BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
1. Minat Siswa
Penelitian pada siklus I dilaksanakan pada tanggal 15 Maret 2012 dan 16 Maret 2012. Pengamatan minat dilaksanakan pada pertemuan pertama. Ketika pembelajaran berlangsung, sebagian besar siswa aktif menjawab pertanyaan dari guru. Unsur-unsur minat, salah satunya adalah kemauan (Adityaromantika, 2010: 1). Seorang siswa memiliki dorongan yang terarah pada suatu tujuan yang dikehendaki oleh akar pikiran.Dorongan dari diri siswa itu akan melahirkan timbulnya suatu perhatian terhadap objek. Walaupun begitu, sebagian siswa terlihat ngantuk, ada yang merasa “ribet” dengan pembelajaran yang dilakukan (harus memasang papan nomor) , pasif, dan ada juga yang mengobrol sendiri. Hal tersebut tidak sesuai dengan unsur-unsur minat, yaitu perhatian, kesenangan, dan kemauan (Adityaromantika, 2010: 1). Keadaan ini disebabkan karena guru dalam mengajar berpaku pada rangkuman materi yang ada saja dan kurang menggali pegetahuan siswa, sehingga siswa sebagian besar siswa merasa bosan walaupun pembelajarannya menggunakan media audiovisual. Hal tersebut terbukti dari hasil pengamatan, diperoleh rata-rata minat seluruh siswa pada siklus I adalah 10,5.
Pada siklus II dilaksanakan pada tanggal 22 Maret 2012 dan 27 Maret 2012. Pada siklus II, pengamatan dilakukan pada pertemuan pertama, yaitu pada tanggal 22 Maret 2012. Pada siklus ini, minat siswa sudah meningkat, yaitu siswa memperhatikan dengan seksama, siswa merasa senang, dan memiliki kemauan untuk belajar. Hal tersebut terbukti dengan siswa terlihat lebih senang, lebih aktif, dan lebih tertarik pada pembelajaran yang dilakukan pada siklus ini. Guru juga lebih melibatkan siswa dalam pembelajaran. Hal ini ditunjukkan dengan siswa aktif maju ke depan kelas untuk menulis kalimat dengan menggunakan tanda baca yang tepat. Siswa juga lebih tertarik penayangan film pada siklus II ini karena film yang diputar lebih mudah dipahami siswa dan lebih lucu. Film itu berjudul “Kancil dan Kera”. Hal tersebut terbukti dengan adanya peningkatan rata-rata minat siswa.
Rata-rata minat siswa pada siklus II ini adalah 13,4.Hasil peningkatan minat belajar siswa dari kondisi awal, siklus I, dan siklus II dapat dilihat pada lampiran 9 halaman 166 . Skor hasil minat rata-rata kedua siklus, diperoleh skor rata-rata minat siswa pada siklus I adalah 10,5 yang tergolong kriteria cukup. Rata-rata minat siklus I meningkat secara signifikan dari kondisi awal 7, dengan hasil uji t menunjukkan signifikan dengan signifikansi 0,000 < 0,05. Pada siklus I, ada 11 siswa yang minat belajarnya lebih dari rata-rata. Hal tersebut diperkuat dari hasil wawancara kepada guru kelas mengatakan bahwa siswa senang ketika proses belajar mengajar berlangsung karena media yang digunakan
lebih menarik. Siswa lebih aktif, tetapi speaker yang digunakan kurang jelas sehingga siswa sulit menangkap isi dari film yang diputar. Di bawah ini adalah hasil wawancara dari guru mata pelajaran bahasa Indonesia:
“ Dalam pembelajaran pada siklus I ini, sebagian siswa terlihat senang dari pada pembelajaran yang dilakukan biasanya. Sebagian siswa aktif, namun sebagian besar siswa masih pasif. Pada pembelajaran, saya belum hafal dengan RPPnya sehingga saya masih berpaku pada rangkuman materi yang ada. Perhatian sebagian siswa sudah terfokus pada pembelajaran yang dilakukan tadi, tetapi sebagaian besar masih tidak terfokus pada pembelajaran yang dilakukan karena siswa kurang tertarik dengan materi yang ada dan siswa kurang tertarik dengan film yang diputar tadi, mungkin karena speakernya tadi suaranya pecah sehingga siswa tidak dapat mendengar dengan baik. Hal itu menyebabkan siswa kurang perhatian. Menurut saya materi itu lebih pada pembelajaran di kelas V atau VI, sehingga siswa merasa berat mempelajari seperti itu.”
