BAB IV : DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA
C. Pembahasan Hasil Penelitian
Analisis data tahap awal dilakukan untuk mengetahui keamampuan awal dari sampel sebelum dilakukan penelitian. Data yang digunakan pada analisis tahap awal adalah nilai pretest kemampuan pemecahan masalah siswa kelas VII MTsN Karanggede. Penelitian dapat dilakukan setelah
1.683 5.995
Daerah penerimaan Ho
diketahui bahwa kemampuan awal dari kelas sampel sama. Analisis data tahap awal meliputi uji normalitas, homogenitas, dan kesamaan rata-rata.
Analisis uji normalitas data tahap awal menunjukkan bahwa semua kelas VII A–VII D memiliki distribusi yang normal. Setelah melakukan uji normalitas selanjutnya adalah uji homogenitas. Uji homogenitas dilakukan dengan menggunakan uji Barlett. Hasil pengujian menunjukkan bahwa semua kelas memiliki varians yang homogen. Langkah selanjutnya dilakukan uji kesamaan rata-rata dengan menggunakan uji Anova. Dari hasil pengujian diperoleh nilai 49 dan , karena maka diterima, artinya rata-rata keempat kelas VII tidak berbeda secara signifikan atau identik.
Dari ketiga analisis data tahap awal tersebut dapat dikatakan bahwa kondisi kemampuan awal siswa kelas VII A, VII B, VII C, dan VII D adalah sama. oleh karena itu dapat dilakukan pengambilan sampel secara random dengan menggunakan teknik cluster
random sampling. Dari pengambilan sampel tersebut
diperoleh kelas VII B sebagai kelas eksperimen dan kelas VII C sebagai kelas kontrol.
2. Analisis Data Tahap Akhir
Perlakuan yang diterapkan di kelas eksperimen adalah pembelajaran REACT, sedangkan di kelas kontrol adalah pembelajaran konvensional. Setelah perlakuan selesai, siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol diberi posttest berupa angket self efficacy dan soal uraian kemampuan pemecahan masalah yang sama. Angket self efficacy terdiri dari 30 item pernyataan, sedangkan soal kemampuan pemecahan masalah terdiri dari 6 soal. Berdasarkan perhitungan pada analisis data diperoleh hasil sebagai berikut. a. Self efficacy
Hasil uji normalitas data self efficacy menunjukkan bahwa data kelas eksperimen yang menggunakan pembelajaran REACT berdistribusi normal. Hasil uji normalitas terhadap kelas kontrol juga menunjukkan hal yang serupa. Selanjutnya hasil uji homogenitas terhadap data kelas eksperimen dan kelas kontrol menunjukkan bahwa varians keduanya homogen. Kemudian uji yang terakhir adalah uji perbedaan rata-rata. Karena data berdistribusi normal dan varians homogen, maka uji perbedaan rata-rata dilakukan dengan meggunakan uji t satu pihak, yakni pihak kanan.
Dari hasil perhitungan diperoleh rata-rata kelas eksperimen 81,927 dan kelas kontrol 77,442. dari hasil uji t diperoleh dan
. karena maka ditolak dan diterima. Artinya rata-rata self
efficacy siswa yang menggunakan pembelajaran
REACT lebih baik daripada yang menggunakan pembelajaran konvensional.
Analisis perbedaan rata-rata self efficacy dapat juga dilakukan dengan membandingkan rata-rata masing-masing dimensinya. Hasilnya dapat dilihat pada tabel 4.18.
Dari tabel 4.18, diketahui bahwa rata-rata kelas eksperimen pada tiap-tiap dimensi lebih tinggi dianding rata-rata kelas eksperimen. Data tersebut dapat dilihat pada diagram dibawah ini.
Gambar 4.3 Grafik Rata-rata skor Dimensi Self Efficacy
46.07
21.65 14.21
43.72
21.15 12.58
Level Strength Generality
Akan tetapi, tidak semua dimensi self efficacy kelas eksperimen lebih baik secara signifikan dibanding kelas kontrol. Hanya satu dimensi yang lebih baik secara signifikan, yaitu dimensi
generality.
Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran REACT efektif terhadap self efficacy khususnya pada dimensi generality. Dimana dimensi generality ini mencakup 5 indikator, yaitu: 1) Menyikapi situasi yang berbeda dengan baik
dan berpikir positif.
2) Menjadikan pengalaman untuk meningkatkan keyakinan dalam mencapai kesuksesan.
