BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Pembahasan
Proporsi homozigot wildtype pada kelompok kasus adalah 81%, dan heterozigot varian 19%. Pada kelompok kontrol proporsi homozigot wildtype dan heterozigot varian masing-masing sebesar 71,4% dan 28,6%. Dalam penelitian ini, tidak ditemukan perbedaan yang signifikan antara distribusi genotipe EPHX1 dengan risiko kanker paru-paru. Zhou et al., menganalisis 974 pasien kanker paru-paru Kaukasia dan 1142 kontrol.
Mereka menemukan bahwa tidak ada hubungan signifikan antara genotipe EPHX1 dan risiko kanker paru. Kanker disebabkan oleh perubahan spesifik pada onkogen, gen
tumor-Genotip Observed Expected
²= 1,17 (p>0,05)
Homozigot Wildtype 30 30,86
Heterozigot Varian 12 10,29
Homozigot Variant 0 12,6
allele freq: Alel A = 0,86 Alel G = 0,14
supresor, dan gen microRNA. Perubahan seperti itu biasanya terjadi sebagai kejadian somatik, walaupun mutasi germline dapat mempengaruhi seseorang terhadap kanker yang diwariskan atau keluarga. (Moorthy et al., 2015)
Kiyohara et al. (2006) mendapati hasil bahwa polimorfisme pada ekson 4 dan prediksi aktivitas EPHX1 juga tidak terkait dengan risiko kanker paru-paru di kalangan kulit putih. Tidak diemukan efek dari polimorfisme pada ekson 4 disebutkan karena subsitusi asam amino lebih mungkin terjadi akibat stabilitas protein yang berubah dan bukan merupakan proses dari aktifitas enzim spesifik.
Berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan Graziano et al. (2009) pada penderita kanker paru berusia muda, dimana didapati perbedaan yang signifikan antara polimorfisme gen enzim EPHX1 His139Arg dengan resiko kanker paru. Hal ini mungkin disebabkan pada pasien kanker paru usia muda pajanan asap rokok masih minimal sehingga efek polimorfisme gen metabolik menjadi lebih jelas dalam subpopulasi ini.
Pada elektroforesis hasil RFLP dalam penelitian ini tidak ada ditemukan variasi polimorfisme gen yang homozigot varian (GG). hal ini sama dengan hasil penelitian yang dilakukan Persson et al. (1999) pada populasi Asia di China dan penelitian Voho et al.
(2006) pada populasi Kaukasian di Finlandia. Genotip homozigot varian ini banyak ditemukan pada penelitian Zienolddiny (2008) di Norwegia dan penelitian Zhou et al.
(2001) pada ras campuran di Amerika. Berdasarkan penelitian metaanalisis yang dilakukan, varian genotip GG merupakan varian minoritas dibandingkan dua varian genotip lainnya. Kemungkinan tidak ditemukannya genotip varian homozigot GG dapat dipengaruhi oleh adanya perbedaan ras pada masing-masing populasi.
Berdasarkan asumsi bahwa alel Arg pada ekson 4 memberikan aktivitas tinggi, Benhamou et al. (1998) mengklasifikasikan aktivitas EPHX1 sebagai rendah, menengah, atau tinggi dengan adanya atau tidak adanya polimorfisme. Enzim EPHX1 yang memiliki aktifitas yang lebih rendah tidak dapat mengeliminasi senyawa-senyawa epoksida secara efektif sehingga menyebabkan penumpukan hasil metabolit antara di jaringan paru.
Epoksida adalah senyawa yang bersifat elektrofilik sehingga sangat mudah bereaksi dengan DNA dan membentuk DNA-Adduct. Individu yang memiliki genotip His139Arg akan meningkatkan aktifitas kerja enzim EPHX1 sebesar 25%, hal ini akan menyebabkan
pembentukan DNA-Adduct yang lebih banyak sehingga risiko perkembangan kanker jadi lebih besar (Erkisi et al., 2009).