Siswa merasa senang ketika melakukan pembelajaran di kelas menggunakan media audiovisual. Siswa kurang senang dengan film yang diputar karena suara film tersebut kurang jelas. Pada pembelajaran ini, siswa kesulitan dalam membuat kerangka karangan. Hal ini terlihat pada pendapat yang diungkapkan siswa ketika wawancara. Pendapat siswa tersebut adalah:
Siswa I
“Lumayan senang, karena kalau nggak seneng nanti nyindir. Filmnya menarik, tetapi saya tidak senangnya karena filmnya terlalu pendek dan suaranya nggak jelas. Kesulitannya membuat kerangka karangan.” Siswa II
“Senang karena ceritanya bagus. Kesulitannya membuat kerangka karangan, soalnya suara filmnya tadi nggak jelas.”
Siswa III
“Saya merasa senang melakukan pembelajaran menggunakan media audiovisual, tadi ceritanya menarik tetapi tadi suaranya tidak
jelas. Tadi saya menyimak ketika bu guru menerangkan. Saya mengalami kesulitan waktu membuat kerangka karangan, karena saya bingung mau menulis apa. Tadi waktu bekerja dalam kelompok membuat kerangaka karangan saya ikut memberikan pendapat. Saya merasa takut bertanya jika ada materi yang kurang jelas karena saya takut kalau dimarahi.”
Skor minat rata-rata pada siklus II, diperoleh skor rata-rata minat siswa adalah 13,4 yang tergolong kriteria tinggi. Rata-rata minat siklus I meningkat secara signifikan dari siklus I, dengan hasil uji t menunjukkan signifikan adalah 0,000 < 0,05. Pada siklus II, semua siswa minat belajarnya lebih dari rata-rata. Siswa lebih antusias ketika pembelajaran berlangsung. Film “Kancil dan kera” lebih menarik bagi anak karena lebih dekat dengan dunia anak. Materi yang disajikan menggunakan power point dapat mempermudah siswa untuk memahami materi yang diajarkan. Siswa juga aktif maju untuk menuliskan kalimat dengan menggunakan tanda ejaan yang tepat. Hal itusesuai dengan hasil wawancara kepada guru kelas. Pendapat guru kelas tersebut adalah sebagai berikut.
“Pembelajaran yang dilakukan tadi, siswa lebih terlihat antusias. Siswa sangat senang dengan film yang diputar tadi, karena filmya lebih dekat dengan dunia anak-anak. Siswa lebih terfokus perhatiannya dalam pembelajaran tadi. Materi yang diberikan juga ditayangkan dalam power point sehingga siswa lebih dapat memahami materi yang diajarkan. Siswa juga aktif maju kedepan untuk menulis kalimat dengan menggunakan tanda baca yang tepat.”
Pada pembelajaran ini siswa lebih senang dan antusia. Film yang diputar lebih lucu. Materi yang diajarkan pada pertemuan ini lebih mudah, walaupun terkadang mengalami kesulitan. Hal itu terlihat dari hasil wawancara pada sebagian siswa adalah sebagai berikut.
Siswa I
“Saya lebih senang dengan pelajaran tadi karena filmnya lucu. Tadi materinya juga tidak sulit seperti pelajaran sebelumnya, walaupun kadang saya bingung dalam menggunakan tanda baca dan huruf kapital dalam mengarang. Saya tadi mengerjakan semua tugas, tapi tangannya capek kerena harus menulis halus.”
Siswa II
“Saya senang dengan film Kancil tadi, habisnya Kancilnya nyanyi-nyanyi juga. Saya masih bingung menggunakan tanda baca kalau udah nulis dalam paragraf. Tapi, tadi saya mengerjakannya selesai, tapi nggak tau salah apa nggak.”
