BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHSAN
B. Pembahasan
Berdasarkan perhitungan rasio profitabilitas menggunakan Return On
Assets, Return On Equity, Net Profit Margin, dan Gross Profit Margin di PT
menjawab rumusan masalah yang ada mengenai tingkat profitabilitas untuk menilai kinerja keuangan PT Perkebunan Nusantara III Medan pada tahun 2013 sampai dengan tahun 2017. Adapun nilai Profitabilitas dari tahun 2013 sampai dengan 2017 dapat dilihat sebagai berkut :
Tabel IV.7
Rasio Profitabilitas pada PT Perkebunan Nusantara III (Persero)
Keterangan 2013 2014 2015 2016 2017 Rata-Rata Standart BUMN Skor Noninfra ROA 4% 3% 1% 2% 2% 2% ROE 11% 4% 2% 2% 3% 4% 4<ROE<=5,3 7 NPM 7% 9% 11% 15% 20% 12% GPM 11% 13% 14% 20% 27% 17%
Sumber : Data diolah data keuangan PT Perkebunan Nusantara III 1. Rasio Profitabilitas PT Perkebunan Nusantara III Medan
Rasio profitabilitas menjadi hal penting dalam melihat sejauh mana kinerja perusahaan selama periode tertentu. Menurut Utari dkk (2014, hal 63), rasio profitabilitas adalah kemampuan manajemen dalam memperoleh laba. laba terdiri dari laba kotor, laba operasi dan laba bersih. Untuk memperoleh laba diatas rata-rata, manajemen harus mampu meningkatkan pendapatan (revenue) dan mengurangi semua beban (expenses) atas pendapatan. Untuk menghitung profitabilitas biasanya dilihat dari sudut
Return On Assets, Return On Equity, Net Profit Margin dan Gross Profit Margin.
a. Return On Assets (ROA)
Dari tabel IV.7 dapat terlihat jelas bahwa nilai Return On Assets di PT Perkebunan Nusantara III Medan sebesar 4%, kemudian pada tahun 2014 mengalami penurunan sebesar 3%. Penurunan ini disebabkan karena adanya peningkatan total aset sebesar 50% dari tahun 2013. Pada tahun
2015, nilai Return On Assets mengalami penurunan kembali sebesar 1%. Penurunan ini disebabkan karena adanya peningkatan total aset yang dimiliki perusahaan sebesar 48% namun, laba yang didapatkan tidak maksimal. Pada tahun 2016 nilai Return On Assets mengalami kenaikan sebesar 2%. Hal ini disebakan karena adanya peningkatana total aset yang sangat signifikan pada perusahaan. Dan pada tahun 2017, nilai Return On
Assets tetap sebesar 2%. Artinya nilai Return On Assets tidak mengalami
pergerakan ama sekali. Namun total aset tetap mengalami kenaikan dengan nilai laba bersih yang tidak maksimal.
Menurut Hery (2018, hal 1930), semakin tinggi hasil pengembalian atas aset berarti semakin tinggi pula jumlah laba bersih yang dihasilkan dari setiap rupiah dana yang tertanam dalam total asset. Sebaliknya, semakin rendah hasil pengembalian atas aset berarti semakin rendah pula jumlah laba bersih yang dihasilkan dari setiap rupiah dana yang tertanam dalam total aset.
Hasil penelitian ini sejalan dengan peneliti Khasanah Khurun Nur (2017), dengan judul Analisis Rasio Profitabilitas dan Likuiditas untuk Menilai Kinerja keuangan PT Mayora Indah, Tbk tahun 2010-2015, menunjukkan bahwa nilai Return On Assets kurang baik dikarenakan nilai rata-rata Return On Assets berada dibawah standart.
Dari rincian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa nilai Return On
Assets untuk tahun 2013 sampai dengan 2017 yang dimiliki perusahaan
mengalami penurunan dan berada dibawah rata-rata keseluruhan. Hal ini disebabkakn karena rendahnya laba bersih yang dimiliki perusahaan
meskipun total aset yang dimiliki perusahaan secara rata-rata mengalami peningkatan.
b. Return On Equity (ROE)
Dari Tabel IV.7 daapat dilihat dengan jelas bahwa nilai Return On
Equity mengalami penurunan setiap tahunnya. Untuk tahun 2013 nilai Return On Equity sebesar 11%, namun pada tahun 2014 sampai dengan
2017 nilai Return On Equity mengalami penurunan yang sangat signifikan. dimana pada tahun 2014 nilai Return On Equity sebesar 4%. Kemudian pada tahun 2015 dan 2016 nilai Return On Equity mengalami penurunan kembali sebesar 2%, dan pada tahun 2017 nilai Return On Equity sebesar 3%. Adapaun standart BUMN dari hasil rata-rata nilai Return On Equity adalah sebesar 7 skor dengan skor tertinggi adalah 20. Hal ini berarti nilai
Return On Equity berada dibawah rata-rata standart. Hal ini dikarenakan
perusahaan kurang mampu menggunakan modal secara efektif dan efisien. Menurut Rudianto (2013, hal 192), semakin tinggi Return On
Equity maka akan semakin baik karena memberikan tingkat pengembalian
yang lebih besar kepada pemegang saham. Sebaliknya jika semakin rendah
Return On Equity maka akan semakin tidak bagus untuk perusahaan,
karena tingkat pengembalian yang diberikan kepada pemegang saham semakin kecil.