Hubungan antara polimorfisme gen EPHX1 His139Arg dengan kanker paru diuji dengan menggunakan Pearson chi-square. Dimana, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara polimorfisme enzim EPHX1 His139Arg dengan kejadian kanker paru (p>0.05). Hal ini dapat dipengaruhi karena pada dasarnya penyebab kanker paru adalah multifaktorial dan multipathway, kemungkinan varian enzim xenobiotik lain yang memetabolisme produk rokok yang lebih berperan dibandingkan enzim EPHX1 His139Arg pada penelitian ini.
Perbedaan hasil yang diperoleh diantara beberapa peneliti dapat dipengaruhi beberapa faktor seperti adanya perbedaan ras, metode pemeriksaan, dan besar sampel yang digunakan. Penelitian tentang peran polimorfisme EPHX1 pada kanker paru masih perlu dikembangkan, seperti yang disarankan oleh IARC prioritas untuk studi tentang epidemiologi molekular harus mencakup ukuran sampel yang besar, replikasi independen diikuti dengan studi awal, masuk akal secara biologis dan fisiologis, data bermakna mendukung peran fungsional polimorfisme yang dimaksud. Studi awal menunjukkan substansial variasi risiko terkena kanker paru pada individu dengan genotipe tertentu.
Meski begitu, etiologi kanker paru-paru tidak dapat dijelaskan oleh variabilitas alel pada satu lokus. Kemajuan dalam identifikasi varian baru dan teknik pemeriksaan genotip terbaru akan memudahkan analisis multipel polimorfisme di dalam gen sepanjang jalur yang sama. Oleh karena itu, kemungkinan studi definitif di masa depan akan memerlukan analisis sampel kasus dan kontrol yang besar.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh dan dianalisis secara statistik dapat disimpulkan bahwa:
1. Proporsi homozigot wildtype (AA) pada kelompok kasus sebanyak 34 orang (81,0%), heterozigot varian (AG) sebanyak 8 orang (19,0%) dan homozigot varian (GG) tidak dijumpai. Proporsi homozigot wildtype pada kelompok kontrol sebanyak 30 orang (71,4%), heterozigot varian sebanyak 12 orang (28,6%) dan homozigot varian tidak dijumpai.
2. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kerentanan terjadinya kanker paru dengan distribusi genotip polimorfisme gen enzim EPHX1 His139Arg. (p = 0,30) 3. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kerentanan terjadinya kanker paru
dengan distribusi alel A maupun alel G gen enzim EPHX1 His139Arg. (p = 0,34).
5.2 Saran
1. Sebaiknya dilakukan pemeriksaan kadar BaP dan BPDE dalam darah pada kasus dan kontrol untuk melihat sejauh mana hubungan polimorfisme gen enzim EPHX1 His139Arg dengan metabolisme PAH di dalam tubuh dan kejadian kanker paru yang merokok.
2. Untuk melihat sejauh mana hubungan genetik dengan kejadian kanker paru yang merokok dapat dilakukan penelitian tentang gen enzim metabolisme xenobiotik yang lainnya (Cyp Family, GSTP, dan lain-lain).
DAFTAR PUSTAKA
Arand, M., Cronin, A,. Adamska, M., Oesch, F. 2005. Epoxide Hydrolases : Structure, Function, Mechanism, and Assay. Methods in Enzymology, 400:
569-588.
Benhamou, S., Reinikainen, M., Bouchardy, C., Dayer, P. and Hirvonen, A. 1998.
Association Between Lung Cancer and Microsomal Epoxide Hydrolase Genotypes. Cancer research, 58: 5291-5293.
Christine, N. S. S. 2011. Hubungan Merokok dengan Kanker Paru di RSUP Haji
Adam Malik Tahun 2009.IlmuKedokteranRespirasi,
http://repository.usu.ac.id.
Danaei, G. 2005. Causes of Cancer in the World: Comparative Risk Assessment of Nine Behavioural and Environmental Risk Factors. Lancet, 366:1784-93.