Hasil peningkatan minat belajar siswa dari kondisi awal, siklus I, dan siklus II dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 23: Hasil Peningkatan Minat Belajar Siswa
Peubah Indikator Kondisi Awal
Siklus I Siklus II Signifikansi hasil uji t Target Capaian Target Capaian
Minat Skor rata-rata seluruh minat siswa
7 10 10,5 12 13,4 Signifikan
Sedangkan perolehan hasil minat belajar siswa pada siklus I dan siklus II dapat dilihat pada tabel lampiran 9 hal 166.
2. Kemampuan menulis karangan narasi
Pada penelitian ini, ada 5 aspek yang nilai pada aspek kognitif, yaitu (a) isi/gagasan, (b) organisasi karangan, (c) tata bahasa, (d) diksi, dan (e) ejaan. Beberapa contoh ketidaktepatan yang terdapat dalam karangan siswa, antara lain:
a. Isi atau gagasan
Widyamartaya (1990:9) gagasan adalah pesan dalam dunia batin seseorang yang hendak disampaikan kepada orang lain. Widjono (2007: 222) mengemukakan bahwa isi karangan dapat berupa sajian fakta (benda, kejadian, gejala, sifat atau ciri sesuatu, dan sebagainya), pendapat/sikap tanggapan, imajinasi, ramalan, dan sebagainya. Hal tersebut sesuai dengan hasil karangan siswa yang berisi tentang cerita “Cindelaras”. Peningkatan rata-rata skor siswa dari kondisi awal ke siklus I sebesar 6,38. Sedangkan pada siklus I ke siklus II, peningkatan rata-rata skor siswa sebesar 1,24. Pada kondisi awal, siswa yang mencapai skor maksimal pada isi karangan hanya ada 1 siswa atau 3,4%. Dari 29 siswa kelas IV SD K Sang Timur, siswa yang mencapai skor diatas rata-rata pada isi karangan pada kondisi awal terdapat 8 siswa, siklus I terdapat 14 siswa, dan pada siklus II terdapat 20 siswa. Pada kondisi awal ini, sebagian besar siswa kurang runtut dalam menuliskan isi dalam karangan berdasarkan gambar seri. Dalam menulis karangan, siswa juga tidak menceritakan secara lengkap jalannya cerita. Sedangkan pada siklus I, siswa yang mencapai skor maksimal ada 6 siswa atau 20,7%. Pada siklus ini, hasil karangan siswa terutama pada isi karangan sudah mengalami peningkatan. Siswa menulis cerita sesuai dengan film yang diputar, yaitu “Cindelaras”. Siswa secara runtut menceritakan isi karangan dan isi yang disajikan sudah
cukup lengkap. Namun, ada juga siswa yang menulis karangan tidak nyambung dengan kalimat sebelumnya dan kalimat yang ditulis tidak runtut sesuai ceritanya. Pada siklus II terdapat 7 siswa yang menperoleh skor maksimal atau 24,1%. Siswa sudah secara runtut menceritakan isi dari film yang diputar. Siswa juga menuliskan karangan dengan lengkap. Isi karangan siswa juga memiliki hubungan yang koheren. Pada siklus ini, siswa lebih mudah dalam menulis karangan karena film yang diputar lebih mudah dipahami siswa. Hal tersebut membuktikan bahwa adanya perbedaan dalam menulis isi karangan antara dengan sebelum menggunakan media audiovisual dengan sesudah menggunakan media audiovisual. Hal ini juga membuktikan bahwa penggunaan media audiovisual dapat memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistis dalam bentuk kata-kata atau tulisan belaka(Arief S. Sadiman, dkk, 1986:17-18).Berikut ini adalah hasil pekerjaan siswa.
Siklus I : Pada zaman dahulu kala, abad 11 ada kerajaan yang bernama Jenggala. Di kerajaan itu tinggallah raja yang bernama Radhen Putra. Radhen putra itu tinggal bersama permaisuri. Permaisuri itu cantik jelita. Radhen Putra itu juga tinggal bersama patihnya.
