a Match
berhasil meningkatkan penguasaan kosakata bahasa Jerman peserta didik. Seperti yang diungkapkan peserta didik tersebut dalam angket kedua yang mempertanyakan bagaimana nilai bahasa Jerman setelah diterapkan teknik
Make a Match “Bisa dikatakan demikian, karena kosakata yang saya ingat, tidak akan saya lupa.”
Meski pada akhir siklus kedua masih terdapat peserta didik yang nilainya
belum mencapai KKM, hal tersebut disebabkan oleh faktor intern yang
berasal dari peserta didik itu sendiri. Guru dan peneliti telah berusaha mengupayakan agar prestasi peserta didik meningkat akan tetapi itu semua berbalik kepada pribadi masing-masing peserta didik. Peserta didik memiliki gaya belajar tersendiri. Ada peserta didik yang mengulang menghafal kosakata yang telah di dapat saat pelajaran, ada pula yang jarang untuk mengulang. Peserta didik dengan nomor absen 14 memperoleh nilai kurang dari KKM saat tes di akhir siklus kedua. Padahal nilai sebelumnya telah mencapai KKM. Guru dan peneliti menganalisis hal tersebut berdasarkan data yang ada. Dibuktikan dengan jawaban peserta didik nomor absen 14 pada angket kedua yang berisi pertanyaan bagaimana nilai setelah diterapkannya
teknik “Tapi perasaan saya nilainya malah turun.” Terlihat peserta didik
nampak pesimis dalam jawaban tersebut. Kemudian, bila dilihat dari nilai evaluasi belajar pada tiap tindakan di siklus II, peserta didik nomor absen 14
mendapatkan nilai rendah pada tindakan 1 (dengan materi Gegenstände in der
Schule) dan tindakan ke III (dengan materi Uhrzeit). Pada tindakan ke 4 dengan materi masih sama dengan tindakan ke III, peserta didik tidak hadir dalam pembelajaran dengan keterangan alpa. Dengan demikian, belum mencapainya nilai tes penguasaan kosakata peserta didik nomor absen 14 pada
siklus II disebabkan oleh peserta didik belum sepenuhnya menguasai materi materi yang diberikan pada saat tindakan di siklus II.
Dalam aspek keaktifan, peserta didik menjadi lebih turut aktif ikut serta
dalam proses kegiatan belajar mengajar setelah diterapkannya teknik Make a
Match. Bila sebelumnya peran guru lebih banyak di dalam kelas, setelah penerapan teknik ini peserta didik terlihat lebih mandiri. Hal ini telah sesuai dengan kurikulum 2013 yang digunakan guru dalam pembelajaran bahasa Jerman. Persentase peningkatan rata-rata skor keaktifan peserta didik dari pratindakan sampai siklus I adalah sebesar 47%. Sementara itu, peningkatan rata-rata skor keaktifan dari siklus I sampai siklus II adalah 23%. Maka, rata- rata skor keaktifan peserta didik dari pratindakan sampai siklus II mengalami
peningkatan sebesar 81%. Dari hasil tersebut, diketahui bahwa teknik Make a
Match juga turut serta meningkatkan keaktifan peserta didik dalam proses kegiatan belajar mengajar. Karena pembelajaran yang mengandung unsur permainan ini, peserta didik tidak lagi merasa bosan dalam pembelajaran bahasa Jerman. Seperti yang diungkapkan oleh peserta didik dengan nomor
absen 25 “Ya, karena selingan antara hiburan dan permainan sehingga tidak
jenuh.”
Adapun tahapan yang dilakukan saat proses kegiatan belajar mengajar bahasa Jerman untuk membantu peserta didik menguasai kosakata dengan
teknik Make a Match adalah sebagai berikut. Pertama, guru membagi peserta
didik menjadi 3 kelompok. Jumlah per orang dalam kelompok disesuaikan
pertama akan menjadi kelompok yang memilik kartu berisi gambar dari sebuah benda. Kelompok kedua akan menjadi kelompok yang memiliki kartu berisi nama dari benda tersebut. Dan kelompok 3 adalah kelompok yang menjadi juri, yang akan menentukan apakah kartu sudah seusuai atau belum (dimisalkan materi yang digunakan adalah kata benda yang ada di lingkup
Sekolah). Ketiga, kelompok pertama dan kelompok kedua mulai mencari
pasangan dari kartu yang mereka miliki. Bila mereka telah menemukan pasangannya, maka kartu tersebut dibawa kehadapan juri untuk diberi penilaian sudah sesuai atau belum. Juri dapat meminta bantuan kepada guru
bila mengalami kesulitan dalam menilai. Keempat, saat semua kartu telah
menemukan pasangannya, permainan dilakukan sekali lagi dengan merubah formasi kelompok. Hal ini dimaksudkan agar kelompok juri bisa turut andil dalam pencarian pasangan, dan kelompok yang telah mencari pasangan bisa
merasakan menjadi juri. Kelima, setelah permainan benar-benar berakhir,
peserta didik diminta untuk mengerjakan lembar soal, dengan tujuan kosakata yang telah mereka dapatkan dapat melekat dalam otak mereka. Dengan demikian, melalui kegiatan-kegiatan tersebut, peserta didik dikatakan telah turut aktif berpartisipasi dalam pembelajaran.