DeMarini. D. M. 2004. Genotoxicity of Tobacco Smoke and Tobacco Smoke Condensate: a review. Mutation Research, 567: 447–474
Ding, Y.S., Ashley D.L., Watson, C.H. 2007, Determination of 10 Carcinogenic Polycyclic Aromatic Hydrocarbons in Mainstream Cigarette Smoke, Journal of Agricultural and Food Chemistry, 55: 5966-5973.
[Depkes RI] Departemen Kesehatan RI, Riset Kesehatan Dasar. 2013.Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta,
El-Sherbeni, A.A. and El-Kadi, A.O.S. 2014. The Role of Epoxide Hydrolases in Health and Disease. Arch Toxicol, 88: 2013–2032.
Erkisi, Z., Eraltan, I.Y., Turna, A., Gormus, U., Canlica, H. et al. 2010.
Polymorphisms in the Microsomal Epoxide Hydrolase Gene : Role in Lung Cancer Susceptibility and Prognosis. Tumori, 96 : 756-763.
Fossella , F.V. 2003. Clinical Examination of Patients with Suspected Lung Cancer. In Buzdar A, Freedman RS Lung Cancer. Springer. New York. 25-34.
GLOBOCAN. (2012). Section of Cancer Surveillance.
Graziano, C., Comin, C.E., Crisci, C., Novelli, L., Politi, L. et al. 2009. Functional Polymorphisms of The Microsomal Epoxide Hydrolase Gene : A Reappraisal
on a Early-onset Lung Cancer Patients Series : Lung Cancer. Elsevier, 63 : 187-193.
Gsur, A., Zidek, T., Schnattinger, K., Feik, E., Haidinger, G., Hollaus, P. et al.
2003. Association of Microsomal Epoxide Hydrolase Polymorphisms and Lung Cancer Risk. British Journal of Cancer, 89: 702–706.
Guntulu, A.K., Metentas, M., Metintas, S., Yildirim, H., Erginel, S. and Alatas, F.
2007. Lung Cancer in Individuals Less Than 50 Years of Age. Lung, 185: 279-286
Hassett, C., Aicher, L., Sidhu, J.S. and Omiecinski, C.J. 1994. Human Microsomal Epoxide Hydrolase: Genetic Polymorphism and Functional Expression in Vitro of Amino Acid Variants. Hum Mol Genet. 3:421–428.
Hecht, S.S. 2002. Cigarette Smoking and Lung Cancer : Chemical Mechanisms and Approaches to Prevention. The lancet Oncology,3: 461–469.
Hecht, S. S. 2003. Tobacco Carcinogens, Their Biomarkers and Tobacco-Induced Cancer. Nature Reviews Cancer, 3: 733-744.
[IARC] International Agency for Research on Cancer. 2012. Lung Cancer Estimated Incidence, Mortality and Prevalence Worldwide in 2012
Hoffmann, D., Hoffmann, I. 1997. The changing cigarette, 1950-1995. J Toxicol Environ Health. ;50(4):307–64
Josen, K., Siegel, R. and Kamp, D. I. 2002. Incidence and Epidemiology. In Weitberg. A.B. Cancer of the Lung From Melecular Biology to Treatment Guidelines. New Jersey. Humana Press :3-26
[KPKN] Komite Nasional Penanganan Kanker. 2015. Panduan Nasional Penanganan Kanker Paru. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia versi 1.0 Kiyohara, C., Yoshimasu, K., Takayama.,K. and Nakanishi, Y. 2006. EPHX1
Polymorphisms and the Risk of Lung Cancer: a huge review. Epidemiology,17:
89–99.
Liu, H., Li, H.Y., Chen H.J., Huang Y.j., Zhang, S., Wang, J. 2013. EPHX1 A139G Polimorphism and Lung Cancer Risk : a meta-analysis. Tumor Biol, 34 : 155-163.
Luch,A. 2010. Carcinogenic Polycyclic Aromatic Hydrocarbons. Institute for Risk Assesment, Berlin, Germany. Elsevier : 85-123.