Sikus II : Pada suatu hari, kera sedang berjalan-jalan di tengah hutan sambil bernyanyi-nyanyi. Kera amat gembira karena hari itu adalah hari yang cerah. Kera mulai merasa lapar, ia pun berjalan-jalan mencari makan.
b. Organisasi karangan
The Liang Gie (1992: 21) mengemukakan bahwa sebuah karangan terdiri dari beberapa paragaraf. Azas-azas yang terdapat dalam organisasi karangan adalah kejelasan, keringkasan, ketepatan, dan kesatupaduan. Pada bagian organisasi karangan, kriteria penilaianya adalah karangan mudah dipahami pembaca (tidak menimbulkan salah tafsir pembaca), tidak mengulang-ulang kalimat dalam menyampaikan gagasan, antar paragraf koheren atau kesatupaduan, dan setiap paragraf minimal terdiri dari 3 kalimat. Berdasarkan tabel di atas, peningkatan rata-rata skor siswa mengenai organisasi karangan dari kondisi awal dengan siklus I sebesar 2,89. Siswa yang mencapai skor maksimal pada kondisi awal ada 1 siswa atau 3,4% dan siswa yang mencapai skor di atas rata-rata ada 12 siswa. Sedangkan, peningkatan skor rata-rata siswa pada siklus I ke siklus II sebesar 1,38. Siswa yang mencapai skor maksimal pada organisasi karangan siklus I ada 8 siswa atau 27,58%. Pada siklus I ini, siswa yang mendapat skor diatas rata-rata terdapat 9 siswa. Pada siklus II terdapat 9 siswa atau 31,03%. Siswa yang mencapai skor di atas rata-rata pada siklus II adalah 20 siswa. Organisasi karangan pada siklus I ke siklus II mengalami peningkatan. Hal ini dikarenakan film yang diputar lebih mudah dipahami siswa, sehingga media audiovisual dapat mempengaruhi kemampuan siswa khususnya dalam pengorganisasian karangan. Pada setiap siklus, kesalahan siswa adalah
mengulang-ulang kalimat pada karangan dan dalam setiap paragraf kurang dari 3 kalimat. Antar kalimat yang dibuat siswa ada yang tidak menunjukkan hubungan yang koheren atau kesatu paduan. Hal tersebut membuat skor siswa berkurang dan tidak mendapatkan skor secara maksimal. Berikut adalah contoh pekerjaan siswa.
Siklus I : Pada jaman abad ke II hiduplah kerajaan Jenggala. Rajanya bernama Rahen Putra. Kerajaannya sangat luas dan megah disana jarang pernah kesusahan apa pun yang Raja minta pastikan dilaksanakan dengan prajuritnya hingga apa pun yang Raja mau Raja pun meminta pada prajuritnya pasti akan diantar kepada prajuritnya sehingga prajurit pun kewelahan.
Siklus II : Pada suatu hari, kera berjalan-jalan mencari makan. Kera melihat pohon pisang dan buahnya sudah matang. Kera langsung memanjat pohon pisang itu dengan senang. Kera mencari-cari pohon mana yang buahnya sudah matang. Kera mengambil pisang sebanyak-banyaknya. c. Tata bahasa
Tata bahasa suatu karangan adalah susunan bahasa yang dapat dipahami pembaca (Widjono, 2007:97-101). Kalimat dalam karangan harus terdapat subjek , objek, dan predikat secara jelas agar dapat menyajikan suatu karangan yang baik. Pada kondisi awal menuju pada siklus I, skor rata-rata tata bahasa karangan siswa mengalami penurunan. Pada kondisi awal skor rata-rata siswa dalam penggunaan tata bahasa adalah 12,25. Siswa yang mendapatkan skor maksimal ada 3 siswa atau 10,34%. Dari 29 siswa, siswa yang mencapai skor di atas rata-rata terdapat 9 siswa. Pada siklus I, skor rata-rata siswa adalah 8, 45 dan terdapat 9 siswa yang tidak mencapai skor rata-rata atau 31,03%. Siswa yang mencapai skor di atas rata-rata
ada 20 siswa. Sedangkan pada siklus II, skor rata-rata siswa adalah 10 dan hanya 1 siswa yang tidak mencapai skor masimal atau 3,4% dan yang mencapai skor di atas rata-rata ada 8 siswa. Hal ini terjadi karena pada siklus I, film yang disajikan kurang menarik bagi siswa dan sulit dipahami oleh siswa. Selanjutnya, rata-rata skor tata bahasa siswa pada siklus I menuju siklus II mengalami peningkatan. Pada siklus II, film yang disajikan lebih menarik bagi siswa dan lebih mudah untuk dipahami sehingga siswa lebih mudah dalam menggunakan tata bahasa dalam karangannya. Dalam penulisan kalimat, sebagain besar siswa sudah menggunakan subjek dan predikat secara tepat. Ada juga siswa dalam penulisan karangan tidak menunjukkan struktur yang jelas. Pada siklus I ke siklus II menunjukkan adanya peningkatan. Contoh pekerjaan siswa adalah sebagai berikut.