3) Dapat mengatasi segala situasi dengan efektif. 4) Mencoba tantangan baru.
b. Kemampuan pemecahan masalah
Hasil uji normalitas nilai kamampuan pemecahan masalah menunjukkan bahwa data kelas eksperimen yang menggunakan pembelajaran REACT berdistribusi normal. Hasil uji normalitas terhadap kelas kontrol juga menunjukkan hasil yang serupa. Selanjutnya hasil uji homogenitas terhadap data kelas ksperimen dan kelas kontrol menunjukkan bahwa varians keduanya homogen. Kemudian uji yang terakhir
adalah uji perbedaan rata-rata. Karena data berdistribusi normal dan varians homogen, maka uji perbedaan rata-rata dilakukan dengan meggunakan uji t satu pihak, yakni pihak kanan.
Dari hasil perhitungan diperoleh rata-rata kelas eksperimen 49.045 dan kelas kontrol 33,952. Dari hasil uji t diperoleh dan
. Karena maka ditolak dan diterima. Artinya rata-rata kemampuan pemecahan masalah siswa yang menggunakan pembelajaran REACT lebih baik daripada yang menggunakan pembelajaran konvensional.
Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran REACT pada pembelajaran matematika materi pokok segi empat efektif terhadap kemampuan pemecahan masalah dan self efficacy siswa kelas VII MTsN Karanggede tahun pelajaran 2016/2017.
Keefektifan pembelajaran REACT terhadap kemampuan pemecahan masalah dan self efficacy siswa tidak terlepas dari langkah-langkah pembelajarannya. Secara langsung maupun tidak langsung langkah-langkah pembelajaran REACT
mempengaruhi kemampuan pemecahan masalah dan
self efficacy siswa. Langkah pembelajaran yang
pertama yakni Relating. pada tahap ini siswa diarahkan untuk dapat mengaitkan apa yang akan dipelajari dengan konsep yang telah mereka miliki ataupun konsep nyata. Sehingga pemahaman yang mereka peroleh lebih baik, dan pembelajaran yang berlangsung lebih bermakna sejalan dengan teori Ausubel.
Langkah berikutnya adalah Experiencing, pada tahap ini siswa berpartisipasi aktif dalam melakukan kegiatan eksperimen untuk menemukan konsep secara mandiri. Dengan menemukan sendiri, pemahaman konsep siswa akan lebih baik dan lebih kuat dibanding jika siswa hanya sekedar menerima materi kemudian dihafal. Pemahaman konsep yang baik ini yang akan menjadi bekal untuk memecahkan suatu masalah. Menurut Bruner dengan belajar penemuan akan tercapai belajar yang bermakna.
Selanjutnya pada tahap Applying, siswa diminta untuk menerapkan konsep yang telah mereka miliki ke dalam materi yang sedang dipelajari. Dalam penelitian ini, siswa diminta menerapkan prinsip-prinsip penjumlahan dan perkalian dalam menemukan rumus umum keliling dan luas segi
empat. Dengan demikian, pemahaman siswa akan lebih baik karena siswa menemukan sendiri rumusnya. Berbeda halnya jika mereka hanya menghafal rumus saja tanpa memahami asal muasalnya.
Tahap yang selanjutnya adalah tahap
Cooperating. Dalam penerapannya Cooperating atau
kerja sama dilakukan tahap Experiencing, Applying, dan Transferring. Melalui Cooperating siswa dapat saling bertukar pengetahuan baik dalam menemukan konsep maupun dalam memecahkan masalah, sehingga siswa tidak mudah berputus asa ketika menghadapi kesulitan. Hal tersebut berdampak positif terhadap self efficacy yang dimiliki siswa, karena siswa menjadi lebih optimis dalam menyelesaiakan tugas yang mereka hadapi.
Pada tahap yang terakhir yaitu Transferring, siswa dituntut untuk dapat menerapkan konsep yang telah dielajari ke dalam situasi baru, dalam hal ini adalah soal berbasis masalah. Melalui tahap ini siswa dilatih kemampuannya untuk dapat memecahkan masalah. Dengan tahapan tersebut mereka akan terampil untuk memecahkan masalah. Selain itu, siswa akan terbiasa menghadapi tugas yang beragam tingkat kesulitannya. Dengan demikian, hal tersebut dapat
meningkatkan keyakinan siswa untuk dapat menyelesaikan tugas sesulit apapun. Hal ini akan berdampak positif terhadap kemampuan pemecahan masalah dan self efficacy siswa.
Selanjutnya, pembelajaran REACT dapat dijadikan sebagai salah satu pilihan untuk digunakan dalam pembelajaran matematika khususnya pada materi segi empat untuk meningkatkan self efficacy dan kemampuan pemecahan masalah siswa.