Hasil penelitian ini sejalan dengan Suhendro Dedi (2017), dengan judul Anlisis Profitabilitas dan Likuiditas Untuk Menilai Kinerja Keuangan Pada PT Siantar TOP Tbk menunjukkan bahwa nilai Return On
On Equity berada dibawah standart. Hal ini disebabkan karena kurang
mampunya perusahaan mengoptimalkan modal sendiri untuk menghasilkan laba bersih. Rendahnya rasio ini karena rendahnya marjin laba dari perputaran aktiva yang dimiliki.
Dari rincian diatas dapat diketahui bahwa nilai Return On Equity dari tahun 2013 sampai dengan 2017 mengalami penurunan baik setiap tahun maupun secara rata-rata. Penurunan inni diakibatkan karena perusahan kurang mampu menggunakan modal untuk meghasilkan laba pada perusahaan. Dengan menurunnya nilai Return On Equity
menunjukkan bahwa pengembalian yang akan diterima investor akan menururun. Hal ini membuat investor berpikir kembali untuk menanamkan modalnya pada perusahaan.
c. Net Profit Margin (NPM)
Dari tabel IV.7 dapat dilihat dengan jelas bahwa nilai Net Profit
Margin mengalami kenaikan setiap tahunnya. Namun mengalami penurunan jika dilihat dari rata-rata keseluruhan. Dimana pada tahun 2013 nilai Net Profit Margin, nilai Net Profit Margin sebesar 7%, dan pada tahun 2014 nilai Net Profit Margin mengalami kenaikan sebesar 9%. Pada tahun 2015 nilai Net Profit Margin naik kembali menjadi 11%. Dan pada tahun 2016 sampai tahun 2017 mengalami kenaikan kembali masing-masing sebesar 15% dan 20%.
Menurut Hery (2018, hal 199), semkain tinggi marjin laba bersih berarti semkain tinggi pula laba bersih yang dihasilkan dari penjualan
bersih. Sebaliknya, semakin rendah marjin laba bersih berarti semakin rendah pula laba bersih yang dihasilkan dari penjualan bersih.
Hasil penelitian ini sejalan dengan peneliti Mardahleni (2017) dengan judul Analisis Rasio Profitabilitas dalam Menilai Kinerja Keuangan pada PT. Hanjaya Mandala Sampoerna TBK, dimana nilai Net
Profit Margin kurang baik secara rata-rata dibawah standar. Hal ini berarti
perusahaan belum mampu meningkatkan laba yang diterima dimasa akan datang, karena belum mampunya memperkecil biaya-biaya operasionalnya.
Dari rincian diatas dapat dilihat jelas bahwa, nilai Net Profit
Margin dari tahun 2013 sampai dengan 2017 secara rata-rata mengalami
penurunan. Hal ini disebabkan karena rendahnya laba bersih yang dimiliki perusahaan, sedangkan penjualan secara rata-rata yang didapatkan perusahaan meningkat. Selain itu, nilai Net Profit Margin yang terus menurun disebabkan karena meningkatnya jumlah biaya operasional salah satunya adalah biaya administrasi perusahaan yang mengakibatkan laba bersih yang diapat juga kecil. Dengan menurunnya nilai Net Profit Margin akan berdampak kepercayaan investor dalam menanamkan modalnya. Karena rasio ini menunjukkan seberapa besar pengembalian yang didapat perusahaan dari hasil penjualan.
d. Gross Profit Margin (GPM)
Dari tabel IV.7 dapat dilihat jelas nilai Gross Profit Margin mengalami kenaikan setiap tahunnya, namun jika dilihat dari rata-rata keseluruhan, nilai Gross Profit Margin mengalami penurunan. Dimana
pada tahun 2013 nilai Gross Profit Margin sebsar 11%, dan tahun 2014 sampai dengan 2017 nilai Gross Profit Margin terus mengalami kenaikan. Dimana pada tahun 2014 nilai Gross Profit Margin sebesar 13%, kemudian tahun 2015 naik menjadi 14%. Pada tahun 2016 sampai dengan tahun 2017 naik secara signifikan yaitu masing-masing sebesar 20% dan 27%.
Menurut Hery (2018, hal 197), semakin tinggi marjin laba kotor berarti semakin tinggi pula laba kotor yang dihasilkan dari penjualan bersih yang artinya akan semakin baik untuk perusahaan karena hasil penjualan memberikan laba yang maksimal pada perusahaan. Sebaliknya, semakin rendah marjin laba kotor berarti semakin rendah pula laba kotor yang dihasilkan.
Hasil penelitian ini sejalan dengan peneliti Rakhmawati Ayu Nur dkk (2017) dengan judul Analisis Rasio Likuiditas, Solvabilitas dan Profitabilitas guna Mengukur Kinerja Keuangan PT. Vepo Indah Pratama Gresik, dimana penelitian ini menunjukkan bahwa nilai Gross Profit
Margin kurang baik karena perusahaan tersebut rawan terhadap perubahan
harga, baik harga jual maupun harga pokok dan akan sangat berpengaruh terhadap laba perusahaan untuk menghasilkan laba di setiap Rp. 1 penjualan laba bersih.
Dari rincian diatas, dapat dilihat jelas bahwa nilai Gross Profit
Margin dari tahun 2013 sampai dengan 2014 mengalami penurunan. Hal
ini disebabkan karena rendahnya laba bersih yang dimiliki perusahaan sedangkan nilai penjualan meningkat secara rata-rata. Selain itu, beban
operasional yang tinggi, membuat laba perusahaan tidak meningkat melainkan semakin menurun.