Siklus I : Pada zaman dahulu, pada tahun 110 sebelum masehi. Ada suatu kerajaan Jenggala. Kerajaan itu adalah kerajaan yang sangat makmur. Kerajaan itu adalah kerajaan pertama yang ada pada zaman itu.
Siklus II : Pada suatu hari, kera sedang berjalan-jalan di tengah hutan sambil bernyanyi-nyanyi. Kera amat gembira karena hari itu adalah hari yang cerah. Kera mulai merasa lapar, ia pun berjalan-jalan mencari makanan.
d. Diksi atau pilihan kata
Gaya bahasa ditentukan oleh ketepatan dan kesesuaian pilihan kata (Widjono, 2007: 222-227). Ketepatan pemilihan kata secara tepat yang berarti menggunakan kata sesuai dengan makna yang ingin dicapai (Gorys Keraf, 2007: 87)Gaya bahasa dalam
penelitian ini, aspek yang dinilai adalah piliha kata dapat mengungkapkan secara jelas, menggunakan kata baku, dan pilihan kata dapat menarik pembaca. Pada kondisi awal menuju pada siklus I dan siklus II menunjukkan bahwa adanya peningkatan kemampuan siswa dalam menggunakan gaya bahasa. Pada kondisi awal, skor rata-rata siswa adalah 7,18 dan terdapat 2 siswa yang mencapai skor maksimal atau 6,89%. Pada kondisi awal ini, siswa yang mencapai skor di atas rata-rata terdapat 23 siswa. Namun, pada siklus I dan II menunjukkan bahwa rata-rata skor siswa sama. Pada siklus I, siswa yang mencapai skor maksimal ada 5 siswa atau 17,24%, sedangkan siswa yang mencapai skor di atas rata-rata ada 24 siswa. Pada siklus II terdapat 4 siswa yang mencapi skor maksimal atau 13,79% dan 26 siswa mendapat skor di atas rata-rata. Hal ini terjadi karena sesuai dengan kemampuan siswa dalam menggunakan gaya bahasa. Pada siklus I, hasil pekerjaan sebagian siswa sudah mengungkapkan gagasan secara tepat dan menggunakan kalimat yang baku. Rata-rata kesalahan siswa dalam menulis karangan terutama dalam penggunaan gaya bahasa adalah pilihan kata yang digunakan oleh siswa tidak menunjukkan ungkapan secara jelas mengenai cerita sesuai film yang diputar. Berikut ini adalah contoh hasil pekerjaan siswa.
Siswa A : Pada Abad Ke 11 Berdirilah Kerajaan Jenggala Raja itu bernama Raden Putra. Di Kerajaan Jenggala ada Seorang Permaisuri yang cantik Jelita Permaisuri itu istri dari Radhen Putra saat itu Permaisuri Radhen Putra saat itu sedang hamil, lalu Permaisuri dituduh oleh patih karena meracuni Ibunda Radhen putra.