Melindawati, Br.G., 2009. Karakteristik Penderita Kanker Paru Rawat Inap di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2004-2008. Repository USU
Moorthy, B., Chu, C., Carlin, D.J. 2015. Polycyclic Aromatic Hydrocarbons : from Metabolism to Lung Cancer. Toxicological Sciences, 145 (1), 5-15.
Park, J.Y., Chen, L., Elahi, A., Lazarus, P., and Tockman, M.S. 2005. Genetic Analysis of Microsomal Epoxide Hydrolase Gene and its Association with Lung Cancer Risk. HIH Public Access. European Journal Cancer Prev, 14:
223-230.
[PDPI] Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. 2011.Kanker Paru (Kanker Paru Jenis Karsinoma Bukan Sel Kecil). Pedoman Diagnosis & Penatalaksanaan di Indonesia. Jakarta: PT. Metro Offset Printing ; p.2.
[PDPI] Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. 2016.Kanker Paru, Pedoman Diagnosis & Penatalaksanaan di Indonesia. Jakarta: PT. Metro Offset Printing Persson, I., Johansson, I., Lou, Y.C., Yue, Q.Y., Duan, L.S. et al. 1999. Genetic
Polymorphism of Xenobiotic Metabolizing Enzymes among Chinese Lung Cancer Parents. International Journal Cancer. 81 : 325-329.
Presiden Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah No 109 tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif berupa produk tembakau bagi Kesehatan. Jakarta: Sekretaris Negara. 2012.
Riset Kesehatan Dasar 2013. Badan Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan.
Kementerian Kesehatan RI. 2013; 132-138.
Rotunno, M., Yu, K., Lubin, J.H., Consonni, D., Pesatori, A.C., Goldstein, A.M. et al. 2009. Phase 1 Metabolic Genes and Risk of Lung Cancer : Multiple Polymorphisms and mRNA Expression. Plos One, 4(5) : 1-13.
Saragih, H.M., Hasibuan, P., Soeroso, N.N. and Wahyuni, A.S. 2010. Profil Penderita Kanker Paru Yang Dirawat di Rindu A3 (RA3) RSUP. H. Adam Malik Medan Tahun 2007-2010. Ilmu Kedokteran Respirasi.
http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/33388
Soeroso, N. N., Soeroso, L., Syafiuddin, T. 2014. Kadar Carcinoembryogenic Antigen (CEA) Serum Penderita Kanker Paru Karsinoma Bukan Sel Kecil di RSUP Adam Malik. Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FK USU. J Respir Indo, 34: 17-25.
Syahruddin, E. 2010. Characteristic patients in Indonesian association for the study of lung cancer data. The 4th scientific respiratory medicine meeting.
PIPKRA Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI: 81-5 Tilak, A.R., Kumar, S., Jain, M., Pan, M.C., Das, B.C., Guleria, R. et al. 2011.
Association of Functionally Important Polymorphism of Microsomal. Cancer Investigation, 29:6;411-418
Toh, C.K., Gao, F., Lim, W.T. 2006. Never-smokers with Lung Cancer:
Epidemiologic Evidence of a Distinct Disease Entity. J Clin Oncol, 24:2245-51.
[WHO] World Health Organization .2014. Tobacco.
Wu, X., Gwyn, K., Amos, C.I., Makan, N., Hong, W.H. et al. 2001. The Association of Microsomal Epoxide Hydrolase Polymorphisms and Lung Cancer Risk in African-Americans and Mexican-Americans. Carcinogenesis, 22: 923-928.
Xu, X., Hua, H., Fan, B., Sun, Q., Guo, X. et al. 2015. EPHX1 rs2234922 Polymorphism and Lung Cancer Susceptibility in Asian Populations : a meta-analysis. Journal of Thoracic Disease 7(7) : 1125-1129.
Yu, W., Lin, Z., Qu, B. 2015. Impact of Epoxide Hydrolase 1 Polymorphisms on Lung Cancer Susceptibility in Asian Populations. Cell Biochem Biophys.
Springer, 71: 813-820.
Zakaria, FR. 2001. Pangan dan Pencegahan Kanker. Jurnal Teknologi dan Industri Pangan, XII:171-176.
Zhou, W., Thurston, S.W., Liu, G., Xu, L.L., Miller, D.D. et al. 2001. The Interaction between Microsomal Epoxide Hydrolase Polymorphisms and Cumulative Cigarette Smoking in Different Histological Subtypes of Lung Cancer. Cancer Epidemiol Biomarkers, 10: 461-466.
Zienolddiny S, Campa D, Lind H, Ryberg D, Skaug V, Stangeland LB, et al. A comprehensive analysis of phase I and phase II metabolism gene polymorphisms and risk of non-small cell lung cancer in smokers.
Carcinogenesis. 2008;29:1164–9.
LAMPIRAN 1
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
IDENTITAS
Nama : dr. Rosidah Hanum H
NIP : 19870210 201402 2 002
Tempat tanggal lahir : Pematangsiantar, 10 Pebruari 1987 Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Status perkawinan : Menikah
Alamat : Jl. STM-Persatuan No.30 Medan
Hp : 085297666679
RIWAYAT PENDIDIKAN
SD 097522 Siantar, Sumatera Utara, Tahun lulus 1999.
SLTP Negeri 1 Siantar, Sumatera Utara, Tahun lulus 2002.
SMA Negeri 1 Siantar, Sumatera Utara, Tahun lulus 2005.
S1-Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara, Tahun lulus 2009.
Profesi Dokter Universitas Islam Sumatera Utara, Tahun lulus 2011.
KELUARGA
Suami : dr. Muhammad Budiman Nasution Anak : Naura Adzra Nasution
RIWAYAT PEKERJAAN
1. Dokter Umum di Rumah Sakit Swasta Permata Madina, Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara, Tahun 2011.
2. Dokter PTT di RSUD Lukas Hilisimaetano, Teluk Dalam, Nias Selatan, Provinsi Sumatera Utara, Tahun 2013-2014.
3. Dokter PNS di RSUD Lukas Hilisimaetano, Teluk Dalam, Nias Selatan, Provinsi Sumatera Utara, Tahun 2014 - sekarang.
PERKUMPULAN PROFESI
1. Organisasi IDI Kabupaten Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara Tahun 2011-2013.
2. Organisasi IDI Kotamadya Medan, Provinsi Sumatera Utara Tahun 2013 - sampai sekarang
3. Anggota Muda PDPI Cabang Medan.
PARTISIPASI
1. Peserta pada MERCY III di Medan 2015
2. Menyajikan poster pada KONAS XVI PDPI di Medan 2017 3. Panitia dan Peserta pada KONAS XV PDPI di Medan 2017 4. Peserta 3rd Multidiscipplinary Lung Cancer Conference Singapura 2017
LAMPIRAN 2
LAMPIRAN 3
5. HASIL PEMERIKSAAN GENOTIPE EPHX1 Wildtype (A/A)
Homozigot varian (A/G) Heterozigot varian (G/G)
No. Sampel No. RM
LAMPIRAN 4 DATA INDUK
KP 46 PT 57 batak 768 Kretek adeno ca AA
K43 Ha 47 Batak 448 putih AA
K44 Ma 49 Batak 1024 putih AA
K45 Eb 48 Batak 1392 campuran AA
K46 HM 45 Batak 960 kretek AG
K47 LS 71 Batak 1504 kretek AA
K48 SN 45 Batak 432 kretek AA
LAMPIRAN 5
ELEKTROFORESIS PRODUK PCR KASUS
ELEKTROFORESIS PRODUK PCR KONTROL
ELEKTROFORESIS PRODUK RFLP KASUS
M UC 24 25 27 28 29 3O 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 44 45 46 47 48 49
ELEKTROFORESIS PRODUK RFLP KONTROL
LAMPIRAN 6 HASIL SPSS
* Genotip polimorfisme EPHX1 His139Arg
* Alel Genotip polimorfisme EPHX1
LAMPIRAN 7 HWE Kelompok Kasus
HWE Kelompok Kontrol
LAMPIRAN 8 DOKUMENTASI