Siswa B : Kerajaan Jenggala terkenal pada abad ke-11. Kerajaan itu megah, besar, daerahnya pun subur. Kerajaan itu amatlah jaya dapat menghasilkan buah-buahan, sayur-sayuran. Pemerintahannya adil dan bijaksana.
Pada siklus II, pekerjaan siswa dalam menulis karangan narasi banyak mengalami peningkatan. Contoh hasil pekerjaan siswa adalah sebagai berikut.
Siswa A : Pada suatu hari, kera berjalan-jalan mencari makan. Kera melihat pohon pisang dan buahnya sudah matang. Kera langsung memanjat pohon pisang itu dengan senang. Siswa B : Pada suatu hari, kera bernyanyi dengan gembira.
Kera berjalan-jalan dengan santai di siang hari. Ia melihat sebuah pohon pisang, pohon pisang itu banyak sekali buahnya.
e. Ejaan
Ejaan dalam suatu kalimat merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Ejaan merupakan syarat utama dalam berbahasa tulis. Dalam penelitian ini, siswa harus memperhatiakan penggunaan ejaan (tanda koma, tanda titik, dan tanda petik) yang tepat. Berdasarkan tabel di atas, hasil karangan siswa khususnya dalam pengunaan ejaan pada kondisi awal, siklus I, dan siklus II mengalami peningkatan. Peningkatan skor rata-rata siswa dalam penggunaan ejaan pada karangan mengalami peningkatan. Hal tersebut terbukti dengan peningkatan skor rata-rata yang diperoleh siswa dari kondisi awal ke siklus I adalah 10,75 dan terdapat 2 siswa yang mencapai skor maksimal atau 6,89%. Pada kondisi awal ini ada 12 siswa yang mencapai skor di atas rata-rata. Sedangkan, pada siklus I ke siklus II peningkatan skor rata-rata siswa adalah 3,27. Pada siklus
I terdapat 3 siswa yang mencapai skor maksimal atau 10,34% dan 12 siswa mencapai skor di atas rata-rata. Pada siklus II terdapat 8 siswa mencapai skor maksimal atau 27,78% dan 8 siswa mencapai skor di atas rata-rata. Rata-rata kesalahan siswa adalah siswa kurang tepat dalam menggunakan tanda koma maupun tanda titik dalam setiap kalimat. Pada kalimat langsung, siswa tidak menggunkan tanda petik dalam mengawali dan mengakhiri kalimat. Dalam hal ini penggunaan media audiovisul untuk menulis karangan juga dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang penggunakan tanda baca dalam kalimat. Contoh kesalahan itu adalah sebagai berikut.
Pada Abad Ke 11 Berdirilah Kerajaan Jenggala Raja itu bernama Raden Putra. Di Kerajaan Jenggala ada Seorang Permaisuri yang cantik Jelita Permaisuri itu istri dari Radhen Putra saat itu Permaisuri Radhen Putra saat itu sedang hamil, lalu Permaisuri dituduh oleh patih karena meracuni Ibunda Radhen putra.
Pada siklus II, sebagian besar siswa sudah memperhatikan tanda baca dan huruf kapital. Siswa tidak banyak mengalami kesalahan dalam penggunaan tanda baca dan huruf kapital. Contoh pekerjaan siswa adalah sebagai berikut.
Pada suatu hari, kera berjalan-jalan sambil bernyanyi-nyanyi. Lalu si kera melihat pohon pisang yang buahnya matang. Kera mendatangi pohon pisang, dan memanjatnya.
Hasil peningkatan prestasi belajar siswa dari kondisi awal, siklus I, dan siklus II dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 24 : Hasil Peningkatan Kemampuan Menulis Karangan
Peubah Indikator Kondisi awal
Siklus I Siklus II Signifikan hasil uji t Target Capaian Target Capaian
Prestasi belajar siswa
Rata-rata nilai ulangan 63,39 73 75,79 78 79,67 Signifikan Persentase jumlah
siswa yang mencapai KKM
21,43% 40% 41,38% 75% 82,76% Signifikan
Sedangkan perolehan hasil kemampuan menulis karangan siswa pada siklus I dan siklus II dapat dilihat pada tabel lampiran 10 hal 167.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN